selasar-loader

Mengapa ada orang yang memutuskan untuk tidak memilih di era demokrasi seperti sekarang ini?

Last Updated Nov 18, 2016

Apa pemicu sikap "golongan putih"?

2 answers

Sort by Date | Votes
Shendy Adam
Belajar Politik dan Pemerintahan di UGM (2004-2008)

Justru di era demokrasi ini orang bebas memilih, termasuk untuk tidak memilih (golput) sekalipun. Perlu digarisbawahi bahwa memilih partai/kandidat dan tidak memilih adalah sama-sama perilaku politik yang kedudukannya sama dalam demokrasi. Kebebasan itu sendiri yang seharusnya dimaknai dari demokrasi.

Answered Jan 17, 2017
Andrian Habibi
Advokasi hak sipil dan politik

Seseorang sebutlah sebagai salah satu rakyat Indonesia termasuk warga Sumbar mengatakan “Goodbye” kepada sesuatu kekuatan tanpa bentuk tapi berpengaruh. Ucapan goodbye sebenanya ucapan salam menandakan perpisahan, bisa berjumpa lagi atau selamanya berpisah. Setelah ucapan goodbye bersegera membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan yang ditinggalkan.

Goodbye berasal dari bahasa Inggris yang berarti selamat tinggal. Kenapa harus goodbye, bukan ‘izin ciek lu’, karna memang sudah habis kata untuk meninggalkan yang satu ini. Sesuatu yang masih menyertai sejarah pemilu bangsa Indonesia. Dia menjadi momok menakutkan bagi penyelenggara pemilu dan sebagai alat kritik bagi para komentator ulung. Semakin tinggi angka golput maka semakin banyak opini yang terbangun untuk menghakimi penyelenggara pemilu, partai politik dan pimpinan daerah yang terpilih.

Dalam pesta demokrasi, kata goodbye, diucapkan kepada kekuatan golput –rakyat yang tidak memilih- yang mencapai 2.564.113 pemilih atau 68,43 persen saat pemilu 2014 dan pilpres 63,74 persen dengan partisiapsi pemilih sebanyak 2.354.327 untuk sumatera barat.

Golput merupakan kelompok pesimis atas nasib kehidupannya dan jauh dari implementasi “ikhtiar”. Takdir adalah kuasa Tuhan dengan ikhtiar manusia sebagai bentuk pencapaian takdir. Buku-buku tidak akan memberikan teori bahwa takdir bisa berubah dengan berdiam diri dan mengatakan “nasib sudah begini”. Terus terang saja, sudah tahu nasib begini-begini saja, kenapa tidak dirubah. Golput pileg 2014 sebanyak 1.182.908 atau 31.57 % dan golput pilpres 2014 sebanyak 1.339.495 atau 36,25 %.

Goodbye Golput berarti selamat tinggal rakyat yang tak memilih, atau bisa jadi tafsirannya selamat tinggal angka pemilih yang tidak memilih. Pantas goodbye dikatakan dengan lantang selantang “mangariak” preman pasar. Alasannya sederhana saja, Legalitas suara dapat berdampak negatif pada program kerja gubernur terpilih. Besarannya goolput menakuti semua konstestan bakal calon kepala daerah provinsi sumatera barat.

Menurut wikipedia.org, dasar hukum golput bagi penganut paham pesimisme demokrasi, memuat bahwa :

“Klausul yang dijadikan dalil pembenaran logika golput dalam Pemilu di Indonesia yaitu UU No 39/1999 tentang HAM Pasal 43. Selanjutnya, UU No 12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil Politik yaitu di Pasal 25 dan dalam UU No 10/2008 tentang Pemilu disebutkan di Pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: "WNI yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih. Dalam klausul tersebut kata yang tercantum adalah "hak" bukan "kewajiban".

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang diamandemen pada 1999-2002, tercantum dalam Pasal 28 E: "Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali". Hak memilih di sini termaktub dalam kata "bebas". Artinya bebas digunakan atau tidak.”

Wooow, bebas digunakan atau tidak, berhak bukan berkewajiban menyisakan perdebatan lapau. Elok diawak katuju diurang, dalam hidup ini termasuk kajian berdemokrasi jangan sampai kalimat “lamak di awak se”. Maka, Indak ado kayun janjang dikapiang. Tiada yang sempurna sebagai pemimpin, selalu ada baik dan kurangnya, butuh kerja keras dan kerja cerdas memajukan bangsa.

Demi kebaikan, lebih tepat mempergunakan hak suara karna, jelas diperuntukkan dalam meminta pertanggungjawaban bagi yang menerima suara. Selanjutnya, suka tidak suka, memaksa orang menunaikan kewajibannya harus dimulai dari menunaikan apa saja yang mempengaruhi hak kita.

Oleh karena itu, harus diingat-ingat, golput sangat berpengaruh untuk perkembangan sumbar 5 tahun kedepan. Bukan hitungan hari, juga masalah kampanyenya tapi persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara selama lima tahun  atau sekitar 1.800 hari. Walaupun, banyak pemerhati politik mengungkapkan perkembangan ini di isi oleh perolehan penghargaan seperti gubernur yang sedang menjabat yang beritanya lebih banyak soal raihan penghargaannya dalam memimpin pemerintahan provinsi sumbar.

Kembali ke golput, Sudah habis rasanya ilmu digudang untuk menekan angka golput. Setiap penelitian dan survey dilakukan agar pemilih memberikan suaranya. Baliho sosialisasi dari KPU bahkan hampir menandingi baliho para calon penguasa. Baliho maupun spanduk minimal berada di tiap nagari atau desa yang ada di seluruh sumatera barat. Selain itu, masih ada stiker yang ditempelin di semua papan pengumuman mulai dari papan pengumuman di kantor-kantor pemerintahan hingga papan pengumuman di mesjid.

Program sosialisasi juga melibatkan awak media dengan memuat berita koran tentang informasi kepemiluan, bahkan membentuk tim relawan demokrasi (Relasi), tim khusus mensosialisasikan kepemiluan bersamaan memberikan pendidikan politik bagi masyarakat pun sudah dijalankan.

Apakah kah jurus-jurus sosialisasi KPU masih kurang. Kalau jawabannya masih, jurus seminar dan sosialisasi serta dialog terbuka dilaksanakan. Akan tetapi masih saja pepatah Jauh pagang dari api, saya kurang percaya bila masyarakat tidak mengetahui jadwal-jadwal pemilu dan pilpres serta pilkada yang sedang heboh ditahun 2015.

Pada akhirnya, angka-angka menjawab dengan pahit bahwa kelompok tidak memilih masih tinggi. Masih perlu alasan lain? Sekarang mari renungkan asal jangan berhayal, bahwa memberikan alasan akan memunculkan kebohongan dan setiap kebohongan akan menyuburkan kebohongan lainnya. Jadi, cukuplah angka-angka di website KPU Sumbar sebagai satu-satu alasan goodbye golput.

Saya brasumsi –jika dibolehkan- golput kedepan masih tinggi dan sebarannya merata. Hal ini bisa dikaitkan dengan kisruh politik para elit partai politik. Sebut saja kisruhnya PPP dan Golkar, bisa berdampak pada partisipasi pemilih khususnya pemilih dari kalangan PPP maupun Golkar yang “dikalahkan” oleh SK Kemenkumham RI.

Pertanyaannya, kenapa rakyat sebagai pemegang suara tuhan tidak mau memberikan amanah kepada calon wakil tuhan dibumi? Jangan-jangan pemilik suara Tuhan –Suara Rakyat Suara...(more)

Answered Jan 27, 2017

Question Overview


3 Followers
753 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Berbeda, bagaimana merangkulnya agar dapat berjalan bersama tanpa memaksa?

Apakah Permesta itu?

Apakah keadilan di bumi pertiwi sudah benar ditegakkan? Apa ciri - cirinya?

Mengapa partai Islam di Indonesia tidak/belum pernah menjadi pemenang pemilu pada era Reformasi?

Bagaimana cara paling efektif memberantas korupsi di Indonesia?

Apa arti 'kiri' dalam politik?

Mengapa Indonesia lebih tidak menerapkan sistem negara federasi mengingat tingginya tingkat keberagaman yang ada di negara ini?

Apa yang menyebabkan suatu ormas menjadi anti-Pancasila?

Nasihat terbaik apa yang pernah Anda terima dari orang lain terkait dengan cara paling efektif dalam menghadapi office politics?