selasar-loader

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Last Updated Nov 10, 2016

Pada tanggal 8 November waktu setempat, Donald J Trump yang tidak diunggulkan mengalahkan pesaing kuatnya Hillary Clinton. Dunia mencemaskannya karena sikap rasis dan antiimigran yang ditunjukkan Trump selama masa kampanye.

66 answers

Sort by Date | Votes
Hana Fitriani
Product manager & kontributor Selasar.com.

LDieIXcWN_6tpzFz-t0ig990Gw5FpKQ-.jpg

via turner.com

 

Tentu saja. Pertama, karena dia adalah presiden Amerika. Siapapun presidennya, Amerika punya kontrol dan pengaruh besar terhadap negara lain.

Selain itu, kebijakan dan fokus visi Donald Trump yang cenderung radikal, khususnya terhadap muslim dan Tiongkok; sehingga hal ini akan mengubah wajah geopolitik dunia.

Answered Nov 15, 2016
Pepih Nugraha
Jurnalis Politik, menulis politik, tapi tidak berpolitik

f17E_jC2xqxhyYBDoOdlxLkpbrJdbMON.jpg

Setiap Presiden Amerika Serikat terpilih akan melaksanakan program-program barunya, salah satunya ialah program yang sesuai dengan janji-janji semasa kampanye. Poin ini penting, sebab ketertarikan pemilih terhadap calon sangat dipengaruhi oleh program-program yang akan dijalankan saat kampanye. Isu dalam negeri yang sangat seksi di mata pemilih Amerika adalah masalah pengangguran, pajak, jaminan hari tua, dan kesehatan. Itu yang menjadi perhatian khusus Hillary Rodham Clinton dalam kampanyenya.

Akan tetapi, Trump berpikir "out of the box". Ia melancarkan kampanye yang sangat tidak "manusiawi" tetapi justru "populis" di kalangan orang-orang konservatif yang menghendaki kembalinya kejayaan Amerika di masa lalu, "Make America Great Again", sebagaimana slogan Trump. Kampanye Trump yang "berbahaya" tetapi populis di mata sejumlah pemilih konservatif itu adalah membendung imigran Muslim yang masuk ke AS, mengusir imigran gelap dari Amerika, dan memproteksi produk-produk AS dari serbuan produk luar negeri, khususnya dari Tiongkok.

Di bidang ekonomi perdagangan saja, AS di bawah Trump akan membuat proteksi sendiri dalam menghadapi Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya yang perdagangannya sedang bertumbuh. Bisa jadi, isu perdagangan ini merembet ke konstelasi geopolitik. Negara-negara Asia yang perdagangannya terkunci dan tidak bisa masuk AS akan mengalihkan bisnisnya ke Rusia, India, Brasil, Eropa. Contoh kecil, negara-negara itu bisa saja mengalihkan pembelian senjata dan alat-alat berat lainnya dari AS ke negara-negara musuh AS seperti Rusia dan Tiongkok. Bakal terjadi neraca perdagangan yang berubah.

Hubungan AS dengan Eropa (NATO) juga akan terganggu dengan kebijakan Trump yang antiimigran gelap dan muslim. Sejumlah negara Eropa melindungi pengungsi-pengungsi Suriah dan kawasan Timur Tengah atas alasan kemanusiaan, sedang Amerika cenderung tak acuh atas nasib pengungsi yang tercermin dari sikap antiimigran Trump tersebut. Bakal ada pergesekan kebijakan dalam skala geopolitik antara AS dan NATO atau dengan negara-negara lainnya atas kebijakan Trump ini.

 

Answered Nov 16, 2016

Terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) akan mengubah wajah dunia. Alasannya, Trump yang menang mengalahkan Hilarry lebih mengedepankan perasaan dibandingkan pikiran. Wajah dunia akan berubah dengan perbedaan pendekatan Trump dalam memahami demokrasi. Trump lebih menonjol dengan nasionalisme yang antiimigran, antimuslim, dan lain-lain yang saya sebut sebelumnya memainkan perasaan. Sedangkan, toleransi lebih kepada rasionalitas (pikiran) sebagai icon demokrasi yang menghargai perbedaan.

Trump dengan sikap nasionalismenya akan mengubah politik dunia. Trump yang garis politiknya dekat dengan Duterte dan Putin akan berbeda jauh dengan pendekatan Obama kepada dua kepala negara  Filipina dan Rusia ini. Setelah itu, pandangan negara Arab terhadap Trump (AS) akan berbeda setelah ia menduduki Gedung Putih pada Januari nanti terkait kampanye Trump yang keras terhadap Muslim.

Answered Nov 17, 2016
Arifki Chaniago
Pengamat Politik/Political Commentator

Xh4MpAtywbFxxSGtS0IFGwoug5UGCxB6.jpg

via cnn.com

Terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) akan mengubah wajah dunia. Alasannya, Trump yang menang mengalahkan Hilarry lebih mengedepankan perasaan dibandingkan pikiran. Wajah dunia akan berubah dengan bedanya pendekatan Trump memahami demokrasi. Trump lebih menonjol dengan nasionalisme yang antiimigran, antimuslim, dan lain-lain yang saya sebut sebelumnya; memainkan perasaan. Sedangkan, toleransi lebih kepada rasionalitas (pikiran) sebagai icon demokrasi yang menghargai perbedaan.

Trump dengan sikap nasionalismenya itu akan mengubah politik dunia. Trump yang garis politiknya dekat dengan Duterte dan Putin akan berbeda jauh dengan pendekatan Obama kepada dua kepala negara Filipina dan Rusia ini.Setelah itu, pandangan negara Arab terhadap Trump (AS) akan berbeda setelah ia menduduki Gedung Putih pada Januari nanti, terkait kampanye Trump yang keras terhadap Muslim.

Answered Nov 17, 2016
Heru Prasetyo
Seorang pejalan kaki yang juga suka naik trans Jogja dan becak.

Tidak akan mengubah wajah dunia karena dunia itu tidak punya wajah, punyanya langit, udara, daratan, pulau, dan laut. Hehehehehe. :D (jawaban ngawur).

Gambar terkait

Gambar via media.salon.com

Answered Dec 19, 2016

5i5xPhL4y1FxuYD-pSUiO5dRmiyt4SrU.jpg

Akan sangat mempengaruhi dunia. Bersiap saja bahwa akan ada lebih banyak aksi terorisme. Dengan segala kebijakannya yang antimuslim dan antiasing, Trump akan membuat muslim yang dulunya moderat dan berada di tengah akan bergeser ke kutub radikal. Justru pemimpin seperti Trump ini yang sangat diinginkan oleh ISIS; membuat dunia menjadi terpolarisasi. Mayoritas muslim yang sebenarnya berada di tengah pelan-pelan akan beralih ke kutub radikal karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Dan keyakinan-keyakinan radikal secara perlahan tapi pasti akan bertambah pengikutnya.

Ilustrasi via suarakebebasan.org

Answered Jan 4, 2017

Hasil gambar untuk donald trump menang

Ya, betul, terutama dalam hal politik luar negeri Amerika terhadap dunia Islam, Rusia, Tiongkok, dan Kuba.

Ilustrasi via cdns.klimg.com

 

Answered Jan 4, 2017
Hendra Wiguna
Humas DPD KNTI Kota Semarang

Bisa. Tidak bisa kita pungkiri bahwa Amerika masih memiliki peran besar dalam pergolakan dunia.

Answered Jan 13, 2017
Hilmy Mahfuzra
A passionate learner and writer

Seharusnya iya, jika yang dilontarkan Trump di kampanye benar-benar terlaksana. Yang mungkin terjadi adalah muslim sulit menjangkau AS, perubahan tingkat kemandirian AS dalam mengurus negaranya sendiri, serta ketimpangan sosial yang meningkat.

Answered Jan 18, 2017

Pastinya, karena Amerika adalah negara adidaya sehingga kebijakan Donald Trump akan mempengauhi wajah dunia, baik secara positif maupun negatif.

Answered Jan 20, 2017

6jDwWl5ArP1UyEIUrpxd2EqluOLMbITE.jpg

via businessinsider.com

Bisa mengubah wajah dunia apabila semua yang Trump sampaikan benar-benar terlaksana, karena beberapa waktu setelah terpilih, Trump terlihat tidak ingin mengomentari terkait janji kampanye yang dianggap kontroversial.

Namun, semua bisa saja terjadi. Apakah ia akan mengikuti jejak langkah George Bush? Kita lihat saja nanti.

Answered Jan 20, 2017
Muhammad Ihsan Harahap
Pernah menjadi Academic Fellow bidang Hak Sipil dan HAM di KSU, Amerika Serikat

UyP-ghj4-1tbaDmJ4IZpWnkPAYYm-5_Z.jpg

Menurut saya, secara umum: ya, terpilihnya Donald Trump bisa mengubah wajah dunia, terutama wajah hubungan internasional. 

Setidaknya hingga sekarang, hanya Perdana Menteri Inggris (Theresa May) yang telah bertemu secara langsung melalui kunjungan resmi dengan Presiden Trump. Itu pun bisa dimaklumi karena Theresa May adalah politikus dan pemimpin kaum tories (Partai Konservatif) yang kemudian menjadi salah satu penyokong utama Brexit -bersama Nigel Farage dari UKIP (United Kingdom Independence Party).

Pemimpin lain yang 'dekat' dan sering dipuji-puji Trump dalam pidato-pidatonya adalah Vladimir Putin (Rusia) dan Benjamin Netanyahu (Israel). Sedangkan ally Amerika Serikat selama ini seperti Kanada, Jerman, bahkan Perancis menunjukkan sikap penentangan, terutama setelah Trump mengeluarkan travel ban terhadap tujuh negara mayoritas muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara. 

Perubahan dalam perpolitikan Amerika Serikat sendiri sudah dianggap sebagai wajah politik dunia sekarang. Di era Trump, banyak sekali kebijakan -selain travel ban tadi- berupa pelantikan menteri dan pejabat, yang dianggap berbahaya bukan hanya bagi Amerika, tetapi juga bagi dunia internasional.

Pelantikan Betsy DeVos sebagai Secretary of Education (Menteri Pendidikan) jelas merupakan kemunduran bagi Amerika Serikat. Betsy ini dikritik habis-habisan dalam hearing yang dilakukan Senat AS oleh senator progresif seperti Elizabeth Warren, Bernie Sanders, dan lainnya. DeVos tidak punya pengalaman dalam mengelola dana publik untuk pendidikan, dan bahkan tidak pernah bersekolah di sekolah publik.

Pelantikan yang paling baru adalah pelantikan Jeff Sessions sebagai Attorney General. Jeff Sessions ini yang di tahun 1980-an diprotes keras oleh Coretta King (janda dari Martin Luther King) melalui sebuah surat untuk posisi di Pengadilan Negara Bagian Alabama. Jeff Sessions sudah terkenal dengan sentimen anti-Islam, antiimigran, antigerakan hak sipil, dan lain-lain.

Pejabat yang dilantik dan kontroversial bukan hanya Sessions dan DeVos. Salah satu posisi penting di pemerintahan AS, yaitu Secretary of State (Menteri Luar Negeri) diisi oleh Rex Tillerson. Tillerson ini pernah menjadi CEO Exxon. Bisa dibayangkan bagaimana Obama membangun citra Department of State dalam rangka perbaikan nama baik Amerika Serikat, tetapi tiba-tiba pengganti John Kerry adalah orang yang penuh dengan kepentingan bisnis seperti Tillerson.

Namun saya yakin, semakin liar Trump mengarahkan kebijakan-kebijakan kontroversialnya, semakin kuat tekanan yang akan datang dari rakyat Amerika Serikat sendiri. Ini kabar baik. Contohnya, travel ban yang kontroversial itu akhirnya membuat puluhan universitas top AS mengeluarkan pernyataan ketidaksetujuan dengan kebijakan kontroversial tersebut.

Bahkan satu hari setelah Trump dilantik, 21 Januari 2017, terjadi suatu demonstrasi yang dianggap sebagai demonstrasi paling besar yang terjadi dalam sejarah Amerika (melebihi March to Washington-nya Martin Luther King) yaitu Women's March. March ini dikoordinatori oleh tokoh muda progresif AS keturunan Palestina: Linda Sarsour. Lebih satu juta orang berdemonstrasi di seluruh wilayah AS menentang retorika Trump. 

Jadi saya tetap optimis bahwa Trump tidak akan menekan tanpa adanya tekanan balasan dari orang-orang yang menjadi korban kebijakannya. Lagi pula, masih banyak pemimpin dunia yang bisa dijadikan contoh, misalnya Justin Trudeau dari Kanada. Saya berpikir Trump tidak akan bertahan selama 4 tahun hingga ia dimakzulkan seperti yang Nixon alami dulu.

Answered Feb 9, 2017
afdanella ella
alumni SMANSA PAPA, abdi negara, planner, bestfriend nya bintang ketjil

yAWH6MXdI0GJqDo4fpxOGqih-Fq2-bPx.jpg

Tidak.

Karena sudah banyak yang jawab iya, maka saya akan menjawab tidak, tentu saya punya alasan.

1. Ada dua kekuatan di USA, republik dan demokrat. kekuatan ini secara alamiah bergantian menguasai. rakyat yang tidak puas dengan kebijakan rpublik, maka periode mendatang akan memilih demokrat demikian sebaliknya. Program-program demokrat saat ini akan dikupas dan dijadikan isu kampanye besar republik untuk masa yang akan datang. Ya, isu yang dipakai Trump saat kampanye adalah isu yang 180 derajat berseberangan dengan program-program yang diusung Obama. Dengan itu lumrah, itu alamiah, tanda kedewasaan demokrasi di Amerika. 

2. Saat Obama menang, semua orang menaruh harapan besar tentang kesetaraan, tentang Timur Tengah, dan sebagainya. ternasuk indonesia yang menaruh harapan sangat besar apalagi saat Obama bilang dia suka "nasi goreng". Namun, apakah harapan itu terpenuhi? Tidak saya rasa.

3. Negara punya mekanisme. Janji kampanye adalah manis, tetapi penguasa negara bukan cuma eksekutif. Ada legislatif yang menjadi penyeimbang. Dan, dewasanya demokrasi di Amerika, oposisi benar-benar berlaku sebagai oposisi, no baper.

4. Program kampanye akan dilaksanakan seperti kata Mas Pepih, namun oposisi tentu akan membatasi sesuai mekanisme yang berlaku. 

sekian.

 

sumber gambar: cnn.com

Answered May 3, 2017
Dicky Wijaya
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

F5GQons0_ynAJyngbiUPoNIk-NSFZ_SK.png

Menurut BBC

Masuknya Donald Trump ke Gedung Putih diyakini dapat mengubah hubungan Amerika dengan beberapa negara di berbagai belahan dunia dan mengubah berbagai arah kebijakan. Oleh karena itu, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan memiliki kemugkinan yang sangat besar untuk mengubah wajah dunia. Berikut ini adalah tujuh perubahan yang mungkin terjadi ketika Trump menjadi presiden.


Nato akan terguncang

Trump dikenal sebagai orang yang luar biasa kritis terhadap Nato (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), sebuah ujung tombak kebijakan luar negeri Amerika sejak lebih dari 60 tahun.

Ia tak henti menyerang organisasi itu dan menyebutnya sebagai lembaga yang sudah usang dan menilai anggota-anggotanya sebagai sekutu yang tidak tahu berterima kasih setelah memperoleh manfaat dari kebaikan Amerika Serikat.

Beberapa hari sebelum pelantikannya, ia menegaskan bahwa 'banyak' dari 28 anggota Nato tidak membayar kewajiban secara layak, yang merupakan hal yang 'sangat tidak adil' bagi Amerika Serikat.

Kecaman terbaru dilontarkan saat 3.000 tentara AS tiba di Polandia sebagai bagian dari rencana Barack Obama untuk meyakinkan sekutu Nato yang khawatir atas agresi Rusia.

Di satu sisi, retorika Trump berpijak pada kekhawatiran AS yang sudah lama mempermasalahkan sebagian besar anggota NATO yang tidak memenuhi target untuk menganggarkan setidaknya 2% untuk pertahanan, sementara anggaran belanja pertahanan AS merupakan yang terbesar di dunia.

Presiden terpilih itu juga menekankan bahwa Nato 'sangat penting' baginya.

Namun hal itu hanya memberi sedikit kelegaan dan sikap dasar Trump memicu kegelisahan di Eropa. Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan komentar-komentar yang dilontarkan Trump soal Nato menyebabkan 'kekhawatiran' bagi negara-negara anggota yang tergabung di dalamnya.


Hubungan yang lebih nyaman dengan Rusia?

Selama kampanye pemilu AS, Trump memuji Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pemimpin yang kuat, dan ia ingin menjalin kerjasama yang baik dengannya.

Hal itu terjadi sebelum badan intelijen AS menyatakan bahwa Rusia bertanggung jawab atas peretasan e-mail Partai Demokrat selama kampanye yang awalnya disepelekan akhirnya Trump, namun kemudian diakui bahwa AS memang telah kebobolan.

Publikasi panas sebuah berkas yang belum diverifikasi, menyatakan bahwa Rusia memiliki bahan-bahan yang memojokkan Trump juga telah menimbulkan berbagai pertanyaan terhadap presiden terpilih AS tersebut.

Ia kemudian menyanggah tuduhan-tuduhan tersebut sebagai 'berita bohong' dan mempertanyakan apakah berkas-berkas itu sengaja dirilis oleh pihak intelijen.

Kini, Trump mengungkapkan bahwa ia mulai mempercayai Putin (dan Kanselir Jerman Angela Merkel) namun ia juga memperingatkan bahwa hal ini 'mungkin tidak akan berlangsung lama.'

Ia juga mengatakan akan tetap menerapkan sanksi AS terhadap Rusia 'setidaknya untuk jangka waktu tertentu.'

Namun, ia juga menyebutkan dalam sebuah wawancara bahwa sanksi internasional bisa dicabut jika sejumlah 'kesepakatan menguntungkan' bisa dicapai dengan Rusia, termasuk pengurangan senjata nuklir.

Di masa pemerintahan Obama, kerjasama antara AS dan Rusia diwarnai berbagai ketegangan terkait permasalahan di Ukraina, Suriah, dan persoalan peretasan di dunia maya. Nampaknya hubungan kedua negara akan berubah secara signifikan di bawah kepemimpinan Trump.


Akhir dari perdagangan bebas?

Kebijakan perdagangan Donald Trump akan berdampak besar terhadap cara Amerika menjalankan kepentingan bisnisnya dengan seluruh negara-negara dunia dalam beberapa dasawarsa.

Ia mengancam untuk membatalkan sejumlah perjanjian perdagangan bebas yang ada, termasuk Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara antara AS, Kanada dan Meksiko, yang ia tuding sebagai penyebab banyaknya pengangguran. Ia bahkan menyarankan AS menarik diri dari Organisasi Perdagangan Dunia WTO.

Sejak memenangkan pemilu, ia memusatkan perhatiannya untuk mengancam perusahaan-perusahaan, khususnya para produsen mobil, bahwa ia akan menerapkan tarif sekitar 35% untuk barang-barang yang diproduksi di Meksiko.

Tujuan dari kebijakan perdagangannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja di AS, dan menutup defisit perdagangan, serta memperoleh 'kesepakatan menguntungkan' bagi rakyat Amerika.

Dan Cina khususnya, selalu dibidik, bukan hanya dalam masalah perdagangan.


Akhir dari kebijakan Satu Cina?

Percakapan telepon antara Trump dan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada awal Desember lalu telah mendobrak keprotokolan AS selama empat dasawarsa.

Beijing menganggap Taiwan sebagai sebuah provinsi mereka, dan menolak klaim negara itu sebagai negara merdeka yang merupakan prioritas utama kebijakan luar negeri Cina, sesuatu yang sudah lama oleh AS diakui juga sebagai kebijakan 'Satu Cina.'

Presiden Taiwan baru-baru ini mengatakan bahwa "segala sesuatunya bisa dirundingkan, termasuk kebijakan yang disebut Satu Cina." Lalu Cina menanggapinya dengan mengatakan bahwa prinsip tersebut tidak bisa ditawar.

Posisi yang bertentangan ini menimbulkan berbagai pertanyaan serius atas jalur hubungan antar Cina dan AS yang merupakan dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Tapi Trump menunjukkan tingkat pragmatisme pada isu-isu lain yang berhubungan dengan Cina. Trump awalnya menyebut Cina sebagai manipulator mata uang, namun sebutan itu ia hapuskan saat terpilih menjadi presiden. Ia kini malah mengatakan akan 'berbicara dulu dengan mereka.'


Kesepakatan nuklir Iran bisa dikaji lagi

Bagi Presiden Obama, kesepakatan dengan Iran berupa pencabutan sanksi ekonomi internasional dengan imbalan negeri itu menghentikan upaya membuat senjata nuklir merupakan suatu 'kesepahaman bersejarah.'

Tapi untuk Donald Trump, yang menyuarakan lagi kekhawatiran Partai Republik, itu merupakan "kesepakatan terburuk perundingan yang pernah saya lihat."

Ia pernah mengatakan bahwa membatalkan kesepakatan tersebut merupakan 'prioritas utamanya,' tapi sekarang ia mengatakan tidak ingin menunjukkan apa yang akan ia lakukan.

"Siapa yang bermain kartu dengan menunjukkan tangan ke semua orang sebelum...(more)

Answered Jul 29, 2017

Ya. Tanpa Donald J. Trump pun negara Amerika sangat berpengaruh bagi negara-negara lain. Tetapi, dengan melihat sifat Donald J. Trump yang keras dan tegas sepertinya dapat membuat Amerika menjadi lebih baik. Jika negara besar seperti Amerika dapat terus maju, maka kemungkinan besar negara-negara lain juga akan terus termotivasi untuk membuat pembaharuan menuju perubahan yang bersifat progresif. 

Answered Aug 8, 2017

Tidak juga.

Answered Aug 9, 2017

Iya, karena dia memiliki karakter yang keras dan apa yang dia mau harus dia dapatkan walaupun dengan cara yang agak mustahil bagi pandangan masyarakat awam.

Answered Aug 10, 2017
Moh Zulianto
Muh zulianto

Belum tentu karena setiap negara memiliki pendirian masing-masing.

Answered Aug 11, 2017
Alya Safira Azizah
Mahasiswi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Bisa karena Amerika Serikat merupakan negara yang sangat berpengaruh di dunia, segala kebijakan yang akan diambil Donald Trump pasti akan berdampak bagi dunia internasional.

Answered Aug 11, 2017

Memang, Donald Trump dikenal sebagai anti imigran dan sikap rasisnya, terutama terhadap warga Islam, di mana warga Islam di Amerika yang dipimpin Donald Trump, banyak mengalami intimidasi. Hal ini justru dapat mengakibatkan konflik antaragama, bahkan antarnegara yang memiliki popularitas Islam lebih tinggi terhadap A.S, bahkan akibat kurangnya diplomasi antara A.S dan juga Korut mengakibatkan akan timbulnya perang yang digadang-gadang sebagai perang nuklir terhebat di dunia. Jelas hal ini dapat mengubah pandangan dunia terhadap A.S yang dipimpin oleh Donald Trump.

Answered Aug 15, 2017

Question Overview


and 152 more
170 Followers
3688 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Adakah kemungkinan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat memisahkan diri jadi negara berdaulat akibat kemenangan Donald Trump?

Apakah Presiden AS Donald Trump berpotensi memicu dimulainya Perang Dunia III?

Mengapa Presiden Donald Trump memecat sebagian besar duta besarnya dan apa dampaknya bagi Amerika Serikat?

Apa keunggulan dasar karakter Donald Trump, Presiden ke 45 Amerika Serikat?

Apa yang membuat pengusaha optimistis dengan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump?

Apa yang membuat pengusaha pesimistis dengan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump?

Apa yang membuat pengusaha Tiongkok pesimistis dengan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump?

Apa yang membuat pengusaha Indonesia pesimistis dengan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Bagaimana positioning Indonesia di dunia global?

Kapan Perang Dunia III muncul?

Apa yang membuat Israel menang dalam perang melawan gabungan negara-negara Arab?

Mengapa Israel dalam beberapa dekade menjadi maju sekali jauh meninggalkan negara-negara arab di sekitarnya?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk mengakhiri konflik Palestina dan Israel?

Bagaimana cara mengakhiri konflik di Syiria?

Selain Korea Selatan, Singapura, apa ada cerita tentang negara lain yang dahulu miskin kini kaya raya?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa sajakah kepentingan Amerika Serikat pada Perang Dunia II?

Apakah Amerika Serikat akan kembali membom nuklir Jepang bila Jepang tak juga menyerah setelah pemboman Nagasaki?

Seperti apa kebijakan luar negeri Donald Trump terhadap pemerintahan Rodrigo Duterte?

Apa pendapatmu tentang Fidel Castro?

Makanan apakah yang melambangkan Amerika?

Sejauh mana keterlibatan CIA (Central Intelligence Agency) dalam konstelasi politik Indonesia?

Mengapa negara-negara Islam tidak lebih mudah bersatu dibanding negara-negara Barat (Uni Eropa)?

Apakah Anugerah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi masih pantas dipertahankan?

Kenapa Setya Novanto bisa menjadi Ketua DPR kembali?

Apakah Indonesia harus menerima pengungsi dari negara yang sedang berkonflik? Mengapa?

Apa itu "post truth politics"?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?