selasar-loader

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Last Updated Nov 10, 2016

57 answers

Sort by Date | Votes
Arief Mizan
Suka politik terutama komunikasi politik

Umumnya, pemilih mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih. Namun, total jumlah suara yang terkumpul secara nasional atau popular votes tidak menentukan presiden terpilih. Belum tentu calon dengan suara terbanyak menjadi pemenang. Pasalnya, pemilih memberikan suaranya dalam electoral college, sehingga presiden terpilih harus memenangi mayoritas suara electoral college ini, atau disebut electoral votes.


Electoral college sama sekali bukan bermakna perguruan tinggi. Bahkan, dia juga bukan institusi, namun sebuah proses. Dalam electoral college, presiden tidak dipilih langsung, namun melalui proses di mana pemilih memberikan suara kepada “elector” dan kemudian elector inilah yang memberikan suara (electoral votes) kepada calon presiden. Proses tidak langsung inilah yang disebut electoral college.

Presiden terpilih adalah yang mendapat suara terbanyak dalam electoral votes, bukan popular votes.

Proses ini merupakan ketentuan konstitusi AS untuk menemukan jalan tengah antara pemilihan langsung dan pemilihan melalui Kongres.

Answered Nov 10, 2016
Zulmi Hendrik
CTO Selasar.com, Docker enthusiasm dan Penikmat Film

Ini disebabkan oleh sistem Electoral College yang merupakan suatu sistem khusus di Amerika.

Answered Nov 15, 2016
Pepih Nugraha
Jurnalis Politik, menulis politik, tapi tidak berpolitik

o-yD71ixOj9kWl-sTS8k0ArKJrSum4JW.jpg

Popular vote berbeda dengan Electoral vote. Meski secara popular vote Hillary Clinton unggul atas Donald Trump dengan selisih suara tipis, namun Hillary kalah dalam electoral vote yang menentukan. Konstitusi AS menyatakan, kemenangan electoral votes adalah penentuan seseorang terpilih sebagai Presiden AS. Kondisi yang hampir sama terjadi saat Al Gore menang secara popular vote (one man one vote), tetapi kalah tipis di electoral vote dari Bush junior.

Namun khusus bagi Pilpres AS kali ini di mana Hillary seharusnya menang secara popular vote, lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Pemilu di AS mulai menghitung ulang perolehan suara tersebut dan Hillary menyatakan persetujuannya. Terpilihnya Trump sempat memunculkan aksi penentangan di berbagai kota dan negara bagian di Amerika Serikat, namun sejauh itu dapat dikendalikan aparat keamanan setempat.

Answered Nov 16, 2016
Andrian Habibi
Advokasi hak sipil dan politik

Hillary_Clinton_official_Secretary_of_St

Karena sistem pemilu di Amerika agak aneh, harusnya belajar ke Indonesia.

Gambar via upload.wikimedia.org

Answered Dec 9, 2016
Heru Prasetyo
Seorang pejalan kaki yang juga suka naik trans Jogja dan becak.

Jawabannya sederhana karena Hillary Clinton kalah dalam Pilpres Amerika Serikat hehehehe :D .

Answered Dec 19, 2016
Habibi Yusuf
PNS di Kementerian Perindustrian

Image result for hillary clinton kalah

Sistem pemilihan presiden AS berbeda dengan negara-negara lain kebanyakan, di mana pemenang ditentukan oleh jumlah electoral votes (suara perwakilan), bukan berdasarkan popular votes (suara pemilih). Sistem ini diatur dalam Konstitusi AS yang telah berlangsung selama ratusan tahun, yang juga dikenal dengan sistem distrik tergantung pada negara bagian yang dimenangkan.

Secara singkat bisa dijelaskan begini. Setelah dilakukan pemungutan suara oleh seluruh rakyat (popular votes), rekap dilakukan per negara bagian (distrik). Setiap negara bagian memiliki jumlah suara perwakilan (electoral votes) tertentu, di mana peraih suara terbanyak (popular votes) di negara bagian ini menjadi pemenang dan berhak mendapatkan semua electoral votes dari negara bagian tersebut. Disebut juga dengan "the winner takes all". Kemudian secara nasional, masing-masing kandidat akan dinilai atas perolehan jumlah electoral votes yang berhasil dimenangkannya. 

Karena penentunya adalah jumlah electoral votes, maka jumlah popular votes hanya relevan untuk diperhitungkan di tingkat negara bagian. Secara nasional, jumlah popular votes hanya untuk rekap saja. Itulah sebabnya, Hillary Clinton yang secara popular votes lebih banyak dari Donald Trump tidak terpilih sebagai Presiden AS karena jumlah electoral votes dari negara-negara bagian yang dimenangkannya masih kalah dibanding Donald Trump.

Ilustrasi via okezone.com

Answered Jan 3, 2017

Karena kalah electoral votes dibanding Donald Trump.

Hasil gambar untuk hillary clinton kalah

Ilustrasi via radarlampung.co.id

Answered Jan 4, 2017
Doddy Salman
Mahasiswa Kajian Budaya

Scara sederhana memang terjawab dari suara (votes).Namun, sesungguhnya tidak seperti itu.voters (pemilih) Amerika diduga kuat sangat sexist, memilih berdasarkan jenis kelamin.sehingga menjadikan pemimpinnya seorang perempuan adalah kemustahilan.persoalan lain adalah pesona Trump yang menurut istilah Douglass Kellner, memanfaatkan apa yg disebut authoritarian populism.Trump, masih menurut Kellner, adalah seorang media spectatator.Apa itu authoritarian populism dan media spectator? nantilah saya jelaskan di tulisan lain.salam

Answered Jan 7, 2017
Trian Lesmana
Books. Editor. Jakarta.

Karena ada kecenderungan rakyat Amerika butuh pemimpin yang tegas--walau memang rasis. Mereka ingin figur baru yang lepas dari bayang-banyang Obama.

Answered Jan 13, 2017
Richa Miskiyya
Penulis, Ibu Rumah Tangga

Karena sistem pemungutan di sana menggunakan electoral vote, dimana tak semua orang memiliki hak suara

Answered Jan 15, 2017
Ricky Jenihansen
Adventurer, Journalist, Student and Researcher

Karena pemilu di AS menggunakan sistem electoral college. Artinya, jumlah suara didasarkan pada wilayah pemilihan, bukan jumlah pemilih.

Answered Jan 16, 2017

Karena di Amerika sistem yang dipakai Electoral Collage dimana  pemenang akan mendapatkan semua jumlah elector di negara bagian tersebut atau disebut the winner takes all.

Answered Jan 20, 2017

Selain faktor electoral collage, Hillary Clinton dianggap kurang berkomunikasi atau berkampanye secara maksimal melalui media sosial. Hillary lebih banyak melakukan kampanye secara konvensional, berbeda dengan Trump yang banyak membuka diri melalui media sosial sehingga lebih mudah menjangkau masyarakat.

Answered Jan 20, 2017
Muhammad Ihsan Harahap
Pernah menjadi Academic Fellow bidang Hak Sipil dan HAM di KSU, Amerika Serikat

BhfUkPM6-nfQpZVYdeXDcs-aZEyHgtXh.jpg

Hillary Clinton tidak terpilih sebagai Presiden AS dikarenakan sistem dalam Pemilihan Presiden AS (Pilpres AS) yang disebut Electoral College. Electoral College (selanjutnya disingkat 'EC') atau nama lengkapnya United States Electoral College bukan sekolah atau kampus sebagaimana namanya, namun ia adalah sekumpulan perwakilan pemilih yang dibagi berdasarkan state alias negara bagian di Amerika Serikat, ditambah dengan sejumlah perwakilan khusus dari ibukota AS, Washington D.C.

Jumlah Anggota EC secara keseluruhannya adalah 538. Ini mengacu dari jumlah anggota Kongres (435) dan Senat (100) ditambah 3 orang perwakilan Washington D.C. Mereka inilah yang secara langsung memilih Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dalam Pilpres AS pada bulan November 2016 lalu.

Jadi memang harus disadari dari awal bahwa sistem Pilpres AS adalah sistem pemilihan tidak langsung. Semua warga negara yang memiliki hak suara akan datang ke TPS (seolah) untuk memilih Capres AS pilihan mereka, namun, vote atau suara mereka digunakan secara langsung untuk memilih anggota EC yang ada di state masing-masing yang nantinya akan mewakili mereka di Pilpres AS yang dipilih oleh EC. Vote atau suara yang didapat dari anggota EC inilah yang disebut sebagai Electoral Votes, sedangkan suara yang diberikan langsung oleh rakyat kepada pasangan Capres-Cawapres pilihan mereka disebut sebagai Popular Votes.

Meskipun Hillary Clinton menang sekitar 2 Juta suara Popular Votes dibandingkan Trump, namun Trump memenangkan Electoral Votes dikarenakan dia dipilih lebih banyak oleh anggota EC dan sudah melebihi batas minimal 270 suara Popular Votes yang dibutuhkan untuk memenangkan Pilpres AS. Semoga jawaban saya membantu!

Answered Jan 26, 2017

Hillary lebih banyak pendukung di daerah padat penduduk contohnya seperti new york, sedangkan trump banyak memenangkan vote di daerah yang penduduknya sedikit dengan selisih yang tidak berbeda jauh, sedangkan untuk daerah yang dimenangkan hillary selisih votenya lebih tinggi. 

Answered Jan 30, 2017
Gregorius Reynaldo
komunikasi itu kewajiban, menulis politik itu panggilan dan passion

xiI4vL7pWVtIcg71oTik8De6C-Uz9mPC.jpg

Saya harus menjawabnya dengan sebuah pengantar yang menegaskan bahwa pemilihan presiden di Amerika Serikat memang menyita perhatian publik, tidak hanya untuk warga Amerika Serikat, tetapi juga untuk masyarakat internasional. Posisi Amerika Serikat dalam percaturan kerja sama internasional, hubungan diplomatik, dan adidaya Amerika Serikat hampir di semua bidang hubungan internasional sudah bisa menjawab mengapa Pilpres Negeri Paman Sam bisa sangat setenar itu.

Kita semua sudah tahu bahwa diluar dugaan, Donald Trump yang banyak dibenci oleh masyarakat Amerika Serikat akhirnya mampu mengalahkan saingannya Hillary Clinton dalam perebutan kursi nomor wahid di Amerika Serikat. Mengapa banyak pengamat dan lembaga survei yang gagal total dalam memprediksi kemenangan Trump?

Mari kita jawab satu per satu. Harus diingat bahwa meski menganut sistem demokrasi, proses politik semacam pemilu di Amerika Serikat tidak sama seperti yang kita kenal di Indonesia. Efek dominonya adalah survei tidak bisa dijadikan acuan utama dan satu-satunya yang dapat dipercaya untuk meramal siapa yang akan terpilih sebagai presiden. Yang kita kenal di Indonesia adalah survei dengan sampel dan obyek penelitian yang langsung kepada mereka yang memilki hak pilih sehingga hasil survei yang disajikan bersifat representatif. Lalu, apa bedanya dengan pemilihan presiden Amerika Serikat?

Di Amerika, kita mengenal sistem electoral college atau United States Electoral College. Sistem pemilihan ini semacam pemilihan yang tidak langsung, bahwa pemilihan untuk menentukan presiden terpilih menjadi hak dan kewajiban anggota parlemen yang dipilih rakyat atau semacam dewan kontituen atau DPR yang kita kenal di Indonesia. Nah, survei yang sering kita dengar sebelum pilpres dan umumnya dimenangkan Hillary Clinton merupakan popular votes, sama seperti pemilu yang kita kenal di Indonesia. Jadi, di situlah letak jawabannya. Hillary yang menang cukup telak dalam popular votes ternyata tidak mampu menggaet suara parlemen dan harus rela kalah dari Trump yang bisa dibilang sebagai mimpi buruk untuk negaranya sendiri.

Answered Feb 27, 2017

LeuYakxGj5yFAGJAYoIBULPIglVHSTdn.jpg

Terlalu banyak warga Amerika yang golput (golongan putih) dan masa bodoh dengan politik. Tapi pada intinya, sih, Tuhan belum mengijinkan.

Answered Mar 18, 2017
Whidayanti Ella
Ella Whidayanti

Karena Hillary Clinton tidak ditakdirkan menjadi seorang presiden yang memimpin rakyat Amerika meskipun ia mendapat popular votes terbanyak, sedangkan lawannya sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang presiden meskipun mendapat votes yang berkebalikan. Hal ini bisa mengajarkan kita bahwa Tuhan bisa mengubah segalanya. Hal yang tidak mungkin akan tetap terjadi jika Tuhan sudah menghendaki.

Answered Aug 8, 2017

Karena terdapat sistem Electoral Votes.

Answered Aug 10, 2017
nawal elwani
Kesmas UIN JKT 2017

Popular votes tidak memengaruhi pemilihan presiden, karena tidak semua yang melakukan votes pada saat itu adalah pendukung Donald Trump, kebanyakan para kritisi politik yang setuju dengan Hillary. 

Answered Aug 11, 2017

Question Overview


and 214 more
232 Followers
5119 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apakah NKRI akan memiliki Kepala Daerah dengan latar belakang pendiri start up?

Apa yang dimaksud dengan Pemilu bersistem distrik?

Mengapa money politics dalam Pemilu sulit diberantas?

Berapa dana yang dibutuhkan untuk bisa terpilih jadi anggota DPR?

Apa yang dibutuhkan agar bisa terpilih menjadi Presiden Indonesia?

Apakah perbedaan pemimpin dengan bos?

Bagaimana rasanya pernah jadi Caleg?

Siapa Ainun Najib, pendiri kawalpemilu.org?

Apakah Anda menyesal memilih Jokowi?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Bagaimana positioning Indonesia di dunia global?

Kapan Perang Dunia III muncul?

Apa yang membuat Israel menang dalam perang melawan gabungan negara-negara Arab?

Mengapa Israel dalam beberapa dekade menjadi maju sekali jauh meninggalkan negara-negara arab di sekitarnya?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk mengakhiri konflik Palestina dan Israel?

Bagaimana cara mengakhiri konflik di Syiria?

Selain Korea Selatan, Singapura, apa ada cerita tentang negara lain yang dahulu miskin kini kaya raya?

Apa sajakah kepentingan Amerika Serikat pada Perang Dunia II?

Apakah Amerika Serikat akan kembali membom nuklir Jepang bila Jepang tak juga menyerah setelah pemboman Nagasaki?

Seperti apa kebijakan luar negeri Donald Trump terhadap pemerintahan Rodrigo Duterte?

Adakah kemungkinan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat memisahkan diri jadi negara berdaulat akibat kemenangan Donald Trump?

Apa pendapatmu tentang Fidel Castro?

Makanan apakah yang melambangkan Amerika?