selasar-loader

Mana yang lebih bagus; film yang berdasarkan kisah nyata atau yang 100% fiksi?

Last Updated Nov 17, 2016

17 answers

Sort by Date | Votes
Ahmad Fikri Arief Rasyid
Mahasiswa Fakultas Hukum UGM | Bukan Peserta Rumah Kepemimpinan

Hasil gambar untuk fiksi atau fakta

Tergantung tim produksi dan pemerannya. Film dengan naskah epik pun bakal flop jika tim produksi dan para pemerannya tidak berkualitas. Contoh sederhana adalah film Eragon (2006), diangkat dari novel best seller tapi filmnya hancur total.

Film based-on-true-story genre Biography juga banyak yang fail di pasaran karena tim produksinya dan pemerannya masih belum memiliki nama di kancah perfilman dunia. Tapi saya pribadi lebih memilih film 100% fiksi, khususnya genre Fantasy & Sci-Fi.

Gambar via citrasatelit.files.wordpress.com

Answered Dec 8, 2016
Hana Fitriani
Penikmat film dan suka mengkritiknya

Hasil gambar untuk film based on true story

Secara pribadi, saya lebih menyukai film based on true story, karena saya bisa sekaligus belajar sejarah. Selain itu, plot cerita yang berdasarkan kisah nyata seringkali memiliki bagian klimaks yang lebih menarik dan tidak berlebihan.

Gambar via 1.bp.blogspot.com

Answered Dec 13, 2016
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

mF1puwfsIk4LPgeM3AEzg5ZjO8FYHz_T.jpg

Tak ada jaminan bila hanya memperhatikan kebenaran cerita dari sebuah film. Mengapa demikian?

Seringkali, sebuah film fiksi sekalipun mengambil inspirasi dari dunia nyata. Di sisi lain, film yang disebut berdasarkan kisah nyata pun seringkali diberi bumbu fiksi agar menjadi lebih komersil.

 

sumber gambar: ucla.edu

Answered Dec 15, 2016
Fajar Martha
Penulis/penyunting di narazine.co. Meminati kajian kelas dan replikasi sosial

PPHYHPF-sHI4ZNEfOD_QciQuxaAwZrqb.jpg

Film yang berdasarkan kisah nyata pun, tidak seratus persen akurat dengan fakta sejarah atau kejadian yang dijadikan inspirasi. Lihat contoh bagaimana Hanung Bramantyo "memerkosa" figur Habibie sehingga terkesan mantan presiden kita itu banyak disibukkan perkara cinta. Atau bagaimana dalam film "Soekarno", sosok bung besar seolah mudah takluk di hadapan wanita (ingat adegan dia memohon pada Inggit Ganarsih yang diperankan Maudy Koesnaedi)? 

Bahkan, dalam film dokumenter sekalipun, kita mesti meragukan keakuratan sineas dalam memotret objek. Apakah ada muatan politis? Kepentingan apa yang hendak dimainkan sang sineas?

Jadi, jawabannya adalah tergantung bagaimana sang filmmaker mengeksekusi karya-karyanya.

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jan 6, 2017
Ghani Prasetya
Penikmat Udara Malam

9t6XErE6S0PmJ77UI-E3cb1z-kOio0QH.jpg

Menurut saya film yang bagus tidak bisa didasarkan pada karya fiksi atau based on true story, karena lebih ke urusan selera masing-masing. Sementara film bagus sangat dipengaruhi oleh skrip, director, kru, dan tentu saja akan lebih baik lagi jika budget-nya pun mendukung.

gambar via kompasiana.com

Answered Jan 8, 2017
Luthfia Rizki
Beauty Enthusiast

Keduanya sama-sama bagus, tergantung pengeksekusiannya. Terkadang film yg based on true story, jika eksekusinya tidak bagus, pesan yang disampaikan tidak akan "mengena" seperti yang seharusnya. Apalagi film yang diangkat dari novel. Entah itu true story atau fiksi, jika eksekusinya tidak bagus, penonton akan banyak kecewa.

Answered Jan 9, 2017

Tergantung persepsi masing-masing penonton apa yang disebut "bagus" itu. Kalau bagi saya, film yang bagus punya kualitas skrip yang mumpuni, eksekusi penyutradraan yang tepat, sinematografi yang sesuai mood/atmosphere filmnya, pemain yang bisa menjiwai karakternya, editing yang mumpuni serta soundtrack yang bersesuaian dengan scene cerita. Kisah nyata atau fiksi, atau bahkan nyata yang difiksikan sekaligus, bukan masalah.

Answered Jan 13, 2017
Dedy Syahril
Age is just a number

Answered Jan 20, 2017
Aryono (Ryo) Kusumo
Film itu 1/4 hiburan, 1/4 khayalan, 1/2 nya itu keduanya

De7GZ9R53ss3ULDJSCbrecWcW1ijUI-9.jpg

via deepwaterhorizon.movie

Saya sendiri lebih suka yang berdasarkan kisah nyata, karena secara tidak langsung kita sedang belajar sejarah. Menelusuri sejarah itu mengasyikkan, apalagi jika dituangkan dalam film. Seperti kisah-kisah nyata Perang Dunia II, deepwater horizon, atau kisah nyata lainnya. Filmnya biasanya lebih real dan di akhir membuat "...ooh ini toh orang-orangnya." Seru!

Answered Feb 19, 2017
Achmad Humaidy
Freelance Writer; Membaca, Menulis, dan Menjelajah Dunia Maya; My IG:@me_eksis

zpRbBcFb6jhWV_hdyXQsNj-GoHWcbL2b.jpeg 

Secara personal, saya lebih suka film yang berdasarkan kisah nyata (based on true story). Film ini biasanya memiliki kisah-kisah yang menginspirasi. Saya bisa belajar dari cerita-cerita mereka yang nyata, meskipun ada beberapa tambahan unsur visual untuk kebutuhan sinematografi yang biasanya ditempelkan.

Pada intinya, menurut saya, film bisa memiliki waktu dan ruang sendiri. Waktu bisa dipercepat atau diperlambat atau dibiarkan berhenti selama diinginkan. Film bisa diceritakan seperti terjadi saat sekarang, tetapi bisa juga dilempar ke masa lalu atau melesat ke masa yang akan datang. Demikian juga soal ruang. Ruang bisa dipersempit atau dikembangkan. Bisa dibuat dengan perspektif yang sesungguhnya, bisa dengan perspektif palsu. Ini semua dibuat untuk membantu penonton memahami cerita dalam film.

Answered Feb 27, 2017

Hasil gambar untuk film

Sumber gambar via http://riff.is/wp-content/ (SUM)

Jika disuruh memilih antara film berdasarkan kisah nyata atau fiksi, jawaban saya adalah tergantung, tergantung bagaimana film-film itu disajikan. Saya memiliki hobi menonton, khususnya menonton film atau drama, lebih khusus lagi adalah drama Korea. Selama saya menonton drama-drama Korea, saya memiliki perbedaan yang menyolok dengan film atau sinetron Indonesia. 

Perbedaan yang menyolok itu membuat saya lebih tertarik untuk menonton drama Korea daripada sinetron atau film dari Indonesia. Ketika saya ingin menonton film Indonesia, saya merasa kesusahan mencari film yang kira-kira dapat menarik perhatian saya untuk menonton film tersebut karena di dalam mindset saya, saya berpikir bahwa film-film Indonesia jarang yang memiliki cerita dan penyajian yang "apik" sehingga dapat menarik orang untuk menontonnya.

Film fiksi maupun film nonfiksi, bagi saya tidak masalah, selama penyajian dan cerita yang diangkat dikemas dengan menarik. Saya adalah tipe penonton yang menyukai film yang memiliki cerita yang humoris. Selain itu, saya juga menyukai film yang berisi cerita misteri dan roman.  Film yang menurut saya baik adalah film yang alur ceritanya jelas, yang secara garis besar terdiri dari awalan, klimaks, dan penyelesaian. 

Saya tidak suka menonton film yang alur ceritanya "bertele-tele" karena bukannya membuat saya penasaran untuk menonton tetapi malah membuat saya malas untuk menonton film tersebut. Film yang menurut saya bagus adalah film yang dapat membuat saya ingin menonton bagian per bagian, tanpa terlewati. Film yang menurut saya bagus adalah film yang dapat membuat saya penasaran dan tidak sabar untuk menonton setiap jalan ceritanya, dari awal hingga akhir.

Answered Apr 10, 2017
El Hakim Law
Sufi - Suka Film

UpLi0qHtMvjUdYm_JVI370AUOT7YU4tz.jpg

IMO, kisah nyata bagus untuk memberikan semangat dan nilai pada penonton. Adapun fiksi bisa memberikan perspektif liar dan kreatif tidak hanya dalam menanamkan nilai namun juga menggambarkan bagaimana dunia manusia bekerja.

 

sumber gambar : blogspot.com

Answered Apr 23, 2017

ZsN3QV7XURSWaHOu-NP2_g5WtvdvaoQn.jpg

Fiksi

Masalah dalam film yang “katanya” diangkat berdasarkan kisah nyata cukup mudah ditebak, akurasi fakta sejarah. Seberapa mendekatikah cerita dalam film dengan kisah yang sebenarnya. Meski diberi embel-embel “diangkat dari kisah nyata” film jenis ini seringkali tidak mempedulikan seberapa tepat penggambaran para tokoh maupun jalan ceritanya. Penulis naskah atau sutradara bebas mengarang adegan-adegan tambahan demi mencapai cerita yang lebih dramatis atau untuk memberi nilai artistik lebih. Maka tidak jarang tokoh utama yang diangkat ceritanya menyangkal adegan-adegan dalam film tentang mereka sendiri. 


Mungkin ada yang masih ingat kejadian runtuhnya tambang bawah tanah di Chile beberapa tahun lalu yang kisahnya diangkat dalam film The 33? Setelah berminggu-minggu mengalami penderitaan  akhirnya mereka dapat diselamatkan lalu film berakhir, end credit, semua orang tersenyum bahkan menangis terharu. Tapi kehidupan nyata tidak berhenti ketika film berakhir. Para survivor ini mengalami depresi berat akibat popularitas yang mereka dapatkan. Mereka ini sebelumnya bukan siapa-siapa, hanya pekerja tambang biasa, lalu dalam sekejap statusnya terangkat menjadi semacam pahlawan nasional yang namanya dielu-elukan. Saya sendiri bukan psikolog tapi saya tahu pasti ada tekanan psikologis untuk hal-hal semacam itu.


Saya juga paham film yang diangkat dari kisah nyata tidaklah sama dengan film dokumenter sehingga akurasi fakta sejarah bukanlah hal yang paling dituntut oleh audiens. Namun buat apa memberi embel-embel diangkat dari kisah nyata jika ternyata ceritanya hanya imajinasi penulis naskah. Sejauh yang saya pahami, adegan-adegan dalam film The Revenant yang mengantarkan Di Caprio memenangi Oscar tidak lebih akurat daripada pendaratan Buzz Aldrin di bulan dan menemukan onggokan robot dalam film Transformers. Mungkin di masa depan kita perlu memberi batas minimal sebuah film yang boleh diberi status “diangkat dari kisah nyata” setidaknya harus memiliki tingkat kemiripan sebesar 80% dengan kejadian nyata. No, that’s ridiculously stupid.


Film yang baik tentu juga memerlukan tokoh antagonis yang sama ikoniknya dengan tokoh utama. Lalu, bagaimana jika dalam kehidupan nyata ternyata tidak ada tokoh antagonis yang mampu memaksa kita menyatakan keberpihakan kepada tokoh utama? Mudah saja, korbankah tokoh nyata yang sebenarnya baik untuk menjadi karakter antagonis. Hal ini terjadi di film Moneyball yang dibintangi Brad Pitt dan Philip Seymour Hoffman. Film ini menceritakan bagaimana Billy Beane (Pitt) merevolusi sistem perekrutan pemain baseball di Amerika. Art Howe (Hoffman) yang dalam kehidupan nyata sebetulnya memiliki hubungan profesional cukup baik dengan Billy Beane digambarkan dengan sangat buruk. Ia digambarkan sangat membenci Billy dan selalu ingin menjatuhkan rencana Billy. Dengan demikian film ini tidak hanya jauh dari kejadian sebenarnya, juga merusak reputasi seseorang.


Belum lagi dalam film jenis ini seringkali kita hanya melihat satu sudut pandang, yakni sudut pandang tokoh utama atau sudut pandang negara yang memproduksi film tersebut. Kita tahu kehidupan nyata tidaklah seperti itu. There are always two sides to every story. Dalam setiap kisah heroik prajurit Amerika di medan perang seperti di film Black Hawk Down selalu ada ibu dan bayi lokal yang tewas berserakan terkena peluru nyasar. Maka kalau hanya ingin menonton propaganda mungkin lebih baik saya mencari film-film di bawah arahan Goebbels atau Orde Baru.

 

Sumber gambar: pesantrenmedia.com

Answered Apr 23, 2017

Film yang berdasarkan kisah nyata.

Answered Aug 10, 2017
Amiroh Yasir
Fakultas Ekonomi dan Bisnis| PSY'17 |Mahasiswa Biasa #OrdinaryPeople

Hmm bisa film "based on true story" atau film fiksi tergantung dari hasil para kreator filmnya.

Answered Aug 19, 2017

film yang berdasarkan kisah nyata, karena bisa mengetahui sejarah kejadian tersebut

Answered Aug 20, 2017

100% fiksi

Answered Aug 20, 2017