selasar-loader

Siapa pelatih terbaik AC Milan sepanjang masa?

Last Updated Jan 25, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Shendy Adam
Eks sport journalist di Harian Merdeka

CMCDBYfLuh4RO3xLy_r6faop28oQcHbi.jpg

Carlo Ancelotti. Di era lampau Milan memang memiliki pelatih hebat lain seperti Cesare Maldini, Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Namun, Ancelotti tetap istimewa. Ia membangkitkan Milan yang sedang terpuruk untuk kembali berjaya. Don Carlo merapat ke Milanello pada tahun 2001. Saat itu, Milan sedang di titik nadir. Sejak pemecatan Alberto Zaccheroni, Il Diavolo Rosso kehilangan arah. Cesare Maldini yang kembali turun gunung pun gagal meningkatkan performa Paolo Maldini cs. Pun demikian dengan Mauro Tasotti. Harapan sempat muncul dengan datangnya Fatih Terim yang baru menuai sukses di Galatasaray. Ternyata pria Turki itu cuma bertahan 5 bulan sebelum didepak dari San Siro.

Di musim pertamanya itu, Carletto sukses mengantarkan Milan merebut tiket ke Liga Champions melalui posisi keempat di klasemen akhir dan menembus semifinal Piala UEFA. Kerja kerasnya membuahkan hasil di musim-musim berikutnya dengan raihan prestasi antara lain : Coppa Italia (2002/2003), Serie A (2003/2004), Piala Super Italia (2004), Liga Champions (2002/2003 dan 2006/2007), Piala Super Eropa (2003 dan 2007), dan Piala Dunia Antar Klub (2007). Carletto nyaris meraih hattrick di Liga Champions bersama Milan andai pada final musim 2004/2005 tidak digagalkan Liverpool.

Mengapa Ancelotti menjadi spesial. Ia adalah pelatih yang tidak mudah menyerah dalam tekanan. Bahkan ia berani ambil risiko melalui inovasi-inovasinya. Di musim 2002/2003 saya sempat terkejut ketika ia mendatangkan Clarence Seedorf dari Inter Milan. Padahal di posisi gelandang serang -saat itu Milan sering memainkan formasi 4-3-1-2--sudah ada Rui Costa dan Andrea Pirlo. Nama terakhir itu sendiri kesulitan dapat menit bermain karena harus bersaing dengan Rui Costa.

Ternyata Carletto punya skenario berbeda. Tetap dengan formasi yang sama, ia memainkan Pirlo di tengah sebagai deep lying playmaker, didampingi Genarro Gattuso dan Clarence Seedorf di kanan dan kirinya. Trio ini menghadirkan keseimbangan antara pertahanan dengan penyerangan. Rui Costa pun leluasa melayani duet maut Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi. Datangnya Rivaldo, Ronaldo, David Beckham dan pemain-pemain high profile lainnya di musim-musim mendatang tidak memengaruhi kerhamonisan di ruang ganti.

Ancelotti kembali berinovasi dengan memperkenalkan formasi 'pohon cemara' atau 4-3-2-1 seiring perginya Shevchenko. Inzaghi menjadi target man ditopang oleh Kaka dan Seedorf. Sementara Pirlo dan Gattuso ditemani oleh Massimo Ambrosini. Walaupun kesulitan untuk bisa merebut lagi Scudetto, Milan selalu bersaing di peringkat empat besar kecuali pada musim 2008/2009 yang sekaligus menjadi perpisahan bagi Carletto.

Answered Jan 27, 2017