selasar-loader

Apa pengalaman menarikmu saat pertama kali belajar mengendarai mobil?

Last Updated Feb 13, 2017

mf6OXgYl72Q8X18kt8xZ6q82c1AleaYs.jpg

Gambar via mobilku.org

10 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

9EXx8wpi1ZrYeCgCUby7acllXLwaZXZP.jpg

Saya tidak pernah bermimpi punya mobil atau katakanlah kendaraan roda empat, bahkan sampai beberapa tahun saya mulai bekerja di Harian Kompas. Sebagai orang yang dibesarkan di kampung dengan suasana pedesaan yang pekat, aroma sawah yang menyengat, bermimpi saja tidak berani untuk berada di belakang kemudi, mengendarai sebuah mobil idaman. Bagi saya, pencapaian memiliki sepeda motor seperti yang dimiliki orangtua sudah yang tertinggi, tidak berharap apa-apa lagi.

Karena tidak pernah bermimpi itulah saya tidak pernah terpikir untuk belajar "nyetir" atau mengemudi kendaraan roda empat. Buat apa!? Dan asal tahu sajalah, pendapat saya ini keliru besar, jangan ditiru! Seharusnya, saya juga belajar mengemudikan mobil sekalipun saya tidak memiliki mobil. Elmu mah moal beurat mamawa, teringat kembali kata-kata Ibu yang berarti "Ilmu tidak berat untuk dibawa-bawa". Punya-tidak punya itu urusan Sang Waktu, ada yang mengaturnya. 

Lalu, momen itu datang!

Saya terpaksa harus belajar menyetir mobil kendati saya tidak punya kendaraan disebabkan oleh satu hal; "penghinaan dan perundungan" yang dilakukan oleh James Luhulima kepada saya saat saya menjadi anak buahnya di Desk Politik Harian Kompas. "Ah, masak lo ga bisa nyetir!? Ga zaman sekarang ini lelaki ga bisa nyetir!"

"Penghinaan dan perundungan" itu terjadi awal tahun 1996, ketika suhu perpolitikan Tanah Air mulai memanas terkait Presiden ke-2 RI Soeharto yang akan memberangus PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri. James sudah mengusik kelelakian saya, harga diri saya sebagai lelaki. Kala itu, malam-malam berhujan deras, ada satu tugas lapangan yang harus saya kejar, ada konferensi pers dan saya siap meminjam Vespa sebagai kendaraan dinas khas Kompas.

Saya harus memberi apostrof pada kata "penghinaan dan perundungan" karena ternyata menyimpan sisi baiknya. Inilah akibatnya kalau tidak bisa nyetir; malam-malam itu saya harus menembus hujan, mengenakan ganco dan helm tanpa kaca pelindung yang menyiksa. James yang baru saja pensiun dari Harian Kompas itu ada benarnya. Besok saya harus belajar nyetir, bagaimanapun caranya!

Pergi ke tempat kursus menyetir sangat tidak mungkin karena waktu sebagai jurnalis lapangan tidak memungkinkan. Tetapi, bukan berarti saya mati gaya dan mati akal. Dengan alasan disuruh James Luhulima belajar nyetir, saya menemui Pak Sutiyun, petugas kendaraan Kompas yang kini sudah pensiun juga, untuk mengajari saya secara singkat bagaimana mengendalikan mobil. 

Bersama Pak Sutiyun yang sedang piket, saya pergi ke parkiran belakang pada malam hari. Pilihan saya, mobil Daihatsu Jeep jenis "Hiline" bercat warna tentara hijau. Prinsip dasar tentu saja sudah tahu karena saya kerap naik angkot atau angkutan pedesaan waktu sekolah, bahwa untuk memindahkan "gear" maka persneling harus diinjak, sebagaimana memindahkan gigi pada Vespa yang harus menekan tuas sebelum dipindahkan. 

Saya juga pernah diajari Iwan, pustakawan PIK yang sekarang fotografer Kompas, bagaimana dasar-dasar menyetir dengan mobil Honda "trungtung"-nya. Disebut Honda "Trungtung" karena bunyinya seperti "turungtungtungtungtung...." Saya belajar di parkiran JCC yang luas pada malam hari. Itu dasar pertama yang saya pelajari dan saya berpikir, mengemudi mobil itu mengerikan! Mungkin karena Honda "Trungtung" itu tidak memiliki kepala, jadi wajah serasa berhadapan dengan ekor mobil di depan saya, hanya terpisahkan kaca saja.

Jadi, ketika Pak Sutiyun mengajari saya menghidupkan dan mematikan mobil, saya sudah tahu dasar-dasarnya serba terbatas. Di tempat parkir itulah saya belajar maju-mundur dan mengendalikan mobil sendiri saja. Lalu saya belajar memajukan mobil agak jauh, mengira-ngira dari kaca spion kiri-kanan tentang lebar jalan dan terutama jangan sampai roda belakang menerjang batas pinggiran jalan, bisa masuk got nanti. Belajar mundur lebih berat. 

Karena saya belajar di tempat parkir, kelak di kemudian hari saya paling canggih menyimpan mobil di tempat parkir. Jadi ketika ada liputan sidang Sri Bintang Pamungkas yang dituduh menghina Presiden Soeharto di Pengadilan Jakarta Pusat di Jalan Gajah Mada, itulah pertama saya mengemudikan mobil kantor, menerabas jalan yang macet dengan keringat dingin keluar. Nyaris serba salah melaju, di sana-sini seperti banyak monster yang mengepung saya. 

Ketika saya tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan harus memarkir kendaraan bercat tentara itu, rupanya saya belum andal memarkirkan kendaraan. Alhasil, kendaraan operasional kantor itu terlalu memepet ke kiri sehingga dempetan dengan mobil di sampingnya. Saya bingung, digas akan semakin kena tergesek, mundur apalagi. Akhirnya si pemilik kendaraan di samping saya itu datang dengan wajah siap meledak. Saya mulai ketakutan tetapi mencoba menenangkan diri. Yah, paling harus menggantilah! pikir saya.

Akan tetapi, yang terjadi di luar dugaan! Entah mengapa, dia malah berperilaku sopan. Sangat sopan. Bahkan, dia tidak perlu protes dan menanyakan identitas saya. "Sebantar ya, Mas, saya majukan sedikit mobil saya," katanya. Saya lega, tetapi tetap bertanya-tanya, kenapa ini? Hebat sekali orang-orang Jakarta ini, sopan dan mengedepankan kedamaian. Apa yang terjadi selanjutnya? Orang itu malah pergi dan menyilakan saya parkir di tempat parkirnya yang masih lagi.

Setelah parkir beres dan tinggal menunggu sidang dimulai, saya tetap bertanya-tanya mengapa orang itu malah memberi saya tempat parkir. Saya baru menganalisanya kemudian hari. Mungkin karena Jeep "Hiline" yang saya parkirkan itu bercat hijau tentara, dia mengira saya salah satu anggota militer, minimal intel dari BIA (Badan Intelijen ABRI). Pantas saja dia ketakutan. Boro-boro protes karena mobilnya berdempetan dengan jeep saya, orang itu malah pergi dan tak kembali!

Itulah pengalaman saya belajar mengemudikan kendaraan. Rupanya tidak sesederhana belajarnya, tetapi efek setelah bisa membawa kendaraan yang pertama kali pun banyak menyimpan cerita, sebagaimana saya ceritakan di atas.

 

Answered Feb 14, 2017
Robby Syahrial
Penikmat kenikmatan duniawi

bHWSu8E3QoM2pWlkvkWsakb3Lb7UiC91.jpeg

Gambar via cars-toyota.com 

Kalau mengingat-ingat ini, rasanya malu campur bangga. Entah bangga karena apa, kalau malu jelas karena memalukan. 

Melihat adegan di televisi dan melihat ayah saya nyetir mobil saat kami bepergian, mudik, an jalan-jalan membuat keinginan saya untuk bisa mengendarai mobil sendiri semakin menggebu-gebu, apalagi saat itu saya sudah kelas 3 SMA. Dari segi tinggi badan, saya merasa mampu untuk bisa mengendarai mobil, karena tolok ukur saya pada waktu itu adalah bagaimana kaki kita bisa menjangkau pedal gas, rem, dan kopling. Urusan yang lain, itu bisa dipelajari. 

Awalnya, saya memberanikan diri meminta izin Ayah untuk belajar mobil dipandu oleh teman kantornya. Ayah saya menolak. Oke, saya diam. Beberapa minggu setelahnya, saya kembali meminta izin untuk belajar mobil. Kali ini, Ayah mengizinkan. Berlatihlah saya di jalan kampung dekat rumah, menggunakan mobil kijang milik ayah saya bersama teman kantor Ayah yang merupakan tetangga saya sendiri.

Awalnya, saya agak bingung menyelaraskan antara gas dan kopling. Alhasil, mobil sering mati saat memasukkan gigi dan melepas pedal kopling. Setelah beberapa saat, alhamdulillah saya bisa mengambil celah dan menguasainya.

Teman ayah saya pun mengajarkan tentang arti garis lurus putih panjang dan garis lurus putih patah-patah yang ada di tengah jalan (marka jalan) dan rambu-rambu lalu lintas. Garis lurus tanpa potongan artinya kita tidak boleh mendahului kendaraan di depan kita. Garis putih patah-patah artinya sikat aja. Saye merasa puas dengan latihan pertama saya. 

Beberapa hari setelahnya, Ayah sedang pergi bermain tenis. Melihat kondisi "longgar" dan menemukan kunci mobil yang beda di atas meja, saya memberanikan diri untuk keluar seorang diri menggunakan mobil tersebut ke jalan raya. Perjalanan saya lancar, saya merasa semakin mantap.

Setibanya di lampu merah, ada polisi yang sedang berjaga. Saya berusaha untuk tenang dan membusungkan dada supaya terlihat layaknya orang dewasa yang sudah pantas naik mobil. Saya pun membelokkan mobil ke arah kanan, namun tidak tahu jika ada rambu dilarang belok kanan (panah merah belok dicoret). Saya sempat ditegur orang untuk tidak belok karena tidak boleh, namun saya belok dan mengegas mobil agak kencang karena ada polisi. Tidak disangka, ketika melihat ke kaca spion, sudah ada sosok polisi di belakang saya dan menyuruh untuk minggir. Saya panik, semakin panik saat polisi tersebut sejajar dengan mobil saya. Saat itu, saya tidak bisa menahan diri saya untuk tidak panik. Saya memutuskan untuk ngebut dan lari. Polisi tersebut terus mengejar saya dan sesekali menjajarkan posisinya dan memarahi saya, lalu dia berhenti di depan saya. 

Saya semakin panik dan ketakutan. Itulah pertama kalinya saya ditilang oleh polisi. Saya menangis, hahaha! Iya, saya menangis karna takut, takut sama polisi dan (yang lebih menakutkan lagi) takut dimarahi ayah saya karena keluar tanpa izin.

Saya menangis dan memohon, "Pak, jangan ditilang, Pak... Huhuhu... Ini mobil ayah saya, nanti saya dimarahi dia kalau balik-balik saya ditilang."

"Mana STNK kamu? SIM kamu?" kata Pak Polisi.

"SIM gak punya, Pak..."

"Kalau gak ada STNK dan SIM, ayo ikut ke pos!"

Pergilah kita ke sana. Di pos polisi, saya kemudian menelepon ayah saya menggunakan telepon genggam dari Pak Polisi. Saya mengatakan bahwa saya kena tilang sambil meminta ayah saya untuk ke pos polisi tersebut untuk membawa STNK. Saya dimarahi di telepon. Berkaca-kacalah saya. Setibanya ayah di pos polisi, dia mengurus dan membayar denda, lalu mengajak saya pulang. Setibanya di rumah, saya disambut dengan terwawaan oleh saudara-saudara saya. Ibu saya pun sedikit memarahi dan memberikan nasihat. 

Sampai saat ini, saya merasa malu, sedih, dan sedikit bangga bila mengingat hal itu. Kenapa bangga? Ya, karena beberapa bulan setelah kejadian itu, saya dipercayai oleh ayah saya menyetir mobil terlebih dahulu dibandingan kakak laki-laki saya yang usinya terpaut 5 tahun karena dinilai gaya menyetirnya masih kaku dan jiwanya belum santai. Hahaha. 

Sekian kisah saya.

 

Answered Feb 14, 2017
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

McwaRK6ay83EwYfWrpOcZTjbB2CV7068.jpg

Tidak terlalu sulit menaiki kendaraan. Cukup modal keberanian, ditambah bimbingan dari orang yang lebih pandai (dalam hal ini orang tua saya), saya pun dengan cepat bisa naik ke mobil. Tidak perlu belajar yang rumit, cukup tunggu aba-aba dan tuntutan orang tua, saya pun dengan sigap telah berada dalam mobil. Kita semua pasti bisa melakukannya dan mungkin punya pengalaman yang sama ketika pertama kali menaiki kendaraan. Tapi bukan naik yang seperti itu yang dimaksud oleh pertanyaan di atas, melainkan menjadi pengemudi kendaraan roda empat untuk pertama kalinya.

Saya dan hampir sama dengan kebanyakan pengendara pemula lainnya, melalui tahapan berkendara tanpa pernah bermimpi akan memiliki kendaraan karena kebanyakan pengendara pemula datang dari kelas menengah ke bawah. Berbeda dengan sedikit orang yang telah diantar pulang pergi dengan kendaraan sejak dalam kandungan. Mereka tidak perlu berharap apapun karena kendaraan telah tersedia.

Saya belajar mengendarai mobil untuk pertama kalinya dengan situasi tak diduga sebelumnya. Kantor tempat saya bekerja sedang membutuhkan sopir tambahan, tapi pihak kantor enggan mempekerjakan sopir baru karena akan memakan biaya yang mahal. Salah satu jalan yang ditempuh adalah memaksimalkan karyawan yang ada untuk dijadikan sopir cadangan. Jadilah saya dan beberapa teman dikursuskan mengendarai mobil. Kegiatan belajar mobil berbayar itu berlangsung selama seminggu, tapi tak satupun dari alumni kursus mobil tersebut yang berani membawa mobil, karena takut mobilnya tertabrak atau menabrak kendaraan lainnya. Walhasil, kursus pun percuma kami ikuti, karena pada akhirnya tak satupun yang berani mengendaraai mobil. Kantorpun pasrah dan kembali merekrut sopir baru untuk memenuhi kebutuhan pengendali roda empat tersebut. 

Beberapa tahun kemudian setelah pindah kantor, barulah ilmu menyetir yang saya dapatkan bisa digunakan, setelah mampu membeli mobil bekas. Sisa-sisa kursus masih tampak, meski awalnya agak kaku. 

Suatu ketika, karena sudah merasa mahir, saya ceroboh dalam menekan pedal gas, padahal yang saya inginkan adalah pedal rem, dan hasilnya lecet-lecet terlihat nyata dibagian sebelah kanan mobil. Seperti kata orang-orang yang sudah ahli, kemampuan berkendara baru terasa sempurna setelah kita menabrak atau kendaraan yang kita kendarai lecet-lecet. Itu semacam ucapan selamat datang. Dan memang benar, setelah insiden itu, hingga saat ini belum pernah ada kejadian serupa, dan semoga insiden itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Answered Feb 14, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

DDSiL57zXpF5fnYH2cWg4D13z6IB_PZI.png

Saya tidak pernah belajar menyetir mobil. Saya langsung saja bisa. Begini ceritanya.

Ketika saya kelas dua SMP, Ayah dan Bunda sedang keluar kota. Saya lalu ambil kunci mobil di kamarnya. Saya coba menyetir dengan gerakan maju-mundur. Saya selalu memperhatikan bagaimana cara Ayah saya membawa mobil. Perseneling satu sampai mundur. Saya menduga ini prinsipnya sama saja dengan membawa motor GL Pro dan motor berkopling lainnya; injak gas perlahan begitu kopling dilepas.

Maju-mundur aman, saya mulai nekat meminjam mobil teman. Yunicko, nama teman SMP saya. Saat itu, saya mengaku-aku saja bisa membawa mobil padanya. Kebetulan, saya bersekolah di SMP daerah komplek yang luas, jadi sudah banyak anak SMP yang pandai membawa mobil. Itu awal membawa mobil saat SMP. Lepas itu, SMA, saya pindah kota. Tidak ada kesempatan mobil siapa yang bisa saya pakai. 

Tibalah saatnya kuliah. Prof. Hamdi Muluk, dosen di Universitas Indonesia, baru membeli Xenia dan dia pengin mudik melalui jalan darat. Dia bertanya, apakah saya bisa nyetir. Saya jawab saja, iya. Dalam otak, saya bisa pulang kampung Jakarta-Padangpanjang gratis.

Inilah pengalaman saya menyetir sendiri yang paling lama. Terus terang, saya deg-degan pas masuk tol. Situasi paling bikin panas-dingin adalah saat harus menaikkan mobil ke atas kapal. Tapi, karena durasi yang panjang, saya jadi terbiasa. Akhirnya, kembali ke Jakarta pun kami bersama lagi. Sampai detik ini, mungkin Prof. Hamdi belum saya beritahu bahwa itulah kali pertama saya nyetir mobil sendiri. 

 

Answered Feb 14, 2017
Tigor Dalimunthe
Lelaki dan Ganteng

XRPdrCVQnkdDGLw8bMIoixNgca_U-QQl.jpg

Pertama kali saya belajar mobil, seingat saya pada saat kelas 4 SD (sekitar tahun 1996 rasanya). Mobil yang saya bawa adalah Kijang Super (second), keluaran tahun 1986, plat polisi B 1240 PR, yang dibeli cash oleh Papa saya seharga 22 juta Rupiah (sebagai perbandingan, harga New Suzuki Sidekick termurah di tahun itu sekitar 36 juta). Tubuh saya masih kecil, dan butuh tambahan bantal penyangga untuk bisa menggapai gas dan setir dengan nyaman. Hal paling menarik saat pertama kali belajar mobil adalah saat saya diminta bersimulasi seolah-olah situasinya macet parah dan sedang berada di tanjakan yang berkelok-kelok.

Ya, saya ingat Papa saya mencari sebuah tanjakan, lalu berhenti, dan meminta saya meneruskan sambil mengajarkan saya teknik dan feeling saat mengkombinasi gas, kopling, dan tuas rem tangan yang masih berbentuk seperti kunci T raksasa. Saya berhasil dalam beberapa kali percobaan. Namun, hingga saya bisa membeli mobil sendiri di awal tahun 2015, saya sama sekali tidak pernah membawa mobil di tanjakan dan macet. Papa saya hanya mau mengajari, tapi tidak pernah mengijinkan saya membawa mobil kalau tidak dalam pengawasannya.

Mobil yang saya beli di tahun 2015 adalah mobil yang bertransmisi matic dan tentu saja tidak perlu mengkombinasikan tuas rem tangan, gas, dan kopling saat berada di tanjakan.

SALAM DUA PEDAL!

Answered Feb 14, 2017
Asep Sumpena
Professional in Medical Device, Safety Officer, Logistics and Blogger

X8BgJ0TvtVuXPHoe1Ui7rg_f53v6fhXe.jpg

Saya mempunyai pengalaman yang hampir mirip Pak Pepih Nugraha walau akhirnya saya belajar menyetir mobil lewat kursus. Karena kalau belajar kepada teman, banyak yang tidak percaya bahwa saya belum bisa menyetir. Karena saya termasuk telat juga dalam menguasai keahlian berkendara roda empat ini. Saya sudah "dewasa" ketika datang ke tempat kursus menyetir mobil. 

Sebelum kursus, saya belajar menyetir mobil lewat bacaan di internet. Lucu juga, skill fisik tapi belajar pendahuluannya lewat bacaan. Namun bagi saya, itu sangat membantu dalam mengimajinasikan menyetir mobil.

Ketika ditanya oleh instruktur kursus apakah sudah pernah mencoba mengendarai mobil. Saya yang sudah berimajinasi menyetir mobil merasa sudah "mengerti menyetir mobil". 

Namun, akhirnya saya meminta dia untuk menganggap saya belum pernah belajar sama sekali. Si instruktur melihat saya sekali lagi dan sekilas menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin tidak percaya.

Akhirnya, saya diminta naik ke jok supir dan instruktur di sebelah saya. Mobil sudah dimodifikasi sehingga pedal rem dan kopling sudah diparalelkan ke sisi instruktur.

Saya diajari cara menghidupkan dan mematikan mobil. Lalu, saya diajari untuk menjalankan mobil (manual) saat itu, sekali-dua kali mobil mati saat mau berjalan karena saya terlalu terburu-buru melepas kopling. Ternyata pengetahuan dari bacaan cukup bermanfaat dan akhirnya teori tadi bisa dipraktikkan di lapangan.

Setelah bisa berkeliling dua putaran mengelilingi dua blok ruko, saya diminta belok kanan serta menanjak untuk langsung ke jalan raya. Wauw.

Dengan dipandu instruktur, akhirnya saya bisa mengendarai mobil di jalan raya di hari pertama, bahkan di jam pertama kursus. Cukup luar biasa saat itu. Akhirnya, beberapa hari kemudian, saya bisa mengendarai mobil tanpa panduan.

Demikian sedikit pengalaman saya waktu belajar mengendarai mobil. 

 

Answered Feb 15, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

vcdiTMaFixXHZ0e7BVBENXmLrdwCipQt.png

Saya baru belajar mengendarai mobil ketika kuliah. Sekitar tahun '97, kalau tidak salah. Ketika ayah dari mantan saya meninggal, saya disuruh belajar menyetir oleh ibu sang mantan lewat kursus dengan biaya dari beliau. Tujuannya, supaya mobil di rumah tidak menganggur sepeninggal bapaknya.

Lalu, saya mencari kursus menyetir yang ada di daerah Terban, Jogjakarta. Pertama, saya pikir belajar teori lebih dulu. Eh, ternyata saat itu juga langsung praktik. Saya langsung disuruh duduk dibelakang kemudi mobil. Lalu dijelasin mana pedal gas, pedal kopling, dan rem. Tidak lupa, saya juga dikasih tahu cara menyalakan lampu sign. Mobil yang dipakai adalah Toyota Kijang pick-up warna kuning yang bentuknya masih kotak,

Bayangkan, saya harus melalui Jalan C. Simanjuntak, salah satu jalan paling sibuk di Jogjakarta. Baru beberapa meter berjalan, saya sudah berkeringat. Stirnya saja mulai licin oleh keringat tangan saya. Asli, saya takut menabrak orang.

Selepas dari Jl. C Simanjutak, kami mengitari kampus UGM, lalu berhenti di salah satu fakultas yang ada tanjakannya. Di sana saya belajar teknik setengah kopling. Rasanya ini bagian yang paling sulit karena harus berulang-ulang. Kadang mesinnya mati, kadang melorot.

Ternyata mengendarai mobil tidak sesulit yang dibayangkan. Kursusnya sendiri hanya 3 kali pertemuan. Setelah itu, saya dianggap sudah bisa. Setelah kursus, saya coba lebih sering bawa mobil keluarga mantan pacar. SIM saya juga ibunya mantan yang biayain. Tidak pakai ujian praktik alias nembak.

Kurang lebih 2 bulan kemudian, saya memulai perjalanan luar kota, yakni ke Jawa Timur, mungunjungi beberapa kota seperti Jombang, Malang, dan Surabaya. Sampai saat ini, mengendarai mobil menjadi salah satu hal yang menyenangkan.

 

Answered Feb 16, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

Saya belajar mobil beberapa kali saat masih SMA hingga kuliah. Namun karena kuliah di luar kota dan saya lebih senang menggunakan kendaraan umum ketrampilan menyetir mobil saya tidak terpakai.

Ketrampilan saya menyetir mandek lantaran tak pernah digunakan. Apalagi bapak saya waktu itu tak mau menyerahkan kursi pengendara karena merasa nyaman nyetir sendiri. Alhasil saya lebih banyak duduk di samping bapak dibanding membawa mobil sendiri.

Tapi ada satu kesempatan saat bapak mengajari saya belajar nyetir di jalan raya, ada insiden yang hingga kini masih saya ingat dengan jelas. Mobil yang saya kendarai menyerempet mobil dari arah berlawanan. Saya tak bisa mengatur jarak antara mobil bapak dengan mobil itu, dan penyoklah mobil kami.

Setelah itu bapak tak lagi tega memberikan mobil ke tangan saya. Sayapun tak hirau karena jarang di Jakarta.

Titik balik kemampuan nyetir saya terjadi setelah bapak menderita stroke. Saya nekat membawa mobil meski belum terlalu piawai. Saat berada di jalan tol kecepatan mobil tak lebih dari 60 km/jam. Saya biasanya selalu ambil jalur paling kiri karena tak punya nyali menyalip atau menggeber kecepatan.

Yang parah jika di jalanan arteri dan berpapasan dengan truk besar. Keringat dingin mengucur deras tanpa komando. Panik dan bingung langsung menyergap. Berkali-kali mobil mati mesin dan diklakson pengendara lainnya.

Kini kemampuan menyetir saya terus meningkat. Bahkan saya sudah berani membawa mobil keliling Jawa berkali-kali dan sempat ikut touring di pulau Kalimantan yang kontur jalanannya susah diprediksi.

Answered Feb 16, 2017
Hera Wati
Saya.. Ya, saya. Tak perlu menjadi oranglain, tak perlu meniru siapapun.

PHRZM6OP7vvTPisYJ4W2nxw8J4dtqTa-.gif

Pertama kali saya belajar mobil adalah saat SMA kelas 2. Pertama kali, saya minta supir untuk menunjukkan; mana kopling, gas, dan rem. Setelah itu, pelan-pelan maju deh... Beberapa jam kemudian, langsung lancar, mungkin karena biasa memperhatikan sopir ayah saya menyetir. Ayah saya kan gak bisa nyetir... Mobil pertama yang dikasih orang tua saya adalah Suzuki Jimny. 

Answered Mar 13, 2017
Hawa Sadewi
Suka streaming film

Hasil gambar untuk speedometer mobil avanza

Pertama kali saya belajar mobil adalah setelah saya lulus SMA, sekitar umur 17 tahun. Belajar mobilnya melalui les latihan mobil di daerah Fatmawati. Ya, untungnya saat itu mama saya ikutan les mobil juga. Kata mama saya, "Mama mau les latihan mobil lagi, ah, soalnya Mama udah lupa caranya gimana. Dulu pernah belajar tapi udah lama banget, terus latihannya di Senayan, Nak." 

Hari pertama les, mama saya dulu yang belajar dan itu langsung di jalan raya besar, yaitu Jl. Fatmawati Raya - Pondok Indah. Dapat dikatakan, ruas jalan raya ini sangat ramai dan cukup padat dilintasi kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Mama saya yang saat itu lebih dahulu belajar langsung shock sambil bilang, "Ini belajarnya di sini, Pak? Saya dulu di tempat sepi, di Senayan, nanti udah muter-muter aja latihan di situ."

Terus, Pak Tono (orang yang mengajari saya dan mama saya mengendarai mobil ini) menjawab, "Iya, Bu, sekarang kalau belajar mobil harus langsung di jalan raya seperti ini, Bu, supaya langsung dapat feel yang sesungguhnya di jalan raya." 

Setelah mama saya selesai latihan, giliran saya yang belajar mengendarai mobil. Saya diajarkan cara-cara awal menyalakan mobil; memasukkan gigi, kopling, gas, rem dan lampu sen kalau mau belok kanan/kiri. Awalnya lancar, karena jalannya lurus aja, hehehe, tapi saya tetap deg-degan karena banyak mobil yang mendahului saya (dalam hati, haduh, serem juga yah ngendarain mobil sendiri. Luas juga, ya, jalan raya itu). 

Tiba-tiba Pak Tono bilang, "Nanti, di depan itu, yang ada puteran balik, kamu putar balik, ya. Pelan-pelan aja. Nanti, injak remnya, lalu tunggu dulu sampai mobil dari arah sebaliknya lewat."

Lalu, pas mau putar balik, Pak Tono bilang lagi, "Sekarang setirnya putar ke kanan sambil remnya dibuka setengah." Kemudian, mobilnya berhasil putar balik dengan mulus, padahal saya seperti tidak melakukan apa-apa saking deg-degannya karena ramai sekali jalan raya saat itu dan mobil di belakang saya sedang antre menunggu ingin putar balik juga.

Selama belajar mobil, pengalaman yang paling berkesan saat belajar mobil di daerah rumah Anang dan Ashanty. Saya belajar memarkirkan mobil tepat di lapangan depan rumah Anang-Ashanty, hehehe.

Saat ingin balik ke arah Fatmawati, jalan raya mulai padat. Saat macet, otomatis mobil saya ikut berhenti juga dan memasukkan gigi nol (netral). Saat mobil di depan saya mulai berjalan, saya langsung memasukkan gigi dan melepas kopling pelan-pelan, terus mobilnya mati. Saya mencoba tenang untuk tidak panik sambil menyalakan mobilnya kembali. Namun, mobil tidak juga berhasil menyala. :(

Ya sudah, akhirnya saya mulai panik. Benar saja, banyak mobil di belakang saya menekan klakson tak henti-henti. Saya hanya bisa terdiam bingung, mau berbuat apa.

Akhirnya, Pak Tono yang membenarkan mobilnya sambil bilang, "Sudah, kamu tenang saja. Biarkan saja orang-orang di belakang pada klakson. Sudah tahu ini mobil latihan belajar mobil, harusnya mereka mengerti, dong." 

Kemudian, saya melewati tanjakan yang tinggi sekali. Inilah yang paling deg-degan. Untungnya, jalan sepi, jadi saya bisa langsung gas saja sambil berdoa dalam hati, "Ya Allah, jangan sampai tiba-tiba macet dan berhenti pas lagi tanjakan." (sambil melihat mobil yang perlahan-lahan berhenti, karena ada mobil dari arah kanan ingin memasuki jalan tanjakan tersebut). Benar saja, akhirnya saya berhenti saat di tanjakan itu.

Jantung saya mulai deg-degan lagi karena memikirkan cara melepaskan kopling perlahan sambil menginjak gas karena takut nanti malah mati dan mundur mobilnya. Alhamdulillah-nya, mobilnya tidak mati saat dinyalakan kembali. Ya, memang tidak mati, tapi sempat mundur ke belakang lah yang lumayan bikin saya panik.

Akhirnya, Pak Tono langsung memberikan arahan kepada saya, "Ya, langsung ditekan gasnya!"

Dari pengalaman saya belajar mobil itu, sampai sekarang, saya belum berani kalau melewati tanjakan dan masih belum mahir untuk memarkirkan mobil. Seperti kata Pak Tono, kalau belajar mobil, orang yang mengendarai (pengendara) dan mobilnya harus menyatu. Maksudnya, ada feel-nya sehingga bawa mobilnya juga santai, tidak tegang.

Baik, Pak, sepertinya saya harus belajar mobil kembali. :)

Answered Mar 20, 2017

Question Overview


12 Followers
2705 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa kata-kata yang disensor dalam percakapan tersebut? Apakah Anda setuju dengan pendapat wanita dalam gambar tersebut? Mengapa?

Bagaimana menjadi anak muda yang superkreatif?

Tim kreatif pasangan calon Gubernur DKI Jakarta mana yang paling keren? Mengapa?

Apa itu FLAC Indonesia? Apa saja kegiatannya? dan Mengapa saya harus bergabung?

Apa imajinasi paling anehmu?

Seberapa besar kreativitas berpengaruh terhadap produktivitas dalam bekerja?

Apakah kopi dapat membantu meningkatkan produktivitas seseorang ketika bekerja?

Bagaimana cara membuat slime yang aman dan mudah bagi anak?

Apa beda belajar di bangku sekolah dan bangku kehidupan?

Pelajaran apa yang paling Anda sukai ketika SD?

Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk belajar?

Bagaimana Anda bisa belajar lebih cepat?

Umur berapa pertama kali Anda mengikuti bimbingan belajar atau les?

Apakah sistem kebut semalam untuk belajar itu efektif?

Kapan waktu dalam sehari yang paling tepat untuk belajar? Mengapa?

Bagaimana cara belajar di kelas yang efektif?

Apa yang membuat Anda lebih suka belajar sendiri daripada belajar bersama dengan teman-teman?

Bagaimana cara terbaik dan yang paling efektif untuk memastikan kondisi kendaraan selalu prima?

Apa tips terbaik untuk membuat mobil/kendaraan yang kita miliki tampak selalu kinclong (bersih mengkilap)?

Mengapa busi bisa pecahkan kaca mobil?

Apa yang harus dipersiapkan saat akan membeli mobil baru dan mengapa hal itu penting?

Apa yang harus dipersiapkan saat akan membeli mobil bekas (seken) mengapa hal itu penting?

Apa saja perbedaan-perbedaan antara mobil buatan Amerika dan mobil buatan Jepang?

Mengapa Rolls-Royce sering menggunakan istilah hantu untuk mobil-mobilnya?

Mengapa produksi mobil Ferrari tidak sebanding dengan Toyota?

Apa kelebihan mobil-mobil pabrikan Daihatsu?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Apa tips membeli mobil bekas?

Bagaimana cara membeli mobil bekas berkualitas?

Mengapa Toyota menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Mengapa Honda menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Mengapa Mercedes-Benz menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Mengapa Volvo menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Mengapa Rolls-Royce menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia? Apa rahasianya dan bagaimana cara ia bertumbuh?

Mengapa Hyundai menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Mengapa Mazda menjadi perusahaan otomotif raksasa dunia, apa rahasianya dan bagaimana caranya ia bertumbuh?

Manakah alat musik yang paling sulit dipelajari berdasarkan cara memainkannya; tiup, pukul, gesek, petik, atau sentuh?

Apa Golf Course Terbaik di Kota Medan dan kenapa?

Jenis sayur dan buah apakah yang tidak cocok untuk Anda, dan mengapa?

Mengapa seseorang lebih mudah berkeringat dibanding orang lainnya?

Bagaimana cara menunggang kuda?

Apa fungsi dan penjelasan setiap panel pada camera dSLR?

Apa yang harus dipersiapkan untuk belajar fotografi?

Apa lagu yang paling kamu sukai dan mengapa?

Apa manfaat mengikuti kegiatan pecinta alam?