selasar-loader

Apa kelemahan dan keunggulan millenials menurut Anda?

Last Updated Jan 25, 2017

Sebagai generasi yang dibesarkan dengan mouse di tangan kanan dan smart-phone di tangan kiri, millenials adalah generasi kreatif yang punya pendekatan berbeda dalam menjalani kehidupan. Apalagi dalam pekerjaan, pergaulan serta cara berpendapat. Apa kelemahan dan keunggulan millenials menurut Anda? Boleh juga sertakan pandangan Anda terhadap millenials yang tidak berhubungan dengan kelemahan dan keunggulan.

BG-y7MGIicpfQa--n3On9IZEuyvdGLJl.jpg

5 answers

Sort by Date | Votes
Rezha Taufani
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

who-are-millennials-social-media-marketi

Via Hospitalitytimes.ie

Secara definisi yang dikemukakan oleh Strauss dalam karya ilmiahnya Millenials RIsing : The Next Great Generation generasi millenial merupakan manusia yang lahir pada rentang tahun 1980 sampai awal 2000an. Generasi Millenial memiliki predikat sebagai generasi yang tumbuh dan berteman dengan teknologi, dan mampu mengkombinasikan kemampuan konservatif yang dipegang kuat oleh generasi X dan dorongan inovasi yang dimiliki oleh generasi Z.

Gejolak teknologi dan informasi mau tidak mau harus kita akui telah memasuki sendi-sendi kehidupan setiap orang yang ada di dunia, maka siapa yang tidak menguasai teknologi dan informasi maka ia akan tertindas oleh zaman. Kemampuan generasi millenial dalam membuat keputusan bisa dikatakan seimbang dibandingkan dengan generasi Z, karena semenjak kecil kita sudah terekspos oleh teknologi, sehingga proses adaptasi yang dilakukan oleh generasi millenial jauh lebih absorbtif atau lebih mudah menyerap segala bentuk perubahan yang ada dengan baik.

Dalam hubungan kerja generasi Millenial cenderung memilki sifat yang pragmatis ketimbang dengan generasi X dan generasi Z, mereka dibawa dengan bentuk pengajaran dari orang tua mereka yang merupakan generasi X atau Baby Bloomer yaitu generasi yang ada sebelum perang dunia, atau lebih tua dibandingkan dengan generasi X. Namun untuk generasi Z mereka cenderung memiliki tendensi mekanistik dalam hubungan kerja dibandingkan dengan generasi Y atau generasi Milennial, itu adalah hasil data dari Jurnal yang dipublish oleh Journal of Business and Psychology, namun disisi lain ada pandangna komplementer (penambah) dari saya dengan asumsi bahwa ada penambahan kelas sosial dalam generasi Z sebagai seseorang yang mampu menggagas inovasi dan seseorang yang hanya mampu menjadi support sistem dalam perkembangan teknologi.

Secara demografis manusia untuk generasi Y akan terus berkembang secara populasi (itupun apabila tidak terjadi konflik massif yang mampu menghilangkan angka populasi di bumi) akan menjadi generasi Y memiliki daya Social Capital atau jaringan relasi yang lebih inklusif dengan faktor progresi teknologi dalam bidang informatika juga. Sehingga persaingan karir akan jauh lebih transparan. Namun disisi lain karena populasi yang semakin meledak, perlu ada pembagian sektoral dalam peta karir masyarakat untuk meningkatkan efisiensi perkembangan sektor ekonomi dan sosial, bila tidak diperhatikan maka akan menjadi kompetisi yang bisa menimbulkan kesenjangan ekonomi dalam lapisan masyarakat yang didominasi oleh generasi Y.

Secara pergaulan generasi Millenial mampu lebih bijak dalam mengandalkan teknologi dalam pergaulannya, dan bisa menjadikan pertemuan fisik yang merupakan model interaksi generasi X menjadi prioritas utama juga. DIkarenakan generasi Millenial tidak jauh pemahamannya secara nilai-nilai etika dari generasi X dimana masih kental dengan tata perilaku yang mengandung unsur-unsur konservatisme, namun generasi Y tidak menutup kemungkinan untuk bisa piawai berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti generasi Z.

Generasi Millenial secara kultural dan politik cukup kritis dan mampu mengambil sikap yang inklusif dalam mengambil keputusan untuk bidang kultur dan politik. Namun dari sifatnya itu Generasi Millenial rawan berkonflik dengan generasi X karena pandangan seperti itu masih menjadi stigma bagi generasi X, karena mereka memegang paham kultur politik yang Strukturalis dan Konservatis. Ada kemungkinan bahwa generasi Y di masa mendatang akan melawan pemikiran itu, karena keterbukaan informasi akan jauh lebih mudah karena perkembangan teknologi.

Reference : Strauss, William; Howe, Neil. 2000. Millenials Rising : The Next Great Generation .New York, NY: Vintage 

Answered Jan 25, 2017
Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

g2gIyx6e8JeGqR2SO1hVgOIafAvUiZQ8.png

Mungkin infografis ini bisa membantu

Answered Jan 26, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

Kelemahan Millenials: Mereka sepertinya kurang peka untuk hal-hal yang bersifat humanis. 

Kelebihan: Cara pandang yang terbuka dan kritis.

Answered Feb 4, 2017
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

RMSwwASCNkN5ewwNyo1ZVuxMwliHxRGL.png

Setiap generasi membawa ciri sekaligus konsekuensi. Penamaan atau nomenklatur "generasi" itu juga disepakati begitu saja oleh dunia Barat, misalnya mereka mengenal Generasi Baby Boomers dan setelahnya Generasi X. Saya membandingkan generasi Millenials dengan generasi sebelumnya, katakanlah generasi Baby Boomers, karena saya menjadi bagian dari generasi terdahulu dibanding Millenials. 

Anak saya yang lahir tahun 1996 barulah bisa dikatakan Millenials. Boleh dibilang, Baby Boomers melahirkan Millenials, sehingga dengan mudah membandingkannya, setidak-tidaknya membuat perbandingan meski tidak berpretensi melakukan pendekatan ilmiah dan teoretis. Ini hanya pengalaman semata yang ingin saya ungkapkan terkait dengan pertanyaan di atas.

Dalam praktiknya, saya tidak mampu mengarahkan anak saya, anak laki-laki yang kini telah berusia 21 tahun itu, sesuai keinginan saya sebagai orangtuanya. Pun juga istri saya yang lebih banyak berada di rumah.

Meski segala sesuatunya dipersiapkan seperti pendidikan formal, pendidikan akhlak, sekolah mengaji, kursus tambahan di rumah, tetap saja sebagai orangtua saya tidak bisa membentuk anak saya itu sesuai keinginan saya. Ia bukan tanah liat yang mudah dibentuk. Ia adalah badan yang berjiwa yang ingin membentuk dirinya sesuai keinginannya sendiri.

Ternyata, dia punya sudut pandang berbeda dalam melihat satu persoalan. Sekolah yang bagi saya dan orangtua saya dulu sangat penting, dengan enteng dipandang Millenial sebagai "tidak perlu". Dalam bahasa sehari-hari, "ngapain kuliah"? Saya tidak paham, apakah ini pertanda Millenials percaya diri tinggi karena teknologi dan persoalan kekinian sudah dikuasainya hanya melalui internet atau sekadar apologi bahwa sesungguhnya ia malas belajar?

Generasi saya sebagai ayah Millenials adalah generasi yang gila baca, kutu buku, mengejar diskusi di manapun dilaksanakan dan selalu punya adrenalin untuk menambah ilmu baru. Karenanya yang dikejar adalah buku sampai berjam-jam berada di perpustakaan atau berburu buku bekas di pasar buku loakan. Koran dan majalah bila perlu dilanggan dan tentu saja semua isinya diserap sampai tak bersisa. Sekarang anak-anak Millenials menyentuh koran pun tidak, apalagi membacanya.

Dari sisi "isi kepala", anak-anak Millenials tergolong "ampang" untuk tidak mengatakannya "kopong" dari sisi pengetahuan, apalagi kajian filsafat. Dengan komik yang mereka baca, apa yang bisa didapat? Tidak lain dari dunianya sendiri, dunia praksis, dan bahkan dunia hyper-reality karena kerakrabannya dengan dunia internet. Tidak perlu berpikir berat, filsafat menjadi momok menakutkan dan dalam bahasa mereka, "Apaan tuh?" 

Sepanjang filsafat tidak dikomikkan, mungkin Millenials tidak akan pernah mengenal filsafat. Padahal, filsafat adalah "baboon"-nya ilmu-pengetahuan, berkembangnya dialektika, dan pemikiran baru yang menggugat atau bahkan menumbangkan teori lama. Bagi mereka, ini cuma buang-buang waktu. Games lebih mengasyikkan. Tetapi dari sisi teknologi informasi, anak-anak Millenials harus diakui memang jagonya. Baby Boomers atau Generasi X harus mengakuinya.

Bila perlu, mereka tidak bersekolah atau kuliah dan seharian berada di komputer pribadi yang sekarang sudah berujud gawai sebesar telapak tangan. Mereka menjadi tersambungkan satu sama lain melalui media sosial, tetapi tidak terlalu suka berinteraksi langsung melalui "kopi darat". Mereka cepat bosan dan membaca dengan cara scanning atau bahkan jumping saja. Jadi, jangan terlalu berharap anak-anak Millenials membaca buku tebal dan memahaminya secara utuh. Bila perlu membaca summary-nya saja, itupun sudah untuk masih berkehendak membacanya.

Dalam pekerjaan, jangan harap mereka menjadi loyalis di sebuah perusahaan. Mereka cepat bosan dan cenderung mencari tempat yang nyaman dalam pengertian bebas mengekspresikan dirinya. Bila perlu ke kantor pakai celana pendek dan sandal jepit, tetapi mereka biasanya menaruh perhatian terhadap KPI yang ditentukan dan mengejarnya. Itu kebanggaan mereka. Gaji kecil bukan soal, yang penting bebas berekspresi itu tadi. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa resmi. Bila perlu "elu-gue" saja, termasuk saat berbicara kepada atasan.

Pada tahun 2030-2035 nanti, Indonesia akan mendapatkan bonus kependudukan yang sedikit banyak bakal diisi Millenials. Wajah Indonesia 15 hingga 20 tahun mendatang adalah generasi Millenials ini. Sehingga, tidak tertutup kemungkinan para teknokrat dan konglomerat papan atas sampai Presiden RI pun berasal dari generasi Millenials ini. Itulah keuntungannya! 

Answered Feb 13, 2017
hasna jamilah
PM BAKTINUSA 8

Inkuiri; menjadi pemimpin Millenial.

"Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk."

Proses pembuatan berlian tidaklah serta-merta batu intan yang digosok lalu berubah menjadi berlian indah dan bercaya, mahal pula harganya. Sebagai satu-satunya batu permata yang terbuat dari satu unsur saja yaitu karbon, Proses terbentuknya berlian memerlukan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi, serta membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk membentuk kristas kristal berlian. 

Begitu pula dengan kita, anak muda yang selalu ingin instan dalam perjalanan menuju tujuan lalu berharap tak ada masalah dan hambatan yang merundung di tengah jalan. Teringat pesan pak Iqbal Setyarso, Vice President of Communication Department dari ACT saat ditanya pesan bapak untuk anak muda "Anak muda itu harus sabar, nikmati aja prosesnya".

Ringan diucapkan, berat di jalankan saat tak jarang kita masih sering melihat kanan kiri membandingkan pencapaian kita dan orang lain, tapi lupa akan usaha kita yang tak sebanding. Wajar saja kalau Mas Nadiem Makarim dapat membusungkan dada saat ini bila Gojek masuk dalam list 4 unicorn startup se-ASEAN, didirikan sejak tahun 2010 Gojek sudah mendapatkan feedback yang baik dari masyarakat di ibukota meski hanya memiliki 20 pengemudi. Tidak puas dan berhasil membaca kebutuhan jaman, Nadiem Makarim pun meluncurkan aplikasi mobile di awal tahun 2015. Gojek pun mulai masuk ke kota-kota besar dan mulai melirik peluang usaha lainnya seperti go-tix, go-auto dan lainnya. 4 Agustus 2016 pun menjadi hari bersejarah bagi Gojek karena resmi menjadi Unicorn startup dengan mendapat pendanaan sebesar US$500. 

Bersabar dalam sebuah proses dapat dilakukan dengan mudah saat kita mengerti dimana posisi kita sekarang. Membuat garis dan timeline mimpi, merancang strategi meraih mimpi pun tak bisa setengah-setengah kita lakukan. Karena, banyak dari kita sering bermimpi dan bercita-cita untuk menjadi pemimpin di Era mendatang, entah memimpin sebuah perusahaan hingga menjadi kepala Negara tapi lupa untuk memulai dengan belajar memimpin diri sendiri. 

Dalam buku Inkuiri karangan mas Yudi Sastroredjo, inisiator UNS GLobal Challenge dituliskan "Yang kejam bukanlah kesulitan, melainkan diam". Bukankah sudah Allah tuliskan dalam Q.S Ar-rad: 11 bila "Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah apa apa yang pada diri mereka sendiri". Seperti itulah perumpamaan bila kita tak memulai dari diri kita sendiri, memulai untuk menghormati waktu, memulai untuk bertanggung jawab pada barang pribadi, memulai untuk bisa menjaga lisan hingga memulai untuk bertanggung jawab pada mimpi-mimpi kita.

Bukankah pada akhirnya sebuah proses adalah apa yang dimulai?

Berkaca pada analisis generasi millenial yang katanya cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya. (http://rumahmillennials.com). Benarkah?

Mari kita buktikan dengan memulai sebuah proses bersama. 

 

Salam dari Hasna,

salah satu generasi millenial.

Answered Dec 3, 2018

Question Overview


6 Followers
3130 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Salahkah beralih provider telekomunikasi?

Bagaimana cara menanamkan nasionalisme kepada Gen Y/Net Genner/Millenials?

Bagaimana cara yang tepat bagi guru untuk menghadapi generasi millenials?

Bagaimana jika generasi millenials lebih percaya dengan Google daripada dengan guru?

Mengapa Sate Taichan sangat populer di kalangan remaja?

Apa yang membuat Anda kecanduan bermain gadget?

Mengapa remaja senang mencoret-coret baju saat kelulusan?

Untuk keperluan apa millenials paling banyak menghabiskan uangnya?

Mengapa istilah "Kids Jaman Now" begitu populer?

Mengapa anak muda saat ini lebih suka mendirikan startup daripada bekerja di perusahaan?

Bagaimana menjadi anak muda yang superkreatif?

seberapa pentingkah pemahaman mengenai media literasi, khususnya bagi anak-anak muda yang gemar aktif di dunia sosial media?

Di mana tempat nongkrong di Jakarta yang nge-hits? Mengapa?

Kenalkah Anda dengan Rachel Vennya?

Mending nikah dulu atau beli rumah?

Apakah yang dimaksud dengan Aesthethic?

Mengapa gadis Indonesia masih diawasi orang tua?

Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Siapa pengusaha paling top di Indonesia menurut Anda?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?

Sejauh manakah batasan-batasan dalam Posmodernisme?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?