selasar-loader

Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Last Updated Nov 18, 2016

6 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mendalami ilmu jurnalistik sekaligus praktisi dengan menjadi jurnalis

Hasil gambar untuk jurnalis

Sumber gambar via http://harianbernas.com/ (SUM)

Bersikap adil itu harus dimulai dari pikiran.

Demikian senantiasa yang harus diingat jurnalis atau wartawan dalam bekerja, dalam menulis dan menyampaikan berita, khususnya berita yang sifatnya "menggoreng" isu, bukan berita peristiwa. Ini untuk menjaga agar jurnalis selalu bersikap objektif terhadap berita yang akan ditulisnya. Benar bahwa dalam kasus tertentu jurnalis tidak boleh netral, tetapi harus bersikap, tetapi objektivitas tetaplah harus dijadikan credo jurnalis dalam bekerja.

Mengapa objektivitas harus dijaga? Sebab saat menentukan narasumber yang akan diwawancara saja objektivitas sedang diuji. Ambil contoh dalam alam bawah sadar seorang jurnalis itu, katakanlah tidak suka dengan FPI atau tidak suka dengan Partai Golkar, misalnya. Maka preferensi ini secara otomatis akan terbawa saat si jurnalis menentukan narasumber. Kalau dia bersikap tidak adil sejak dalam pikirannya, maka yang muncul kemudian adalah pemilihan narasumber yang mendukung sikapnya/preferensinya tersebut.

Hal yang paling parah, soal objektivitas ini, justru ada pada medianya secara kelembagaan. Jika sebuah media cenderung tidak suka terhadap Presiden Jokowi dengan segala kebijakannya, maka secara politis kelembagaan Newsroom media tersebut akan menentukan narasumber, tema liputan, sampai kepada judul berita/tulisan yang mencerminkan ketidaksukaannya kepada Jokowi dan pemerintahannya. Apalagi kalau di belakang media tersebut berdiri awak media yang berkepentingan untuik menjatuhkan Jokowi sekalian.

Tidak bisa dipungkiri, media partisan seperti ini ada, baik media cetak maupun media elektronik, apalagi media online. Sebaliknya, media yang cenderung selalu mendukung Jokowi dan pemerintahannya, karena preferensi awak media yang lebih dominan mendukung Jokowi, misalnya, akan bersikap tidak objektif melihat kenyataan (fakta) yang ada. Sebut saja media atau awak media terlalu protektif terhadap Jokowi sehingga menumpulkan daya kritisnya terhadap pemerintah. Sebab daya kritis ini adalah senjata media.

Untuk itu mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi setelah "Trias Politica" (Kekuasaan Eksekutif, Legislatif, Yudikatif). Sebab fungsi media atau pers adalah mengkritik ketiga pilar demokrasi tersebut. Bayangkan, jika media tumpul terhadap sikap represif pemerintahan, maka daya nalar pembacanya pun akan turut tumpul.

Maknanya, media tidak boleh partisan, tetapi bukan berarti tidak boleh berpihak. Contoh paling mutakhir ketika kesekapatan konstitusi berupa Pancasila sebagai ideologi bangsa dan NKRI coba "digoyang" oleh kelompok radikal yang menghendaki pemerintahan tumbang sekaligus menggantikan ideologi Pancasila dan menggantikan NKRI dengan sistem pemerintahan baru secara paksa, maka media (pers) yang bersepakat dengan Pancasila dan NKRI, harus jelas keberpihakannya.

Sekali media itu malah memberi angin terhadap kelompok radikal untuk menumbangkan pemerintahan yang sah lewat aksi makar, mengganti ideologi Pancasila dan mengganti NKRI, maka bisa dinilai kalau media itu bagian dari kelompok radikal dimaksud.

Answered Nov 27, 2016

ketika netizen sbg jurnalis menyadari perannya adalah sebagai comunicator media publik, maka prinsip yang dijunjung adalah prinsip kebenaran, independensi, objektif dan juga bertanggung jawab terhadap segala pikiran-pikiran yang dituangkan dalam menuliskannya.

Answered Jan 13, 2017

melihat persoalan dari berbagai sudut pandang

Answered Jan 17, 2017
Eko Permadi
Journalism and Law

Bill Kovach dan Tom Rossentil melakukan riset terhadap ribuan wartawan. Hasilnya, mereka membuat 9 elemen jurnalisme. disadur kembali oleh Andreas Harsono dalam "a9ama saya jurnalisme". 

Ini lah yang menjadi pegangan buat wartawan dalam meliput suatu peristiwa. 

Elemen pertama kebenaran. Lalu kebenaran menurut siapa? Tentu semua pihak mengklaim kebenaran menurutnya benar. Kebenaran yang dicari adalah kebenaran fungsional. Ibarat stalagmit, ia menetes sedikit demi sedikit hingga tercapai kebenaran fungsional. 

Elemen kedua loyalitas kepada masyarakat. Wartawan loyal kepada siapa? Pemodal, pengiklan atau masyarakat?  

Elemen ketiga verifikasi. Ini kewajiban seorang wartawan. Harus.

Elemen ke empat tentang independensi. Sebenarnya, wartawan dapat memihak. Yaitu memihak kebenaran. Selain dari itu barang tentu harus ditinggalkan. 

Elemen kelima memantau kekuasaan dan penyambung lidah yang tertindas.

Elemen keenam forum publik. 

Elemen ketujuh memikat sekaligus relevan. 

Elemen kedelapan proporsional dan komprehensif 

Elemen terakhir mendengar kan hati nurani sendiri. 

Untuk lebih jelas dapat membaca buku 9 elemen jurnalisme.  

Jika kesembilan elemen ini dilaksanakan, wartawan dapat berlaku objektif dalam peliputan. 

Mereka harus benar-benar 'telanjang' meninggalkan latar belakang si wartawan. Suku, agama, ras dan lain-lain.  

 

 

Answered Jan 17, 2017
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

dengan segala hormat dan pengetahuan yang terbatas tentang media, saya kira tak ada media objektif. Karena judul berita saja sudah sesuatu yang subjektif. Pilihan kalimat sambungan kutipan, tiap media akan berbeda beda, tergantung sudut yang mau dititiktekankan. Karena itu mustahil media itu objektif.

Answered Jan 31, 2017
Mochamad Ridha
Tertarik dgn studi sosial, media dan komunikasi | Pimpinan Dema Fisipol UGM | RK

9NjkoUuLdupngpUROadDGlS9Qy5im2QG.png

Yang dimaksud dengan objektivitas dalam pertanyaan ini seperti apa? Jika objektivitas dimaknai dengan tidak adanya keberpihakan, maka sungguh tidak ada satupun jurnalis yang tidak berpihak. Semuanya berpihak. Tinggal berpihaknya kepada siapa. Kepentingan publikkah atau kepentingan golongan. Jika dilihat dalam aspek kinerja empirik, seorang jurnalis bisa dibilang objektif apabila menghasilkan berita melalui proses verifikasi. Tidak berhenti di sana, objektivitas jurnalis bisa dilihat juga dari bagiamana produk berita yang dihasilkan faktanya tidak dikurangi maupun dilebihi. Tidak ada framing yang menafikan subjek lain dalam konteks berita. Ringkasnya seperti itu, jika ingin lebih tahu banyak, mungkin bisa membaca karya-karya dari Ana Nadhya Abrar terkait jurnalistik.

gambar via klimg.com

Answered Jul 10, 2017