selasar-loader

Apa yang Anda kenang dari Kota Gunungsitoli? Mengapa?

Last Updated Jan 23, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
Teti Zebua
Just an ordinary me

2wfEswWc2qPQc618T5RcEERkQbqPIk4N.jpg
pic via wajah nias

Hidup dan tinggal di kota Gunungsitoli, sebuah kota kecil di Pulau Nias yang terletak di bagian barat pulau Sumatera ini memberikan kesan tersendiri. Saya akui, semakin hari memang semakin tertata rapi dan baik, terutama infrastruktur dan tata letak kota. Oleh walikota terpilih sedang gencar-gencarnya menyosialisasikan beberapa kebijakan dan peraturan yang diberlakukan di Kota Gunungsitoli. Semoga di dalam sendi pemerintahannya juga begitu, demi kenyamanan dan kesejahteraan warganya.

Beberapa hal yang akan saya kenang jika mungkin suatu hari kota ini pun akan semakin mengikut perkembangan dan kemajuan zaman. Semoga perubahan yang terjadi membawa ke arah positif dan juga membangun, bukan sebaliknya.

3CnK7AjBqGKkuG3E_m6UGGviQykFg8wK.jpg
pic via smartnewstapanuli.com

 

1. Pantai dan alamnya.

Kemana kaki melangkah, kalau sudah di kota pasti akan bertemu pantai. Hampir sebagian besar jalan provinsi di Kota Gunungsitoli mengikut garis pantai. Bergeser ke arah barat kota maka baru akan bertemu bagian perbukitan. Lengkap dengan pepohonan hijau dan lingkungan yang masih asri. Tidak adanya polusi udara yang berlebihan. Menikmati sore di taman kota Taman Ya’ahowu adalah hal yang tidak akan bisa dilupakan. Sambil menunggu senja turun perlahan di kaki langit, bayangkan cahaya emasnya manjakan mata, lalu ditemani secangkir coklat panas dan pisang goreng, duduklah di bangku taman. Sendiri tak masalah, berdua juga lebih baik. Atau sekedar jogging di taman pun diizinkan, bebas, mau pagi atau sore.

Selain itu, banyaknya tempat wisata selain pantai yang masih tersembunyi seperti gua dan air terjun memberikan tantangan yang tak kalah menariknya dengan pertanyaan, kapan nikah.

#Ehh, maksud saya tantangan terberat, maukah ke sana dan kapan?

 

pXbUgTrPPBu5HRLuw2LovlUUJ7N2CqWU.jpg
pic via wolfgangkaehler on flickr

 

2. Musim Buah

Kalau ini hal yang saya tunggu-tunggu. Bulan Juni biasanya identik dengan musim buah-buahan paling banyak. Di simpang BRI kamu akan menemukan pedagang musiman menebar dagangannya. Durian, rambutan, mangga, manggis, kuini, langsat, duku, adalah buah-buahan yang dijual berkala. FYI, di Nias belum ada perkebunan yang khusus membiakkan agar tanaman ini berbuah setiap bulan. Jadi bagi saya buah-buahan tersebut di atas adalah buah keramat dan langka, tak dapat ditemukan jika kepengen banget makan sekarang, mesti nunggu musimnya. Durian Nias terkenal gurih dan nikmat, dan dagingnya tebal, setidaknya begitu pengakuan beberapa teman dari luar Nias yang juga doyan makan durian ketika mencicip durian Nias. Harganya juga murah, modal seratus ribu dapat ‘satu belea’ durian. Satu belea itu sekitar 20 buah durian diikat dua-dua dan disusun di sebuah kayu. Dan hanya di Nias, durian mentah/mengkal justru sangat digemari dan ‘wanted’ saat musim duren tiba.

GusWaBPp9BL5d5vSlATqq_Gn8cS5PnCI.jpg

 

3. Pisang

Hampir setiap minggu, pisang dari Nias diangkut truk besar untuk dipasarkan di luar pulau. Proses bongkar muat dari truk penggalas ke truk yang lebih besar adalah pemandangan yang bagi saya cukup unik. Memandang pisang-pisang yang tersusun di atas truk itu seperti memandang sebuah karya seni yang di pamerkan di museum. Stunning!

Lalu, kalau ingin beli gorengan, maksud saya gorengan lain selain pisang misalnya tahu goreng, ubi goreng, maka kamu harus menyebutnya dengan tepat. Karena disini gorengan hanya identik dengan “pisang goreng”. Jangan kaget jika memesan gorengan maka yang muncul hanyalah pisang, meskipun jelas-jelas kamu melihat di display ada tahu isi, ubi, singkong dan jenis lainnya.

 

4. Hospitality

Bagi saya, hal yang menyenangkan tinggal di kota ini adalah bertemu penduduk yang ramah-ramah dan baik. Apalagi cowok-cowoknya cakep-cakep. Teman-teman dari luar Nias mengira penduduknya keturunan Cina, Jepang, bahkan ada yang mnegira dari Korea. Karena ciri khasnya bermata sipit dan berkulit putih.

 

Qq81g8Q5u6WO_tLXBXmZDGdSw4gO_OT0.jpg
ilustrasi via museum pusaka nias

 

5. Adat istiadat

Tak kalah menarik, dapat saya pastikan budaya di Kota Gunungsitoli juga menjadi hal yang suatu hari akan saya kenang. Terutama dalam pernikahan. Jujuran yang tinggi biasanya menjadi tantangan bila seseorang akan menikahi putri Nias, termasuk gadis yang berasal dari kota Gunungsitoli. Adat istiadat ini menjadi ciri khas dan pembeda dari daerah lainnya. Berharap suatu hari masalah jujuran ini lebih dapat disederhanakan dan disesuaikan dengan kebutuhan namun tidak menghilangkan bagian-bagian adat itu sendiri.

 

6. Hari Minggu

Meskipun telah diatur dalam undang-undang tentang pemakaian helm bagi pengendara motor wajib dikenakan setiap kali bepergian dan tidak mengenal off pada hari tertentu. Namun, di Kota Gunungsitoli setiap hari minggu ada kebiasaan unik. Hampir sebagian besar pengendara motor tidak memakai helm jika bepergian di dalam kota pada hari tersebut. Sejauh ini, tidak ada aturan khusus ataupun tertulis tentang ini, baik dari pemerintah daerah maupun pihak kepolisian. Namun sepertinya helmet free every sunday telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Answered Jun 5, 2017