selasar-loader

Apa keistimewaan Yogyakarta sehingga disebut Daerah Istimewa?

Last Updated Jan 26, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes

LHCErgXBOpzjBYb4UCQIVb15GFvDP-Di.jpg

Kalau di Aceh, yang istimewa adalah hukumnya. Di Yogya, hukum tanahnya lah yang istimewa. Tanah di seluruh Yogya adalah milik Sultan. Jadi, rakyat hanya minjem tanah ke Sultan dan bayar pajak tiap tahun. Pengelolaan pajaknya pun kabarnya tak transparan.

Answered Mar 19, 2017

JNf73r2bxo3xzi-tJmmwDc1PW8CMfavc.jpg

Hal tersebut dikarenakan berdasarkan sejarah, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan ikut memperjuangkannya, atas banyak jasa tersebut, maka pemerintahan gubernur-wakil gubernur diangkat dari Raja (Sultan HB dan PA). Yogyakarta juga pernah menjadi ibukota Indonesia pada zaman awal kemerdekaan.

 

sumber gambar: iexperience-internship.com

Answered May 13, 2017
Ulfah Choirunnisa
Mahasiswi Pembangunan Wilayah UGM 2015 | www.ucgeolife.blogspot.com

FkItQgBNeDY591_dRrJ8J5eGGcAIATd_.jpg

Saya akan coba menjawab dengan 2 versi: Menurut hukum dan menurut saya sendiri (hehe)

UU Republik Indonesia No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada pasal 7 dituliskan 5 aspek keistimewaan DIY: a. tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur; b. kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; c. kebudayaan; d. pertanahan; dan e. tata ruang. Poin a berbicara tentang tata cara pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur. Hal yang menarik dan dapat dijadikan sebagai poin istimewa adalah tentang persyaratannya yang berbunyi 'bertakhta sebagai Sultan Hamengku Buwono untuk calon gubernur dan bertakhta sebagai Adipati Paku Alam untuk calon wakil gubernur' Jadi, pimpinan provinsinya ini orang 'ndalem' semua. Kemudian, pada poin b dijelaskan tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah DIY. Dalam pelaksanaan pemerintahan, untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, terdapat prinsip-prinsip yang harus dijalankan, yakni prinsip responsibilitas, akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi. 

Pada poin kebudayaan, intinya, masyarakat Yogyakarta harus memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. Banyak sekali saat ini pagelaran budaya yang digelar di mana lokasi favoritnya adalah titik 0 km dan alun-alun. Untuk poin pertanahan, hal yang istimewa dari pertanahan adalah jenis tanah dibagi menjadi 2, yakni Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten. Kasultanan dan Kadipaten berwenang mengelola dan memanfaatkan tanah Kasultanan dan tanah Kadipaten ditujukan untuk sebesar-besarnya pengembangan kebudayaan, kepentingan sosial, dan kesejahteraan masyarakat. Dan poin terakhir, adalah tata ruang. Hal yang paling menarik dari tata ruang DIY adalah 'Poros Imajiner'. Poros Imajiner adalah pola tata rakit kota yang membujur dengan arah utara ke selatan, dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angin serta berpotongan tegak lurus. Dari selatan, ada panggung krapyak yang jika diteruskan ke selatan akan bertemu dengan laut selatan, di tenngah ada kraton, dan di utara ada tugu yang apabila diteruskan ke utara akan bertemu dengan Gunung Merapi.

Berikut adalah keterangan lebih lanjut tentang poros imajiner yang diambil dari website Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan “Secara simbolis filosofis, pola penataan wilayah ini melambangkan konsep hablun minallah – sangkan paraning dumadi, dan hablun minannas – manunggaling kawula-Gusti., Secara kultural poros Siti Hinggil-Tugu berfungsi arah berkonsentrasi apabila beliau sedang lenggah siniwoko di Siti Hinggil. Jalan poros Siti Hinggil (keraton) sampai dengan Tugu secara historis merupakan simbol keberadaan raja dalam menjalani proses kehidupannya, yang dilandasi manembah manekung (menyembah secara tulus) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan bersama rakyat (golong gilig). Golong-gilig ini diwujudkan dalam bentuk tugu yang dahulu bagian bawahnya berbentuk silindris (gilig), dan puncaknya berbentuk bulatan (golong). Tugu dalam bentuk tersebut runtuh akibat gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta. Bentuk tugu seperti sekarang ini adalah hasil renovasi pada masa HB VII pada bulan Sapar 1819 J (3 Oktober 1889).

Adapun titik selatan “poros imajiner” tersebut adalah Panggung Krapyak, yaitu sebuah bangunan berlantai dua yang sekarang berdiri di tengah perempatan di ujung Jalan D.I. Panjaitan. Bangunan ini dahulu digunakan untuk krapyak tempat beristirahat bila sultan beserta keluarga dan para pengiring berburu di (= hutan perburuan, sekarang menjadi perkampungan).”  (Sumber)

 

Daaaaan.. Istimewa menurut saya sendiri adalah karena hidup di Jogja itu sungguh sangat nyaman. Bertemu dengan orang yang ramah, mudah senyum, makanan murah, tempat wisata banyak, aman, dan lain sebagainya. Dan katanya, Jogja itu ngangenin. Hehe, tapi saya orang Jogja yang nggak pernah mudik. Jadi, mungkin untuk case ini kita bisa tanya langsung dengan para perantau. hihi ^^ #YukKeJogja

gambar via tandapagar.com

Answered Jul 10, 2017