selasar-loader

Masihkah Anda percaya pada media massa? 

Last Updated Jan 24, 2017

Banyak sekali berita bohong (fake news) bertebaran sekarang. Berdasarkan kondisi tersebut, masihkah Anda percaya pada media massa? 

6 answers

Sort by Date | Votes
Arfi Bambani
Jakartan. Indonesian. Minang.

IQ4aqoQsOCEY64mPB4Ln6bCP7qtHRJzE.jpg

Pada situasi seperti sekarang ini, di mana banyak hoax beredar, media massa justru harus lebih dipercaya. Memang kenyataannya, tidak semua media massa melakukan kerja-kerja yang sesuai dengan standar jurnalistik, namun masih banyak yang bekerja sesuai standar jurnalistik.

Standar jurnalistik menyaratkan media untuk bekerja berdasarkan sejumlah standar seperti kode etik, nilai berita, dan memenuhi sejumlah elemen jurnalistik. Seperangkat standar ini jika dijalankan dengan baik akan membuat konten yang dihasilkan bisa dipercayai oleh publik.

 

Answered Feb 28, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

8NhgpgRIpHIqXetUEM_G0dnHGKswllMv.jpeg

Terus terang, tingkat kepercayaan saya terhadap media massa, baik cetak maupun elektronik, sudah jauh menurun saat ini. Hal itu dimulai sejak Pilpres lalu. Bahkan, tingkat kepercayaan saya berada pada titik terendah sejak gonjang-ganjing Pilkada DKI.

Media massa yang masih saya percayai hanya Kompas cetak dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Angka tersebut adalah presentase tertinggi karena kita tidak bisa serta-merta percaya 100 persen. 

Kepercayaan saya terhadap media massa selain Kompas berada di bawah 50 persen. Bahkan untuk media dari grup Viva atau MNC ada pada posisi bawah. Media seperti Metro dan Tempo berada di kisaran 50 persen saja.

Rasa ketidakpercayaan terhadap media membuat saya meninggalkan berita-berita di televisi. Metro dan TvOne sudah saya tinggalkan. Saya sudah tidak tertarik lagi mengikuti program ILC atau Mata Najwa. Terlalu banyak kepentingan dan keberpihakan.

Sebagai gantinya, saya beralih saluran seperti NatGeo, Hystory, Discovery, atau situs-situs sejenis. Saya mencari media yang lebih bisa memberikan edukasi. Oh iya, saya masih buka Kompas TV, tetapi sebatas program Kompas Sport Pagi saja. Itu pun lewat fasilitas VOD.

Answered Mar 8, 2017

MMQPVJFWrnI4EUhC_jgfrBo6-fv86tKW.jpg

Media Massa adalah wadah masyarakat memberikan dan menerima informasi. Namun, saya meragukan media massa karena tidak lagi aktual. Sebabnya, penginformasian berita bohong (Hoax). Bahkan, pemberitaan yang kurang lengkap dan berimbang membuat informasi yang saya terima sesuai dengan framing media, meski informasi tersebut belum berimbang.

Seyogyanya, media massa bersifat berimbang, aktual, obyektif dan tidak berpihak. Hal ini sangat penting sebab masyarakat menjadikan media sebagai pusat informasi dan tidak menelaah secara mendalam apa yang diinformasikan.

Media massa sebagai pilar keempat bertanggung jawab akan terwujudnya kebhinekaan dan persatuan masyarakat Indonesia. Inilah faktor mengapa media harus memberikan informasi yang benar dan sesuai, bukan informasi berdasarkan kepentingan media atau pemilik media tersebut.

Akhirnya, pertanyaan diatas bisa dijawab dengan yakin bahwa saat ini, saya meragukan media massa. Sikap pesimis saya harus menjadi satu dari sekian banyak landasan media untuk berbenah.

Answered Mar 13, 2017

zjnxCGBMqyztTRyCTl4bmYxlx9zIabWI.jpg

Apakah berita di media internet bisa dipercaya? 

Banyak orang yang ragu akan berita yang mereka baca dan dengar setiap harinya. Mengapa bisa demikian? Karena di zaman yang serba canggih ini, kita bisa mendapatkan informasi dengan begitu mudahnya. Internet telah mengubah pola pikir dan cara hidup orang.

Menurut laporan berita sepanjang tahun 2014, ada begitu banyak postingan berita hoax yang menyebar secara viral di facebook dan juga situs-situs yang ada di internet. (Kebanyakan website berita yang ada ini dikelola secara perorangan). 

Kebanyakan berita hoax yang disebar ditujukan kepada orang-orang yang tergila-gila menggunakan social media dan juga internet. Anehnya, mereka dengan senang hati (tanpa dipikir-pikir lagi) langsung saja menyebarkan (share) berita yang mereka baca atau gambar yang mereka lihat. Akhirnya, mereka digiring ke website atau situs-situs palsu. Ada yang suka mengomentari berita hoax di facebook, bahkan ada yang sampai sindir-menyindir gara-gara membaca berita hoax.

Berdasarkan pengamatan saya, banyak situs-situs palsu itu menyajikan berita hoax yang mereka pelintir sedemikian rupa guna menarik perhatian pembacanya supaya mereka bisa meraup keuntungan semata. Ada yang meraup uang dari program mendapatkan uang dari internet seperti Google AdSense, Affiliate Program, YouTube AdSense, dan masih banyak lagi.

Answered Mar 13, 2017
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta

Cht3OC7tjP1TFd9K3hwNtVr0w4QR2-HP.jpg

Ditanya apa harus percaya atau tidak, ya tergantung pemikiran masing-masing orang. Mau percaya silakan, mau tidak juga silakan.

Yang jadi persoalan, apakah kita sudah mampu melihat perspektif berita itu sendiri? Bukan apa-apa, media selalu punya peranan untuk mengarahkan opini publik yang kemudian disebut framing. Media A bilang si Z begini, terus media B bilang si Z begitu. Tentu kita bingung kan, kalau ada dua pendapat yang bisa jadi sama-sama benar menggambarkan si Z, tapi kita tak mampu melihat mana pendapat yang paling obyektif dan independen di antara keduanya? Bisa jadi karena si media A mendukung si Z, dia memuja-muja secara lantang. Media B karena tidak mendukung si Z, isinya cela untuk si Z.

Nah, di sinilah kita mesti banyak-banyak membaca berbagai sumber untuk menyelesaikan keraguan kita atas hal tersebut, bisa dari sesama media massa (kan tak mungkin juga semua media massa bilang si Z begini semua), bisa juga (kalau terkait tokoh) dengan membaca buku-buku sejarah, biografi, dan semacamnya. Dari sini, kita paham bahwa "Oh, si Z tuh begini, begitu, dst." Kita jadi mengerti berbagai perspektif dan makin terasah kritisnya sehingga kita tak termakan hoax dan fake news

Masalahnya, masyarakat kita tak semuanya punya niat begini. Apalagi, minat membaca masyarakat kita juga rendah. Kalau sudah merasa pendapat media A benar, ya mereka ikuti terus. Meskipun sudah kita counter dengan pendapat dan data, tapi mereka bakal tetap di jalan yang berbeda. 

Namanya juga negara (yang katanya) menjunjung demokrasi.

Answered May 11, 2017
Gregorius Reynaldo
penikmat kopi, pengagum sastra, dan pecinta perempuan

I1UiE4fNKLLio0R4qhBfr8nz7f7JANnC.jpg

Saya mencium "bau-bau skeptis" dalam pertanyaan ini, seolah media sudah menjadi seperti "jebakan Batman" bagi para penikmatnya. Jujur saja, media, khususnya media massa yang menjamur saat ini, sudah tidak terkendali informasinya, jumlahnya, kualitas informasinya, apalagi hingga pengaruhnya kepada masyarakat. Hampir tidak ada sekat yang membatasi media massa yang kredibel dan media massa baru yang kredibilitasnya dipertanyakan. Belum lagi media-media yang sengaja diciptakan hanya untuk sekedar mencari keuntungan hingga untuk tujuan provokasi dengan pesan-pesan yang berbau SARA yang tentu saja menyesatkan.

Informasi di dalamnya sudah tidak lagi mempertimbangkan nilai-nilai jurnalistik dan pertimbangan kebenaran. Nah, di posisi inilah orang yang kemudian sadar atau yang sadar sedari awal menyadari bahwa media massa sudah tidak konstruktif lagi, tetapi sudah perlahan merusak dan meruntuhkan nilai-nilai konstruksi dari pesan yang ingin disebarluaskan melalui media.

Tetapi, saya ingin bertanya juga, apakah ada media baru yang dapat menggantikan peran media massa yang sudah ada sekarang dengan kredibilitas informasi yang dapat dipercaya?

Sampai ada jawaban untuk pertanyaan ini, saya akan terus percaya dengan media massa yang kita kenal sekarang. Dengan berita dan konten yang bercampur aduk tidak kenal massa, maka penting bagi kita untuk meliterasi diri terhadap media. Melek informasi, melek media. Inilah kuncinya agar informasi yang kita konsumsi tidak menipu diri kita sendiri. Dengan paham etika penulisan jurnalistik, kita dapat mempertimbangkan apakah sebuah berita dapat dipercaya atau sebaliknya.

Apakah kita akan berhenti percaya pada berita yang ditayangkan oleh stasiun berita nasional di TV setiap malam? Atau berhenti membaca koran karena beritanya hoax? Tentu tidak, kan? Di sinilah kita perlu literasi, kunci untuk mempertimbangkan mana berita baik dan tidak baik, mana berita benar dan tidak benar.

Sebuah neraka bagi kita jika tidak membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan ini, karena tidak akan ada filter untuk menguji kebenaran berita. So, saya tentu masih sangat percaya pada media massa, namun dengan filter, tentu saja.

(sumber gambar: ivn.us)

Answered May 16, 2017
Sponsored

Question Overview


7 Followers
807 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa yang dimaksud "fact is sacred" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Cub Reporter"?

Apa yang disebut "Hook" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Firsthand Account" dalam meliput peristiwa?

Bagaimana membedakan antara "Firsthand Account" dan "Secondhand Account" dalam menulis berita?

Siapakah Trias Kuncahyono?

Efektifkah aksi boikot Metro TV melalui Petisi?

Model bisnis apa saja yang biasa dilakukan oleh media online?

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Apa pendapatmu tentang isu-isu yang berkembang di media mainstream belakangan ini?

Apa pendapatmu tentang media cetak sekarang?

Siapakah yang mempopulerkan "Om Telolet Om"? Mengapa bisa populer di kalangan netizen?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin redaksi?

Apa yang membuat Harian Kompas sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Republika sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Media Indonesia sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Siapa itu Pepih Nugraha?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?