selasar-loader

Bagaimana cara membeli mobil bekas berkualitas?

Last Updated Jan 20, 2017

My second car

Punya tips terbaik untuk membeli mobil bekas? Share yuk

1 answer

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Membaca informasi terkait otomotif, tidak menyangka bakal punya mobil

YsOSFhKBbvfneajmTM-vqSg5CH2MBk54.jpg

Pengalaman pertama kali saya membeli mobil bekas terjadi pada tahun 1997, tepatnya bulan Agustus, saat saya bersama almarhum Taufik Mihardja, mencari mobil bekas untuk saya. Kalau berhasil, ini pertama kali saya memiliki mobil dengan uang Rp20 juta yang sudah di tangan. "Gue tahu tempatnya dan ada satu yang masih dipajang di show room, gue juga beli mobil seken dari sana," kata Taufik saat saya minta pertimbangannya.

Taufik adalah salah satu mentor saya dalam membuat berita politik. Beberapa bulan sebelumnya saya ditunjuk James Luhulima, editor politik, bergabung di desk politik. Nah, posisi Taufik saat itu wakil editor politik bersama mbak Myrna Ratna. Agak "kurang ajar" juga saya yang pendatang baru meminta bantuan kepada atasan. Tetapi di Kompas guyub, jadi tidak ada kesulitan saya meminta pertimbangan, toh saat di lapangan beberapa kali meliput bersama.

Uang ini saya kumpulkan dari hasil pemberian cek oleh pimpinan Harian Kompas kepada jurnalis yang mereka anggap punya prestasi. Ditambah dengan uang dinas luar negeri dan luar kota, saya memberanikan diri untuk memiliki mobil bekas untuk pertama kalinya! Pilihan jatuh ke sebuah show rom mobil bekas di Jalan Arteri, tidak jauh dari kantor redaksi Kompas.

Jujur, sebelumnya saya sempat mencari-cari mobil bekas di tempat lain, tetapi gagal selain tidak bisa menawar dan mengira-ira, saya takut kena tipu. Sebab, inilah kali pertanya saya bakal punya mobil. Kami berdua mengendarai BMW seri 3 milik Taufik yang katanya dibeli dari show room yang sama. 

Saat itu di dalam show room terpajang mobil Toyota Kijang bekas warna merah hati. Saya langsung tertarik bahkan dari penampilannya. Dalam hati, kalau pulang kampung nanti bersama keluarga, saya tidak usah repot-repot ke terminal Kampung Rambutan naik bus antarkota.

Tentu saja saya melihat body mobil yang lumayan masih terawat. Itu yang terlihat. Lalu langsung membuka mobil, melihat interior mobil yang meski sederhana, cukup bersih dan terawat. Mesin saya kurang tahu. Tetapi ketika kap mesin dibuka dan mesin dinyalakan, mobil langsung hidup dan bagi saya suaranya cukup lembut. Saya langsung jatuh hati tetapi mencoba menahan diri.

Saya bertanya mengenai kelengkapan surat mobil, STNK dan BPKB. Untuk balik nama STNK, pihak penjual yang akan mengurusi. Mobil Kijang itu keluaran tahun 1990, artinya baru berusia tujuh tahun saat saya akan membelinya. Velg sudah racing, kecuali cadangannya. Penjual membuka harga Rp21 juta, saya mencoba menawarnya Rp19 juta. Tetapi deal akhirnya Rp19,5 juta. 

Jadilah hari itu saya "naik kelas" karena sebelumnya, selama lebih dari empat tahun menggunakan sepeda motor dan empat tahun sebelum punya sepeda motor menggunakan bus umum dan mikrolet.

Dua tahun saya pakai, mobil itu saya jual lagi dan saya berburu mobil bekas lainnya, yakni sedan Daihatsu Classy, Mazda Interplay, dan Toyota Starlet 1994. Demikianlah, saya merasakan berburu empat mobil bekas sebelum akhirnya saya mampu membeli mobil baru di tahun 2003 untuk yang pertama kalinya.   

Answered Jan 23, 2017