selasar-loader

Siapa sosok kuat bakal calon presiden dan wakilnya yang akan bertarung pada Pilpres 2019?

Last Updated Feb 8, 2017

d1FFIIa2JCEDFqSMKWUeBceFst1R1-uz.jpeg

Pada tahun 2019 Pemilihan Umum akan berlangsung serentak, memilih anggota legislatif semua tingkatan dan presiden serta wakil presiden. Dengan demikian, partai politik harus menghitung lebih cermat lagi siapa bakal calon presiden dan wakilnya yang akan dimajukan.

Jadi, siapakah sosok kuat bakal calon presiden dan wakilnya pada Pilpres 2019? Jelaskan alasannya!

10 answers

Sort by Date | Votes
Thurneysen Simanjuntak
Jangan pernah berhenti belajar!

M22BeMocYutCPo9J4NeR5xUA9htg9uhF.jpg

Walaupun regulasi tentang pemilihan presiden masih belum final digodok, misalnya tentang ambang batas pencalonan presiden-wapres atau boleh/tidaknya setiap partai mengusung calon presiden-wapres, saya yakin bahwa pemilu presiden-wapres 2019 yang akan datang tidak akan jauh berbeda dengan pemilu presiden-wapres 2014.

Dua tokoh yang bertarung di pilpres sebelumnya, Jokowi dan Prabowo, akan tampil kembali sebagai calon presiden pada pemilu 2019. Hingga saat ini, saya belum melihat tokoh lain yang mungkin akan ikut meramaikan bursa pilpres di 2019 tersebut.

Saya yakin, kedua tokoh ini akan bertemu kembali, sebab kedua tokoh tersebut memiliki partai pendukung yang kuat dan basis massa yang luas. Mereka juga didukung oleh pengalaman masing-masing.

3THU_kkqeeM2b9lCocBSVLyOYeWqzub4.jpg

Tapi, untuk wakil presiden ini jauh lebih menarik untuk menjadi bahan perbincangan. Mungkin akan banyak calon-calon alternatif. Untuk calon wapres pendamping Jokowi, ada beberapa yang memungkinkan untuk dipasangkan, seperti Sri Mulayani, Surya Paloh, dan Ahok, mengingat tokoh tersebut masing-masing memiliki pengalaman kuat di bidangnya. Sementara itu, Prabowo memungkinkan untuk dipasangkan dengan Anies Baswedan.

Hingga saat ini, saya masih melihat tokoh-tokoh tersebut yang memiliki kans besar, tapi tidak tertutup kemungkinan akan ada tokoh-tokoh lain yang muncul sesuai konstelasi politik yang berkembang dan sesuai regulasinya yang kelak sudah final. Mengingat pemilu presiden-wapres dua tahun lagi, tentu masih banyak waktu untuk memunculkan tokoh-tokoh lainnya.

Answered Feb 11, 2017
Chandra Simarmata
Meminati dunia politik dan masalah sosial kemasyarakatan

IFMAOminrYI6FE0DtxbCWe3aPoNWZ5e6.jpg

Saat ini, terlalu prematur memang jika kita membahas siapa sosok kuat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang akan bertarung pada Pilpres 2019. Namun berhubung suhu politik negeri ini lagi panas-panasnya mengingat menjelang hari pencoblosan Pilgub DKI Jakarta dan 100 daerah lainnya, maka cukup mengasyikkan juga membahas hal ini.

Menurut hemat saya, pada pilpres 2019, tak akan banyak tokoh yang berani tampil dan maju sebagai capres dan cawapres. Nama Presiden Joko Widodo bisa dibilang yang paling besar peluangnya untuk maju kembali sebagai capres. Selama lebih kurang tiga tahun memimpin negeri ini, tingkat popularitas dan elektabilitasnya tetap baik. Bahkan berbagai gebrakan yang dibuatnya seperti menurunkan harga BBM di papua serta banyaknya pembangunan di wilayah timur semakin memperbesar tingkat ketersukaan publik (likeabilty).

Selain Presiden Joko Widodo, nama Pak Prabowo juga santer disebut-sebut. Prabowo memang belum kehilangan simpatisannya meski kalah pada pilpres 2014. Bahkan saat memimpin kampanye Anies-Sandi di Lapangan Banteng, Minggu (5/2), Prabowo bahkan menyatakan dengan tegas bahwa jika ingin Prabowo jadi Presiden, maka simpatisannya harus memenangkan Anies-Sandi pada pilgub DKI Jakarta.

Selain dua tokoh besar di atas, nama-nama lain seperti Jenderal Moeldoko, Agus Yudhoyono, Hary Tano, serta Jenderal Gatot Nurmantyo juga santer disebut. Tinggal kita melihat bagaimana konstelasi politik dua tahun mendatang.

Sementara itu, untuk kandidat Cawapres memang ada lebih banyak nama yang muncul. Mulai dari gubernur, bupati, maupun walikota berpeluang diusung menjadi kandidat cawapres. Nama-nama seperti Tri Rishmaharini, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Surya Paloh, Zulkifli Hasan, Puan Maharani, Mahfud MD, serta Ahok juga berpeluang kuat dimajukan sebagai cawapres. Bahkan nama mantan ketua KPK Antasari Azhar juga berpeluang kuat jika nantinya jadi mendapatkan rehabilitasi dari Presiden.

Pada dasarnya, politik adalah seni dan peta politik dapat berubah sewaktu-waktu (dinamis). Nama-nama lain memang masih mungkin untuk dimunculkan. Di sinilah kalkulasi dan hitung-hitungan politik yang tepat sangat diperlukan. Para ketua partai dan elite politik tentu harus menghitung dan mempertimbangkan segala sesuatunya, terutama kemauan rakyat. Ke depan, tinggal melihat apakah popularitas, elektabilitas, serta ketersukaan calon-calon kuat tersebut mampu mendulang suara signifikan. Dan, tentunya, hasil Pilgub DKI Jakarta akan turut menentukan.

Answered Feb 14, 2017
Muhammad Asadullah Al Ghozi
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia

l0ttk07puBYHk42w4NX505jaTtwI2lzJ.jpg

Tentu suatu fenomena yang menarik dari 2014 apakah dalam perjalanan ke 2019 akan sama. Menurut saya tidak. 

Pertanyaan yang sangat menarik. Namun terlalu cepat bagi kita untuk menebak-nebak siapa calon presiden yang akan maju pada pertarungan 2019. Terlalu cepat?

Karena gerbong partai politik masih cair dan tidak kuat dan solid. Tidak ada satu pengikat koalisi pemerintah dan oposisi pemerintah selain pada kekuasaan dan kursi menteri. Jika kita memprediksi komposisi partai yang bertarung sama dengan pada Pemilu 2014 lalu itu belum tentu akan terjadi. Koalisi Merah Putih hanya tinggal PKS dan Gerindra yang menyatakan sebagai oposisi loyal pemerintah. Partai KMP lainnya sudah merapat ke pemerintah.

Tidak hanya partai politik, pemilih di Indonesia kebanyakan adalah "massa mengambang". Mereka tidak menentukan pilihan anggota legislatif atau presiden pada pendaftaran calon; atau pada masa kampanye. Pilihan masih bisa berubah, bahkan pada hitungan jam sebelum pemilihan. Partai pun begitu, siapa calon yang berpotensi diusung atau yang akan diusung masih melalui proses negosiasi yang panjang. Mungkin kita masih ingat pada dukungan PDIP terhadap Basuki Tjahaja Purnama di menit akhir pendaftaran Calon Gubernur Jakarta 2017 lalu.

Siapa saja calon yang akan maju pada 2019 nanti bisa kita pastikan pada saat pendaftaran ke KPU saja. Itu jawaban yang pasti. Namun untuk menduga-duga siapa pasangan yang akan maju tidak akan banyak memengaruhi peta partai politik saat ini.

Saya harap dapat menjawab pertanyaan Anda.

gambar via kesbangpol.kemendagri.go.id

Answered Jul 26, 2017
Doddy Hidayat
Founder Ro-cket Pizza Indonesia

Hasil gambar untuk I don't care.

I don't care.

 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jul 27, 2017
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta

Haha, sangat berfaedah.

RUU Pemilunya saja masih ribut. Mikir ke sana ya, belum fokus.

Tapi, tentu sudah bisa dibayangkan ada orang-orang yang sama yang pernah calonkan diri pas Pemilu 2014. 

Answered Jul 29, 2017
Abd Rohim
Co-Founder of Klinik Akuntansi UMKM|Konsultan Akuntansi & Pajak| akuntan islam

Hasil gambar untuk jokowi dan prabowo

Setelah disahkannya UU Pemilu beberapa waktu yang lalu, lantas partai terpecah menjadi dua arus besar antara pendukung UU pemilu yang notabenenya pendukung Jokowi di Pilpres 2019 dengan kontra UU pemilu yang kemungkinan besar mendukung Prabowo Subianto sebagai penantang Jokowi. Dua tokoh tersebut merupakan tokoh kuat yang akan meramaikan bursa calon presiden di Pilpres 2019 dengan basis dukungan partai yang sama-sama kuat. Namun, Prabowo Subianto andaikan benar menjadi penantang Jokowi, Prabowo diuntungkan dengan kondisi masyarakat kelas bawah yang sudah tidak percaya terhadap pemerintahan Jokowi. Krisis kepercayaan dan kekecewaan kelas bawah terhadap Jokowi dengan naiknya berbagai macam kebutuhan mulai listrik, subsidi, dan lain-lain menyebabkan masyarakat akan memberikan suaranya kepada Prabowo. 

 

Ilustrasi via cdns.klimg.com

Answered Aug 1, 2017
Hafizhul Islam
Rumah Kepemimpinan | Materials Eng.

Pemimipin yang saleh dan muslih, cinta Alquran dan bertanggung jawab.

#Jawabanku Juli 2017
#Rumah Kepemimpinan
#RK Regional Surabaya

Answered Aug 3, 2017
Andrian Habibi
Advokasi hak sipil dan politik

YlD0ltcFP-EqjuqfpW9xUXvlvyGxuCz4.jpg

Sejak disahkannya Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum (UU Pemilu) dengan ketentuan ambang batas pencalonan Presiden sebesar 20 persen. Maka, terang benderanglah bahwa Calon Presiden kedepan menyisakan pertarungan antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto. Memang, baru Jokowi lah yang memiliki potensi (bahkan dianggap sebagai calon tunggal) dengan dukungan Koalisi Partai Penguasa. Sedangkan Prabowo harus bergabung dengan Koalisi Cikeas untuk bisa melawan Jokowi.

Dari kedua belah pihak, persoalan terpenting adalah pembahasan Wakil Presiden. Jokowi disatu sisi menang secara kajian Presidential Threshold (PT). Namun, Jokowi akan dipusingkan dengan persoalan wakil. Bila kita menelisik kisah SBY pada rounde kedua Pilpres, SBY bisa saja memilih siapapun yang dikehendaki. Karena SBY cukup kuat secara personal dan tidak membutuhkan penambahan elektabilitas dari sisi wakilnya.

Di lain sisi, Jokowi dirasa tidak memiliki ketegasan untuk menentukan wakil sendiri. Jokowi membutuhkan nasehat (kalau tidak ingin disebut perintah) oleh Megawati sebagai pemilik sah PDI-P. Sehingga, calon wakil Jokowi bisa saja diantara kader pendukung koalisi penguasa. Kalaupun tidak dari kader partai tersebut, potensi orang luar, seperti Tito Karnavian (Kapolri) atau Gatot Nurmantyo (Panglima TNI) tetap membutuhkan restu koalisi peguasa yang dipimpin oleh Megawati.

Dipihak lain, Prabowo dengan harus ikhlas mengubur dendam politik terhadap SBY, begitu juga sebaliknya. Perdamaian antar dua Jendral ini wajib demi mencapai koalisi penentang Jokowi. Apabila ego masih mengudara, jangan salahkan kalau Jokowi maju sebagai calon tunggal. Namun, perdamaian antara Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Kekeluargaan Cikeas menimbulkan masalah yang komplek.

Saya berasumsi bahwa Gerindra yang kadung mesra dengan PKS bisa menimbulkan riak masalah, bila jatah wakil diserahkan kepada Demokrat. Kita tahu bahwa demokrat sudah menyiapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk calon penerus SBY. Sehingga, perdamaian ini tentu menyiapkan Prabowo berpasangan dengan AHY. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana nasib PKS?

Di dalam strategi dan taktis politik, PKS bisa saja ridho atas jatah wakil Presiden. Tetapi kita harus mengerti bahwa ada andagium di dunia politik bahwa "tidak ada makan siang yang gratis". Perjanjian perdamaian ini harus ditulis diatas kertas dengan ketentuan, apabila Probowo-AHY memenangkan pemilu. Maka jatah Menteri dan beberapa Komisaris BUMN/BUMD diberikan kepada PKS. Barulah kekuatan Prabowo-AHY bisa melawan kekuatan Jokowi pada pemilu 2019.

Answered Aug 7, 2017
Ulfa Rodiah
Pengen Jawab aja

Wah menarik. Mungkin Pak Prabowo, entah siapa wakilnya. 

Answered Aug 8, 2017

Gambar terkait

Untuk PBW-AHY, aku rasa kurang menjual karena tidak ada isu krusial yang bisa dijual. PBW gampang dipatahkan dengan isu 1999, sedang AHY dianggap masih terlalu kurang berpengalaman. Apalagi dua-duanya dari korps "baju hijau", sedangkan pemilih mayoritas golongan sipil. Belum lagi isu Jawa-luar Jawa. Mau isu agama? JKW juga muslim. Kalau menurut aku sih, mending wakil PBW diambil dari sipil, misalnya Anies Baswedan. Minimum dia punya basis di DKI dan PKS pun pasti setuju. Sementara AHY, bisa diplot di Kementerian Pemuda&Olahraga. Itung-itung cari pengalaman untuk 2024. Kalau JKW nggak ada masalah, dia bisa ambil dari TNI atau Polri. Jadi, pertarungan bisa seimbang. Bukan seperti Elias Pical lawan Mike Tyson. 

 

Ilustrasi via img.okezone.com

Answered Aug 9, 2017

Question Overview


11 Followers
11506 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana peluang Puan Maharani jika mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2019?

Apakah Harry Tanoesoedibjo layak dimajukan sebagai calon presiden pada Pilpres 2019? Apa alasannya?

Apakah debat cagub/capres dapat banyak mengubah pilihan pemilih?

Mengapa isu yang dibawa calon presiden ketika kampanye sering kali menekankan pada bidang ekonomi?

Menurutmu, berapa jumlah kandidat capres-cawapres yang ideal dalam Pilpres 2019? Mengapa?

Mengapa pemilihan presiden Singapura tahun ini dikhususkan hanya untuk warga negara Singapura bersuku Melayu saja?

Siapa yang akan menang jika Joko Widodo kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 dan apa alasannya?

Jika Prabowo Subianto maju kembali dalam Pilpres 2019, siapakah calon Wakil Presiden yang tepat untuknya?

Jika Joko Widodo maju kembali dalam Pilpres 2019, siapakah calon Wakil Presiden yang tepat untuknya?

Bagaimana peluang Prabowo Subianto jika maju kembali sebagai calon Presiden dalam Pilpres 2019?

Bagaimana peluang Sri Mulyani Indrawati jika mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2019?

Apakah mungkin orang Aceh jadi Presiden Indonesia?

Siapakah tokoh di bawah usia 40 tahun yang suatu hari mungkin jadi Presiden Indonesia? Apa alasanmu?

Apa keunggulan karakter Letjen (purn) Prabowo Subianto?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Soekarno yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Soeharto yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden BJ Habibie yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Abdurrahman Wahid yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Megawati Soekarnoputri yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dikenang rakyat Indonesia?

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden Joko Widodo yang dikenang rakyat Indonesia?

Seberapa kenal Anda dengan Presiden RI Joko Widodo dan apa kesan Anda mengenai beliau?

Seberapa kenal Anda dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dan apa kesan terdalam Anda mengenai beliau?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Jika kamu menjadi presiden menggantikan Jokowi, program apa yang akan kamu lakukan?

Apakah Fahri Hamzah berpotensi menjadi Presiden RI mendatang? Bagaimana caranya?

Apakah Fadli Zon bisa menjadi Presiden RI mendatang dan dengan cara bagaimana dia menjadi Presiden RI?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?