selasar-loader

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan seekor kucing?

Last Updated Feb 8, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

UunThO7E8azMvhmkiaS5IBytL9elPZOS.jpg

Selama hidup, ada masanya ketika saya harus berinteraksi dengan beberapa jenis hewan. Sebagai orang kampung yang lahir dan dibesarkan di pedesaan, sejak masak kanak-kanak saya akrab dengan lingkungan alam sekitar, alam pedesaan dengan aroma tanahnya yang khas di pagi hari, dengan wangi bulir-bulir padi yang baru dipetik. Saya suka dengan embun pagi yang bulir-bulirnya menempel di dedaunan, daun tomat, dan cabai yang saya tanam sendiri di pekarangan.

Karenanya, saya akrab dengan musik alam berupa alunan jangkrik dan kodok di sawah menjelang tidur malam, bunyi serangga pada siang hari sebagai penanda matahari tepat berada di ubun-ubun, dan suara burung gagak yang serak mengitari pemukiman kami yang dimaknakan sebagai bakal adanya kematian yang menimpa salah satu penduduk. Saya benci dengan suara gagak yang parau itu, tetapi sejujurnya itulah sisi indah lainnya pedesaan yang disediakan alam meski dengan suara gagak menakutkan sekalipun.

Saya berkawan dengan tumbuhan dan hewan. Dengan tetumbuhan, saya tidak biasa berkomunikasi sebagaimana Pangeran Charles melakukannya, yang saya tahu kemudian. Dengan hewan, saya kerap bercakap-cakap dalam bahasa kanak-kanak, dalam bahasa Sunda yang diperuntukkan buat hewan. Mungkin karena saya sudah tahu hewan punya nyawa dan rasa, bisa bersuara pula, tidak sebagaimana tumbuhan. Karena saya menjalin komunikasi dengan hewan, saya menjadi akrab dan mereka seperti paham perkataan saya.

Saya harus membedakan hewan piaraan dan hewan yang bisa saya manfaatkan untuk keberlangsungan kehidupan. Belut di sawah yang saya buru pada malam hari, ikan lele dan gabus di sungai yang saya pancing di atas batu datar, kawanan burung kuntul melintas yang saya jerat, adalah hewan yang biasa diburu untuk kami makan. Demikianlah nenek-moyang mengajarkan kami bertahan hidup di alam bebas. 

Di pekarangan dan di kolong rumah, orangtua memelihara ayam, bebek, angsa, sampai kambing. Semua hewan itu bisa kami makan dan itulah kehidupan kami. Di luar itu, saya sejak kanak-kanak juga memelihara kucing yang tentu saja tidak bisa kami konsumsi. Dia hanya sebagai teman main yang kadang jauh lebih saya rindukan ketimbang teman-teman permainan. Anjing, saya tidak memeliharanya kendati ada keinginan untuk itu. Ustadz guru ngaji saya melarang saya memeliharanya karena air liur anjing itu najis, haram hukumnya. Saya patuh.

Sekitar tahun 1972 awal saya bersekolah di kelas satu sekolah dasar, saya memelihara kucing untuk yang pertama kalinya. Ibu saya yang kini sudah almarhumah membawa anak kucing berwarna kemerahan bertutul hitam. Lucu sekali. Hati girang bukan kepalang. Sebab, tidak hanya ayam dan itik saja yang saya kasih makan setiap pagi, kelak juga kucing.

Saya selalu menyisihkan ikan utuh, bukan ikan bekas, kepada anak kucing yang Ibu namakan "Royal". Ya, Royal, itu nama yang keren dan kebarat-baratan. Mengapa sampai punya nama sebagus itu untuk seekor kucing? Mengapa namanya bukan "Empus" atau "Memeng" saja yang umum?

Saya baru tahu belakangan nama itu diambil dari nama Royal Circus, sebuah kelompok sirkus yang menghibur warga Kabupaten Tasikmalaya selama sebulan penuh dan berpentas di alun-alun. Selama setahun berikutnya, saya tumbuh bersama Royal yang lincah dan setelah beranjak dewasa dia menjadi kucing yang sangat setia.

Dia kucing yang tidak pernah mau mencuri makanan yang tersaji di atas meja sebelum saya memberikannya di piring kaleng khusus untuknya. Mungkin sudah naluri dan menganggapnya kebiasaan. Sepulang dari sekolah, Royal-lah yang menyambut saya, membentur-benturkan badannya secara halus ke kaki. Saya mengangkatnya dan mengelus-elusnya. Dia kucing yang manja.

Tiba masanya saya harus berpisah dengannya secara tragis. Perpisahan yang tidak diduga-duga dan tidak pernah terbayangkan akan terjadi. Royal yang biasa menyambut saya sepulang sekolah sudah tidak ada lagi. Saya mencari-carinya. Tidak berhasil. Sampai malam tiba, Royal belum juga muncul. Saya menangis. "Nanti juga Royal kembali, Nak," Ibu menenangkan.

Nyatanya Royal tidak kembali lagi. Saya mencari-carinya selama seminggu berikutnya seusai sekolah, manatahu Royal tersesat di kampung sebelah. Akhirnya saya bertanya kepada Ibu mengapa Royal tidak kembali. Jawaban Ibu sungguh membuat dada sesak, "Mungkin Royal kawin dan ia dibawa kucing jantan ke suatu tempat."

Saya benci perkawinan semacam itu, perkawinan yang merenggut kebersamaan saya dengan Royal, demikian gejolak batin kanak-kanak saya saat itu. Mengapa perkawinan harus membuat saya kehilangan Royal? Batin saya protes tanpa berharap ada jawaban lagi, sampai kemudian Ibu membawa seekor anak kucing jantan lainnya, seekor kucing berbulu putih, tetapi ada segerumbul bulu hitam yang melingkupi mata kirinya.

Tampangnya seperti Moshe Dayan, politisi Israel yang bermata satu dan memakai satu kacamata ala bajak laut. Ibu menamakannya "Dayan" karena politisi itu kerap muncul di koran Pikiran Rakyat. 

Namun, Dayan yang dimaksudkan sebagai pengganti bukanlah Royal, ia tidak bisa menggantikannya. Royal tak tergantikan. Ia telanjur menempati salah satu bilik hati saya. Bilik hati itu saya kunci kalau bukan Royal yang kembali. Terlebih lagi, Dayan tidak bisa mengobati kehilangan saya akan Royal. Ketika Dayan menghilang, saya tidak terlalu peduli.

Seperginya Dayan, sampai 30 tahun kemudian saya tidak memelihara kucing lagi. Barulah saat anak pertama saya lahir tahun 1996, saya memelihara kucing lagi. Tepatnya bukan saya, tetapi anak saya yang kala itu sudah berusia empat tahun yang memintanya. Jadi peristiwa ketika saya berinteraksi dengan sejumlah kucing peliharaan terjadi di awal tahun 2000-an. Salah satu kucing yang tiba-tiba mengusik hati saya adalah "Neige", kucing kampung berbulu putih seperti salju.

Keterusikan hati saya oleh Neige sampai-sampai saya tuangkan dalam sebuah buku yang saya tulis sendiri, Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang (Bentang Pustaka, 2013). Bukan karena Neige dekat dengan saya, tetapi mungkin dengan anak saya dan pembantu di rumah, karenanya saya tidak punya "ikatan batin"...(more)

Answered Feb 9, 2017
Asep Sumpena
Pernah Memelihara Kucing, Anjing, Ayam, Marmut, Kelinci, Merpati, Beo, Kutilang.

lhUBLF7yBexANOO1SN1Gm7kJggxHYXlV.jpg

Ini adalah kisah yang tak terlupakan dengan kucing peliharaan, terjadi sewaktu tinggal di sebuah kampung di Garut.

Dulu, adik laki-laki saya diajak kerabat main ke kampung sebelah, salah satunya ke rumah Bi Edah. Pulang ke rumah, dia membawa seekor kucing bermotif belang-belang kelabu campur putih. Karena yang memberi namanya Bi Edah, maka kucing betina ini pun kami namai Si Edah (cukup lancang juga, ya, sama si pemberi kucing).

Akhirnya, saya yang mengurusnya karena yang lain kurang suka kucing. Setelah cukup umur, Si Edah mulai mencari pasangan, sebelumnya sewaktu masih ABG dia tidak kegenitan untuk mencari cowok, eh kucing jantan. Namun pada waktunya, secara alami dia akhirnya mendapatkan pasangannya. Walaupun tidak sempat kami nikahkan, karena bingung juga bagaimana menikahkan kucing, akhirnya kucing kami pun mempunyai anak yang lucu-lucu.

Anak-anak kucing itu sering dipindahkan berkali-kali dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan cara dipegang tengkuknya oleh mulutnya, kalau dilihat sepintas seperti digigit dengan erat, tetapi setelah diperiksa tidak ada bekas luka di tengkuk anaknya itu.

Menurut tetua ahli perkucingan, katanya, induk kucing akan memindahkan anak-anaknya sebanyak tujuh kali. Namun sepanjang pengamatan saya, Si Edah tidak selalu memindahkan tujuh kali, dari beberapa kali punya anak rata-rata tiga sampai lima kali memindahkannya, pernah juga sih tujuh kali. Mungkin zaman sudah berubah.

Pernah suatu kali anak-anak kucing dipindahkan oleh induknya ke atas langit-langit rumah. Namun selama dua hari Si Edah tidak pulang-pulang (kayak Bang Thoyib saja), kemudian di atas langit-langit mulai terdengar bunyi anak kucing mengeong-ngeong kelaparan. Kami juga kebingungan, lalu mencoba mencari-cari Si Edah ke pinggir sawah, tetapi tidak ditemukan, kami khawatir Si Edah sudah mati.

Dengan terpaksa, karena ini menyalahi aturan alam, kami naik ke atas langit-langit untuk menurunkan anak-anak kucing yang berteriak kelaparan tadi. Tentu saja agak sulit karena mereka menghindar dari kami dengan mendesis-desis seperti biasa, tetapi karena sudah kelaparan mereka tidak bisa pergi jauh dan kami berhasil menurunkan mereka ke bawah dengan menggunakan kain sarung.

Sampai di bawah bunyi lengkingan anak-anak kucing itu semakin menjadi-jadi dan makin keras. Lalu kami buatkan susu adik kami yang kecil dan diberikan kepada anak-anak kucing tadi, untungnya mereka mau menjilatnya walaupun masih menjerit-jerit dengan suara yang memekakan telinga.

Tiba-tiba, entah datang dari mana datanglah Si Edah dengan lari sekencang-kencangnya, bahkan hampir menubruk kami dan langsung menuju anaknya yang kelaparan, menjilatinya dengan penuh kasih sayang dan kemudian menyusuinya. Dengan lahap anak-anak kucing itu menetek kepada induknya.

Kami perhatikan tubuh Si Edah agak kurus dan terlihat di kaki belakangnya ada luka yang cukup besar, kemungkinan diserang oleh anjing. Rupanya, dia terluka cukup parah sehingga tidak pulang ke rumah. Namun demi mendengar suara anak-anaknya yang kelaparan dia memaksakan diri untuk datang ke rumah.

Menurut tetua yang berpengalaman dalam urusan perkucingan, katanya kalau kucing terluka parah dia tidak akan pulang ke rumah kecuali kalau lukanya sembuh, bahkan kalau lukanya terlalu parah dia akan mati di tempat persembunyiannya itu.

Saat mendengar suara anaknya kelaparan, Si Edah walau lukanya belum sembuh karena rasa sayangnya dia terpaksa melanggar aturan alam.

Itulah sekelumit kisah saya dengan kucing, namanya Si Edah.

Demikian.

Answered Feb 10, 2017
Anonymous

tdw7JZfrj7Ue-xk2QmPKQwWdwjoffFb6.jpg

Ya, saya punya satu pengalaman kurang mengenakkan dengan kucing. Saat itu, saya sedang berjalan di tepi jalan menuju rumah sehabis pulang kantor. Kemudian ada seekor kucing jantan yang hendak menyeberang jalan tepat di depan saya, mungkin karena kucing itu sedang tidak enak hati, dia menyeberang sambil melihat ke arah saya dan kami pun saling lihat-lihatan.

Tiba-tiba, kucing itu berhenti dan saya pun ikut berhenti. Dalam hati saya bilang, ini kucing ngapain melihat saya terus berhenti?

Karena kesal dilihat macam itu, kemudian saya coba takuti kucing itu seakan-akan hendak saya tendang. Tidak disangka, bukannya takut, itu kucing jantan yang memang rada sangar malah balik menggertak saya! "Sialan ini kucing, berani amat ama gua," dalam hati saya bilang. Kemudian, itu kucing dengan santai kembali menyeberang jalan sambil kepalanya terus menghadap kearah saya.

Karena tidak mau ambil pusing sama itu kucing preman, saya kembali jalan pulang ke rumah. Sekian.

Answered Feb 11, 2017

Question Overview


4 Followers
1166 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memelihara anjing?

Lebih baik memelihara anjing atau kucing?

Kucing mana yang paling mudah pemeliharaannya?

Anjing mana yang paling mudah dipelihara?

Mengapa kucing sering sekali buang air kecil di ban motor?

Apa hewan peliharaan favoritmu?

Apa ras anjing favorit Anda?

Apa jenis kucing favorit Anda?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan seekor anjing?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Mengapa jerapah lehernya panjang?

Bagaimana cara laba-laba membentuk sarangnya?

Bagaimanakah cara lebah menghasilkan madu?

Anda akan memilih mana; kehilangan binatang peliharaan kesayangan karena dicuri atau melihatnya mati?

Apa yang membuat Anda mau merawat seekor anjing?

Apa yang membuat Anda mau merawat seekor kucing?

Apa yang membuat Anda mau merawat seekor burung?

Apa yang membuat Anda mau merawat seekor ular?

Apa keuntungan menjadi peternak sapi dan kambing?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan dari ayah Anda?

Apa yang Anda rasakan hari ini?

Inspirasi terbaik apa yang Anda dapatkan di Ramadhan tahun ini?

APA KISAH RAMADAN MU KALI INI