selasar-loader

Apa kriteria memilih seorang rekan pendiri (cofounder) dalam membangun startup digital?

Last Updated Nov 16, 2016

12 answers

Sort by Date | Votes
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

Saya menyingkatnya menjadi 4C.

Character

Pilih yang rajin, pekerja keras, ngoyo, pantang menyerah, jujur, dan sejenisnya. Orang-orang dengan karakter-karakter tersebut bisa mengalahkan orang sepintar apapun yang tidak memiliki karakter tersebut. Character selalu lebih penting dari kepintaran semata. Banyak orang pintar tapi sombong. Ini yang bikin hancur perusahaan.

Chemistry

Kecocokan personal ga bohong. Saya coba kasih ilustrasi. Pada waktunya nanti, akan banyak masalah dan konflik antarpendiri perusahaan. Hanya dengan chemisty-lah konflik ini bisa diredam. Antarpendiri bisa ngalah satu sama lain. Seperti halnya anak kecil, kalau berantem, besoknya baikan. Pendiri yang tanpa chemistry biasanya mudah baper, dan baper-nya biasanya abadi. Ini yang bikin hancur perusahaan.

Competence

Saya tidak bilang kepintaran dan kompetensi tidak penting di poin pertama. Ini penting sekali dan harus ada dalam sebuah tim pendiri yang baik. Jangan rekrut pendiri hanya karena teman tapi memiliki kompetensi nol.

Compatibility/Complementary

Kebayang ga tim sepakbola yang isinya striker semua; jelas tidak produktif. Sama halnya dalam sebuah tim awal perusahaan; harus ada hubungan saling melengkapi. Jika tidak, biasanya terjadi adu pintar satu sama lain.

Answered Nov 16, 2016

Cara memilih rekan pendiri adalah orang tersebut harus dapat dipercaya, mau bersusah payah bersama, mau menanggung resiko bersama, saling mengerti satu sama lain, saling mendukung satu sama lain

Answered Jan 18, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

EcQW0Wlkxko-kfa8DKC1Dr85VWuZQ5O5.jpeg
(COO Selasar Pepih Nugraha,Saya, dan Ramda Yanurza, Data Scientist)

Saya pernah menulis di platform kita secara lumayan tuntas soal ini pada jurnal yang bertajuk dynamic duo. Anda bisa klik tautan untuk mengetahui lebih jauh. Intinya, kita harus cocok antara pikiran dan hati dengan partner kita, dengan sesama founder. Semaksimal mungkin, usahakan jangan ada skill yang beririsan. Boleh-boleh saja sih, satu disiplin ilmu jika mau mengembangkan suatu startup di bidang ilmu tertentu, tapi kalau terlalu banyak, tentu tidak baik. Misalnya, Alodokter kalau didirikan hanya didirikan oleh dokter saja tidak baik. Harus ada programmer yang menggawangi IT dan mungkin satu orang yang mengerti pemasaran. 

Di Bukalapak, ada Achmad Zaky, Nugroho, dan Fajrin Rasyid. Sebagai trio pendiri, memang mereka engineer. Namun, saya menyaksikan dari awal bahwa mereka berbeda tugas dan berbeda karakter, tapi tetap satu visi. Sesama alumni olimpiade komputer di masa SMA, Zaky dan Fajrin berbagi tugas. Zaky tampil sebagai CEO, menjadi "wajah perusahaan", Fajrin yang summa cumlaude Teknik Informatika ITB mengurus soal finance, karena ia pernah bekerja sebagai konsultan junior di kantor konsultan asal Amrik yang sangat bergengsi, Boston Consulting Group. Nah, yang tidak pergi kemana-mana adalah "xinux", Nugroho sang CTO. Bahkan meskipun kami sudah saling kenal selama 7 tahun, pertemuan Nugroho dengan saya paling cuma 4 kali. Dia juga pernah berbulan-bulan tidak bertemu dengan partner yang lainnya karena harus "mengurus dapur" sebagai CTO. 

Ini juga saya alami di Selasar, platform kita. Saya, Kang Pepih Nugraha, Mas Arfi Bambani, dan Mas Ma Isa Lombu tidak punya skil yang beririsan. Apalagi dengan CTO kami, saya jarang ngobrol tapi sehati. Saya dulunya ilmuan sosial yang memang mendalami metode kuantitatif, mengajar soal itu juga saat jadi asisten di kampus UI dulu, namun tidak mengerti coding. Saya hanya merumuskan arah dan konsep kreatif, selanjutnya CTO mengembangkan menjadi produk. Saya belum dapat informasi kalau Steve Jobs bisa ngoding. Saya rasa semuanya dia serahkan pada Woz. :)

Sekian

Wallahua'lam

Answered Mar 25, 2017
Elkana Amelia
Mahasiswa FK UNDIP 2017 jurusan ilmu gizi

Kriteria yang harus ada yaitu jujur, karena ini merupakan kriteria yang tidak bisa ditawar. Selain jujur, juga bekerja keras, ulet, tidak mudah putus asa, optimis, berjiwa wirausaha, dan berani mengambil risiko.

 

Answered Aug 12, 2017
Parlaungan Iffah Nasution
Student of UNAIR | RK Surabaya 8 | Sekjen ILP2MI

Mendirikan startup itu tidak mudah. Terdapat beberapa tantangan, yaitu salah satunya adalah menemukan partner yang tepat. Partner dalam membangun startup digital juga dikenal dengan istilah co-founder. Beberapa kriteria cofounder yaitu, pertama, memiliki keresahan yang sama atas suatu permasalahan. Kedua, memiliki visi yang dibangun secara bersama. Hal ini penting agar meningkatkan perasaan memiliki (sense of belonging) dari suatu ide startup. Ketiga, partner yang memiliki keahlian di bidang tertentu. Misalnya, kita membutuhkan partner startup yang memiliki keahlian di bidang media informasi, di bidang keuangan, atau di bidang sponsorship dan jejaring.

#RKSurabaya
#RumahKepemimpinan

Answered Oct 31, 2017
Rudi Agusman
Sultan Rumah Kepemimpinan 6 Medan

membangun sebuah usaha start up memang tidak mudah. mulai dari keuangan, mental, serta kepiawaian dalam dunia digital juga harus dimiliki oleh seorang pendiri start up. tentu seseorang yang akan terjun dalam dunia start up sudah paham akan hal hal yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan usahanya. menurut saya memilih seorang rekan dalam membangun start up yang akan dijalankan harus memiliki pandangan visi yang sama dalam menjalankan suatu usaha start up, selain itu hal yang harus dimiliki oleh seorang rekan adalah rasa sama sama memiliki tanggung jawab dalam usaha tersebut sehingga tidak akan terjadi ketimpangan tanggung jawab. dan yang terakhir adalah rasa percaya satu dengan yang lainnya.

Answered Jan 1, 2018
Bagus Rahmansyah Priyoadi
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB '2015 | Rumah Kepemimpinan Bogor

Menurut saya, kriteria memilih seorang cofounder startup digital yang tepat adalah:

- Loyal dan setia

- Mempunyai pemikiran jangka pendek, menengah, dan panjang yang sejalan dengan kita

- Tahan banting, tidak mudah mengeluh

- Paham medan, dan mau belajar

- Totalitas, mau bekerjasama, dan mudah berkolaborasi

Answered Jan 3, 2018
Fajril Mardiansah
Student in Engineering Physics (NRE Major), UGM | Rumah Kepemimpinan

Mencari karakter pelengkap diri. Secara garis besar, ada dua tipe orang yaitu thinker dan worker. Awali dengan mengenal karakter diri, dan mencari karakter pelengkap untuk bisa diajak kerjasama. Pasti tahulah mengapa harus ada dua karakter tersebut. Thinker dibutuhkan untuk prediksi dan pengarahan kelompok supaya lebih baik dan worker dibutuhkan untuk mengerjakan dan mengoordinir tugas supaya lebih baik

Answered Mar 1, 2018
Nararya Ahmad Dharmika
Industrial Engineer UGM |Rumah Kepemimpinan Yogyakarta| Indonesian Young Leaders

Kalau memilih co-founder, pastilah kita inginnya yang terbaik. Jadi kriteria tiap orang akan berbeda-beda dan bisa jadi akan sangat banyak atau malah se-simple satu kriteria. Bagi saya sendiri yang juga sekarang sedang mendirikan sebuah startup dan membutuhkan co-founder, kriteria yang menurut saya harus dicari dari seorang co-founder adalah:

  1. Mampu jadi pendukung sekaligus penentang terbesar kita. Yes, co-founder haruslah mendukung dan memiliki pikiran yang sesuai dengan visi besar kita untuk membantu agar startup yang dibuat mampu berjalan sebaik mungkin tapi tidak terkecuali juga menjadi pengingat dan penantang kebijakan-kebijakan yang mungkin justru dapat menimbulkan dampak buruk pada perusahaan. Co-founder itu bisa dibilang kayak pacar sendiri. Saling dukung satu sama lain dan kadang justru berantem untuk kebaikan perusahaan :)
  2. Mampu berada di samping kita ketika banyak yang memilih untuk pergi. Nah kalau yang ini emang bikin baper banget sih. Kita tau kan kalau bikin startup itu gak mudah. So, apa yang mungkin terjadi ketika startup kita bangkrut? Ya, ditinggal oleh karyawan kita sendiri. Tapi, justru di saat seperti itu kita butuh orang untuk ada disamping kita, memberikan dukungannya agar kita dapat bangkit. Co-founder yang memiliki komitmen tinggi, loyal, dan siap lelah-lah yang bisa memberikan hal ini. Pokoknya jangan pernah anda mencari co-founder yang ingin segalanya berjalan dengan lancar. No dude. Startup doesn't go that way. You will fail hard. I mean real hard. But, you will also succeed so BIG. either later or more later. You just have to be patient waiting. And you need to wait it together with a friend, that is called a co-founder.

Answered Mar 2, 2018
Hanifah Nisrina C
Co-founder, Field Researcher @Bantuternak | Rumah Kepemimpinan Batch 8

jELdiz1MxuCwW4Aqm5QFierw6ze1xflE.jpg

Photo by Austin Distel on Unsplash

Memilih co-founder dibisa dibilang layaknya memlilih partner hidup. Kriteria utama yang paling, harus punya visi misi yang sama tanpa ada faktor "x", seperti kebohongan lain, ingin memanfaatkan sisi lain dari founder.

Ketika founder A menawarkan sebuah masalah, yang kedepannya akan diselesaikan dengan startup way, misal masalah sampah, founder B harus memahami penuh masalah itu. Memiliki background pendidikan yang mendukung/ pengalaman dalam menyelesaikan masalah serupa tentunya memiliki nilai tambah sebagai seorang co-founder.

Kriteria tambahan yang tidak pernah lupa adalah, kepercayaan yang dibangun atas karakter dan chemistry yang kuat antar founder.

Answered Apr 1, 2018
Aulia Nataningsih
Pengamat Pendidikan, Rumah Kepemimpinan 8

1. Personality

Apakah kepribadian cofounder sesuai dengan kepribadian rekan kerja utamanya. Secara psikologis, kepribadian merupakan hal yang penting dan berkorlasi dengan performa kerja. Maka dari itu, dalam seleksi pekerja diperlukan psikotes

 

2. Kemampuan

Sebagi co founder akan lebih baik untuk memiliki kemampuan yang berbeda dengan founder. Hal itu bertujuan agar co founder dan founder saling melengkapi. Ketika founder sangat ahli di bidang IT, maka plilihlah co founder yang ahli dibiddang lain, misal keuangan atau manajeman sumber daya manusia.

3. Kesamaan Visi

Walaupun personality atau kepribadiain antara founder dan co founder sudah sesuai dan kemampuannya sudah saling melengkapi, namun apabila visi antara mereka berbeda, maka akan berbeda pula jalan pikirannya. Maka hal ini harus benar-benar diperhatikan.

Answered Apr 2, 2018
Abiyyu Fathin Derian
Mahasiswa Fakultas Teknik UGM

YAng rela diajak bersusah-susah dan persisten.

Answered May 2, 2018