selasar-loader

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Last Updated Nov 18, 2016

Apakah solusi dari pemerintah saat ini sudah tepat?

9 answers

Sort by Date | Votes
Pramudya Oktavinanda
A devoted disciple of Law and Economics, UChicago Style!

Hasil gambar untuk mencegah kenakalaan remaja

Pendekatan kebijakan publik yang baik itu pada dasarnya senantiasa melibatkan CBA alias Cost-Benefit Analysis. Hindari penggunaan pendekatan moral yang ujung-ujungnya akan jadi pendekatan pokoknya, pokoknya begini atau begitu. Dunia tidak berjalan seperti itu. 

Demikian juga dengan isu seks bebas. Di US sendiri kini jumlah single parents sudah menurun drastis, begitu pula tingkat penularan penyakit menular seksual. Sampai-sampai pernah saya baca artikel yang mengulas mengapa generasi Millennial US kesannya anak baik-baik semua dibanding generasi sebelumnya, lebih produktif, ga minum-minum, dan sebagainya. Kesuksesan program moral dan agama? Kemungkinan besar tidak. 

Salah satu solusi yang digadang efektif adalah pendidikan seksual yang baik dan mudahnya akses alat kontrasepsi. Aborsi pun juga dipermudah aksesnya (paling tidak di beberapa negara bagian yang tidak dikuasai kaum Republikan). Steven Levitt dari University of Chicago sendiri pernah menyusun penelitian yang menunjukkan korelasi antara kemudahan akses aborsi dengan menurunnya tingkat kejahatan di Amerika. Teorinya, aborsi legal naik, single mother menurun, dan dengan demikian, keluarga berantakan dan anak yang bermasalah juga turun. Hal ini bisa dibaca di bukunya, Freakonomics. Tentunya ada juga penelitian yang membantah hal ini dan mengkorelasikan penurunan tingkat kejahatan dengan faktor lainnya. Tapi ini tetap teori menarik dan menantang sebagai bagian dari penyusunan kebijakan publik. 

Indonesia juga mesti mulai memikirkan pendekatan berbasis CBA ini. Jangan karena isu moral, lalu misalnya pendidikan seksual dan akses kontrasepsi dibatasi dengan dalih mengesahkan dan mendukung seks bebas. Anda ini ingin menjerumuskan orang atau bagaimana? Namanya juga anak-anak, tidak mudah untuk diatur, belum tentu pandai berhitung konsekuensi pilihan hidup, diawasi setiap saat pun belum tentu bisa dan malah bisa jadi terlalu mahal ongkosnya bagi orang tua dan negara. 

Nah, buku lainnya yang juga wajib dibaca untuk isu penanggulangan kenakalan remaja adalah buku dari John List, ekonom dari UChicago juga (saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Ekonomi UChicago), The Y-Axis. Salah satu penelitiannya adalah meningkatkan minat remaja dan anak-anak untuk sekolah sehingga mengurangi tingkat drop out dan calon penjahat baru. Insentif yang diusung macam-macam dan melibatkan peranan orang tua. Penelitian juga dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan ekonomi terkini. Moga-moga banyak dibaca oleh penyusun kebijakan publik Indonesia! 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Dec 25, 2016

Kepedulian semua pihak, tidak saja sekolah dan orangtua

Answered Jan 12, 2017
Wilingga Wilingga
Menulis, menulis, menulislah

Sedari kecil harusnya sudah diajarkan beragama. Kemudian memperbanyak pelatihan untuk kegiatan yang positif. Misalnya sekolah harus banyak punya kegiatan ekstra kurikuler supaya menyibukkan mereka. Tentunya ini akan memberi dampak positif bagi remaja, satu hal lagi yang perlu diketahui. Harusnya kegiatan ekstra kurikuler tersebut harus sesuai dengan hobby nya juga

Answered Jan 17, 2017

Degan memperkenalkan secara dini tentang kesehatan reproduksi kepada remaja tersebut. Dengan demikian, remaja bakal mengetahui batas-batasan yang sepantasnya dilakukan oleh remaja.

Answered Jan 23, 2017
Jonathan Sadikin
Traveler, writer, foodie, lawyer...

YkjJAR0WYhTIJ53D65LMeuIVEjkD-o09.jpg

Pertama, berhenti menganggap seks sebagai kenakalan. Pertanyaan ini adalah kulminasi pandangan Indonesia yang konservatif, tapi tidak berdasar. Seks adalah bagian yang sangat normal dari hidup manusia. Kebetulan, secara biologis mayoritas manusia mengalami peningkatan dorongan seksual secara alamiah di usia remaja. Di abad-abad silam dan banyak komunitas tradisional di dunia saat ini, dorongan seksual ini diakomodasi dengan menyediakan institusi pernikahan yang memiliki standar usia rendah untuk menikah. Hal ini jelas dimungkinkan karena sistem pencarian nafkah d masyarakat tradisional dan masyarakat kuno jauh lebih sederhana.

Seiring dengan perkembangan masyarakat, norma ini perlahan-lahan berubah. Kini, masyarakat menuntut kaum remaja untuk mengikuti rangkaian pendidikan demi menghadapi kompetisi mendapatkan pekerjaan ketika lulus. Kesan yang cukup jelas ditanamkan adalah bahwa pendidikan mampu memberi penghasilan yang lebih tinggi dan kualitas hidup yang baik. Akhirnya, remaja yang menikah dini menjadi penyimpangan dari norma, bukan kewajaran sebagaimana dipahami oleh masyarakat tradisional dan masyarakat di masa lalu.

Ada suatu pertentangan antara dorongan alamiah manusia di satu sisi dengan tuntutan masyarakat di sisi lain. Akhirnya, remaja pun dihadapkan pada suatu masa yang membingungkan, membuat frustasi, dan penuh dengan penyangkalan diri. Tidak heran sebagian memilih memberontak. Menentukan pilihan untuk mengikuti dorongan biologis daripada norma yang tidak mereka mengerti... dan norma yang tidak dianut oleh semua pihak.

Salah satu alasan mengapa seks menjadi semakin menarik untuk remaja adalah komersialisasi seks. Perdagangan modern sangat terbuka mempromosikan seks karena seks menjual produk. Remaja yang dibesarkan dengan televisi dan komputer telah terdoktrin dengan promosi seks. Hasilnya, petuah orangtua kalah dengan kampanye visual dan gaya hidup yang toleran terhadap seks. Terjadilah hubungan seks di luar nikah. Wajar, bukan?

Seks memang wajar, tapi tidak bisa dipungkiri ada konsekuensi yang panjang dan berat bila hubungan seksual menimbulkan kehamilan. Oleh karena itu, cara yang tepat untuk menanggulangi konsekuensi ini adalah adanya kampanye yang mempromosikan alat kontrasepsi dan pendidikan seksual dini. Dengan tersedianya informasi dan pencegahan, kita bisa mencegah kehamilan yang tidak diinginkan sekaligus menurunkan jumlah penyakit menular seksual.

Percuma bicara soal iman, moral, kegiatan ekstrakulikuler, atau meningkatkan 'kepedulian', apapun maksudnya itu. Seks adalah sesuatu yang natural dan tidak perlu ditakuti. Sikapi dengan bertanggung jawab dan semua akan baik-baik saja.

 

sumber gambar : blogspot.com

Answered Apr 26, 2017
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

E25Id6o2fg3Pgfjomb62IGkBP6yWAQf9.png

Tanamkan pemahaman pada anak/remaja, bahwa badanmu adalah sarana mencapai kesucian, bukan sarana kepuasan.

Itu saja, jawaban saya.

 

Ilustrasi via newearth.media

Answered Jun 20, 2017
Aditya Pratama
Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah UIN Jakarta 2017

qiAjeH8DLZl-3nL8R3kxfazq7q66qm_B.jpg

Menurut perspektif saya, seharusnya pendidikan terhadap seks harus dilakukan sejak usia dini, utamanya guna mencegah pelanggaran-pelanggaran terhadap masalah seksual sehingga nantinya pendidikan ini akan mereduksi kegiatan free sex sejak usia dini. Pendidikan ini penting guna memberikan edukasi terhadap anak-anak kita mengenai batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis yang masih tidak memiliki hubungan yang sah dengan kita.

Selanjutnya, pendidikan agama merupakan hal yang terpenting karena menurut saya semua doktrin agama itu mengandung kebaikan. Oleh karena itu, religiusitas di lingkungan keluarga harus dijaga guna meningkatkan keimanan, khususnya terhadap anak-anak kita. Ini seharusnya menjadi tugas utama dari orang tua selain mencari nafkah dan mengurus rumah tangga.

Free sex ini diawali dari keingintahuan setelah para remaja melihat adegan film dewasa. Wajar, karena mereka masih remaja, rasa ingin tahunya sangat tinggi dan mungkin sulit dibendung. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi ini masih kurang bagus, utamanya karena hanya memblokir situs-situs yang berbau porno dan menurut saya masih kurang berkelanjutan karena masih banyak situs yang masih bisa diakses oleh para remaja. Seharusnya menurut saya, pemerintah melalui Kemendikbud harus menyosialisasikan bahaya free sex di sekolah-sekolah dasar maupun di sekolah menengah karena itu hal yang sangat fundamental dalam mereduksi atau pun sebagai langkah preventif dalam mengantisipasi maraknya free sex di kalangan remaja Indonesia.

 

Ilustrasi via christianpost.com

Answered Jun 20, 2017
Yusup Ridwansyah
Calon Peneliti, Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta


hqStQOKYiUgyw5K0Ek6LttvmDrGt-6Hq.jpg

 

Ketika mendengar kata remaja, mungkin banyak yang berfikir tentang kebebasan. Ya, karna begitulah yang banyak terlihat dari hidup anak remaja. Masa remaja seperti dianggap masa bebas untuk menentukan hidup, trendnya "pencarian jati diri". Tetapi dalam prosesnya, karena masih mencari, terkadang lupa dengan batasan-batasan yang berujung pada kenakalan. Kegelisahan dan keresahan saat ini yaitu isu kenakalan remaja, terutama seks bebas. Kalau kata netizen ti berbagai media sering kali berujar "gaya pacaran remaja zaman now udah bukan kaya pacaran lagi". Ya ujaran itu secara tersirat memang ingin menggambarkan kelakukan remaja dalam menjalin asmara. Berita-berita remaja yang kedapatan, tergrebek, atau tercyduk sedang melakukan seks bebas sudah banyak melintang di stasiun televisi amupun media informasi lainnya. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana solusi untuk menanggulanginya?

1. Kenali bahwa seks bebas lebih dari sekadar prilaku, menurut saya ini sudah menjadi trend. Kalau sudah berbicara mengenai trend di remaja sangat mudah untuk tersulut dan mengikutinya. Seolah bahwa tidak mengikuti trend bukan remaja. Jadi, solusinya adalah bagaimana menciptakan trend pacaran yang jauh atau terbebas dari seks.

2. Pacaran tidak dikenal dalam konsep Islam, tetapi seks bebas bukan hanya soal agama, sehingga kampanye dengan membenturkan antara agama dengan seks bebas terasa kurang efektif. Meskipun demikian kampanye ini bukan tidak baik atau tidak berhasil, tetapi menurut pandangan saya, ini ada dalam kondisi ideal. Sedangkan faktanya dalam hidup sulit untuk mencapai kondisi ideal. Sehingga kampanye yang perlu digemborkan adalah terkait akibat dari seks bebas (kampanye kesehatan). Meskipun terdengar klise, tetapi masih banyak remaja yang belum terpapar edukasi tentang dampak kesehatan yang ditimbulkan dari seks bebas.

3. Kurangi pendidikan seks usia dini! Saya kurang setuju jika kampanye pendidikan usia dini mulai banyak digalakan. Mengapa demikian? Kultur remaja Indonesia yang lebih bersifat "penasaran" ingin mencoba lebih dominan daripada "takut" mencoba. Solusinya adalah mengenalkan edukasi tentang seks yang sehat pada usia mayoritas remaja menikah.

4. Peraturan yang tegas! Ketika kultur sudah menjamur, maka sistem berupa aturan tegas dapat menjadi solusinya. Artinya bahwa salah satu yang perlu digalakan adalah aturan jelas mengenai seks bebas.

 

Solusi diatas tidak serta merta tepat untuk digunakan disemua daerah, karena pada kenyataannya "kenakalan" merupakan konstruksi sosial.

sumber: kompasiana.com

Answered Dec 2, 2017
Fikri Suhardi
Guru Bimbingan dan Konseling, Belajar Menjadi Ayah, Pencinta Filsafat

Menyalurkan bakat dan minat remaja ke arah yang positif. Difasilitasi minat bakatnya supaya energi tersalurkan ke hal-hal yang positif.

Answered Nov 9, 2018