selasar-loader

Apakah suka dukanya menjadi editor?

Last Updated Jan 19, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Bening Tirta Muhammad
PhD Researcher on New Generation Solar Cell, Proofreader, Blogger.

dK6PWtXneSkKq5WeISQGqgFkX2eAgdJu.png

Sebagai catatan awal, saya adalah editor amatir yang telah dan sedang menggarap buku-buku nonfiksi. 

Sebagai editor, maka dukanya ada pada acknowledgement. Hehe. Biasanya yang tenar itu penulis. Walaupun yang sedikit ataupun banyak berkontribusi pada kelayakbacaan dan keindahan kata pada sebuah buku adalah editor atau kopieditor. Yang kedua terkait kesalahan ketik atau pilihan kata, yang diincar pembaca adalah 'siapa sih editornya?'

Bagaimanapun, yang saya suka dari menjadi editor adalah keleluasaan untuk berpikir kreatif tentang bagaimana menyajikan bacaan yang menarik dari awal (dengan 'lead' yang mengundang) hingga akhir (dengan plot yang menahan pembaca untuk beranjak). Kemudian, menjadi editor juga berarti menjadi orang serba tahu dan pembelajar seumur hidup. Salah satu tugas editor atau kopieditor adalah memastikan kebenaran fakta yang terdapat dalam alur tulisan. Jadi, seorang editor akan terus membaca dan mencari tahu. Ini membuat editor akan selalu muda. Hehe

gambar via wsimg.com

Answered Jul 25, 2017
Agaton Kenshanahan
Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa Unpad

Hasil gambar untuk editor

BAGI saya yang merupakan pemimpin redaksi pers mahasiswa di sebuah universitas negeri, menjadi editor merupakan pekerjaan yang unik. Berbeda dengan editor karya sastra yang berkutat pada bagaimana agar suatu karya menjadi menarik dan cenderung berkutat pada pekerjaan yang membetulkan kesalahan pengetikan, editor dalam jurnalisme memungkinkan kita untuk menjadi gatekeeper yang bisa mengarahkan angle tulisan akan dibawa ke mana. 

Seringkali editor karya sastra harus mengonfirmasi berulang-ulang kepada sang penulis untuk memastikan apa maksudnya tulisan di baris sekian halaman sekian. Dalam proses penyuntingan karya sastra, nampaknya, editor harus 'adu tinju' terlebih dahulu dengan penulis untuk mengubah suatu maksud tulisan. Haram hukumnya mengubah suatu maksud penulisan sesuai dengan tafsiran editor tanpa terlebih dahulu mengomunikasikannya kepada sang penulis.

Berbeda dengan karya sastra, dalam karya jurnalistik editor bisa saja langsung memangkas tanpa perlu ba-bi-bu dengan sang pewarta. Ada kalanya memang, editor yang baik biasanya terlebih dahulu berdiskusi dengan sang pewarta. Menariknya lagi, menjadi editor harus tahu situasi lapangan meskipun ia tidak turut dalam peliputan lapangan. Cek kebenaran (fact check) tetap perlu dilakukan oleh editor apalagi dalam situasi tertentu sang pewarta mencantumkan kutipan atau sumber/narasumber yang meragukan. Editor senior bahkan bisa mengetahui apakah sang pewarta benar-benar turun ke lapangan atau tidak saat meliput. Dalam kasus lainnya editor tersebut bisa mengetahui apakah sang pewarta memang menemui narasumber secara langsung atau tidak.

Bagi seorang editor, tulisan yang sudah terbit dan mendapat komplain atau masih terdapat kesalahan merupakan kegagalan cukup fatal. Namun dari situ, kita dapat banyak belajar. Menjadi editor memungkinkan kita untuk menjadi orang yang lebih teliti dan peka terhadap 'sesuatu yang tidak beres' di kehidupan sehari-hari. Menjadi editor juga memungkinkan kita untuk menjadi pengayom para pewarta yang kita bawahi. Ada kalanya kita harus menjadi pembimbing saat mereka bingung melakukan peliputan. Saya sendiri tidak sungkan bila dalam keadaan tertentu harus menemani sang pewarta turun ke lapangan untuk meliput. Dengan itu saya bisa memberi contoh, memberi pelajaran langsung kepada teman-teman pewarta, dan juga merasakan situasi langsung yang ada di lapangan. Sehingga bilamana ada masalah di lapangan mudah diketahui dan dicarikan solusinya. Hal-hal semacam ini yang saya sukai.

Saya pribadi sebenarnya kurang suka duduk dan membaca sekian ratus kata karya milik orang untuk saya sunting. Bagi saya hal itu adalah pekerjaan menjemukan yang biasa dihadapi orang-orang yang betah duduk di atas kursi. Lagipula setelah tulisan beres, mana ada orang yang melihat nama editornya. Kalau tulisannya bagus pasti penulisnya yang dilihat, tapi bila tulisannya jelek, editornya yang merasa bersalah. 

Di atas semua itu, saya merasa puas bila sudah selesai menyunting tulisan. Saya kemudian mengerti bahwa karya yang baik memang lebih enak dibaca dan lebih layak ditampilkan kepada pembaca bilamana ada sentuhan editor di baliknya karena prinsip adanya editor adalah 'semut di seberang lautan kelihatan, namun gajah di pelupuk mata tidak terlihat'. Artinya mata editor akan lebih tajam karena ia memeriksa karya milik orang lain, sedangkan kesalahan tersebut kadang tidak tampak oleh penulis yang memeriksa tulisannya sendiri.

gambar via twitter.com

Answered Jul 25, 2017
umiyasih .A
HI... I'm from Cirebon. And now, I'm study in UIN Jakarta. Salken PBSI ,,,

Suka,Saat Hasil kerja tim kita memuaskan dan senang saat mengetahui nama kita tertulis di lembaran yang kita buat.

Duka,saat kita menginterupsikan kepada anggota tim kita bahwa Deadline tinggal beberapa hari lagi.

Answered Aug 14, 2017