selasar-loader

Apa puisi Chairil Anwar yang paling Anda sukai?

Last Updated Nov 18, 2016

Mengapa Anda menyukainya?

14 answers

Sort by Date | Votes
Rezha Taufani
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

Aku

Kalau Sampai Waktuku
Ku Tak Mau Seorang kan Merayu
Tidak Juga Kau

Tak Perlu Sedu Sedan Itu

Aku Ini Binatang Jalang
Dari Kumpulan Terbuang

Biar Perluru Menembus Kulitku
Aku Tetap Meradang Menerjang

Luka dan Bisa Kubawa Berlari
Berlari
Hingga Hilang Pedih Peri

Dan Aku Akan Lebih Tidak Perduli
Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi
(Chairil Anwar. Maret, 1943)

Answered Jan 24, 2017
Dedy Syahril
Saya suka film, buku dan kacang garuda

oUcxp5DdyfWJd5iF5QYACOD_xXTlzUD3.jpg

SEKALI BERARTI SUDAH ITU MATI

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Februari 1943
Chairil Anwar

Source: normantis.com

Answered Jan 24, 2017
Diaz Abraham
manusia bersahaja, berfikir sederhana, hidup alakadarnya

derai -derai cemara

Answered Jan 24, 2017

KRAWANG-BEKASI 

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi 
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. 
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, 
terbayang kami maju dan mendegap hati ? 


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. 
Kenang, kenanglah kami. 

Kami sudah coba apa yang kami bisa 
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa 

Kami cuma tulang-tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaanmu 
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan 

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 
atau tidak untuk apa-apa, 
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 
Kaulah sekarang yang berkata 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 

Kenang, kenanglah kami 
Teruskan, teruskan jiwa kami 
Menjaga Bung Karno 
menjaga Bung Hatta 
menjaga Bung Sjahrir 

Kami sekarang mayat 
Berikan kami arti 
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 

Kenang, kenanglah kami 
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu 
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi 

Answered Jan 24, 2017
Miftah Sabri
Mempelajari Sastra untuk sebuah keberanian dan kelembutan hati

Wm2z11o9vArl9OCDTdLaSbfEEYT1Mk3T.jpg

SIA-SIA 

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih :

darah dan suci

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan : Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya : Apakah ini ?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah !

Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi!!!

Answered Jan 25, 2017
Adrian Benn
Penikmat bacaan-bacaan menarik

Di luar puisi-puisi perjuangan seperti jawaban-jawaban lain, Chairil Anwar juga memiliki tema lain dalam karyanya. Seperti yang satu ini.

Lagu Biasa (1943)

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.

Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana

Answered Jan 25, 2017
Annisa Sri Aulia Mutiara
Pecinta sepakbola. Penikmat sastra.

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri 

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya. 

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri. 

(Chairil Anwar, 1946)

 

Sebenarnya, tak ada alasan mengapa saya menyukai puisi ini. Sejak pertama membaca, saya langsung jatuh hati. Mungkin, karena memang saya tipe orang yang menyukai puisi-puisi romantisme sehingga saya dengan mudahnya jatuh hati pada puisi ini. Di balik itu, puisi ini mengandung makna yang bagus. Sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu.

Ada satu pesan menarik di puisi ini. Kepada siapapun hati kita berlabuh, jalan Tuhan tak pernah bisa kita tebak. Ikuti saja alurnya.

1-EiO6FhXEd9EFk3cJESuAxNigagERWt.jpg

via i.ytimg.com (KAM)

Answered Apr 2, 2017
Ign Joko
Guru; Menulis itu tindakan dan membaca adalah menabung

NDvR_kt9mS3rFKA4l-s9_jbxyh4IwG4n.jpg

via bp.blogspot.com (FR)

Saya suka puisi Aku.

Aku ini adalah binatang jalang dari kumpulannya terbuang...

Rasanya pas banget dengan situasi perasaan seorang seniman yang suka menulis. Seorang seniman biasanya tidak suka pada pembatasan-pembatasan dan aturan mengikat sehingga ia bisa berkreasi secara liar dan kreatif, tetapi tentu akan banyak benturan dan seakan-akan terbuang dari lingkungannya yang menganggap kita seperti orang gila yang tidak punya aturan dan tata krama.

Answered Apr 4, 2017
Quidora soera
saya menyukai dunia tulis menulis, terutama sastra.

Berbicara tentang nama seorang penyair terkenal Chairil Anwar, selalu mengingatkan saya pada salah satu puisinya yang pertama kali saya baca ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Puisi yang saya maksud adalah puisi berjudul AKU.

Aku

Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

 

Saya bisa dikatakan menyukai puisi tersebut, karena menurut saya pemilihan kata (diksi) yang digunakan begitu memikat hati dan pikiran saya. begitu mendalam.
Maklum, saya adalah salah satu manusia di bumi ini yang tergila-gila pada sastra khususnya puisi.

Answered Jun 12, 2017
Fiqhi Fauzi
Mahasiswa FMIPA USU 2014 | Rumah Kepemimpinan 8 | Sekjen Inkubator Sains USU

5oEjwKIrHl7Aj0Zlmyc3vCPC7eDuv9cl.png

Karawang Bekasi.

gambar via wordpress.com

Answered Jul 9, 2017
Ika Putri Lestari
Prodi Indonesia, Universitas Indonesia

aQzIzRQDy4pGFYumTcpzEbeZSayPZl0L.jpg

Puisi Chairil Anwar yang paling saya suka dan teringat, yaitu puisi yang berjudul "Aku". Puisi ini merupakan puisi Chairil Anwar yang paling terkenal dan berjaya di masa 'Angkatan 45'. Puisi ini memiliki tema pemberontakan dari segala bentuk penindasan. Dalam puisi ini, penulis menyatakan keinginannya untuk "hidup seribu tahun lagi", namun ia menyadari keterbatasan usianya, dan kalau ajalnya tiba, ia tidak ingin seorang pun untuk meratapinya.

Berikut adalah puisi Aku karya Chairil Anwar.

Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

gambar via bing.com

Answered Jul 10, 2017

Kalau aku paling suka puisinya yang berjudul "Antara Karawang-Bekasi".

Hasil gambar untuk chairil anwar antara karawang bekasi

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jul 11, 2017

Saya sangat nenyukai puisi "Aku".

Answered Jul 29, 2017
Florensius Marsudi
Ayah satu putri...

zwkJWg8S7RS2Upq6SA6VKPbjP6jIjfs-.jpg

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang, menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

"Kejalangan" pilihan kata Chairil Anwar (CA), menjadikan puisinya selalu hidup.
CA juga cermat dengan pilihan kata-kata yang ia pakai. Tentu saja hal tersebut sesuai dengan kondisi jamannya. Zaman ia hidup dan bertumbuh di era penjajahan.

Tak heran jika pilihan kata yang CA gunakan amat "menggigit".

 

gambar via wordpress.com

Answered Aug 18, 2017