selasar-loader

Apakah skill yang paling utama yang harus dimiliki CEO?

Last Updated Nov 18, 2016

6 answers

Sort by Date | Votes
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

4A7-vDP7WQ8qNL-3YjeYlVIFy8GMT6vo.jpg

Tidak ada yang bisa merumuskan skill paling utama seorang CEO dengan pasti. Karena setiap CEO/pemimpin memiliki gaya dan skill dan berbeda-beda. Tapi kalau boleh merangkum satu hal yang common dan dimiliki oleh CEO pada umumnya, saya akan memilih skill menyeimbangkan antara berpikir visioner tapi juga tetap pragmatis

Cukup banyak pemimpin yang visioner, tapi kadang tidak memiliki tenaga untuk menjadikannya kenyataan, karena tidak berpikir pendek, atau memotong-motong visinya menjadi potongan-potongan dan prioritas-prioritas yang kecil atau dengan kata lain pragmatis. Banyak juga pemimpin perusahana yang terlalu pragmatis/berpikir pendek dan kecil-kecil tapi lupa visi besarnya. Menyeimbangkan inilah yang paling sulit. 

 

sumber gambar: unairbanget.com

Answered Dec 16, 2016
Indria Salim
Kepemimpinan dibutuhkan baik sebagai individu atau dalam konteks profesional.

Skill paling utama yang harus dimiliki oleh seorang CEO yaitu:
1) Leadership -- Kemampuan memimpin dengan kualitas menetapkan visi, misi, dan menjadikannya sebagai budaya organisasi
2) Managerial skill - Kemampuan mengelola, menjalankan manajemen kepemimpinan dan organisatoris
 

Answered Jan 13, 2017
Rezha Taufani
Leadership in Social Context

Ewoj_JXZlxcexOJJE3ira53Ghunddqfg.png

CEO sangat identik dengan kepemimpinan atau kepiawaian dalam mengelola tujuan dari suatu kelompok, pada masa lampau bentuk kepemimpinan sangatlah sakral dan sangat identik dengan kekuasaan atas wilayah, ras, etnis, budaya, kekayaan dan pengetahuan. Hanya orang-orang terpilih saja yang memiliki kewenangan untuk menempati posisi tertinggi dalam lingkungan ini untuk menentukan arah dan nasib dari orang-orang yang ia pimpin atau layani. Bloodline Inheritance adalah salah satu cara untuk memediasi perebutan kekuasaan itu karena pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk mendominasi dan menguasai apa yang ia inginkan, cara penentuan seorang pemimpin melalui silsilah keluarga atau ikatan darah merupakan cara yang bergantung pada pemikiran spiritual dan magis.

Kualitas seorang pemimpin kadang dilihat dari bagaimana ia membawa kelompoknya mencapai suatu tujuan dan bagaimana ia bisa melebur dengan kelompok yang ia pertanggung jawabkan, pemimpin kadang lahir dari kualitas spiritual yang berbeda dengan orang-orang pada umunya atau dikatakan sebagai Authentic karena memiliki suatu identitas yang lebih dibandingkan orang-orang yang dipimpinnya. Bahasa sederhana untuk seorang pemimpin adalah ia adalah seorang yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan orang lain, dan konsep itu sebenarnya masih menjadi tiang pemikiran orang-orang pada zaman modern ini.

Pada era modern ini peluang seseorang untuk melakukan mobilitas sosial untuk mecapai kekuasaan dalam suatu hal sangatlah besar dibandingkan masa lalu, karena keterbukaan informasi dan teknologi yang semakin mumpuni setiap orang tidak perlu lagi menganut paham bahwa seorang pemimpin adalah suatu eksistensi yang perlu dilahirkan saja, namun bisa direkayasa untuk mencapai zona itu. Belum lagi dengan aksesibilitas pengetahuan dan semakin mudahnya menjangkau relasi-relasi baru untuk menciptakan peluang agar individu bisa membuat suatu zona yang lebih prospektif dan membuatnya lebih menguntungkan, membuat manusia pada era ini bisa menjadi seorang pemimpin dengan usaha yang lebih terukur dan bisa dicapai dengan perhitungan yang realistis.

Namun tidak semua orang bisa memimpin apalagi menentukan arah kemana kelompoknya menuju, CEO atau seorang pemimpin yang bergerak di sektor bisnis yang menyinggung aspek-aspek ekonomi untuk mendapatkan Capital Gain bagi seluruh komponen Workforce yang ada dalam perusahaan perlu memiliki tujuan yang jelas dalam membangun dan mengelola perusahaannya. Value atau nilai-nilai adalah jiwa dari perusahaan yang perlu dimiliki oleh setiap CEO, karena dengan itu ia bisa menentukan motif-motif dari segala tindakan yang ia putuskan untuk kepentingan perusahaannya. Bill Gates adalah sosok yang memiliki tujuan yang kuat itu, Bill Gates memiliki tujuan untuk mensyiarkan teknologi kepada manusia dengan membuat setiap orang yang ada di muka bumi ini memiliki komputer karena kebermanfaatannya untuk manusia dan zaman, Bill Gates melakukannya dengan konsisten sehingga itu menjadi bukti bahwa nilai yang ia bentuk dan ia bawa merupakan tujuan atas dasar cinta untuk perubahan dan kebajikan untuk bersama. Output yang ia dapat adalah manusia mengapresiasi mimpi dan nilai-nilai yang ia bawa sehingga setiap manusia yang ada dimuka bumi ini hampir seluruhnya memiliki piranti komputer, ini menunjukkan betapa besarnya efek manfaat yang ia berikan untuk manusia. Refleksi nilai-nilai inilah merupakan landasan fundamental bagi para CEO.

Bermimpi memang suatu hal yang mulia, namun perlu diiringi dengan kemampuan untuk berpikir logis dan kritis untuk memperkirakan apa saja yang akan dihadapi oleh perusahaannya. Analyzing Skill adalah kemampuan yang wajib untuk para CEO, karena mengukur resiko dan segala langkah strategik perusahaan adalah suatu tanggung jawab yang dibawa dalam setiap kata-kata dan keputusan yang ditentukan oleh CEO. Kematangan dalam berpikir dan mengolah informasi secara komprehensif adalah keperluan dan aset dalam perusahaan agar mampu mengukur resiko-resiko yang akan dihadapi oleh perusahaan.

Inheritance atau pewarisan adalah kualitas yang perlu dimiliki oleh seorang CEO, karena sehebat apapun seorang pemimpin pastilah ia merupakan seorang manusia yang tidak abadi. Nilai-nilai moral, pengetahuan, dan perilaku adalah hal yang mentransformasikan budaya perusahaan menjadi perusahaan yang benar-benar mencerminkan seorang pemimpinnnya, pemimpin perlu menurunkan segala nilai dan pengetahuan itu kepada orang yang terpercaya dan mau menerima itu semua, sehingga menjadi jantung baru perusahaan yang memompa gairah perusahaan untuk mencapai tujuannya. Value adalah suatu hal yang tidak akan pernah mati, hal tersebut merupakan bentuk sejati dari perusahaan untuk tetap Sustain atau terus berjalan meskipun orang-orang dalam perusahaan itu telah berganti.

"Leiden is Licden"- Memimpin adalah Menderita
- Peribahasa Belanda

Answered Jan 25, 2017
Dedy Syahril
Saya suka film, buku dan kacang garuda

pU5WKXGVqOPDU93UEzflwf254Nic6QhL.jpg

LEIDEN!

Salah satu skill yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin (CEO) adalah LEADERSHIP. Kemampuan untuk memimpin.

Leadership adalah sikap mental yang lahir dari tantangan. Mengutip dari pernyataan Moh. Natsir, "Dimana-mana tidak ada sekolah pemimpin. Pemimpin tidak bisa dicetak atau di SK-kan. Sebab, pemimpin itu tumbuh di lapangan, yakni setelah berinteraksi dengan tantangan di masyarakat". Tantangan-tantangan ini yang kemudian menempa mental seorang pemimpin.

Ibarat katana tajam yang digunakan oleh para Samurai, besi jika tidak ditempa, Ia tetaplah sepotong besi kasar. Tidak akan jadi apa-apa. Pemimpin yang sudah ditempa secara fisik dan mental bisa melakukan apapun yang dia mau. Limitless. Saya percaya itu.

"Pimpinan dilahirkan oleh posisi dan jabatan. Pemimpin lahir dari jiwa yang jatuh bangun ditabrak oleh kehidupan". He does not wait the storm to pass. He's dancing with the rain.

Jadi, jika nasib mujur, apakah kamu memilih untuk menjadi Pimpinan atau menjadi Pemimpin?

Credit to: Dea Tantyo – Leiden!

Answered Jan 26, 2017
Adi Wahyu Adji
Rumah Kepemimpinan | Book Reviewer

Ada 5 skill utama yang harus dimiliki CEO saat ini yaitu kepemimpinan, kreativitas, inovasi, komunikasi dan teknologi. Semua bisa dirangkai dengan satu karakter yaitu pembelajar (learner). Seorang CEO juga harus memahami adanya proses: learn-unlearn-relearn.

Saat ini gelombang disrupsi terjadi di berbagai sisi kehidupan. Sebagai seorang CEO, tahap pertama untuk bisa memenangkan kondisi ini adalah melakukan disrupsi pada diri sendiri (self disruption). Segala hal yang sudah diketahui dan dicapai di masa lalu harus diakui sebagai sesuatu yang telah usang dan ketinggalan zaman (unlearn). 

Hanya dengan cara ini, seorang CEO akan mengosongkan kembali wadah pikiran dan kebiasaannya untuk kemudian bisa diisi dengan sesuatu yang baru (re-learn). Dengan cara ini pula dia akan menjadi pembelajar sejati yang tidak akan pernah puas untuk selalu mengasah 5 skill utama di atas. 

 

Answered Jun 12, 2017
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

gfRNimPXPaQLAPY4sxynuzQH6bZyDsjQ.jpg

Entrepreneurial Management Skill

Sekilas konsep ini mungkin terdengar aneh. Menjadi aneh karena sepertinya tidak mungkin menggabungkan sisi entrepreneurship yang dinamis, kreatif, dan visioner dengan sisi management yang relatif kaku yang identik dengan penerapan Standard Operating Prosedur, Hierarchy, Span of Control, ataupun kaidah POAC (Planning Organizing Actuating dan Controlling).

Dalam bukunya The Lean Startup, Eric Ries membuka bukunya dengan menceritakan pertentangan tersebut. 

Mudahnya, doktrin yang berkembang di masyarakat adalah bahwa seorang entrepreneur sejati yang dinamis pastilah bukan seorang manajer, begitu pula sebaliknya bahwa seorang manajer yang strict kemungkinan besar tidak memiliki jiwa entrepreneurship

Bahkan Almarhum Bob Sadino juga kerap menggaungkan hal ini. Dengan gayanya yang provokatif, ia bilang bahwa sekolah merupakan penghambat seorang untuk menjadi pengusaha. Sekolah tidak penting, yang penting adalah keberanian untuk memulai sebuah bisnis dan belajar dari sana, kurang lebih seperti itu tone yang digaungkan.

Karena hal tersebutlah maka tidak jarang para calon pengusaha yang terprovokasi kalimat (yang memicu adrenalin) tersebut langsung menerapkan konsep "just do it" dengan serampangan. Dengan berbekal keberanian, asumsi yang berlebihan, dan hipotesa yang belum teruji, banyak calon pengusaha yang resign dari pekerjaannya ataupun meninggalkan bangku kuliahnya untuk langsung mendirikan perusahaan yang ia yakini pasti akan sukses layaknya Jobs, Zukerberg, atau Gates. 

Hasilnya apa? Gagal total!

Sebelum membahas lebih lanjut, Anda dapat simak video berikut ini yang bercerita tentang peran seorang CEO pada sebuah perusahaan.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dari perusahaan start up digital yang ada di dunia (lebih lanjut dapat dilihat di buku How to Build a Billion Dollar App karangan George Berkowski), dikatahui hanya 18,6% perusahaan yang didirikan oleh founders yang drop out (DO) dari bangku kuliahnya. Mayoritas dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi paling bergengsi di dunia, sebut saja Stanford, Berkeley, atau MIT.

Siapa saja mereka?

Kita mulai dari Google. Founder Google, Larry Page, dan Sergei Brin saling bertemu di Stanford University kala mereka sedang menempuh program doktoral (Ph.D program). Eric Schmidt, Chirman Alfabet, Inc. (holding company dari Google, Youtube, dan anak-anak perusahaan rintisan Larry Page dan Sergei Brin lainnya) memiliki almamater Princeton dan UC Berkeley. Sundar Pichai (CEO Google) memiliki dua gelar master sekaligus, M.S dari Stanford dan MBA dari Wharton Business School di Universitas Pennsylvania. Informasi lebih lengkap dapat dilihat di uraian saya di sini.

Kembali pertanyaan tentang skill utama yang harus dimiliki oleh seorang CEO. Dalam jawaban ini, saya ingin bilang bahwa visi yang gemilang, keberanian, kemampuan komunikasi-interpersonal skill tingkat dewa, intuisi (yang bisa jadi belum teruji), idealisme untuk menyelesaikan masalah banyak orang, bahkan technical skill yang gemilang tidaklah cukup menjadikan seseorang menjadi CEO yang sukses membangun perusahaannya. Diperlukan elemen lain yang dapat menyempurnakan kesemua hal yang saya sebutkan di atas menjadi sebuah kesatuan utuh profil seorang CEO.

Entrepreneursip is management, kata Eric Ries dalam The Lean Startup

Diperlukan kemampuan menyeimbangkan antara kemampuan seorang entrepreneur yang dicirikan dengan beberapa sifat di atas (visioner, berani, intuitif, dll), dengan kemampuan seorang manajer yang mampu merencanakan dan mengeksekusi dengan kualitas yang sama baiknya, membangun tim, mentransformasikan visi menjadi strategi dan program-program konkret dan terukur, memiliki paradigma data driven (skeptis secara proporsional), ataupun kemampuan untuk menganalisa data-data makro-mikro yang berkembang di dalam dan di sekitar perusahaan. 

Senada apa yang disebutkan oleh pendiri dan CEO Bukalapak Achmad Zaky pada jawaban yang lain atas pertanyaan ini.

Memang tidak mudah menjadi seorang CEO dengan profiling tersebut. Untuk itulah, diperlukan kemauan/kemampuan belajar yang tinggi dan cepat, persistensi untuk bangkit dari keterpurukan, serta juga pikiran yang maju dan terbuka untuk mempercepat proses menuju keseimbangan tersebut. Keseimbangan sikap seorang entrepreneur dan manajer dalan diri yang satu: entrepreneurial management skill.

Answered Oct 25, 2017