selasar-loader

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Last Updated Nov 18, 2016

5 answers

Sort by Date | Votes
Anggun Widiastuti
Sangat cinta terhadap tarian tradisional.

5iV3zEiWe-Eaeq7n_PxOOzLWE9-AvlVH.jpg

via medelu.org (AW)

 

Konsep hegemoni Gramsci didasarkan pada hubungan kekuasaan antara yang menguasai dan dikuasai. Negosiasi antara kaum buruh dan kapitalis. Apa yang dikonsumsi kapitalis diikuti oleh kaum buruh. Kapitalis memberikan upah yang cukup bagi para buruh yang nantinya uang tersebut dipakai untuk membeli kebutuhan yang dijual oleh kapitalis.

Answered Nov 30, 2016
Dina Adr
Seorang penikmat karya seni.

rL-xmrwxUuv6bvw7WFQFRkdfXmZUkVj4.jpg

Konsep hegemoni Gramsci menggambarkan hubungan kelas sosial yang tidak setara. Titik awal gagasan hegemoni ini ialah ada sebuah kelompok dominan yang menguasai kelompok subordinat (memiliki kekuasaan rendah) secara persuasif. Berbagai macam cara-cara halus digunakan untuk mebuat kelompok subordinat tunduk dan menganggap wajar ketimpangan, ketidakadilan, kesalahan dari ideologi yang mereka ciptakan.

Namun, Gramsci juga percaya bahwa akan ada hegemoni oposisi yang lahir dari peran intelektual organik yang ingin menyingkap keburukan nilai-nilai dan sistem yang telah tertanam sedemikian rupa. Mereka adalah orang-orang yang berpartisipasi aktif dalam mengkritik kelompok dominan tersebut dan menanamkan kesadaran baru bagi masyarakat melalui gerakan-gerakan sosial.

 

Answered Jan 26, 2017
Qaedi Aqsa
Political Science University of Indonesia.

lY8DzVyWn2Q7jd1mTbPSoanhwO6x8prK.jpg

Seorang tokoh Marxist bernama Antonio Gramsci mengembangkan sebuah konsep antara teori dan praktik dalam marxisme. Salah satu hasil pemikirannya adalah tentang hegemoni. Hegemoni dalam bahasa Yunani disebut eugemonia, yang merupakan bentuk dominasi dari Negara Kota (polis) seperti Athena dan Sparta terhadap negara-negara lain. Posisi kedua negara ini selalu dominan.

Hegemoni seringkali dilakukan oleh negara maju terhadap negara-negara berkembang. Dampak dari hubungan ini adalah terjadinya pengaruh atau intervensi negara maju terhadap segala aspek negara berkembang, baik aspek politik atau aspek ekonomi.

Gramsci merupakan seorang marxis yang selalu bepikir dalam suatu hubungan yang unik antara kesatuan teori dan konsep yang akan dipraktikkan, misalnya perjuangan kelas pekerja dalam sistem masyarakat kapitalis. Penyatuan teori dan konsep tersebut harus menggunakan sebuah alat. Di sini Gramsci menyebutnya sebagai partai. Massa yang terorganisir di dalam partai akan bisa merespon permasalahan dalam sistem kapitalis. Oleh karena itu, konsep tentang negara dan hegemoni erat dengan konsep revolusioner. Dengan demikian, peran partai adalah menjalankan tugas revolusi.

Gramsci berusaha menjelaskan bahwa terdapat faktor yang menyebabkan hegemoni terjadi pada suatu kelompok. Pertama, faktor kepemimpinan (direction). Kedua, faktor dominasi (dominance). Kedua konsep tersebut merupakan sebuah kesatuan dalam konsep hegemoni.

Gramsci menyadari bahwa dalam masyarakat, ada hegemoni sebagai sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui mekanisme konsensus, bukan melalaui penindasan terhadap kelas sosial. Ini dibuktikan dalam kehidupan masyarakat; ada pihak yang memerintah dan yang diperintah. Proses hegemoni tersebut dilakukan dengan memanfaatkan institusi yang ada di masyarakat untuk mengatur secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Hal tersebut berpengaruh dalam membentuk moralitas, religi, adat, serta prinsip-prinsip politik dan relasi sosial. Strategi mempengaruhi seperti ini hampir tidak disadari oleh orang yang dipengaruhi. Oleh sebab itu, hegemoni pada dasarnya adalah upaya untuk menggiring orang dalam menilai dan memandang sebuah fenomena dan problematika sosial dalam kerangka yang telah ditentukan sehingga rasa simpati yang berujung dukungan atau legitimasi atas kelompok yang berkuasa dapat terwujud.

 

Answered Feb 20, 2017
Iwa Maulana
Seorang peneliti dan alumnus FISIP UI

xVW48JFO9DgQm_-6Qt_auU2CJ9fcR11J.jpg

Pemikiran Gramsci mengenai hegemoni dilatarbelakangi oleh gagalnya gerakan kelas pekerja industri di Italia dalam perjuangannya melawan para pemilik modal, ketidakadilan negara, dan juga kekuatan fasis Mussolini. Gramsci melihat bahwa faktor penentu dari kegagalan gerakan perlawanan tersebut terletak pada ketidakmampuan kelas pekerja membentuk aliansi dengan kelompok-kelompok subordinat lainnya, terutama kelompok tani dan intelektual. 

Menurut Gramsci, kelas pekerja seharusnya dapat menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada di antara kelompok-kelompok subordinat. Kelas pekerja industri seharusnya memimpin sekutu-sekutu (atau lebih tepatnya, para subaltern) mereka melalui cara-cara ideologis dan menyediakan acuan bagi gerakan progresif mana pun. Inilah, dalam pengertian paling sederhana, yang kemudian oleh Gramsci dimaksud sebagai ‘hegemoni’.

Pada Prison Notebooks, dengan mengacu pada The Prince-nya Machiavelli, Gramsci berpendapat bahwa untuk terus menerus dapat mempertahankan kekuasaan, sebuah kelompok perlu menjadi “penguasa” versi modernnya Machiavelli. Seorang penguasa 'harus tahu betul cara untuk meniru binatang buas, serta menggunakan cara-cara manusiawi yang benar secara bersamaan'. Kepemimpinan yang baik perlu menggabungkan paksaan atau kekerasan dan persetujuan. Bila persetujuan diorganisir melalui civil society, maka kekerasan atau paksaan adalah tanggung jawab dari yang Gramsci sebut sebagai political society.

Civil Society dapat diartikan sebagai ruang tempat terbentuknya ide-ide dan kepercayaan antara kelompok dominan dan subordinatnya. Dengan kata lain, civil society merupakan tempat negosiasi nilai dari kelompok berkuasa. Dalam Prison Notebooks, Gramsci menyinggung institusi pendidikan, gereja, dan media karena dari sanalah hegemoni dibentuk. Sementara, pada sisi lain, Gramsci mendefinisikan political society sebagai seperangkat alat yang secara hukum menegakkan disiplin pada kelompok-kelompok yang tidak memberikan persetujuan mereka selama periode normatif dan sebagai seperangkat alat yang mendominasi seluruh masyarakat dalam periode ketika persetujuan terganggu. Hal ini menunjukkan bahwa aspek budaya, ekonomi dan politik dari hegemoni, pada akhirnya, selalu didukung oleh ancaman kekerasan.

Answered Feb 21, 2017

5hg8DM9VUq9RcqTtbuSA2OG1DWHYaJa1.jpg

Secara sederhana, hegemoni itu artinya kekuasaan. Ingatkah Anda ketika Rasulullah mengatakan "surga di bawah telapak kaki ibu?" Artinya, jika kita dedahkan makna ucapan itu, sesungguhnya itu adalah suatu pernyataan tentang hegemoni atau kekuasaan yang dimiliki oleh ibu. Mengapa demikian?

Pada zaman jahiliyah, wanita sangatlah direndahkan martabatnya. Bahkan, seorang ibu sering disiksa atau dibentak oleh anaknya, padahal dialah yang melahirkan dan membesarkan anaknya.

Nah, untuk memberi penguatan pada wanita dan khususnya ibu, maka Rasulullah SAW memberi hegemoni kepada kaum ibu agar tidak diperlakukan secara semena-mena oleh anak yang dilahirkannya. Jika hegemoni ini dilanggar, maka konsekuensi negatif harus siap-siap diterima oleh si pelanggar. 

Sayembara Selasar - Macbook

 

sumber gambar: matatimoer.or.id

Answered May 12, 2017