selasar-loader

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Last Updated Nov 15, 2016

11 answers

Sort by Date | Votes
Achmad Zaky
Pendiri dan CEO Bukalapak

Prosesnya sangat cepat, sederhana, tapi kalau dipikir-pikir sekarang nekat juga. Dulu sih nikmatin prosesnya, mungkin karena masih muda sekali habis lulus kuliah, nothing to lose untuk mencoba hal baru.

Pertama, menemukan ide web untuk ngumpulin para UKM dan memilih domain Bukalapak.com (masih belum ada owner-nya jadi cuma 80rb waktu itu saya beli). Proses ini terjadi sewaktu saya masih di ITB Bandung. 

Kedua, ngajak partner. Tidak banyak teman yang mau bergabung membangun usaha, apalagi Bukalapak. Xinuc (CTO Bukalapak) adalah salah satu yang tertarik bergabung. Fajrin (CFO Bukalapak) waktu itu di BCG dan kami teman baik. Saya ajak untuk bantu-bantu advise di kala senggang.

Ketiga, live dan proses menjalaninya. Kami berkantor di ruko kecil di Jakarta Selatan. Di situ pula kita kadang sering nginep. Web live dalam waktu 2 bulan sejak kami mengerjakannya. Pas dijalanin, ternyata ga gampang dan pengunjungnya awal-awal dikit sekali. Kami struggle dengan proyek-proyek sampingan. 

Kira-kira demikian proses singkatnya.

Answered Nov 17, 2016

Proses mendirikan bukalapak adalah sebuah tujuan mulia Pak Ahmad yang ingn membantu sobat UKM dalam memasarkan produk-produk yang mereka jual. Mengingat tahun ini adalah tahun boomingnya era digital marketing, masa dimana penjualan online paling diminati oleh setiap masyrakat yang savy akan digital teknologi.

 

Maka Pak Ahmad mendirikan eccomerce yang dapat menampung seluruh masyarakat terutama sobat UKM untuk membuka dan memasarkan produk-produk mereka di Eccomerce Buka lapak. Selain untuk proses jual beli online, Bukalapak juga menyediakan fitur jual beli barang second/preloved. Jadi bila ada seseorang yang ingin menjual barang yang sudah tidak terpakai dapat menggunakan bukalapak untuk menjual barang-barang layak pakai miliknya.

Karena tujuan mulia tersebut, Bukalapak semakin diminati dan semakin growth, khususnya di Indonesia

Answered Jan 18, 2017

Hasil gambar untuk BUKALAPAK.COM

Start awalnya dari ide. Tapi ya ide cuma ide kalau tidak dieksekusi, makanya langkah berikutnya adalah eksekusi, eksekusinya harus continue, terus-menerus, fokus dan konsisten, jangan melihat bisnis hanya 6 bulan atau 1 tahun, mikirnya harus long term 6 tahun. Tim penting sekali, di Bukalapak atau pun Suitmedia, recruiting menjadi proses yang luar biasa penting, kami tidak ingin class B people masuk, kami inginnya class A people, orang yang punya kompetensi dan passion, sevisi dengan kita, chemistry-nya ada.  3C  yang kami pegang terkait recruitment adalah Commitment, Capability atau Competency, satu lagi Compatibility. Harus satu budaya, satu pemahaman, satu pemikiran.

Bagaimana cara dapat ide yang bagus?

Ide selalu datang dari masalah yang kita hadapi dan kemudian kita hubungkan kompetensi apa yang kita miliki dengan ide atau peluang yang ada, misalnya dulu saya bangun Suitmedia, kami membangun kompetensi untuk membuat website dan desain yang bagus untuk klien, me-marketing-kan website, dan sebagainya. Di saat yang sama teman-teman kami sering tertipu saat belanja online, hal-hal seperti ini menjadi pijakan untuk kami membuat Bukalapak.com yang ternyata bisa jalan, karena kami punya kompetensi dalam membuat dan me-marketing-kan website. Jadi, selalu berawal dari titik apa yang kita punya. Suitmedia dulu berawal dari kompetensi para founder-nya di engineering, lalu kami menarik orang design, kok rasanya kompetensi kami di design juga oke, akhirnya kami buat produk yang ternyata jalan.

Kalau Hijup idenya berasal dari karyawan kami, ada yang nyeletuk pingin punya ide jual jilbab online, momennya pas saat Ramadan, ya sudah kami coba. Kebetulan di kantor ini kami sangat terbuka akan ide. Jika teman-teman ada ide dan manajemen merasa punya potensi pasar, ya sudah kami coba jalankan. Karena resources kami di Suitmedia sudah ada semua, Suitmedia sebagai engine titik awal kami. Jadi, fokus di kompetensi saja, jangan fokus di sesuatu yang bukan di kompetensi kita.

Ide tidak hanya di awal, tetapi juga ada di proses, justru ide yang ada di saya cenderung setuju kalau ide itu cheap, yang penting eksekusi. Ide gampang ditiru, tetapi eksekusinya yang luar biasa sulit ditiru dan tentu saja eksekusi butuh ide. Ide mau buat produk apa, ide untuk menggaet user, strateginya seperti apa, justru saya melihat ide ada di dalam proses.

Referensi: https://startupbisnis.com/bagaimana-bukalapak-com-didirikan/

Sumber gambar: blogspot.com

Answered Aug 2, 2017
sasa sa'adah
081281229256

nama: nur saádah

jurusan: tarjamah

yang dibutuhkan pertama kali adalah modal dan tekat yg kuat,dengan begitu kita dapat mendirikan suatu perusahaan seperti bukalapak

Answered Aug 20, 2017

sudah dijawab sama pemiliknya, hhe hhe. Coba scroll ke bawah.

Answered Dec 1, 2017
Dimas Ajie
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Peserta Rumah Kepemimpinan

Pertama, menemukan ide web untuk ngumpulin para UKM dan memilih domain Bukalapak.com (masih belum ada owner-nya jadi cuma 80rb waktu itu saya beli). Proses ini terjadi sewaktu saya masih di ITB Bandung. 

Kedua, ngajak partner. Tidak banyak teman yang mau bergabung membangun usaha, apalagi Bukalapak. Xinuc (CTO Bukalapak) adalah salah satu yang tertarik bergabung. Fajrin (CFO Bukalapak) waktu itu di BCG dan kami teman baik. Saya ajak untuk bantu-bantu advise di kala senggang.

Ketiga, live dan proses menjalaninya. Kami berkantor di ruko kecil di Jakarta Selatan. Di situ pula kita kadang sering nginepWeb live dalam waktu 2 bulan sejak kami mengerjakannya. Pas dijalanin, ternyata ga gampang dan pengunjungnya awal-awal dikit sekali. Kami struggle dengan proyek-proyek sampingan. 

 

 

Sumber : https://www.selasar.com/answer/38/Bagaimana-proses-mendirikan-Bukalapak

Answered Jan 1, 2018
Mardiansyah ,
RK Regional Makassar ~ KAMMI,IYD,IKASA,HMSP,RINTARA JAYA MKS,ARCHERY CLUB

Wa6kLNyBWfByEbWtXQAhtaPBKKHtlkiF.png

Bukalapak.com adalah ecommerce di Indonesia yang dikenal kuat di niche sepeda. didirikan awal 2010 dengan sumber daya sangat terbatas, dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, Bukalapak.com telah menjadi ecommerce yang sangat diperhitungkan, memiliki 25,000 seller dan 60,000 user, pada pertengahan tahun 2011 Bukalapak.com mendapatkan suntikan dana dari Batavia Incubator untuk ekspansi. 

Start awalnya dari ide. Tapi ya ide cuma ide kalau tidak dieksekusi, makanya langkah berikutnya adalah eksekusi, eksekusinya harus continue, terus menerus, fokus dan konsisten, jangan melihat bisnis hanya 6 bulan atau 1 tahun, mikirnya harus long term 6 tahun. Tim penting sekali, di Bukalapak ataupun Suitmedia, recruiting menjadi proses yang luar biasa penting, kami tidak ingin class B people masuk, kami inginnya class A people, orang yang punya kompetensi dan passion, sevisi dengan kita, chemistrynya ada.  3C  yang kami pegang terkait recruitment adalah Commitment, Capability atau Competency satu lagi Compatibility. Harus satu budaya, satu pemahaman, satu pemikiran.

Answered Jan 5, 2018
Wahyu Fatur
Fasilkom-TI USU 2015 || Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan

Merekrut orang-orang yang ahli dalam bidang Hacker, Hipster, dan Designer

Answered Feb 1, 2018
Lutfi Ilham Pradipta
Teknologi Industri Pertanian IPB 2014 | Rumah Kepemimpinan Bogor | Kab. Batang

Bukalapak didirikan oleh Achmad Zacky dan seorang temannya setelah lulus kuliah. Berdua mereka mengerjakan website, sistem dan kemitraan dengan pelapak. Beberapa tahun berdua hanya dikos. Banyak tekanan sosial. Ditanya calon mertua, " Kerjanya apa? ". Kan bingung juga jawabnya apa. Tapi alhamdulillah sekarang bukalapak udah gede. Ga sia-sia perjuangannya.

Answered Mar 3, 2018
Taufiq Anggara
Ekonomi Islam Unpad'15 | Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung

Beberapa waktu yang lalu pada program Sharing Alumni, saya dan teman-teman asrama Rumah Kepemimpinan (RK) Regional 2 Bandung kedatangan tamu spesial, salah satu alumni terbaik kami yaitu founder & CEO Bukalapak, Achmad Zaky. Bang Zaky, begitulah kami memanggilnya. Beliau merupakan alumni RK Regional 2 Bandung angkatan 3. Bang Zaky berbagi sedikit ilmu dan pengalamannya mengenai entrepreneur dan bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya ketika masih menjadi peserta Rumah Kepemimpinan.

Menurut beliau, RK merupakan sebuah ‘komunitas’ yang mengajarkannya menghabiskan waktunya untuk terus memikirkan orang lain. Hal ini yang menjadi faktor signifikan atas kesuksesasnya sekarang. Menurutnya, kesuksesan seseorang itu berdasarkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungannya. Bukan seberapa banyak yang dapat ia raih selama hidupnya. Ini merupakan modal bagi entrepreneur dan entrepreneurship. Entrepreneurship merupakan jiwa dengan value yang selalu memberikan good impact kepada orang lain, sehingga menciptakan value added kepada orang-orang tersebut. Namun menurut beliau, jiwa entrepreneur masih jarang ada di lingkungannya ketika kuliah di ITB. Hal ini menjadikan beliau terlihat ‘berbeda’ di kampus, tidak hanya berbeda tapi juga memiliki nilai tambah (value added). Orang seperti ini hanya 1% dari 100%, dan sebagai orang yang diberikan kesempatan menempuh pendidikan tertinggi, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi dari 1% ini untuk dapat memberikan impact kepada 99% lainnya. Mindset ini lah yang ia dapat selama masa-masa kuliah dan menjadi bagian dari peserta RK, beliau menyebutnya entrepreneur mindset. Tak hanya wirausahawan, jadi birokrat pun harus memiliki entrepreneur mindset. Karena tugas utama seorang pemimpin adalah adding value, menciptakan nilai tambah.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi hal-hal yang saya dapatkan dari cerita beliau baik mengenai cara berfikir, karakter serta hal-hal lainnya yang harus dimiliki seorang entrepreneur.

Berani Beda

Berani berfikir beda (tapi benar), berani meninggalkan status quo (keluar dari zona nyaman), dan jangan melakukan hal yang sama dengan orang lain. Pada umumnya orang-orang menginginkan karir yang aman dan nyaman dengan gaji yang cukup. Tapi tidak bagi Bang Zaky,  sebagai mahasiswa Jurusan Informatika ITB yang bisa saja memilih untuk lulus cepat dengan IPK yang baik dan bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar, beliau malah memilih untuk mencoba berwirausaha. Bahkan beliau pernah berbisnis bakso dan bangkrut ketika masih kuliah. Namun hal tersebut beliau jadikan pelajaran untuk bisa menjadi entrepreneur yang lebih baik. Beliau menambahkan bahwa jika kita membiasakan diri untuk beda, maka kita akan terbiasa berfikir hal-hal yang kreatif dan inovatif. Terbiasa untuk berfikir yang tidak biasa, begitu beliau menyebutnya. Beliau merasa beruntung memulai e-commerce pada saat yang tepat, beda halnya jika ia baru memulainya sekarang, sudah banyak perkembangan yang terjadi, dengan kata lain sudah menjadi hal yang dilakukan orang kebanyakan.

Yakin Benar

Bang Zaky mencoba keluar dari status quo, zona nyamannya orang kebanyakan. Dalam menjalaninya tentu tidak mudah, tak sedikit keraguan muncul dari lingkungannya. Bahkan ketika awal perintisan Bukalapak, di tengah pemahaman mengenai e-commerce yang masih minim pada saat itu (jangan samakan dengan kondisi sekarang), beliau menawarkan platform jual beli online buatannya di mall-mall yang ada di Bandung, dari 22 pedagang yang ia tawarkan bergabung sebanyak 19 pedagang lainnya menolak, hanya 3 pedagang yang bergabung. Coba bayangkan jika beliau menyerah dan berhenti menawarkannya pada orang ke-19, tidak aka nada yang namanya Bukalapak dengan ribuan pelapak sekarang. Mengapa beliau tidak menyerah? Karena beliau yakin bahwa apa yang ia tawarkan adalah benar, yakin bahwa ini akan menjadi suatu hal yang besar. Beliau menyebutnya entreprenuural spirit, tidak akan pernah berhenti mencoba meskipun gagal. Seperti yang sudah dibahas di awal, kita merupakan 1%, jangan biarkan lingkungan yang merupakan 99% lainnya menghambat kita, justru kita harus mempengaruhi 99% tersebut.

Value First

Pada dasarnya bisnis memang bertujuan untuk mencari keuntungan, karena dengan begitu bisnis dapat terus berjalan. Namun Bang Zaky berpendapat lain, menurutnya financial reward bukanlah hal yang paling utama, melainkan value. Dalam berbisnis jika kita terus-menerus berorientasi pada uang tidak akan ada akhirnya, tidak akan pernah puas. Berbeda dengan value, dalam jangka panjang value perusahaan akan mendatangkan keuntungan dan menjadikan perusahaan dapat bertahan bahkan terus berkembang. Value ini merupakan kebenaran yang dibawa oleh perusahaan, kebenaran yang dapat memberikan value added dan impact kepada lingkungan.

Melakukan Pekerjaan Kecil dengan Sepenuh Hati

Menurut beliau terjun ke dunia entrepreneur ibarat menyemplungkan diri ke tengah hutan tanpa resources. Ia harus bisa survive dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di sekitarnya. Untuk bisa bertahan dalam kondisi seekstrem ini dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Beliau menceritakan pengalamannya saat masih menjadi mahasiswa yaitu ketika mendapatkan tawaran proyek dari suatu televisi nasional untuk membuat software quick count dengan upah yang bisa dibilang kecil, beliau menerima tawaran tersebut bukan karena upahnya, melainkan karena ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan semacam ini ketika aktif di suatu komunitas di kampus sehingga beliau mampu mengerjakannya dengan sepenuh hati, alhasil software buatannya tampil hampir di seluruh televisi nasional di Indonesia.

Pentingnya Pertemanan

Perlu teman-teman ketahui bahwa Bang Zaky menciptakan Bukalapak bersama teman asramanya, Bang Fajrin yang kini sebagai CFO (Chief of Financial Officer) Bukalapak. Dan beberapa teman kuliahnya juga bergabung di beberapa posisi strategis di Bukalapak. Menurut beliau pertemanan sangatlah penting, karena pertemanan menentukan akan menjadi apa kita di masa...(more)

Answered Mar 6, 2018
Bagus Rahmansyah Priyoadi
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB '2015 | Rumah Kepemimpinan Bogor

Menurut cerita yang saya dengar, Bukalapak berawal dari pemikiran Achmad Zaky dan temannya di Jurusan Komputer yang berkeinginan untuk membuat sebuah wadah bagi penjual/pelapak kecil di Indonesia

Answered Apr 3, 2018