selasar-loader

Mengapa orang takut berbisnis?

Last Updated Nov 16, 2016

176 answers

Sort by Date | Votes
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

Di Indonesia, saya cukup menemui banyak generasi muda takut memulai bisnis karena Orang Tua

Orang tua mereka sudah memiliki harapan akan jadi apa kelak, dan itu bukan menjadi pengusaha atau pebisnis. Kesan mereka, pengusaha itu seperti kelas bawah. Mungkin terkesan aneh, tapi banyak menjangkit di generasi kita.

Answered Nov 17, 2016
Pepih Nugraha
Kuliah bisnis di Prasetya Mulya program MMDP 2011-2012

h2PUYEkrlcAIIvSwcIeDG46VtKoxvPP7.jpgBisnis terkait kebudayaan, tepatnya kebiasaan, dan dalam kasus ekstrem karena keterpaksaan. Saya akan jelaskan kenapa orang takut berbisnis. Orientasi hidup keluarga saya di kampung adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), menjadi insinyur atau dokter. Karena menjadi insinyur atau dokter "ketinggian", maka yang paling mudah adalah menjadi PNS. Orang dengan tamat SMA saja bisa jadi PNS saat itu. Maka orangtua mendoktrin anak-anaknya, termasuk saya, untuk menjadi pegawai negeri.

Saya ingat ketika mulai mencoba mau bisnis ala anak-anak SD dengan berjualan makanan seperti es termos dilarang almarhum ibu saya. Tetapi uniknya, ayah saya yang adik-adiknya menjadi "tukang kiridit" di Jakarta punya pendapat lain, "Kenapa harus dilarang? Biarkan dia dagang siapa tahu jadi penguasaha!"

Ibu bersikeras melarang saya. Di mata ayah, bisnis itu dagang. Tidak ada kata lain! Maka barangkali inilah ketakutan awal berbisnis alias berdagang dari kacamata Ibu, bahwa dengan berdagang (bisnis) maka tertutuplah cita-cita menjadi PNS.

Belakangan ketika beranjak dewasa saya berpikir, mengapa para pedagang dan pebisnis di Indonesia didominasi etnis Tionghoa. Di kampung saya, Tasikmalaya, tidak ada etnis Tionghoa yang menjadi PNS atau tentara. Pertanyaan saya kepada guru SMA tentang hal ini tidak memuaskan saya. "Belum waktunya kamu tahu detail," kata guru PMP saya.

Akhirnya saya mencari informasi dari literatur dan bacaan yang kemudian saya temukan jawabannya, bahwa dengan peristiwa G30S-PKI, pemerintah Soeharto saat itu bukan sekadar membatasi etnis Tionghoa menjadi TNI, bahkan juga PNS. Ada alat yang disebut "screening" saat itu yang diberlakukan. Mereka yang dianggap terlibat G30S PKI sampai anak cucunya, jangan berharap menjadi PNS dan TNI.

Akibatnya, etnis Tionghoa menjadi pedagang yang ulet dan tangguh, wong mereka harus mempertahankan diri. Sekarang agak sedikit ironis, orang takut bisnis, bahkan baru niat memulainya, sudah takut bersaing dengan etnis Tionghoa yang jiwa bisnisnya sudah mendarah daging.

Ketakutan yang paling umum dari orang takut bisnis adalah takut rugi. Padahal paradigmanya harus dibalik, berbisnis itu untuk mencari untung. Sedangkan rugi adalah risiko yang harus dihadapi.

Answered Nov 22, 2016
Zulfian Prasetyo
yang mencintai budaya startup

Hasil gambar untuk takut berbisnis

Setuju dengan jawaban Mas Pepih. Saya melihat ada kesamaan antara bisnis dan investasi. Menurut saya, orang-orang takut melakukan keduanya karena tidak memiliki kemampuan yang cukup dan tidak ingin mempelajari kemampuan tersebut. Akibat dua hal itu, orang menganggap berbisnis (dan berinvestasi) adalah berbahaya.

Padahal, keduanya sama dengan mengendarai motor. Bukankah mengendarai motor punya tingkat risiko yang bahkan lebih tinggi daripada menyetir mobil? Ada berapa banyak orang meninggal karena kecelakaan saat naik sepeda motor?

Namun, dengan pengetahuan yang cukup dan latihan terus menerus (agar pengalaman terakumulasi), risiko kecelakaan itu bisa diminimalisasi, meskipun tidak benar-benar bisa dihilangkan. Akhirnya, seseorang jadi mahir mengendarai motor.

Saya yakin, dengan mindset yang tepat (disertai dengan niat), orang akan lebih berani untuk berbisnis, bahkan berinvestasi pada suatu bisnis. Mungkin lebih berani berbisnis daripada naik motor.

Answered Dec 6, 2016
Indra El Firasy
Head of Technology at CODEinc.id

Hasil gambar untuk TAKUT BERBISNIS

Orang takut berbisnis karena mereka takut memulai. Takut akan risiko yang tidak pasti. Takut akan ketidakpastian jumlah penghasilan yang akan didapatkan. Tidak siap dengan banyak pikiran sehingga bersembunyi dengan alasan belum cukup modal, belum ada ide, dan sebagainya.

Berbisnis itu mencari kegagalan. Jika tidak siap gagal jangan berbisnis!

Gambar via ciricara.com

Answered Dec 10, 2016

nPIxRW6Dn1WZvEOg16aiaUxBvWxKP6Zc.jpg

Rasa takut itu biasanya muncul karena minimnya pengetahuan. Takut gagal, takut diremehkan, takut malu, takut ini takut itu. Alih-alih mencari tau dan menghadapinya, lebih baik menghindari rasa takut tersebut. Ya itu memang sudah menjadi bagian dari mindset sebagian besar orang di Indonesia. 

Sadar tidak sadar, profesi apapun baik itu pekerja maupun pengusaha, pasti bersinggungan dengan sektor bisnis. Bahkan proyek-proyek pemerintah pun tidak akan berjalan tanpa para pengusaha yang memenangkan tender dan mengeksekusi proyek tersebut.

Bisnis itu adalah seni berhitung & mengelola resiko, mau untung besar jangan harap menghadapi resiko kecil. Ada beberapa filosofi yang menjadi paradigma saya dalam berbisnis yaitu kemungkinan akan :

1. unlimited income, penghasilan dari bisnis tidak ada batasnya, tergantung bagaimana kita mengelolanya, bisa besar tapi bisa juga kecil. Beda jika kita menjadi pekerja biasa yang sudah tau berapa besar penghasilan tetap kita. Tinggal pilih mau penghasilan tetap atau tetap berpenghasilan. Disinlah ujian mentalnya.

2. unlimited time, dalam menjalankan bisnis kita tidak terikat oleh waktu selayaknya jam kerja standar. Jika ingin berhasil pastinya harus memanfaatkan waktu lebih banyak & lebih produktif dari pekerja standar. Waktu bekerja seorang pebisnis itu lebih dari 24 jam, percaya ga? contoh : seorang pebisnis memiliki 10 cabang usaha yang masing-masing di jalankan oleh 5 orang karyawan. setiap karyawan bekerja selama 8 jam/hari. berarti pengusaha tersebut sekan bekerja 10x5x8 = 400jam/hari.. hehe, CMIIW

3. unlimited space, apabila bisnis telah berjalan secara sistematis, si pemilik tidak perlu selalu hadir di kantor atau di tempat usahanya dan menjadi mandor bagi para staffnya. Bisa saja si pemilik bisnis mengendalikan bisnisnya darimana pun tanpa tergantung suatu ruang/tempat. Modal utamanya adalah membangun sistemnya dulu sampai bisa terwujud hal tsb. Yang pasti tidak akan instan untuk sampai ke tahap ini.

 

Sekian sharing saya semoga bermanfaat

"pedagang kecil yang bermimpi bisa menjadi besar"

 

 

sumber gambar: maxmanroe.com

Answered Dec 16, 2016
Rezha Taufani
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

fjreaC01Px87CJKcB3NPaXOyb5Hw9Lc9.jpg

Mari kita kenali terlebih dahulu apa itu Ketakutan.

Mengutip artikel dari Psychologytoday.com :

"Fear is a vital response to physical and emotional danger—if we didn't feel it, we couldn't protect ourselves from legitimate threats. But often we fear situations that are far from life-or-death, and thus hang back for no good reason. Traumas or bad experiences can trigger a fear response within us that is hard to quell. Yet exposing ourselves to our personal demons is the best way to move past them."
Ketakutan merupakan respons utama saat seseorang menghadapi apa yang ia anggap bahaya secara fisik dan emosi, serta seseorang tidak mampu untuk melindungi diri dari ancaman tersebut. Individu kadang takut akan situasi yang jauh dari situasi antara hidup dan mati, sehingga menimbulkan ketidakjelasan dan bersifat tidak realistis. Trauma ataupun pengalaman buruk dapat memicu respons ketakutan dalam diri seseorang yang sangat sulit dihilangkan. Namun menghadapi "iblis" yang ada dalam diri kita adalah cara terbaik untuk melewati hal tersebut.

Bisa disimpulkan bahwa orang-orang yang takut berbisnis secara intra-analitik mereka memliki ketakutan yang sebenarnya adalah diri mereka sendiri, untuk faktor eksternal (Dunia Luar) dapat dijabarkan dalam beberapa poin yang saya ambil referensi dari Grasshopper.com diantaranya :

1. Faktor Ekonomi : Kadang lingkungan ekonomi yang kita tempati baik itu dari skala Lokal sampai Internasional membuat kita takut untuk menghadapi rintangan yang pasti sangat sulit untuk kita bangun sesuai dengan mimpi kita.
2. Ketidakpastian : Dalam memulai bisnis kadang seseorang bingung harus memulai dari mana, dan bahkan tidak memiliki keyakinan bahwa usaha yang mereka rintis tidak akan bertahan lama, dan kasus paling pahitnya meninggalkan utang-utang yang jumlahnya tidak sedikit.
3. Ketidakmampuan dalam membuat keputusan : Faktor ini merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi internal seseorang dalam membangun konstruksi pikiran untuk membuat keputusan yang tepat dan logis dalam membangun langkah-langkah yang sesuai untuk mengawali bisnisnya, bisa berupa dari faktor-faktor yang disebutkan dalma dimensi ini.
4. Utang : Seseorang kadang terlalu khawatir apabila ingin memulai bisnis, karena disana terdapat sesuatu yang kita kenal dengan utang. Kadang utang ini bisa membebani seseorang yang tidak memiliki rencana jangka panjang dalam memulai bisnisnya.
5. Kendala Keluarga : Ada beberapa orang yang memiliki orientasi terhadap keluarga dan melahirkan kekhawatiran bahwa ketika memulai bisnis ini mereka berpikir bahwa ketika mulai berbisnis waktu untuk keluarga mereka semakin berkurang, dan menimbulkan konflik dalam keluarga.
6. Tidak Menguntungkan : Orang-orang yang berpikiran standar biasanya takut untuk mengambil langkah yang besar dalam memulai suatu bisnis yang berisiko, kadang mereka berpikiran bahwa bekerja dengan suatu perusahaan dengan gaji yang pasti lebih menguntungkan dan aman ketimbang memulai bisnis dimana harus mengeluarkan tenaga ekstra dan modal uang ekstra yang belum tentu menguntungkan dan bahkan tidak menjamin keamanan kondisi mereka secara finansial.

Kesimpulan yang bisa ditarik, kadang seseorang takut untuk memulai bisnis karena mereka tidak mengenal apa ketakutan mereka, atau mereka tidak mau mengakui ketakutan mereka ketika memulai bisnis. Sejatinya mereka membangun rencana baik jangka pendek serta panjang untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mereka hadapi dalam mengawali suatu bisnis.

 

"Twenty years from now, you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do, so throw off the bowlines, sail away from safe harbor, catch the trade winds in your sails. Explore, Dream, Discover."
- Mark Twain
Penulis

Answered Jan 11, 2017
Feby Fahriza
CEO Estavel Food

Ada beberapa hal kenapa orang takut berbisnis versi saya :

1. Tidak mempunyai impian yang terarah

2. Tidak menguasai dan mengetahui informasi seputar bisnis yang akan dijalankan

3. Tidak mempunyai bisnis plan yang jelas

4. Tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal yang berbeda

5. Dalam zona nyaman sebagai seorang karyawan

Answered Jan 14, 2017
Yoga Rokhmana
Owner www.bonekahorta.biz

1. Takut dipandang sebelah mata ketika belum sukses.

2. Takut bangkrut.

3. Takut tidak memiliki penghasilan yang tetap.

4. Takut menghadapi penolakan.

Answered Jan 14, 2017
suhaeri mukti
Peneliti, Pernah belajar Psikologi dan Sosiologi.

TAKUT SUKSES. Kesuksesan dalam berbisnis pasti dilalui dengan berbagai macam halang rintang, jatuh bangun, keperihan, kesedihan, dan berbagai ke-han yang lainnya. baru ketika semua itu telah dilalui SUKSES datang menghampiri. Ketakutan menghadapi hal tersebut. yang membuat orang takut memulai  bisnis.

Answered Jan 14, 2017

Ketika saya memulai bisnis penulisan konten , saya mengawalinya dengan kekhawatiran apakah saya sanggup mendapatkan pemasukan sebesar gaji terakhir saya dari perusahaan? 

Hal itu jelas muncul di setiap mantan pekerja kantoran yang berencana terjun berbisnis. Apalagi jika memiliki keluarga. Dapur harus terus ngebul dan selama ini kebulnya dapur itu didapat dari keamanan gaji bulanan.

Dengan terjun sebagai pengusaha, maka ada risiko besar pendapatan bulanan akan fluktuatif. Bahkan bisa saja satu bulan dilalui tanpa ada penjualan. Jadi, mental seperti itu yang saya tumbuhkan saat terjun berbisnis. 

Ketakutan lain adalah dukungan dari keluarga dan lingkungan. Akan banyak anggota keluarga yang akan bertanya mengapa keluar dari pekerjaan dan apakah sudah yakin berbisnis. Sementara lingkungan atau teman, selain akan bertanya, beberapa dari mereka mungkin akan menjauh karena merasa akan mendapat tawaran untuk membeli produk anda. 

Saya sendiri belum lepas dari ketakutan-ketakutan itu. Pertanyaan dari keluarga maupun teman-teman belum berhenti. Namun saya sedikit demi sedikit membangun strategi untuk mengembangkan usaha saya. Seperti kata suhaeri mukti kesuksesan itu diraih setelah melalui banyak perjalanan, tantangan, dan pengalaman yang tidak terduga dan sering membuat saya bertanya tentang keputusan berbisnis. 

 

 

Answered Jan 14, 2017

Orang takut memulai bisnis diantaranya adalah sebagai berikut :

 

1. Takut gagal

2. Tidak ada modal

3. Kurangnya ilmu bisnis, untuk memasarkan suatu produk

4. Bingung akan bisnis apa yang akan digeluti

5. Tidak memiliki relasi yang luas untuk berkolaborasi

Answered Jan 18, 2017
Chandra Simarmata
Untuk menjadi orang kaya mulailah berbisnis

qYE_4RkWCUoaFg8ZEkiF4BUJhn28SCXa.jpg

Mengapa orang takut berbisnis? Pertama, ya, karena sebelumnya belum pernah berbisnis dan atau tak punya usaha bisnis. Itulah yang namanya belum berpengalaman.

Merintis sebuah bisnis itulah yang sulit. Karena kalau sudah pernah berbisnis dan sudah punya usaha bisnis, tentu tidak akan terlalu takut lagi dalam berbisnis maupun mengembangkan bisnis.

Masalah kedua, tentu tidak punya modal atau kesulitan mencari modal bisnis. Masalah modal ini sudah jadi rahasia umum, padahal kalau tiap orang punya modal maka jiwa bisnis akan lebih mudah diasah. Kalau ada info bisa dapat modal, misalnya pinjaman yang sangat-sangat ringan, pastilah sudah diserbu.

Ketiga, tidak punya rekanan atau sumber-sumber ekonomi yang mendukung bisnis tersebut. Bagi pemula, memang ini yang sulit. Apalagi jika dihadapkan dengan persaingan usaha.

Memang sekarang ini banyak bermunculan pengusaha muda. Namun, kebanyakan para pengusaha muda sekarang mampu jadi pengusaha juga umumnya karena orangtua atau keluarganya sudah lebih dulu punya usaha bisnis sehingga tergolong punya mentor pengusaha yang berpengalaman dan punya banyak rekanan. Jadi sebenarnya dalam berbisnis itu, bibit, bebet, bobot juga penting.

Initnya, yang sulit dalam berbisnis itu sebenarnya adalah memulainya. Jika berhasil, maka keturunan selanjutnya dapat lebih mudah merawat dan mengembangkan bisnis. Meski ada pepatah/adagium bisnis yang mengatakan bahwa generasi pertama yang mendirikan, generasi kedua yang membangun, dan generasi ketiga yang merusak, namun tetap bahwa mengembangkan bisnis itu akan lebih mudah jika sudah dirintis oleh generasi pertama.

Jadi barangsiapa yang sedang merintis bisnis sebagai generasi pertama, giatlah berusaha. Siapa tahu usaha Anda ke depan akan sukses dan generasi berikutnyalah yang akan menikmati jika tidak bangkrut. Selain hal-hal yang saya paparkan di atas tadi, sisanya menurut saya hanya bunga-bunga yang menjadi tantangan dalam berbisnis.

 

Answered Feb 14, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

qElSqwWZbmgJQ_ZmkD3Z00Gv_UIj6a_D.gif

Bisnis adalah soal mengelola risiko. Berbeda jika bekerja pada perusahaan, risiko pribadinya kecil untuk tidak kita katakan nihil. Jika memiliki usaha sendiri, kita menanggung risiko dan tanggung jawab. Maka dari itu, ada adagium "high risk high return". Besar risiko kita dalam dunia usaha, maka besar pula peluang keuntungan kita.

Namun, sebenarnya semua aspek hidup menanggung risiko, ya. Sebagaimana kutipan dari Schilers, sastrawan pemikir Jerman yang suka dikutip Sutan Syahrir (Perdana Menteri pertama Indonesia) di masa revolusi, "Hidup yang tak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan."

Naaah... kalau jadi karyawan atau pegawai, baik swasta, BUMN, atau PNS, dimensi pertaruhannya lumayan sedikit. Risiko ditanggung oleh organisasi yang lebih besar. Jadi, risiko dan pertaruhan itulah yang memunculkan rasa takut. Sementara itu, menurut JFK dalam bukunya Profile of Courages, dunia ini hanya milik orang-orang berani. Jadi, kalau kita penakut, tak usah berbisnis, deh. :)

Just my two cents.

Wallahua'lam

Answered Mar 25, 2017
johan wahyudi
Guru, penulis buku, penyunting naskah. CP 08562517895 Emai jwah1972@gmail.com

PzWkbVmoWk1ssNCLpCihpRNCX9_hTI7M.jpg

via wordpress.com (FR)

Ragu-ragu, apakah bisnisnya akan sukses atau malah makin memperburuk situasi. Sikap gamang alias kurang yakin jadi hantu menakutkan saat akan memulai bisnis.

Answered Apr 9, 2017
Sugiarto
Communication Bandung Islamic University

AZ8cwYYOiQH66xD-BcIf23ZxMhS61qMQ.jpg

Sebagian besar orang bukan takut untuk berbisnis, melainkan terkendala untuk memulai bisnis. Stigma bisnis yang begitu kompleks serta membingungkan menjadi faktor lain yang menyebabkan orang takut berbisnis. Positifnya, banyak orang yang berpikir matang-matang sebelum memulai bisnis tersebut. Jadi, beberapa bisnis tidak terlaksana secara percuma dan itu meminimalisir tingkat kerugian atau bahkan kemungkinan bisnis itu tutup.

 

sumber gambar : maiga-travel.com

Answered May 2, 2017
Muhammad Iman Adi Perkasa
penulis fesyen dan pemberi advokasi atas perspektif lain dari dunia fesyen

xSBMeQfr8s1uQP3NQdvrsr906hekGxNU.jpg

Saya pribadi dari kecil terbiasa dengan keluarga yang bekerja di belakang meja. Lalu, banyak pengalaman orang-orang di sekitar saya yang berbisnis dan gagal. Hal tersebut yang lantas membuat saya harus berpikir ulang jika ingin mendapatkan penghasilan dari berbisnis

 

sumber gambar: krona.cc

Answered May 3, 2017
Cok Deniro Panjaitan
Historian UI 2015

R5DzcC_Qoe4itZPbvBQOU9WmLtGr07kc.jpg

Dalam berbisnis, setiap orang dituntut oleh berpikir kreatif sebagai penentu kesuksesan bisnisnya. Berpikir kreatif menjadi kunci utama agar bisa bersaing dengan bisnis-bisnis lainnya. Akan tetapi, masih banyak orang yang takut untuk memulai bisnisnya oleh karena kurangnya kreativitas dalam diri orang-orang tersebut. Selain itu, masalah klasik yang dihadapi banyak orang adalah modal yang digunakan untuk mendirikan dan mengembangkan bisnis tersebut. Seringkali, permodalan didapatkan dengan cara mengajukan utang, tetapi patut dipikirkan kembali bagaimana cara Anda melunasi utang tersebut sehingga dalam menjalani bisnis tersebut, Anda tidak akan mengalami kendala keuangan dan mental karena Anda sudah memikirkan resiko yang dihadapi dalam berbisnis tersebut.

Sumber foto: kotaku.com

Answered Jun 6, 2017

tnVJMoq2Ako5YZM8mvviCNMTktSkgnNE.jpg

Menurut aku penyebabnya adalah: Intern: Pola pikir. Orang tua selalu mengarahkan anaknya untuk menjadi pegawai, kalau bisa PNS. Sehingga pendidikan pun lebih memilih yang umum daripada kejuruan ( lebih baik SMA daripada SMK ). Anak tidak diajarkan untuk mandiri, sehingga manja dan tergantung pada orang lain. Dari segi ekstern: Bisnis dihadapkan pada situasi yang sulit. Banyak pungutan, dan aturan-aturan yang menambah biaya dan membebani pendapatan. Persaingan yang berat ( mis. banyak mini market waralaba dsb ). 

ilustrasi via finansialku.com

Answered Jul 7, 2017
Luthfir Rahman
Programming Enthusiast, Family Boy, and Javascript Lover

3E8oFwL_bqlZnmn4ggQaJD0goVb-Dkyl.jpg

Sebenarnya simpel. Mereka/saya takut berbisnis karena takut gagal. Kenapa kita takut gagal? Karena dari dulu saat masih kecil, sekolah/guru mengajarkan bahwa gagal adalah salah, gagal adalah orang bodoh. Jadi kita diajarkan dari kecil, bahwa suatu usaha apapun tidak boleh gagal.

gambar via merdeka.com

Answered Jul 24, 2017

HafBhorO0wGjarMY7oWsAxaBklMnVNaD.jpg

Karena beberapa orang takut gagal dan takut dengan tantangan yang membahayakan. Sewaktu masih jadi mahasiswa, teman-teman aku jarang banget yang mau coba berbisnis. Beberapa dari mereka ingin berbisnis, tapi itu hanya jadi selingan pekerjaan utama mereka, misalnya PNS. Alasannya karena berbisnis tidak bisa menjamin masa depan, mereka tidak berani mengambil risiko untuk apa yang terjadi nantinya di kemudian hari.

gambar via viva.co.id

Answered Jul 25, 2017