selasar-loader

Apa saja kesalahan yang sering dilakukan oleh pebisnis pemula?

Last Updated Jan 20, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

wEvirByObRX4KuOANaXa0DzYx30qqbha.jpg

Menjadi businessman tidak perlu pintar, yang penting berani!

Seperti kata Bob Sadino, mulai saja, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. 

Satu sisi, saya mengamini nasihat bijak Alm. Bob Sadino bahwa faktor paling penting dalam menjadi pengusaha adalah keberanian, lalu pertanyaan saya adalah apakah yang akhirnya membedakan seorang Mark Zuckerberg, Sergei Brin, atau Jeff Bezos dengan tukang bubur ayam yang sudah berpuluh tahun masih “istiqomah” dengan gerobak bubur kebanggaannya?

Jika persayaratannya hanya berani, harusnya si tukang bubur memiliki nasib yang tidak jauh berbeda dengan Zuckerberg, Sergei Brin, ataupun Jeff Bezos. Saya yakin berbeda. Yang membedakan mereka adalah skill (hard dan soft skill), network, dan juga perspective yang mereka miliki.

Dari mana datangnya skill, network, dan perspective ketiga orang tersebut? Ya dari sekolah dan jenjang pendidikan yang mereka jalani. 

Meskipun DO, Zuckerberg pernah terdaftar sebagai mahasiswa Harvard. Sergei Brin bertemu Larry Page kemudian menciptakan Google ketika mereka sedang mengambil program Ph.D di Stanford. Almamater Jeff Bezos adalah Princeton. Jadi, tempat kita menempuh jenjang pendidikan jelas penting. 

Bahkan seorang Hugh Hefner, founder Playboy, memiliki kampus yang sama dengan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati dan Prof. Rhenald Kasali di University of Illinois at Urbana Champaign. Wow!

Jadi menurut saya, dalam membangun dan mengembangkan usaha, sekolah itu penting karena dengan bersekolah, kita memiliki tidak hanya ilmu tetapi juga skill, network dan perspective yang baik. Semuanya akan didapatkan di sana. 

Jadi, mengapa ada pengusaha yang sudah bertahun-tahun memiliki performa bisnis yang itu-itu saja? Saya yakin karena si pengusaha stagnan itu tidak bertambah skill-nya (terutama soft skill), tidak berkembang jaringan pertemanannya, memiliki perspektif yang itu-itu saja, dan, satu lagi tambahan dari saya, tidak memiliki kredibilitas (nama baik) seorang pengusaha yang sophisticated

Itu!

Answered Feb 16, 2017
D.s. Ardyanto
A notorius "bakso urat" hunter.

Berdasarkan pengalaman pribadi, ada enam kesalahan pebisnis pemula, yaitu:

  1. Product centricity
  2. Inefisiensi biaya
  3. Service memble
  4. Sami mawon
  5. Tidak ada financial planning
  6. Collection skill lemah
  7. Uang usaha dengan pribadi belum "bercerai"
Yuuuk, mari kita kupas satu per satu.
1sJXko9tcLdG8_cyfrZ2EqHdRDQMRGVU.jpg

1. Product Centricity

Usahanya bukan berorientasi pada solusi bagi konsumennya (customer centricity), tapi lebih kepada keunggulan produk. Paradigma ini sudah mulai ditinggalkan oleh AS di pertengahan tahun 1980-an sejak mulai mengenal brand equity.

2. Inefisiensi Biaya

Chairil Tanjung selalu menekankan pada cost efficiency...cost efficiency...dan cost efficiency

Apakah semua biaya harus diefisiensikan? No! Dengan prinsip Pareto 80%-20%, pangkaslah biaya yang '80%', alias yang paling besar. Apalagi kalau main di komoditas atau di market yang sudah saturated (jenuh) yang berisiko perang harga.

Sekadar share, dulu saya selalu "bakar uang" karena harus membayar biaya sewa toko dan listrik bulanan yang memakai 75% dari postur income statement. Setelah tak ada toko fisik, usaha sayuran organik mulai mencetak laba, yang bisa digunakan untuk capex.

Konsep usaha juga diubah menjadi "pesan, panen, antar", sehingga sudah tidak ada inventori sayuran lagi. Semua by pre-order, lalu dipanen dan diantar ke depan pintu customer kurang dari 24 jam.

3. Service memble

Jika pelayanan buruk, siap-siaplah saya bahwa pelanggan akan lari ke kompetitor. Apalagi, ini adalah zamannya social media sehingga getok tularnya mengerikan banget kalau memble!

4. Sami mawon!

Alias sama saja dengan lainnya. Nggak ada pembeda. Tidak ada yang namanya, entah competitive advantage, value proposition, atau lainnya. Benefit, bukan sekadar advantage.

Ini bisa jadi disebabkan juga karena segmentasi dan targeting pasar kita kurang spesifik dan absurd. Semakin spesifik dan unik, besar peluang entrance barrier semakin tinggi, sehingga kompetitor sulit masuk.

Contohnya, di usaha sayuran organik kami. Segmen dan targetnya hanya ekspatriat Jepang di Indonesia, khususnya ibu-ibu yang tinggal di apartemen di Jakarta Selatan. Mengapa demikian?

Pertama, tidak semua orang bisa bicara Bahasa Jepang fasih. Kedua, orang Jepang tinggal di Jakarta Selatan dan terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu. Selain efisien waktu dan biaya bensin, juga setali tiga uang alias di waktu yang sama dapat melayani beberapa konsumen sekaligus dibandingkan jika tidak terkonsentrasi (opportunity cost). Ketiga, satu orang WN Jepang bisa konsumsi sayuran 250 - 350 gram per hari dibandingkan selainnya sehingga volume belanja per keluarga lebih tinggi. Sayuran masih fresh dipanen kurang dari 24 jam, dapat diantar sampai rumah, dan layanan dalam bahasa Jepanglah jadi entrance barrier kami. Coba kalau segmentasi dan target kami adalah ekspat yang bisa berbahasa Inggris???

4. Tidak ada financial planning

Ada modal, tapi nggak diatur perencanaanya, misal sekian persen untuk marketing, sekian persen untuk investasi, sekian persen untuk SGA expenses, bisa nggak kerasa uangnya menguap.

5. Collection skill lemah

Keren sudah closing. Tapi giliran pembayaran, pembeli sulit ditagih. Nggak hanya satu, tapi hampir semua pembeli. Akhirnya hutang ke supplier numpuk, jatuh tempo semua, sementara nggak ada darah masuk. Cash bleeding terus, lalu bangkrut.

Keahlian ini perlu diasah oleh entrepreneur. Wajib 'ayn hukumnya!

6. Uang usaha dengan pribadi belum "bercerai"

Kegagalan usaha awal sering kali karena tidak pisahkan uang usaha dengan pribadi. Jika perlu uang untuk pribadi, poskan saja sebagai beban gaji sebagai pengurus. Misalnya, dari omset, ambil 10%-20% untuk biaya gaji semua karyawan, termasuk kita. Persentase bergantung pada bidang dan karaketeristik usaha.

Bagaimana uang pribadi dicatat sebagai prive? Baiknya hindari untuk usaha-usaha awal. Apalagi kalau ada investor alias uang modal dari orang lain.

Gambar via media.licdn.com

Answered May 15, 2017

Tidak konsisten, tidak punya target atau long-term goa, produk atau layanan-nya tidak jelas, kurang komunikasi motivasi bersama tim, kurang rasa empati.

Answered Sep 8, 2017