selasar-loader

Apakah kunci sukses pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada puncak bonus demografi di Indonesia (2025-2035)?

Last Updated Nov 17, 2016

5 answers

Sort by Date | Votes
Fithra Faisal
Staf Pengajar FEB UI

 

tugas-narto2.jpg

Sumber gambar: https://minarahayu.files.wordpress.com/2013/04/tugas-narto2.jpg (SUM)

 

Indonesia dianugerahi Windows of Opportunity dengan bonus demografi pada tahun 2025--2035. Jika sukses, bonus demografi ini akan menjadi penopang industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi yang merata. Namun, dengan terbatasnya kualitas tenaga kerja Indonesia, bonus tersebut akan berubah menjadi petaka. Mengapa? Karena kualitas yang tidak kompatibel dengan industri hanya akan menciptakan pengangguran dan masalah sosial juga akan menyebar.

Penelitian Prof. Chriss Manning dari ANU mengatakan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia tumbuh relatif konstan tetapi upahnya meningkat secara signifikan. Menurut data BPS, upah TKI dapat naik rata-rata 30 persen setahun. Kondisi ini mengakibatkan biaya produksi secara relatif menjadi lebih mahal sehingga industri pun hengkang. Jadi, kunci dari permasalahan ini adalah dengan upaya peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi lebih baik.

Answered Nov 22, 2016
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

MFXfs1g8gOtog3ISKfNDkFnkmpHSdKAF.jpg

Kualitas Pemimpin! Itu Jawabannya!

Indonesia dalam publikasi McKinsey Global Institute yang berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s Potential pada terbit pada bulan September tahun 2012, menyebutkan bahwa saat ini Indonesia merupakan negara yang masuk ke dalam 16 besar kekuatan ekonomi dunia yang memiliki 45 juta orang yang masuk ke dalam kategori kelas konsumen di mana 53% populasi masyarakat perkotaan berkontribusi terhadap 74% GDP yang ada. Tidak lupa, sebanyak 55 juta masyarakat masuk dalam kategori kelas pekerja dan memiliki 0.5 trilyun US dollar potensi pasar pada industri consumer services, pertanian, perikanan, sumber daya (alam) dan juga pendidikan.

Dengan beberapa asumsi, bukan tidak mungkin negara kepulauan ini akan terus tumbuh hingga berpeluang masuk dalam 7 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia di tahun 2030. Selain itu, jika “ramalan" ini terwujud, Indonesia pada tahun 2030 juga akan memiliki 135 juta (dari 45 juta) orang yang masuk ke dalam kategori kelas konsumen, 113 juta (dari  55 juta) masyarakat masuk dalam kategori kelas pekerja dan 1.8 trilyun (dari 0.5 trilyun) US dollar potensi pasar pada industri yang sama di mana saya sudah sebutkan di paragraf sebelumnya.

Tentu capaian yang diramalkan oleh perusahan konsultan global ini berdasarkan beberapa asumsi yang harus dipenuhi. Asumsi pertumbuhan baik, asumsi kualitas SDM yang mumpuni dan dapat memenuhi kebutuhan industri, serta beberapa asumsi lain yang harus dimiliki oleh Indonesia sebagai prasyarat terwujudnya kondisi ekonomi di tahun 2030 seperti yang diramalkan.

Melihat perkembangan yang ada, antara hari ini menuju tahun 2030, ternyata banyak hal yang harus dibenahi di sana-sini. Berdasarkan laporan yang sama, setidaknya terdapat 3 permasalahan yang akan jadi tantangan bagi Indonesia ke depan untuk segera ditanggulangi untuk mencapai visi ekonomi tersebut. Ketiga tantangan tersebut meliputi, 1) pertumbuhan ekonomi, 2) kesenjangan ekonomi antar daerah, dan 3) hambatan infrastruktur dan sumber daya.

Ketika tiga persoalan ini dapat diatasi, tentunya tanpa adanya gejolak politik yang dapat membuat hilangnya kepercayaan pasar, Indonesia 2030 yang dicitakan tidak mustahil akan dapat terwujud dengan gemilang.

Untuk itu, dalam hal mencapai ketiga hal di atas, diperlukan sosok pemimpin yang berorientasi kepada produktivitas dan mampu mewujudkannya. Dalam proses mencapai hal tersebut, dibutuhkan kemampuan khusus dan kiat unik untuk mengelola sistem kerja dan perusahaan serta “membangun” kualitas SDM dan institusi yang berada di bawah kendali tanggung jawabnya.

Harvard Business Review telah merilis sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sunny Giles, PhD, seorang certified executive coach di Amerika Serikat, atas 195 pemimpin dari 35 negara yang beraktivitas lebih dari 30 perusahaan global dari seluruh dunia. Penelitian ini secara sederhana berusaha menjabarkan 15 kompetensi/skill yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin global dalam menjalankan sebuah organisasi bisnis secara efektif.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ke 15 kompetensi tersebut diklasifikasikan kedalam 5 grup besar kompetensi yang harus dimiliki oleh para pemimpin dalam  lingkungan global saat ini. Kelima kompetensi tersebut meliputi Harvard Business Review (lihat di sini).

Beberapa poin penting yang dapat ditarik dari makalah tersebut adalah.

A. Demonstrate strong ethics and Provides a sense of safety

Poin ini terdiri atas kombinasi dua kualifikasi yang memiliki nilai paling tinggi dalam penelitian tersebut yakni “high ethical and moral standard" (67%) dan “communicating clear expectation” (56%). Kedua kualifikasi ini pada dasarnya akan membentuk sebuah kondisi lingkungan kerja yang “aman/nyaman” dan dapat dipercaya.

Seorang pemimpin perusahaan dengan standar etik yang baik akan menciptakan juga budaya kerja yang adil dan hal tersebut akan meningkatkan probabilitas si pemimpin dan yang dipimpin untuk menghormati dan menaati aturan main yang ada dalam perusahaan.

Sama pentingnya dengan menerapkan standar etik yang baik, seorang pemimpin yang mampu mengkomunikasikan ekspektasi/harapannya kepada bawahannya (yang dipimpin) akan menghindari penilaian sepihak atas kinerja yang dilakukan para bawahan dan membuat pemimpin dan yang dipimpin berada dalam frekuensi target kerja yang sama.

B. Empowers others to self-organize

Dalam poin ini, kualifikasi pemimpin yang dibutuhkan adalah “provides goals and objectives with loose guidelines/direction” (59%) menjadi kompetensi nomor dua yang harus dimiliki oleh pemimpin berkelas dunia. Pemimpin dalam poin ini diharapkan mampu untuk memberikan arahan yang jelas atas otonomi dalam cara dan waktu kerja yang dilakukan oleh para bawahannya. 

Meski memiliki jabatan dan posisi yang tinggi dalam perusahaan, para pemimpin tetaplah manusia bisa yang memiliki keterbatasan. Dalam melakukan pekerjaannya, para pemimpin tetap harus dibantu oleh para bawahannya. Untuk itulah menjadi penting untuk mendistribusikan wewenang seluruh wilayah organisasi secara proporsional dan mempercayakan pengambilan keputusan (atau untuk melakukan sesuatu hal) kepada unit/personel yang memiliki yang paling “dekat” dengan kegiatan yang akan dilakukannya tersebut.

Dengan kata lain, diskresi/kewenangan untuk mengambil keputusan menjadi lebih tepat apabila diserahkan kepada pihak yang memiliki informasi yang banyak/cukup/proper dibandingkan dengan yang tidak memilikinya, meski orang/unit tersebut bukanlah pemimpin tertinggi dalam organisasi/perusahaan.

C. Fosters a sense of connection and belonging

Pemimpin yang mampu untuk “communicate often and openly” (42%) dan mampu untuk “create a feeling of succeeding and failing together as a pack” (38%) adalah kualifikasi berikutnya yang diperlukan oleh seorang pemimpin berkelas dunia.

Tidak dapat dimungkiri, kita manusia, adalah makhluk sosial. Makhluk ciptaan Tuhan yang membutuhkan rasa keterikatan dan rasa saling memiliki. Penelitian yang sudah...(more)

Answered Dec 13, 2016
Habibi Yusuf
Pernah belajar ekoonomi

esy-1jYV1XoOWTAB30MiVj3TbYS4iLEH.jpg

Kunci suksesnya ada dua, yaitu:

  1. kualitas pendidikan dan keterampilan angkatan kerja, serta
  2. kebijakan yang mendorong produktivitas nasional.

Dengan adanya bonus demografi, jumlah penduduk usia kerja (angkatan kerja) sangat besar. Tentu saja, logika umumnya adalah apabila semua angkatan kerja bisa bekerja dengan memaksimalkan semua potensinya, maka akan tercipta produktivitas secara nasional. Apabila dilakukan secara merata di semua wilayah, pemerataan pembangunan akan menjadi lebih baik. Ketimpangan yang terjadi antarwilayah juga bisa dikurangi karena di daerah-daerah pelosok pun banyak tercipta aktivitas ekonomi yang produktif, tidak hanya bergantung di kota besar atau daerah-daerah tertentu saja.

Hal ini jelas sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan keterampilannya. Pendidikan berkorelasi dengan kemampuan berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, melahirkan inovasi, dan berbagai aktivitas olah pikir lainnya. Sementara itu, keterampilan berkaitan dengan kemampuan teknis yang dimiliki untuk mengerjakan berbagai pekerjaan dan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Yang diharapkan di sini adalah kualitasnya, yaitu bagaimana pendidikan dan keterampilan yang dimiliki bisa menghasilkan kegiatan yang produktif dan berdampak positif. Menghasilkan uang dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

Namun sebaliknya, jika pendidikan dan keterampilan para angkatan kerjanya tidak berkualitas, angkatan kerja hanya akan menjadi beban negara karena selain kurang menghasilkan justru akan menimbulkan banyak masalah. Pengangguran, misalnya, lebih besar kemungkinannya untuk melahirkan masalah-masalah lain seperti kriminalitas.

Di samping kualitas pendidikan dan keterampilan para angkatan kerja yang baik, produktivitas juga akan tercapai dengan adanya kebijakan pemerintah yang mendukung. Misalnya, banyak orang ingin mendirikan usaha. Akan sangat terbantu jika ada kemudahan dalam mendapatkan akses pembiayaan, mendapatkan insentif berupa keringanan pajak, dan lain-lain. 

Kebijakan ini juga terkait dengan penyediaan infrastruktur ekonomi seperti jalan raya, pelabuhan, energi, listrik, dan lain-lain. Jika bisa dipenuhi secara merata di seluruh wilayah Indonesia, hal ini akan semakin mempermudah terjadinya pemerataan pertumbuhan ekonomi. Besarnya angkatan kerja ini juga bisa terfasilitasi untuk memajukan ekonomi di wilayahnya masing-masing tanpa harus terkonsentrasi di kota-kota besar atau daerah tertentu yang hanya akan memajukan daerah yang dituju.

Ilustrasi via hello-pet.com

Answered Jan 4, 2017
M. Iqbal Harefa
Rumah Kepemimpinan Regional Medan

Kunci sukses pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada puncak bonus demografi di Indonesia terletak pada pemuda yang mampu memanfaatkan produktivitas, bukan hanya sekedar produktif umur tapi juga secara kegiatan. Selain itu, kuncinya adalah kemampuan menjadikan era ini sebagai peluang untuk meningkatkan ekonomi di Indonesia sebagi ekonomi menengah ke atas.

#rumahkepemimpinan#rkmedan
 

Answered Nov 4, 2017
Anonymous

Kunci utamanya adalah belajar ilmu sebanyak-banyaknya. Karena masa muda adalah hal yang paling kita mudah jangkau dan sentuh. Tapi tetap saja semua bergantung kepada individu masing-msaing Indonesia, akan kah meniat atau tidak?

Answered Mar 3, 2018