selasar-loader

Siapa Ridhwan "Amang" Siregar, Fotografer?

Last Updated Jan 9, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Dadi Krismatono
Mantan pemimpin redaksi Bloomberg Businessweek Indonesia.

Saya kenal Ridhwan pada 2010. Dia nekat, berani, walau sering "garuk-garuk kepala" kebingungan setelah semua aksi nekatnya. Tahun itu dia langsung lompat, meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional untuk menjadi fotografer. Padahal, waktu itu, skill fotografinya biasa-biasa saja. Artinya, kalau kliennya kurang happy, bisa-bisa dia ditendang kapan saja. Tapi ternyata itulah Ridhwan: petaruh dan petarung. 

Kegigihannya belajar fotografi di New York sambil menemani istrinya sekolah pascasarjana, dengan uang yang pas-pasan, adalah kisah lain Ridhwan sebagai petarung. Sampai-sampai Ridhwan dan Olga, istrinya, mengatur untuk ketemuan di stasiun subway untuk "serah-terima" anak mereka, Messi, untuk menghemat supaya tidak dua kali keluar ongkos. 

Jika sekarang Ridhwan bisa punya "bold statement" lewat keahliannya di bidang fotografi--yang tentunya sudah meningkat berkali lipat dari waktu saya pertama bertemu--itu adalah buah dari proses dan pengendapan atas apa yang ia lihat dan catat, baik melalui mata kepala, mata hati, maupun mata lensanya. 

Answered Jan 9, 2017
Tyasti Aryandini
Pendidik AUD. Juara III Guru TK Berprestasi Tangsel 2016. Mahasiswi FIP UMJ

Biar Nakal, Tapi Pintar

 

 

Ridhwan Ermalamora Siregar, sebagai sekretaris kelas yang membantu guru menuliskan nama siswa di buku absen aku hafal namanya. Selain satu kelas di kelas VI A SD Islamic Village Karawaci Tangerang (1995-1996) -konon kelas VI A terkenal di sekolah karena di kelas itu para siswa nya adalah siswa pilihan, peraih peringkat 1-3 dari  kelas V pada tahun ajaran sebelumnya, kami juga teman satu jemputan, pengemudinya bernama Bang Mimin, mobil VW Combi berwarna biru metalik. Iwan, begitu nama bekennya, punya hobby iseng, ia senang mengganggu kami yang mau masuk mobil jemputan, dengan sengaja ia akan menghalangi jalan kami dengan kursi kayu mini, membuka tutup pintu geser atau menempelkan permen karet di bangku tempat kami duduk, kami kesal dengan ulahnya, dan setiap kami bilang “ehh kamu nakal banget sih” dengan cepat ia menjawab “ gak papa he…kata bokap gue, biar nakal tapi pintar”…nakal tapi pintar, bisa aja dia…nakal ya nakal…mana mungkin pintar pikir kami saat itu.   

Tapi, Iwan memang pintar, Iwan dapat dengan cepat menjawab pertanyaan dari Ibu Guru Rosida, wali kelas VI A sebelum kami boleh pulang sekolah, siapa yang dengan cepat mengangkat tangan dan menjawab dengan tepat, ia boleh pulang duluan, sebenarnya semua jawaban pertanyaan itu ada di RPUL, buku sakti para siswa berbakti. Namun, tidak semua siswa rajin membaca buku RPUL, anak dengan wawasan pengetahuan yang luas lah yang bisa menjawab  pertanyaan bu guru, Iwan dapat menjawab nama berbagai ibukota di dunia dan juga nama penemu mesin uap atau penemu pesawat terbang. Aku merasa sudah cepat mengangkat tangan, tapi Iwan jauh lebih cepat.

Waktu itu ada acara Cerdas Cermat di Stasiun TVRI, acara TV yang ditunggu-tunggu khususnya oleh para pelajar SD yang rajin mengerjakan PR, peserta nya dari seluruh Indonesia. Sekolah kami menerima undangan dan mengadakan audisi, setiap 3 siswa dijadikan satu grup,  aku dan Iwan ikut audisi tersebut bersama teman kami yang lainnya, Iwan lolos audisi karena dapat menjawab banyak pertanyaan, berangkatlah kami bersama perwakilan guru ke Stasiun TVRI Senayan, syuting acara Cerdas Cermat, Iwan jadi peserta cerdas cermat bersama 2 teman lainnya, aku dan teman-teman yang tidak lolos audisi jadi tim hore di bangku penonton, sekolah kami jadi juara 2 untuk tingkat Jabodetabek saat itu.

 

3X2cKhwJS7iCt0pBV_EpcVHsdZA6pJxd.jpg

Iwan tidak hanya pintar, waktu SD saja dia sudah punya pekerjaan, pekerjaannya keren, muncul di layar kaca setiap hari minggu sore di SCTV, Iwan reporter Krucil, singkatan dari Kru Cilik ia mewawancarai artis cilik idola saat itu, membuat reportase menarik dari aneka tempat wisata, sungguh pekerjaan yang membuat kami semua teman-temannya menjadi iri, seru sekali ya jadi Iwan.

Ketika hari pengambilan rapor tiba, aku ingat yang mengambilkan rapor nya adalah Amang tercinta nya, saat itu adalah hal yang langka melihat seorang ayah mengambil rapor untuk anaknya bersama kerumunan  kaum Ibu. Aku ingat, Amang nya membantu Mama ku yang saat itu mengemudi ke sekolah untuk mengambil rapor memundurkan mobil, Amang nya ternyata ramah, padahal kami teman-teman semua tahu ayahnya  Iwan wartawan stasiun TV swasta satu-satunya saat itu, wartawan RCTI, kami cukup ngeri dengar kata "Wartawan" mengingat orang -orang yang kami kenal dengan profesi itu berwajah sangar atau berambut gondrong dengan rompi yang khas. Berbeda dengan bayangan kami, Amang nya Iwan ramah, menyapa aku, teman-teman Iwan dan membantu Mama ku yang kesulitan memundurkan mobil. 

Tiba kelulusan SD, kami kembali satu sekolah di SMP Negeri 6 Tangerang (Sempana) sekarang menjadi SMP Negeri 9 Tangerang, sekolah pilihan favorit yang masuk harus punya NEM tinggi di bilangan perumnas Tangerang. Kami tidak sekelas, tapi kami satu geng, tibalah saat kenakalan remaja di kelas 2 SMP, kisah kasih remaja cinta "monyet". Awal mula mengenal pacaran,  kami sering pulang jalan kaki bersama sebelum naik angkutan kota di dekat Pasar Malabar, ia jalan kaki beriringan dengan teman dekatnya, aku jalan kaki dengan teman dekat ku yang juga sepupunya Iwan, sama-sama bermarga Siregar dan rumahnya bertetangga dengan Iwan. Seingatku, Iwan sangat senang dengan wanita khas Indonesia, berwajah manis, ayu dan berkulit sawo matang, seperti teman dekat nya saat itu hehehe ... agak berbeda selera dengan kebanyakan anak laki-laki di sekolah saat itu yang lebih senang dengan gadis berkulit putih peranakan Indo atau berkulit kuning langsat. Iwan punya cukup banyak penggemar para gadis manis pada masa itu, Selain satu geng, nonton bioskop bersama, nongkrong bersama di Lippo Supermall Karawaci yang baru buka, kami juga sama-sama jadi pengurus OSIS, guru-guru menilai kami anak "nakal" yang aktif berkegiatan di sekolah dan masih bisa dapat ranking  3 besar di kelas masing-masing. Aku jadi Sekretaris OSIS, Iwan menjadi Ketua Bidang Olahraga, kegemarannya bermain basket membuatnya menjadi idola remaja wanita di SMP. 

Masa remaja awal berlalu, kami pun lulus SMP, aku berhijab dan memantapkan hijrahku, melanjutkan ke SMA Negeri 1 Tangerang dan Iwan pindah ke SMA Negeri 78 Jakarta Barat, sekolah favorit di Jakbar saat itu, tak kudengar lagi kabar Iwan, terakhir lulus SMA kudengar ia melanjutkan ke Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS Solo, sedangkan aku melanjutkan ke FISIP UI dan kemudian mengenal CEO Selasar.comsebagai ketua Senat Mahasiswa  yang handal hehehe...

Hingga, kudengar kabar duka itu dari teman-teman satu geng, bulan Desember 2003, Amang nya yang tercinta wafat dalam baku tembak di Aceh, beritanya di TV membuat kami semua tertegun dan hanya bisa ikut mendoakan.  Kami teman satu geng nya di SMP datang dalam acara pengajian 40 hari wafatnya Almarhum Bapak Sori Ersa Siregar di kediaman Iwan di Jalan Tuntang Karawaci Tangerang. Setelah itu kami tak bersua lagi...sampai suatu hari ketika aku menonton film bioskop berjudul " 9 Summers and 10 Autumns" aku terkejut melihat sosok yang aku kenal tampil di layar lebar, Iwan ada di sebuah scene pada film itu.

Hingga hari ini, 14...(more)

Answered Jan 13, 2017