selasar-loader

Peristiwa dramatis apa yang paling Anda kenang yang mengubah jalannya hidup dan kehidupan Anda?

Last Updated Jan 23, 2017

Setiap orang mengalami masa lalu yang dramatis, biasanya peristiwa menegangkan tetapi bisa juga membahagiakan. Seringkali peristiwa dramatis ini mengubah arah jalan kehidupan yang telah direncanakan sebelumnya.

9 answers

Sort by Date | Votes
Petrus Biantoro
Marketer yg kemudian kesasar jadi Operation Manager, hobby fotografi, travelling

z8FrrAyf9bJpyHqLDhbcW7KXAWUndJ4H.jpg

Entah jawaban ini nyambung sama pertanyaannya ato gak. 

Saya sedikit punya pengalaman yg selalu saya ingat sampai sekarang ini. 

Kurang lebih 16 th lalu,  tepatnya setelah beberapa bulan saya lulus kuliah di salah satu Univ di Jogja.

Habis lulus kuliah tentunya saya lamar sana lamar sini utk cari kerjaan. Saya sih sebenarnya blm puas IPK saya,  walaupun dah di atas 3, tp krn saat itu hampir berbarengan dgn adik saya yg mau lulus SMA shg saya berusaha mempercepat kelulusan saya. 

Singkat cerita saya hunting lowongan pekerjaan, tp setelah beberapa bulan ternyata saya belum mendapatkan kerjaan juga. Mungkin blm rezeki saya. Berusaha dan berdoa saya jalankan dmi mendapatkan kerjaan. Saya pernah berdoa rosario di Gunung Sindoro, ya waktu itu saya begitu niatnya pingin doa di sana, saya ajak temen saya yg kebetulan muslim utk mendaki Sindoro dgn tujuan utama berdoa, bukan utk bersenang senang mendaki gunung seperti kebiasaan mendakibgunung sebelumnya. 

Usaha lamar sana lamar sini dan berdoa blm membuahkan hasil. Masih tetap sabar.

Sampai suatu ketika, di malam hari yg dingin, ditengah malam yg senyap saya terbangun dari tidur, saya cuci muka dan berdoa dan kemudian saya menuju kamar ayah dan ibu saya yg masih terlelap dalam tidurnya. Saya ketok pintu pelan pelan,  dan orang tua saya bangun dan sedikit kaget. Saya langsung bersujud didepan orang tua saya. Saya dengan tulus ikhlas minta maaf atas segala salah dan dosa, tak lupa saya mohon doa restu dari orang tua saya saya dibeeri kelancaran dalam mencari pekerjaan. Saya nangis sesenggukan,  orang tua saya pun tak kuasa menahan tangis juga. Saya menulis ini pun tak terasa ada air mata yg menetes di pipi saya.

Singkat cerita,  bbrp bln kemudian saya dapat kerjaan di jogja utk cari pengalaman bekerja. Setahun berikutnya saya dapat kerjaan di Jkt dengan niat besar saya untuk membiaya kuliah adik saya.

Pengalaman ini sampai saat ini masi saya ingat betul, dan semenjak saya minta maaf sama orang tua saya,  saya berubah, berusaha mengurangi dan menghilangkan kebiasaan yg mungkin bikin orang tua marah atau jengkel.

Saya sangat yakin bahwa doa restu dan maaf dari orang tua saya yang memberi jalan saya untuk mendapatkan pekerjaan yg sangat saya harapkan dan nantikan. 

Semoga sharing saya bermanfaat.

Begitu sharing saya Kang Pepih Nugraha. 

Thx 

Answered Jan 23, 2017
Anonymous

Peristiwa itu adalah ketika jatuh cinta kepada seorang wanita, lalu berusaha pendekatan, pasang kuda-kuda untuk nembak, ditolak, lalu nyoba lagi untuk nembak, ditolak lagi dan hampir berkali-kali. Dan anehnya lagi tidak bisa move on sampai sekarang. Hik hik hik. Masih berharap, barangkali ada lagi moment lain untuk nembak. Itu dulu, dan sampai masih saja keingat. : D

Answered Jan 23, 2017
Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

QOOP_cyAwqLf8nqjreJJKyCjFfZYWM2b.jpg

(Keterangan: Foto bersama staff pengajar Akper Maratha Kupang. Saya berdiri paling kanan)

Semasa SMA (antara 2006-2008), kehidupan saya cukup berantakan. Saya sering berkumpul dengan teman sekolah saat malam hari. Bukan buat belajar bersama atau mengerjakan PR. Kami sering menghabiskan waktu bermain kartu, merokok sambil berguyon, kadang mabuk, dan hal buruk lainnya.

Karena berbagai aktivitas tersebut, kami baru tidur saat dini hari. Sudah tentu esok harinya tidak bisa bangun pagi. Itulah yang membuat kami juga sering bolos sekolah. Saya tinggal di kost sehingga tidak ada orang tua atau keluarga yang mengontrol. Hidup bebas, 'semau gue'.

Tahun 2008, beberapa bulan sebelum ujian nasional SMA (lupa tanggal kejadiaanya) saya mendapat kabar dari Ibu via telepon kalau Ayah sedang dirawat di Puskemas. Kemungkinan akan dirujuk ke rumah sakit, di kota yang sama tempat saya bersekolah.

Saya sekolah di Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai-NTT. Sedangkan orang tua tinggal di kampung yang cukup jauh, yaitu di Lembor-Manggarai Barat, NTT. Butuh waktu kurang lebih 2 jam perjalan kalau menggunakan mobil.

Setelah dipastikan Ayah akan dirujuk di RSUD Ruteng, saya agak kepikiran. Tapi, saya tetap berusaha berpikir positif. "Paling sakit ringan saja. Selama ini Ayah jarang sakit-sakitan kok", saya berpikir seperti itu.

Setelah memastikan Ayah telah di tiba di rumah sakit dan sudah berada di ruang perawatan, barulah saya ke sana. Begitu memasuki ruang rawat, saya dapati Ibu bersama keluarga lain sedang menunggu di sana. Saya melangkah dengan perasaan bersalah dan membatin, "Jangan sampai Ayah sakit lantaran sikap dan perilaku saya selama ini".

Saya melihat Ayah tidur di atas bed pasien dan diselimuti kain tebal. Matanya terkatub dan terlihat jarang bergerak. Kesan awal, Ayah sakit cukup serius. Perasaan saya semakin kalut. Banyak pikiran yang melintas di kepala. Saya semakin gugup.

"Ayo, panggil Ayahmu, Nak" suara Ibu mengagetkan saya.

Saya berusaha sekuat tenaga untuk maju, menyibak sedikit selimut Ayah, lalu menggoyangkan tubuhnya. "Ayah, ayah, ayah....ini saya Saver" saya berusahan membangunkannya.

Saat itu Ayah berusaha membuka mata sebentar sambil bilang, "Nak, sekarang Ayah sudah sakit" kemudian matanya megatub kembali. Ayah kembali bergeming.

Saya pun duduk di samping Ibu. Kami hanya membisu dengan pikiran masing-masing. "Banyak-banyak berdoa, Nak" Ibu hanya berpesan demikian.

Dalam diam, banyak sekali yang saya pikirkan. Beberapa diantaranya yang sangat membekas:

"Mungkinkah Ayah sakit akibat sikap saya ?"

"Mungkinkah Ayah bisa sehat kembali ?"

"Kalau terjadi hal terburuk, siapa yang akan membiayai kehidupan kami selanjutnya ?"

Serta masih banyak pikiran lain yang terus berkecamuk. Saya menyesali diri sendiri. Saya menyesal karena tidak rajin sekolah, sering menipu Ayah dan Ibu, menggunakan uang sekolah untuk beli rokok dan miras. Bagaimana nasib saya jika tidak sekolah dengan baik ?

Selama Ayah di rumah sakit, saya tidak masuk sekolah. Setiap hari tugas saya mengambil makan dari rumah family yang tidak jauh dari rumah sakit. Makanan ini dikhususkan buat yang jaga. Ayah mendapat jatah makan dari rumah sakit. 

Siang hari saya diberi kesempatan untuk tidur sama Ibu. Kalau malam, saya yang harus terjaga. Sebab, kadangkala Ayah menggerakan tangannya secara tiba-tiba. Beberapa kali selang infusnya tercabut. Itulah yang membuat saya harus menggenggam tangannya sepanjang malam.

Satu minggu berlalu, Ayah belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Tubuhnya makin lemah, mungkin akibat jarang bergerak. Informasi sakitnya pun simpang siur. Hanya diketahui mengidap tekanan darah tinggi. Keluhan nyeri di kepala tidak bisa dipastikan karena di rumah sakit daerah belum ada CT Scan. Kalau mau perawatan lanjutan, dokter menyarakan untuk dirujuk ke Bali.

Setelah memikirkan berbagai hal, kami meminta sama dokter agar Ayah dipulangkan saja di rumah. Dokter yang bertanggungjawab pun tidak keberatan. Kami pun pulang ke rumah, tapi bukan kembali di kampung, melainkan di rumah family yang dekat rumah sakit. Kami beranggapan, kalau terjadi apa-apa, kita masih bisa segera mencari pertolongan di rumah sakit.

Selama di rumah, kami berupaya dengan secara cara. Obat dari rumah sakit, ditambah dengan berbagai pengobatan tradisional. Para pendoa dan dukun dari kampung pun turut ambil bagian membantu pengobatan Ayah.

Puji Tuhan, Ayah berangsur-angsur pulih. Saya bertugas memijit kakinya tiap hari, membantunya berjalan dan berjemur di sinar matahari pagi. Saya juga membantunya saat mandi, menyuapi saat makan dan menemaninya sambil bercerita.

"Kamu nanti sekolah jadi mantri (perawat) saja" katanya Ayah saat semakin pulih.

Saya mengangguk saja, tanpa protes. Beliau tertawa, "kamu sudah rawat saya selama ini, pasti cocok jadi mantri', katanya meyakinkan saya.

Semenjak saat itu, saya berjanji dalam hati untuk sekolah dengan baik, rajin dan serius belajar. Saya berupaya memperbaiki diri pelan-pelan. Saya bertekat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Setelah temat SMA, saya kuliah di Kota Kupang, Ibu kota Provinsi NTT. Saya masuk di Akper Maranatha Kupang. Saya menyelesaikan pendidikan D 3 Keperawatan tepat waktu. Selain itu, saya juga berhasil berhenti merokok di tahun pertama kuliah perawat. Minuman berakohol juga dikurangi, hanya saat ada pesta saja.

Tahun 2012 saya diwisuda sebagai ahli madya keperawatan. Saya bersyukur karena menjadi lulusan terbaik saat itu. Atas prestasi tersebut, saya diberi beasiswa oleh Dinas Kesehatan Prov.NTT dan yayasan Maranatha NTT untuk melanjutkan kuliah.

Tahun berikutnya, saya berani mendaftrakan diri di Fakultas Keperawatan Unair Surabaya. Puji Tuhan bisa lolos seleksi dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Bulan Maret 2016 lalu, saya diwisuda lagi sekligus dilantik menjadi seorang Ners (Perawat profesional).

Saat ini saya kembali berkarya di almamater saat kuliah D3 dulu, Akper Maranatha Kupang. Saya dipercayakan sebagai pengajar sementara waktu. Targetnya, tahun 2018 akan melanjutkan pendidikan S2...(more)

Answered Jan 23, 2017

o4RLeQ-GjBfxHZu_Ta6kY904tarqqr9t.jpg

Saya dua bersaudara. Peristiwa Oktober 1991, kecelakaan pesawat Bouraq Airlines rute Sampit-Palangkaraya yang menewaskan kedua orangtua saya. Kala itu, umur saya sekitar 5 tahun dan adik saya sekitar 3 tahun. Naasnya, sampai hari ini dan detik ini, bangkai pesawat beserta awak dan penumpang pesawat belum ditemukan.

Answered Jan 24, 2017
Indria Salim
Ada tawa dan tangis, dan semua nuansa di antaranya. Itulah hidup dan kehidupan.

Kepergiaan ayahanda ketika kami bersaudara masih kecil. Sejak itu kami hidup penuh perjuangan, dan Ibunda yang seorang guru -- berjuang agar kami semua tetap bisa bersekolah.
Pemeliharaan Tuhan Yang Maha Kasih telah membuat kami terus melanjutkan kehidupan. Satu persatu, kami bersaudara berhasil menamatkan pendidikan di bangku universitas, sebagian besar terbantu oleh jalan ajaib yang memungkinkan sebagian dari kami mendapatkan pendidikan berbeasiswa.
Satu hal yang saat itu juga saya pahami, kematian itu keniscayaan. Namun mengandalkan pertolongan Tuhan itu kekuatan. Kami harus tetap mengingat hal itu, dan mudah-mudahan kami bisa belajar selalu bersyukur, rendah hati, dan terus mengandalkan kehidupan ini di tangan Tuhan Yang Maha Besar.

Answered Jan 24, 2017
Boris Toka Pelawi
Penikmat yang bukan pakar

r2CYzbC9moinCUmNRCUJ_PacIasJlWg7.jpg

Sumber gambar:Surya Malang - Tribunnews.com

Idealnya dasar yang menjadi perekat sebuah hubungan (pacaran) adalah cinta. Cinta sendiri bukanlah sebuah benda materil yang dapat dilihat hingga dijamah bentuk rupanya. Cinta adalah perasaan yang hidup yang membuat seseorang tertarik untuk menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenisnya.

Tak berhenti sampai disitu, cinta juga bisa membuat seorang pemuda tampan nan kaya raya bertekuk lutut dihadapan seorang gadis desa agar mau jadi kekasihnya. Cinta dalam konteks serius, yang saya sebut dengan cinta kingkong (karena kalau cinta monyet itu untuk remaja) adalah perasaan seseorang terhadap orang yang ditaksirnya agar mau membuat komitmen bersama dirinya. Contohnya begini; saya naksir dengan Mikha Tambayong, maka saya menyatakan perasaan saya pada Mikha Tambayong," Mau kah kau menjadi pacarku?"

Jika dia mau menerima cinta saya berarti matanya rabun haha. Lalu misalnya dia menerima pernyataan cinta saya, tentu setelah itu yang terjadi adalah sebuah komitmen dimana Mikha dan saya berpacaran, kalau lanjut, berjanji untuk selalu bersama baik suka ataupun duka, saling mengasihi, selalu setia hingga akhirnya pada hari yang ditentukan menetapkan tanggal pernikahan (aminnn hahaha).Tapi pada kenyataanya cinta yang idealnya menjadi dasar sebuah hubungan tidaklah selalu menawarkan sebuah kepastian.

(Bukan cintanya yang salah melainkan mata hati kitalah yang kurang tajam untuk menangkap, untuk memastikan, hingga mengenal secara dalam, apakah perasaan yang tumbuh dalam hati saya ini adalah cinta? nafsu? atau sekedar pelampiasan untuk mengusir sepi saja?)

Kenapa saya berkata demikian?Begini yang namanya sebuah hubungan kalau baru sehari dua hari apalagi masih masa pedekate, pasti perasaan kita masih berbunga-bunga,mesra, lautan diselami jurang dilompati, apapun yang dia mau kita berusaha untuk memenuhi.Di hadapanya kita selalu ingin terlihat berwibawa dan keren, lalu timbul pertanyaan apakah perasaan yang berbunga-bunga itu akan tetap bertahan setelah lama jadian?

Kalau ternyata setelah menjalin kasih dua hari, dua tahun, pernikahan ditahun kedua, punya anak dua, memiliki cucu dua, perasaan cinta itu masih ada berarti cinta model beginilah yang seharusnya menjadi dasar sebuah hubungan, oleh karena itu pembahasan mengenai ini pun selesai (saya tak perlu jabarkan perasaan macam apa itu karena pasti semua sudah pada mengerti, apalagi pembaca Selasar itu pinter-pinter)

Kenapa saya sudahi? ya karena saya belum menikah dan punya pengalaman menjalin kasih sampai pada titik Golden Wedding, wihh boro-boro nembak cewek aja di tolak mulu haha. Namun hal yang ingin saya ceritakan adalah ini;

Saya memiliki kisah asmara yang mungkin bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.Dulu saya pernah berpacaran selama hampir lima tahunan. Mungkin karena sudah lama, perasaan jenuh terhadap kekasih dan  hubungan yang saya jalani saat itu pun muncul.Dengan pacar saya itu, saya lebih sering berantemnya dari pada akurnya, mirip Tom and Jerry lah pokoknya. Sikap saya terhadap pacar saya  juga cuek-cuek bebek, intinya tak lagi sehangat masa-masa awal berpacaran. Bahkan pernah dia curhat kepada saya mengenai perasaanya, apakah saya benar-benar  mencintainya  atau tidak? Entah Kenapa saya ragu-ragu.

Keraguan tersebut membuat saya secara pribadi tak dapat memahami perasaan saya sendiri.Kalau dibilang tak cinta lagi saya belum sanggup untuk memutuskan hubungan, kalau dibilang masih cinta tapi saya tak pernah lagi merasa begitu antusias ketika berhadapan dengan pacar saya itu. Pokoknya saya bingung, kalaupun mau break saya takut pacar saya itu di ambil orang, bahkan saya sempat berpikir kalau saat masih menjalani hubungan dengan dia, ditengah jalan saya bertemu dengan sesosok wanita yang bisa membuat hidup saya kembali berwarna mungkin disitulah saya akan memutuskan pacar saya itu.

Intinya saat itu saya merasa flat, mungkin hampir mati rasa tapi juga disatu sisi masih menyimpan perasaan sayang.Bingungkan? sama saya juga bingung, ya begitulah cinta itu memang rumit!Tapi wajar perasaan sayang itu masih ada walau hanya sedikit, sebab sudah begitu banyak kenangan yang terbangun, sudah banyak kebersamaan yang kami lalui berdua.Namun hubungan tentu tak dapat bertahan hanya dengan cinta yang sedikit.

Tapi tahukah kalian apa yang terjadi?Alih-alih angan-angan saya tercapai, ditengah jalan malah pacar saya itulah yang duluan memutuskan hubungan dengan saya. Lalu ditengah segala kejenuhan ,flat, sering ribut, sering berantem, serta keraguan soal perasaan yang saya miliki terhadap pacar saya itu, apakah  saya  santai-santai saja saat diputuskan olehnya? apakah saya dengan legowo bilang Okeh  fix,  lalu merasa lebih bahagia dengan status single yang  baru saya sandang?Tidak sama sekali.

Saya malah menangis meraung-raung saat diputuskan, bahkan memohon-mohon untuk balikan dan berjanji akan mengubah semua sikap saya asal tidak putus. Berbulan-bulan saya galau dan mengemis agar kami tidak putus.Saya juga tidak terima pacar saya itu tega langsung jalan dengan pria lain. (Sekedar info setelah ditelusuri ternyata pacar saya itu sudah terlebih dulu berselingkuh, hingga akhirnya memilih putus dengan saya.Mungkin dia tak tahan dengan hubungan kami yang sudah tak jelas mau di bawa kemana).Saya secara pribadi tidak mengerti ini kesadaran macam apa.Tapi yang jelas memang benar kalau penyesalan itu datangnya terakhir.Benarlah kata orang bijak, kita menjadi paham betapa berharganya seseorang saat dia telah pergi, kita jadi mengerti apa itu cinta setelah  merasa kehilangan.

Tapi di satu sisi saat saya renungkan saya juga ragu apakah kalau tiba-tiba pacar saya itu mengabulkan permohonan  saya untuk tidak putus, lalu kami balikan maka saya  akan bahagia.Apakah sebenarnya saya  hanya takut kesepian dan kehilangan perhatian?apakah saya benar-benar mencintai pacar saya itu atau cuman nggak terima diputusin?

Itulah salah satu kejadian paling dramatis dalam hidup saya heheehe

Answered Jan 26, 2017
Imansyah Rukka
seorang aktivis petani dan jurnalis

 

Gp9hOHv5BJfjsYECcv0dpndCQqd0sxuS.jpg 

Aktifis Petani Berkisah

Secangkir kopi hangat pagi itu setidaknya memberikan gairah baru untuk memulai aktifitasku sebagai pegiat LSM di Makassar Sulawesi Selatan. Keseruput kopiku perlahan sambil menyimak koran Kompas cetak di rubrik Klasika edisi Makassar. Di rubrik klasika terbaca jelas judulnya “Lahan pertanian produktif itu berubah menjadi padang golf”, yang mana tulisan ini sebelumnya sudah di publikasikan di akun saya media sosial Kompasiana. Jujur, kisah ini saya terjadi di tahun 2012 lalu, ada rasa bangga campur haru membaca koran kompas klasika di pagi itu.

Di salah satu warung kopi andalan tempat kami para aktifis petani center berkumpul saat itu sebut saja warkop 63 yang terletak di bilangan Toddopuli Makassar, terlihat teman-teman sejawat dan pegiat petani berdatangan satu persatu.sebut saja, Iwan (30) salah seorang kerabat aktifis petani asal jeneponto yang baru saja bergabung di lembaga petani center mengaku heran campur senang, tatkala membaca koran Kompas cetak klasika melihat tulisan saya yang termuat di koran nasional itu. Setibanya di warkop, mendorong kursi dan mengucapkan “selamat pak ketua, tulisan ta yang di koran kompas hari ini sudah saya lihat”, ungkap Iwan.

Lain halnya, dengan Fendi (34), Disela-sela seru dan hangantnya perbincangan pagi itu tiba-tiba ia bertanya, Pak Ketua tabe”, ternyata apa yang kita perjuangkan (LSM Petani Center) selama ini dalam meng-advokasi para petani di Desa Pallantikang Kec. Pattalassang, Kab. Gowa itu adalah sebuah perjuangan yang benar-benar nyata untuk membuktikan kepada para petani bahwa kebijakan pembebasan lahan menuai kontroversi. Dengan begitu pemda setempat sempat kebakaran jenggot alias tertekan dengan perjuangan kita saat itu.

“Terimakasih teman-teman sekalian, yang lebih dahsyat lagi, apa yang telah kita perjuangkan selama ini sebelumnya telah diulas panjang lebar di akun saya media sosial Kompasiana,  namun barangkali sesuai dengan kebijakan admin Kompasiana kala itu saya ingat sekali Kang Pepih Nugraha-lah yang membantu itu semua. Ketika ada tulisan dari daerah yang dianggap layak untuk dimuat di Kompas cetak edisi klasika makassar saat itu.

Selang beberapa jam kemudian, masih dalam suasana warung kopi. Tiba-tiba Hp saya berdering. Terlihat dilayar panggilan dari Bapak Lutfi Halide, yang mana beliau adalah kepala dinas Pertanian Prop. Sulsel saat itu. Seperti ini percakapan via telepon ;

“Ass wr wb ndi, apa kareba tu?.

Alhamdulillah Kanda, kabar baik selalu

Lagi dimana ki?

Kebetulan lagi sama teman-teman para aktifis petani center minum kopi, kanda”.

Ohya, bagus sekali tulisan ta yang termuat pagi ini di Koran kompas. Dan juga kebetulan tadi bersama Bapak Gubernur coffee Morning dan bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo langsung bertanya saat itu tentang dinda di Petani Center.

“Ohya kanda, sampaikan salam hormat saya kepada beliau, dan perjuangan saya belum selesai dan masih panjang soal kaum tani di wilayah sulsel yang harus juga saya ulas”, ungkapku.

Bapak Syahrul berpesan kepada Ketua petani center bahwa ketika ada jadwal di undang untuk bertatap muka dan berdiskusi soal persoalan petani di sulawesi selatan.

Hari kian bergulir, tak terasa saya dapat kabar melalui Kadis Pertanian Sulsel. Lutfi Halide. Dalam sms singkatnya berbunyi ; “ass wr wb ndi, di undang untuk bertatap muka dengan Bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo, besok pagi jam 09.00 di ruang pertemuan kantor Gubernur Sulsel, kalau tidak salah seingat saya.

 

 

 aO-fqyuZLDt4jb27OFBqScSHer5tFlak.jpg

Tibalah waktu yang mendebarkan itu, sebuah peristiwa yang belum pernah aku alami sebelumnya yakni bertemu dengan pejabat orang nomor satu di propinsi sulawesi selatan. Sekali lagi ada rasa deg-degan campur was-was namun menggembirakan juga. Ternyata sebuah perjuangan yang dilakukan secara solid dan penuh dengan ketulusan yakni mendampingi dan meng-advokasi petani yang tertindas haka-haknya merupakan sebuah kenyamanan dan kepuasan tersendiri, apalagi dengan tulisan yang kritis sampai membuat penguasa di wilayah ini jadi tersentak”, pikirku seperti itu.

Pagi hari kota Makassar, saat itu terlihat berawan. Tak lama kemudian telepon selluler saya berbunyi. Terbaca panggilan masuk dari Bapak Lutfi Halide. Saat ini posisi sekarang dimana dinda? Tanya nya.

“Sementara kulaju sepeda motorku yang masih berada di Jalan Racing Center, siap kanda, ucapku, sekarang saya sudah di Jalan Racing Center”.

Tibalah saya dihalaman kantor Gubernur Sulsel. Kuparkir sepeda motorku di pelataran parkir yang sudah disediakan. Selang berapa saat, terlihat Fendi teman sesama aktifis sudah lebih dulu tiba di kantor itu. Ia terlihat memegang kamera saku sederhana, mungkin dia siap mengabadikan momen bersejarah itu.

Masuk ke dalam ruangan kantor pejabat kondang di Sulsel itu serasa terasa begitu angker namun bersahabat. Sambil berjalan ke arah pintu masuk dan naik ke lantai dua khusus menuju ke ruangan Gubernur, terlihat beberapa pegawai dan para tamu yang juga antri ingin bertemu Gubernur Sulsel.

Tak lama kemudian, Bapak Kadis Pertanian Sulsel Ir. Lutfi Halide datang mendekat dan menyambutku dengan suasana yang sangat akrab. Saat itu perasaaan yang tadinya cemas salah tingkah seketika berubah menjadi santai. Yang buat saya menjadi terharu ketika pak lutfi mengajak cipika cipiki sebuah tradisi ala para kerabat yang tergolong sudah akrab dan tentunya sebuah penghormatan dan penghargaan bagi saya.

“Bagaimana dinda Imansyah, sudah siap semuanya?, gimana dengan teman-teman ta yang lain berapa orang yang masuk ke dalam untuk bertemu dengan bapak Gubernur?”, tanya Pak Lutfi saat itu.

“Segala sesuatunya sudah siap kanda”, saya hanya berdua, yang satu namanya Fendi dan saya tugaskan untuk memotret semua pertemuan sejarah ini”, jawabku kepada Pak Lutfi.

Masuk ke dalam sebuah ruangan untuk tamu-tamu khusus undangan Bapak Gubernur melewati sebuah protap. Saya dipersilahkan mengisi buku tamu yang sudah disediakan oleh petugas yang ada di pintu masuk ruangan tersebut.

Kemudian masuklah saya bersama Fendi ke dalam ruangan...(more)

Answered Jan 27, 2017

_KTBq92U_8nP2sQ3M2zHmSlfhQZcRsUZ.jpg

Saat saya salah memberikan kepercayaan kepada seseorang, saat saya menunggu seseorang dalam waktu yang lama untuk satu hal yang tidak pasti, membiarkan diri saya dipaksa melakukan hal yang akhirnya hanya merugikan diri saya sendiri. Setelah hadirnya rasa kecewa dan sedih, saat itu juga semuanya terasa berubah. Banyak hal yang sebelumnya tak pernah saya sadari tiba-tiba hadir, menyadarkan saya bahwa hal yang selama ini saya lakukan adalah satu hal yang salah, satu hal yang sia-sia.

Namun, saya berterima kasih karena rasa kecewa dan sedih mendorong saya untuk mengintropeksi diri, untuk belajar dari kesalahan, untuk tidak menyalahkan keadaan, untuk lebih menghargai waktu untuk hal yang berguna, untuk lebih menyayangi diri sendiri dengan mengubah jalan hidup saya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 

Salah satu perubahan dalam hidup saya yang sangat saya syukuri adalah belajar ikhlas, mengikhlaskan sesuatu meskipun itu adalah satu hal yang menyakitkan.

Menurut saya, hal-hal dramatis yang menyedihkan, yang terjadi dalam hidup kita terkadang bisa menjadi guru yang baik, asalkan kita bisa melihatnya dari sisi baik. Bukan untuk dijadikan satu hal yang dibenci sehingga merubah hidup kita menjadi lebih buruk. Pengalaman ada untuk membantu kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 

Answered Mar 7, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

Hasil gambar untuk meremehkan orang lain

Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/ (via SUM)

Ketika saya tidak tahan dengan bully-an yang mengatakan bahwa saya hanya sebagai ibu rumah tangga padahal saya juga seorang sarjana Teknik. Tidak lama setelah itu, saya "bertemu" dengan passion menulis yang datang seperti anugrah sehingga kemudian menjadi titik balik bagi saya. Saya menjadi keranjingan (tergila-gila) menulis. Setelah itu, pelan-pelan penilaian orang terhadap saya berubah. Mereka tidak mengatakan kata "hanya" lagi kepada saya.

 

Akan tetapi, hal ini menyisakan tanya, "Memangnya kenapa kalau seseorang hanya menjadi ibu rumah tangga?" Mengapa penilaian terlalu banyak terfokus pada apa yang kelihatan atau terukur, seperti materi? Padahal sisi lain manusia juga merindukan sesuatu yang bersifat spiritual?

Answered Apr 3, 2017