selasar-loader

Siapa Afdhal Mahatta, alumnus FHUI?

Last Updated Jan 8, 2017

10 answers

Sort by Date | Votes
Muhammad Fadel
Alumni Manajemen FE UI 2008. Core Business Operation Manager di CekAja.com

AvVIdRAsNYyW1qJKIkGAkML_YaFKlfYE.jpg

Saya dan Afdhal Mahatta tergabung dalam satu organisasi kepemudaan, di mana beliau adalah Bendaharanya, dan saya adalah Wakil Bendahara. Beliau bukan sembarang Bendahara, karena dari 3x kepengurusan organisasi tersebut, beliau selalu diamanahkan menjadi Bendahara. Mengutip kata pembina organisasi kami, "Siapapun ketua organisasinya, Bendaharanya Afdhal". Kepercayaan tersebut diberikan karena Afdhal dinilai sangat responsif terhadap berbagai request yang diberikan dan sangat amanah.

Afdhal adalah orang yang supel dan mudah berbaur dengan berbagai orang dari background berbeda. Dia dapat mudah membaur dengan anggota kami yang pengusaha, dosen, karyawan, lawyer. Ia juga sering dipercaya sebagai penengah kalau ada konflik yang terjadi di antara anggota. 

Pengetahuan beliau mengenai Ilmu Hukum, menurut hemat saya, juga tidak perlu diragukan. Beliau saat ini dipercaya menjadi Staff Ahli Komisi 3 DPR RI yang membindangi Bidang Hukum, HAM dan Keamanan. Dalam lingkup organisasi, beliau juga sering dimintai pendapat dan bantuan untuk hal-hal yang berhubungan dengan hukum, seperti misalnya dalam untuk membantu pendirian Yayasan organisasi kami, kemudian memberikan konsultasi hukum bagi rekan yang membutuhkan.

foto via wordpress.com

Answered Jan 8, 2017

7MKXXPm3UmULCY-7Yv9LX8g5eQaZapLz.jpg

Abang yang satu ini adalah orang yang baik dan rendah hati, namun memiliki kapasitas yang luar biasa. Ia adalah salah satu mentor saya, khususnya dalam bidang politik, hukum, dan kepemudaan. Bang Afdhal adalah orang yang sangat berpikiran terbuka menurut saya. Beliau juga orang yang bisa membawakan dirinnya dengan baik, kepada siapapun dalam situasi apapun.

Perannya di tempat Ia bekerja sangat strategis. Bisa bertahan dalam lingkungan yang penuh dengan intrik dan dinamika politik, namun tetap bisa memposisikan di tengah (nonpartai). Saya yakin dia memiliki kecenderungan pada gerakan atau partai politik tertentu, namun Bang Afdhal bukan orang yang (menurut saya) bertipe tidak profesional.

Di UI sayang sekali saya tidak sempat berinteraksi banyak dengannnya, namun saya mengenal namanya. Kami tergabung dalam satu kelompok yang sama pula dalam paguyuban Minang.

Dan yang paling paten, Bang Afdhal adalah orang yang mendorong saya menjadi Wakil Walikota Padang. Tanpa mahar, tanpa diskusi panjang, hanya berbekal kepercayaan (sampai bela-belain bikin grup WA!!!). Ini luar biasa! *padahal saya rasa dia jauh lebih cocok daripada saya menjadi pejabat di Kota Padang, bukan hanya Wakil Walikota bahkan Walikota :)

gambar via instagram.com

Answered Jan 8, 2017
Ronny P
Pemuja Langit. Penyeruput Kopi. Dan imigran Gelap di negeri kesunyian

 

BM9B7SRkS4Re1_zpjOn45C_CIFxFeVFR.jpg

Afdhal Mahatta adalah salah satu adik saya. Meminjam istilah Miftah Sabri, beliau adalah salah satu adik kesayangan. Adik bertemu gede. Ketika menjadi adik saya, Afdhal sudah menjadi alumni UI dari Fakultas Hukum dan sudah menjadi staf ahli Komisi Tiga DPR. Dengan kata lain, mendadak jadi adik kesayangan.

Kami bertemu pertama kali di Soto Bang Karto Tenabang bersama dengan Faldo Maldoni dan Indra. Sebelumnya, kami cukup lama bertatap kata di dunia maya saja, WhatsApp tepatnya, baik di grup maupun personal message. Kesan pertama saya, Afdhal orangnya pendiam. Tipikal pemikir, sesuailah dengan profesinya yang staf ahli itu, memetakan situasi terlebih dahulu, sebelum ikut nimbrung melemparkan pendapat. 

Boleh jadi tipikal ini yang menjadi satu dari banyak alasan mengapa Afdhal betah sebagai staf ahli di DPR, yakni tipikal pemikir. Banyak mendengar, mengumpulkan data, dan informasi, memetakan medan, baru mengeluarkan peluru. Ketika cerita terus berlanjut, ternyata beliau kenal dengan orang tua mitra kerja saya yang kebetulan menjadi salah satu anggota Komisi Tiga DPR. Dan ini nampaknya menjadi bumbu yang mempernikmat relasi adik-kakak di antara kami.

Dalam berpandangan, boleh jadi karena terbiasa dengan gaya berpikir Senayan, Afdhal penuh dengan kehati-hatian. Tidak meledak-ledak, menjaga kata, sikap, dan nilai-nilai agar tidak saling bertabrakan. 

Dan bersama beliaulah, saya ikut mengamini niatan iseng Faldo Maldini untuk ikut kontestasi pilwakot Kota Padang pada tahun 2018 nanti. Perkara jadi atau tidak, tentu urusan lain. Tapi kesamaan ide dan selera soal pilwakot Padang tersebut membuktikan bahwa saya dan Afdhal punya tendensi politik yang hampir mirip, yakni berekspektasi tinggi kepada tokoh-tokoh muda. Dan dalam hati sendiri, saya pun menyimpan banyak harapan Afdhal akan turun gelanggang suatu waktu, untuk posisi-posisi strategis semacam itu.

Caiyo Afdal!

Answered Jan 9, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

xSZ7AcWXnvQ81CI4ACg3xph0LolvSbdg.jpeg

 

Afdhal Mahatta

Ia adalah anak muda calon intelektual hukum masa depan Indonesia, khususnya di bidang Tata Negara. Saya tidak ingat persis kapan pertemuan saya dengan tokoh muda kita yang satu ini. Hanya yang saya ingat adalah saat kami baru mengenal dia sebagai mahasiswa FHUI. Saya senior di fakultas tetangga sebelahnya, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Yang saya ingat adalah pembicaraan kami.

"Apa minat lo?"

"Tata Negara, Bang!" jawabnya mantap. 

Saya kejar lagi. 

"Kenapa tidak hukum bisnis? Kan bisa kaya. Tata Negara nggak ada uangnya. Ini bukan zaman Tata Negara.

Kenapa Tidak Hukum Acara?

Kenapa Tidak Hukum Pidana?

Kenapa Tidak Hukum Perdata?

Yang bisa menjadikan lo lawyer. Kaya raya." 

Saya mencecarnya, menyebut nama-nama besar lawyer Indonesia. Dia menatap saya dengan senyum tipis khasnya yang tenang dan tatapan penuh minat dan rasa hormat. 

Afdhal menjawab dengan satu kalimat, dan kalimat inilah yang terpatri dalam memori saya, menjejak begitu kuat sampai sekarang. Jawaban yang menumbuhkan respek balik dari saya kala itu.

Jujur saja, sebagai mahasiswa baru, jawabannya matang melintasi usianya. Biasanya sepengalaman saya, anak baru di UI (terutama anak daerah) akan dilaruti euforia, membayangkan yang indah-indah dan keren-keren, dekat dengan harapan akan kesuksesan materi yang akan diraih jika lulus kelak dari UI dengan bekal ilmunya.

Afdhal tidak. Dia berbeda. Dia menjawab begini.

"Bang, hukum dan politik itu seperti rel kereta. Kereta tak kan sampai ke tujuan tanpa ada relnya.

Hukum tanpa politik adalah angan-angan. Hukum tanpa politik adalah utopia."

Afdhal menjelaskan dengan runtut mengenai kenapa dia memilih Fakultas Hukum UI sebagai pilihan pertamanya. Peminatan Khusus Tata Negara, PK5, adalah pilihannya sejak semula karena dengan memilih jurusan itu dia akan bisa menyelami hukum sebagi rel bagi politik keretanya. Makanya dia mungkin mencari akal untuk bertemu dan mengenal saya yang saat itu memang belajar illmu politik.

Afdhal membuktikan, dia tak pernah berkelok sedikitpun dari jalan dan tujuannya semula. Selepas lulus jenjang sarjana, Afdhal ngebut mengambil S2 Tata Negara, juga di UI. Setelah itu, dia menghadap ke saya, menyatakan bahwa dia sudah menjadi Master Hukum Tata Negara.

Sebagai kakaknya yang tak lupa ilmu rel dan kereta yang ia ajarkan kepada saya, saya pun merasa menerima budi. Dan bagi saya, budi dibawa mati. Namun, ada baiknya saya membalas budi baik akan ilmu Afdhal pada saya. Saat itu, pergaulan politik saya mulai meluas. Saya kontak sumber-sumber penting di bidang "hukum dan politik" yang saya kenal. Pikiran saya tiba tiba menuju ke satu titik "gedung parlemen". Tempat hukum dan politik bersatu. Tempat undang-undang dibuat sebagai produk politik. 

Informasi saya kumpulkan. Dan demikianlah jalannya takdir. Meminjam istilah Steve Job, "connecting the dot process". Saya mendapat informasi A1. Pimpinan Komisi Hukum membutuhkan intelektual muda hukum sebagai Tenaga Ahli. Informasinya saya beri ke Afdhal. 

Itulah Afdhal. Saya hanya memberi informasi. Dia cepat berlari. Tak lama setelah itu, dia sudah menjadi Tenaga Ahli Komisi Hukum DPR RI. Dia dipercaya pimpinan Komisi untuk menjadi "anak muda berpikiran maju, progresif, dan revolusioner," mengumpulkan seluruh kerja dapur bekal anggota dewan terhormat menjalankan fungsi "legislasi", "pengawasan" dan "penganggarannya". 

Pimpinan komisi berganti datang dan pergi. Afdhal tetap di sana dengan semakin kokoh. Belakangan, saya dengar dia mengajar di beberapa universitas perihal hukum tata negara. Saya yakin, sejuta anak hukum yang mendaftar ke posisi itu pasti dia yang akan lolos. Karena saya percaya, dia yang terbaik pada masanya di bidang hukum tata negara. 

Analisisnya memang jarang saya baca di media massa. Namun executives summary-nya pastilah memenuhi meja meja pimpinan komisi hukum. 

Afdhal semakin matang. Setiap bertemu Afdhal, saya bilang, "Segera S3, Dhal. Tugas sejarah lo sebentar lagi akan sampai. Lu harus bersiap-siap. Pendekar-pendekar hukum tata negara mulai menua."

Afdhal selalu menjawab kalem. "Siap Bang, doakan saya selalu. Mohon bimbingan selalu"

Saya bingung sama anak ini. Kenapa bisa begitu sopan dan tidak agresif? Dia diam, tenang, senyum-senyum. Namun, selalu saja setelah itu kita kaget dengan capaiannya.

Takdir membuat kami bertambah dekat. Dia sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Dia menjadi asisten istri saya dalam mendidik anak-anak kampung dalam program Ramadhan For Kids yang diasuh oleh istri saya saat masih mahasiswa. Ia juga datang ke persalinan anak kedua saya Dara Jingga saat ia sedang sibuk-sibuknya di Dewan. 

Sekarang, Afdhal sudah menjadi salah seorang anak muda penting di Tim Ahli Komisi Hukum DPR RI. Kepala Polisi Negara, Jaksa Agung, Ketua MA, sampai Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi mengenalnya. 

Afdhal tidak berubah. Setiap bertemu selalu ramah. Dan humble

Ketenangan adalah kekuatannya. 

Dialah air tenang menghanyutkan.

Answered Jan 9, 2017

Afdhal adalah teman satu angkatanku di FHUI 2005, Afdhal adalah salah satu temanku yang memiliki daya analitis yang baik, memiliki kedalam di bid. ilmu hukum, dan memiliki idealisme. Aku dan Afdhal pun sama-sama tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Terakhir kami sama-sama sebagai pengurus di HMI Cabang Depok Tahun 2009 jaman Ketua Umumnya Alm. Aulia Kosasih S.H., M.H. Afdhal dan aku pun saat ini sama-sama mengabdi di DPR RI, Afdhal sebagai Tenaga Ahli di Komisi 3 DPR RI dan aku LD Polhukham di BK DPR RI. Afdhal juga orang Minang.. dan kedepannya aku pun harus banyak belajar darinya karena calon istriku nantinya juga orang Minang. Good Luck Afdhal, sukses selalu. Yakin Usaha Sampai

Answered Jan 9, 2017

Afdhal adalah senior saya di kampus dan organisasi mahasiswa. Meskipun berbeda fakultas, kita pernah kerja bareng untuk suatu kegiatan saat kuliah. Afdhal adalah sosok yang bersahaja, tenang dan menerapkan ilmu padi. Bisa diajak ngomong isu2 yg serius dg pembawaan yg santai dan hangat. Semoga tetap istiqomah dalam upaya menuntut ilmu dan mengamalkannya untuk kebaikan orang banyak. Semangat dan sukses selalu, Uda!

Answered Jan 14, 2017

Ketika saya membaca jawaban tentang Afdhal Mahatta di halaman ini, saya jadi merasa apakah saya benar-benar mengenal diri seorang Afdhal? Memang gambaran diri seseorang tidak akan pernah bisa utuh ditampilkan. Dia adalah potongan-potongan diri yang ditampilkan kepada orang lain. Oleh karenanya, ketika kita merasa dekat dengan orang lain, kita harus kembali berkaca, apakah orang lain tersebut adalah bagian dari diri kita juga? 

Saya akan memberikan testimoni diri seorang Afdhal dengan mengingatnya sebagai potongan pengalaman hidup yang entah sampai kapan akan terus berlanjut. Afdhal adalah seorang junior di Ikatan Mahasiswa Minang dan SMA 1 Padang. Kita tidak pernah berinteraksi langsung di dalam kegiatan keorganisasian, lebih sering untuk urusan yang remeh-temeh. Tapi bukankah bermula dari hal tersebut kemudian kita bisa melihat gambaran diri seseorang dengan lebih jujur? Saya tahu dia adalah pekerja keras yang bisa menyelesaikan S2 di Fakultas Hukum UI sembari bekerja. Setelah lulus S2, Afdhal masuk menjadi staff ahli di DPR yang mungkin hal itu memang menjadi jalan hidupnya; berkarier di bidang politik cum akademisi (dia juga mengajar di salah satu PTS di Jakarta). 

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Afdhal juga mempunyai keinginan untuk membuka usaha sendiri. Entah itu bisnis atau membuka lawyer firm. Berbagai usaha pernah dijalaninya bersama teman-temannya. Jatuh bangun pernah dilaluinya. Afdhal bukanlah orang yang takut mencoba hal-hal baru. 

Anyway, best of luck for you, bro...may Allah give you blessed and guidance.   

 

Answered Jan 18, 2017
Ma Isa Lombu
Alumni Fakultas Ekonomi (dan bisnis) UI

795xFCh1SSR0N4O2x9-joS1K_20oczC8.jpg

Saya mengenal putra Minang ini kurang lebih 8-9 tahun yang lalu. Kami memang tidak setiap hari bertemu, karena kami memang tidak satu kantor. Meskipun demikian, kurang lebih 8-9 tahun lamanya, setidaknya dalam sebulan, ada sekitar 3-4 kali kami bertemu muka, berdiskusi ngalor ngidul, sampai belajar bersama.

Memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Anak dari seorang professor hukum Islam di salah satu universitas bergengsi di Sumatra Barat ini, kabarnya memutuskan untuk kembali bersekolah, bersekolah menajamkan ilmu hukum tata negara yang sudah dia miliki ke jenjang doktoral yang lebih dalam. Sebuah disiplin ilmu yang sangat diperlukan bangsa ini. Diperlukan oleh setiap politisi di republik ini agar selalu bermanuver on the track. Tidak asal-asalan. Tidak menghalalkan segara cara untuk memenuhi setiap kepentingan politik yang dimilikinya. 

Indonesia butuh seorang Afdhal Mahatta Piliang. Seorang ahli hukum tata negara yang dapat mengawal jalannya praktik politik sekaligus manuver para politisi agar sesuai dengan guideline konstitusi republik ini.

Afdhal memang pendiam, tidak ekspresif seperti saya setidaknya. Tetapi jika ia dianya tentang persoalan hukum ataupun masalah sosial politik lainnya, dengan panjang lebar juga terstruktur ia akan melapangkan setiap hal yang ia tau kepada orang yang bertanya. Meski tidak mencolok, Afdhal selalu aktif dalam diskusi dan setiap rapat yang kami lakukan. Jadi tidak mencolok sama sekali tidak sama dengan pasif-apatis. Setidaknya untuk Afdhal.

Afdhal memang tidak mencolok. Saya yakin ia mendesain perilaku itu. Afdhal tidak berusaha untuk tidak terlalu terlihat di permukaan. Ia bermain di dalam, di wilayah yang tidak banyak orang dapat menggapainya. Ia bukan tipe petarung. Ia jagoannya strategi. Ahli kasak-kusuk. Pakar lobi-lobi. Kemampuan para elit.

Memutuskan untuk kembali terjun ke bidang yang ia sukai (Hukum Tata Negara) bisa jadi merupakan hal besar yang harus ia tentukan di awal karir profesionalnya. Dengan prestasi dan karir cemerlang yang dimilikinya di sebuah perusahaan swasta besar tanah air sebagai seorang legal executive, Afdhal kemudian memutuskan mengikuti hati nuraninya dengan berani untuk kembali ke wilayah hukum tata negara dengan menjadi tenaga ahli komisi 3 DPR RI. Sebuah keputusan yang tidak setiap orang berani melakukannya. Sebuah keputusan yang jelas memiliki movitasi jauh dari sekedar pertimbangan material semata.

Dengan track record sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) UI dan juga ketua paguyuban mahasiswa minang di UI (IMAMI), Afdhal Mahatta memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. 

Saya yakin itu!

 

Answered Jan 23, 2017

kp2Kj9GyxPmS6p3Qdv51tfFHzfAZZyR3.jpg

Afdhal Mahatta Piliang

Asrama UI Depok merupakan tempat pertama kali saya mengenal Afdhal. Ketika itu saya menginjak Semester ke-5 Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Afdhal baru merantau dari Padang untuk menyongsong masa depan di kampus yang sama dengan saya namun berbeda jurusan, yaitu Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang sudah mencetak alumnus-alumnus kompeten dan menjadi sosok berpengaruh di negeri ini. Saya yakin, Afdhal adalah salah satu bagian kisah sosok sukses itu.

Sosok yang tenang, dewasa dan berwibawa, itulah kesan pertama saya terhadap Afdhal. Kami semakin mengenal satu sama lain ketika tergabung dalam paguyuban Ikatan Mahasiswa Minang UI (IMAMI UI). Pada suatu kesempatan saya dibuat takjub karena seorang Afdhal memiliki kelihaian dalam "BARANDAI", sebuah seni tradisional Minangkabau memadukan gerak pencak, tari, dan dendang.

Pendek cerita, setelah saya menamatkan studi di UI dan bertahun-tahun, mungkin 5-6 tahun kemudian, ketika saya telah berstatus seorang PNS di Kemlu dan ditugaskan mendampingi para calon Dubes mengikuti tahapan fit and proper test di Komisi 1 DPR RI, saya kembali bertemu dengan Afdhal di salah satu ruangan di Gedung Nusantara berapalah, saya lupa.

Di sanalah saya bergumam dalam hati: "Wah, lama-lama nih Afdhal ga cuma jadi staf ahli anggota DPR, tapi jadi anggota bahkan pimpinan dewan". Saya yakin dengan kapasitas dan keuletan Afdhal, ia akan dapat menjadi bagian dari penentu kebijakan yang semoga membawa angin perubahan bangsa ini.

"Tos ciek, Diak. Salam Sukses."

Answered Jan 26, 2017
Ahmad Taufik
Interventionist

sYHgIrDBte2iWYZocWhPKKMdBuAcr7HK.jpg

Afdhal Mahatta.

"Janji adalah hutang... dan hutang menuntut balasan."

Mendeskripsikan Afdhal membuat otak ini menelusuri simpul-simpul kenangan bersama beliau. Dua tahun bersama di Asrama UI, makan malam bersama adalah cara kami berbagi, aktif di Imami adalah cara kami belajar menari, mengenal jati, dan kapasitas diri, serta mengajar di bulan Ramadhan adalah cara kami belajar mencintai anak-anak.

Banyak simpul-simpul kenangan yang terlintas di pikiran, termasuk inisiasi aksi bersama dan gerakan aksi Mahasiswa Nusantara. Kami dua tahun lebih bersama dalam satu rumah kontrakan dan kostan.

Saya sudah cukup mengenal sosok afdhal, mulai dari kehidupan asmara, keuangan, baik-buruk, dan wangi-busuknya sahabat kental satu ini. Dari begitu banyak simpul-simpul kenangan tersebut, dengan tersenyum dan kesan yang sangat berbekas, saya coba sederhanakan.

Afdhal Mahatta adalah sosok yang sangat cerdik layaknya sang kancil, penuh dengan suka ria dan jenaka.

Afdhal Mahatta adalah sosok yang dikenal tenang dan punya wibawa, diam-diam menghanyutkan.

Cukup sudah. Afdhal Mahatta adalah calon orang besar negeri ini. Amin.

 

Answered Feb 27, 2017

Question Overview


10 Followers
1824 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Manakah stasiun yang lebih dekat untuk dijangkau oleh mahasiswa FH UI? Stasiun UI atau Pondok Cina? Mengapa?

Bagaimana rasanya kuliah di UI?

Mengapa kuliah di Universitas Indonesia begitu menarik dan prestisius?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Mengapa Depok berantakan meski ada kampus UI di sana?

Apa pengalaman paling mengesankan selama kuliah di Fasilkom UI?

Apa fakultas terbaik di UI (Universitas Indonesia)?

Apakah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) penting untuk memperoleh pekerjaan?

Apa kelebihan kuliah di Universitas Indonesia (UI)?

Siapa Whinda Y Sabri Psikolog Sosial UI Founder SANDS Analytics?

Siapa Ruby Saputra?

Siapa Mar'ie Muhammad?

Siapa Seno Gumira Ajidarma?

Siapa Gaffari Ramadhan?

Siapa Fithra Faisal Hastiadi?

Siapa Edho Mahendra?

Siapa Bane Raja Manalu?

Siapa Ronny P Sasmita?

Siapa Pramudya Oktavinanda?

Siapa Hasan Nasbi Batupahat?

Apa definisi dokter yang sukses menurut Anda?

Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

Siapa Ma Isa Lombu, Pendiri dan CBDO Selasar?

Siapa Arief Munandar?

Siapa Es Ito?

Siapa Anies Rasyid Baswedan?

Siapa Fauzi Bowo?

Siapa Sandiaga Uno?

Siapa Sutiyoso?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?