selasar-loader

Apakah depresiasi nilai tukar selalu memiliki dampak negatif untuk perekonomian?

Last Updated Nov 17, 2016

4 answers

Sort by Date | Votes
Fithra Faisal
Staf Pengajar FEB UI

2017-nilai-tukar-rupiah-diprediksi-akan-

Sumber gambar: https://img.okezone.com//content/2017/01/02/278/1581201/2017-nilai-tukar-rupiah-diprediksi-akan-terdepresiasi-ZW4Lcba1xH.jpg (SUM)

Tidak selalu demikian. Hal ini karena melalui depresiasi, nilai produk ekspor dapat lebih murah di pasar internasional sehingga ekspor pun dapat mengalami peningkatan. Namun, jika komponen penopang industri masih didominasi oleh barang-barang impor (di indonesia, 80 persen impor adalah bahan baku dan barang modal), depresiasi justru akan mengalami dampak buruk.

Answered Nov 22, 2016

Depresiasi nilai tukar tidak selalu berdampak negatif bagi perekonomian.

Answered Jan 13, 2017
Munifan Habibi
Manajemen 2014|Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan|focus, practice,result

Setiap fenomena yang terjadi memiliki dampak baik itu positif maupun negatif.
Depresiasi nilai Rupiah memiliki dampak positif dan negatif.
Dampak positifnya adalah dengan memanfaatkan kegiatan ekspor yang akan mendatangkan banyak devisa bagi Negara kita. Para pelaku usaha dapat menggunakan bahan baku yang dihasilkan sendiri oleh masyarakat lokal sehingga tidak akan mempengaruhi harga produk yang akan dipasarkan, apalagi jika dipasarkan di luar negeri tentunya akan memperoleh banyak keuntungan. Masyarakat Indonesia harus dengan serius menggarap pekerjaannya pada berbagai sektor misalnya  pertanian dan perkebunan, sehingga hasil yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk para pelaku usaha.

Sedangkan dampak negatifnya adalah 

1. Pertumbuhan ekonomi melambat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2015 mengalami perlambatan, dengan tumbuh sebesar 4,6 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2015 sebesar 4,7 persen.

2. Pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat. PHK terjadi pada industri yang selama ini menggantungkan bahan baku dari impor. Buruh yang di PHK terus meningkat jumlahnya, seiring dengan terus melemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

3. Pengangguran meningkat. Jumlah pencari kerja setiap tahun sekitar 2,5 juta orang. Dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi sebelumnya, maka banyak pencari kerja yang masih menganggur, sekarang ditambah lagi dengan buruh yang di PHK.

4. Inflasi bahan pangan meningkat. Meningkatnya inflasi dibidang sembako, sangat terkait erat dengan kebijakan masa lalu yang import minded. Dalam 5 (lima) tahun terakhir, inflasi sembako setiap tahun mencapai 60 persen.

5. Kemiskinan meningkat. Kalau barang-barang terutama sembako meningkat harganya, penghasilan tidak meningkat bahkan tidak mempunyai penghasilan karena di PHK dan menganggur, maka otomatis kemiskinan meningkat.

6. Daya beli menurun. Konsekuensi logis meningkatnya harga-harga barang terutama sembako dan penghasilan tidak meningkat, bahkan penghasilan hilang karena di PHK dan menganggur, maka otomatis daya beli masyarakat menurun.

7.  Kesejahteraan masyarakat menurun. Dampak spiral selanjutntya ialah menururnnya tingkat kesejahteraan masyarakat (kesmas).

8.  Gizi masyarakat menurun. Dampak turunannya dari 7 faktor di atas, maka otomatis gizi masyarakat memburuk. Melalui paket kebijakan ekonomi tahap 1, pemerintah berusaha keras mencegahnya semakin menurunnya gizi masyarakat.

9.  Angka putus sekolah meningkat terutama mereka yang sekolah di swasta dan sedang kuliah di perguruan tinggi.

10. Depresi meningkat, Menurut Kartono (2002) depresi adalah kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman perasaan) yang patologis sifatnya. Biasanya timbul oleh; rasa inferior, sakit hati yang dalam, penyalahan diri sendiri dan trauma psikis. Jika depresi itu psikotis sifatnya, maka ia disebut melankholi.

Answered Dec 2, 2017
Herman Palani
Economics student of UGM | RK 8 Yogyakarta

Jawabannya sangat tergantung, bisa negatif bisa positif. Negatifnya adalah uang kita nilainya lebih rendah terhadap mata uang lain. Alhasil ketika kita membeli barang akan terasa lebih mahal. 

Namun dampak positifnya adalah depresiasi nilai tukar dapat menjadin momentum untuk meningkatkan ekspor dikarenakan barang dalam negeri menjadi lebih murah, dan masyarakat luar negeri dapat membeli lebih 

Answered Dec 2, 2017