selasar-loader

15 answers

Sort by Date | Votes
Moch Nurul
sedang belajar rendah hati, obyektif, moderat dan open minded

NmMVY0q3SYNDyWbDaQun955C0zmWqB1Q.jpg

sampai saat ini,
mungkin saya termasuk orang yang masih belum sukses dalam hal apapun kecuali sukses merpertahankan hidup.
Bertahan hidup di tengah - tengah perang pemikiran, fitnah yang bertebaran, jurang yang terus melebar antara kaya dan kemiskinan, degradasi moral para penerus peradaban, dan upaya - upaya memecah persatuan di negara yang dianguerahi Tuhan berbagai keanekaragaman ini akan terasa sulit tanpa idealisme hidup dan keyakinan beragama yang matang.

Ada tiga orang yang sangat berperan membantu saya mendapatkan idealisme dan keyakinan beragama yang matang itu dalam hidup saya sampai saat ini :
1. Ibu Bapak saya
2. Ustadz di pesantren di Jember dan Surabaya, dan
3. Drs Musholi pendiri Nurul Fikri.

Drs Musholli sebagai pendiri Nurul Fikri mewariskan kami nilai - nilai hidup yang kami kenal dengan ROMO, yaitu Rendah Hati, Open Minded, Moderat dan Objektif dalam menghadapi tantangan hidup di masa mendatang.

Sampai saat ini, Drs Musholi pendiri Nurul Fikri dan tentunya dengan segenap para pendiri dan pengelola yayasan, telah membentuk 1000an alumni yang tersebar di berbagai sektor kehidupan, dan telah membangun 7 regional yang tersebar mulai Medan sampai Makassar.

 

Answered Feb 6, 2017
Tegar Hamzah
Pegawai Pelabuhan Indonesia II, Ditempatkan di Gresik, Tinggal di Surabaya

1Dcmt9rS2jD8asusu2hcF1oNnOZiuqhz.jpg

Saya menjadi bagian dari Nurul Fikri saat SMA. Saat itu, saya mengikuti bimbingan belajar NF di daerah Bekasi, tentunya sebelum bergabung lebih jauh di Rumah Kepemimpinan PPSDMS yang beliau dirikan. Yang saya tahu dan saya kenang, bimbel yang beliau dirikan ini sudah lebih dulu berjasa mengantarkan saya melewati ganasnya seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Di saat anak-anak lain sudah mengantongi passing grade aman untuk masuk PTN favorit, saya lagi-lagi masih bergumul untuk sekedar menembus nilai nasional atau passing grade yang aman di sebuah PTN nun jauh disana, di luar Jawa lah pokoknya. Hahaha.

Tapi entah mengapa, hawa ketenangan dan kesabaran selalu melingkupi hari-hari saya bersama bimbel NF ini. Entah karena orang-orangnya (baik staf, pengajar, ataupun murid-murid yang lain) yang berwajah adem semua atau memang ada sesi khusus semacam bimbingan ruhani di NF. Tapi yang jelas, berkat rahmat Allah dan melalui tangan institusi bentukan Pak Musholli ini (yang saya yakin, guru dan staf yang ngademin ini pasti didikan beliau), alhamdulillah saya diberikan kenikmatan mengenyam bangku kuliah di salah satu kampus terbaik di negeri ini.

Selanjutnya, saya kembali menjadi bagian dari Nurul Fikri saat diberikan karunia untuk bergabung bersama PPSDM Nurul Fikri (sekarang bernama Rumah Kepemimpinan). Saya pun mengetahui lebih jauh bahwa kesungguhan beliau mendirikan NF penuh dengan perjuangan. FYI, NF didirikan kalau tidak salah di awal tahun 80-an, bersaing dengan beberapa bimbingan belajar yang sudah lebih dulu berdiri tidak membuat pendirinya, Pak Musholli, minder, walau kelas pertama (katanya) berada di samping kandang kambing.

Alhamdulillah, pengorbanan beliau bisa dilihat saat ini; NF semakin besar dan membuahkan beberapa unit bisnis (jika bisa dikatakan unit). Ada SDIT, ada pesantren, ada STT, dan terutama ada PPSDMS NF yang sekarang menjadi Rumah Kepemimpinan (RK)

Jikalau bukan karena kecintaan beliau pada Islam dan juga negeri ini, tentunya RK tidak akan pernah berdiri. Beliau paham bahwa kunci beresnya dan makmurnya negeri ini ada pada pemimpinnya, dan pemimpin itu tidak lahir secara instan. Ia dilahirkan melalui proses penempaan idealisme dan ketangguhan dalam berjuang. Di RK, kami dibimbing oleh beliau untuk dapat menjadi penyeimbang, ummatan washotan, umat pertengahan, kata beliau, sebuah umat yang mampu membangun titik temu dan kebersamaan, objektif dalam menilai dan tidak gampang terprovokasi. Dengan gaya beliau yang humoris dan santai, kami pun diajak untuk tidak terlalu serius menanggapi berbagai perubahan dan masalah, karena sesungguhnya setiap permasalah pasti ada jalan keluarnya.

Perkataan itu terbukti kini. Saat kami semua, alumni RK, bertebaran di bumi, sedikit banyak petuah-petuah beliau menjadi guide dan landasan kami dalam bermasyarakat dan bernegara. Kami terus berusaha menjadi muslim yang dapat diandalkan dan mampu merangkul semua golongan dalam mencari titik temu untuk membangun bangsa ini.

Semoga Pak Musholli sehat selalu, selalu penuh dengan senyuman dan optimisme, karena itu yang menjadikan Bapak mampu melahirkan calon-calon pemimpin masa depan negeri ini. Aamin.

Answered Mar 8, 2017
Amron Basuki
Manajer Rumah Kepemimpinan | Anak dan Calon Petani | Belajar Keuangan NGO


HGh42L_j5PsvaqJFnbIhxFoRX42YTDCy.jpg

Drs. Musholli, atau saya biasa memanggil beliau dengan panggilan "Ustaz" Musholli. Karena memang beliau adalah guru saya, dan kami. Saya mengenal beliau belum lama, baru kurang lebih 3 tahun terakhir ini, semenjak saya bergabung menjadi bagian dari Rumah Kepemimpinan PPSDMS, kala itu menjadi peserta.

Ya, beliau sepengetahuan saya adalah pendiri Nurul Fikri yang kemudian juga mendirikan PPSDMS Nurul Fikri yang kini menjadi Rumah Kepemimpinan. Beliau adalah sosok yang bagi saya patut untuk dijadikan teladan. Berbicara dengan bukti yang telah beliau lakukan sebelumnya. Berbicara dengan fakta dan teladan.

Beliau adalah sosok yang mampu memberikan pemahaman kepada kami dengan nilai ROOM (Rendah Hati, Open Mind, Objektif, Moderat) sebagai salah satu bekal dalam berkehidupan, khususnya bagi calon pemimpin.

foto via dokumen pribadi

Answered Jul 7, 2017
Syifa Aziza
Mahasiswi Bisnis Islam FEB UI 2015.

huu2V1Ktx6kN7TceQbHP83aXc5Khf8sA.jpg

Sosok guru, ustaz, yang kalimat pertamanya ketika mengisi Kajian Islam Kontemporer di RK adalah: Alhamdulillaahilladzii allafa bayna quluubinaa wa ashbahnaa bini'matihii ikhwaanaa. Yang artinya segala puji bagi Allah yang telah mempersatukan hati-hati kami dan menjadikan kami (dengan nikmat-Nya) bersaudara.

Setelah sekian KIK, akhirnya ustaz mengungkapkan bahwa ucapan tersebut bukan sembarang pujian untuk Allah, namun juga wujud kecintaannya melalui ucapan syukur tersebut, juga sebagai doa agar kita tetap dipersatukan dalam ukhuwah sesama muslim.

Selain doa tersebut, dan dilanjutkan dengan pujian untuk Allah lainnya, kami biasanya diminta untuk tilawah yang nantinya berkaitan dengan tema kajian.

Ustaz Musholli biasa mengisi kajian dengan pakaian baju koko dan peci putih serta sarung. Beliau tidak mengisi kajian dengan alas kaki. Beliau lebih suka duduk di kursi, dengan beberapa kali berjalan dari depan hingga belakang di tengah kajian, sementara kami di karpet mendengarkan. Terkadang juga beliau sama-sama duduk di karpet bersama kami dan berjalan beberapa kali.

Cara beliau menyampaikan begitu lembut, dalam, dan memancing kami untuk berpikir. Beliau suka bercanda sesekali, namun tidak segan menegur peserta yang tertidur. Jawaban-jawaban dari pertanyaan juga begitu lembut dan tidak selalu eksplisit. Beberapa kalimat ustaz bahkan baru bisa saya cerna setelah kajian selesai.

Meskipun gaya bercanda ustaz tidak selalu sama seleranya dengan peserta, namun saya yakin semua peserta RK merasakan kesejukan dari kehadirannya, dari tutur katanya, dari cara berjalan, hingga berpamitannya. Bahkan sempat beberapa peserta merasa heran ada ustaz yang semenyejukkan itu, namun tetap concern menyikapi isu ter-update.

Kadang, mungkin karena efek lampu dan pakaian putih, serta kelembutannya, beliau tampak bercahaya, wajah dan kakinya putih seakan bersinar. Meskipun di luar kajian, saya pernah melihat beliau berpakaian resmi, namun tidak menghilangkan wibawanya. Beliau adalah contoh ustadz yang aktif bergerak untuk masyarakat, sosok pemimpin teladan, yang sering merasa sangat kurang dalam beramal, dan terus berusaha beramal.

Kajian Islam Kontemporer tidak selalu diawali dengan penyampaian tema. Saya rasa ustaz lebih suka bercerita, dan menyampaikan pesan-pesan secara tersirat. Beliau biasanya bercerita tentang sirah nabawiyah, hingga kejadian terkini di Indonesia, dengan disertai ayat-ayat Al Quran terkait.

Namun ada prinsip yang sering disampaikan, yaitu ROOM-PK, yang diharapkan menjadi kompetensi RK. Yaitu rendah hati, open mind, objektif, moderat, serta prestatif dan kontributif. Prinsip yang saya dapatkan dan yakini dari beliau adalah berusaha menjadi bagian dari umat pertengahan, moderat, yang ditunjukkan dengan kerendahan hati dan open mind. Moderat, yang bukan pasif, tetapi mengambil sikap sesuai syariat dengan akhlak yang baik.

Berbeda pendapat adalah wajar, namun utamakan ukhuwah, semerasa benar apapun kita, karena apalah arti tingginya ilmu tanpa akhlak. Berbeda pendapat adalah wajar, namun jangan sepelekan pendapat para ahli, apalagi yang memiliki gelar atau jabatan tertentu, hanya karena perbedaan hal yang bukan inti, tetapi cabang dari agama Islam yg khilafiyat.

Berbeda pendapat adalah wajar, berbeda prinsip adalah wajar, bahkan berbeda ideologi adalah wajar, namun selain memiliki akhlak yang baik, janganlah menutup kemungkinan kita untuk melihat kebaikan dari orang yang tidak sependapat atau seprinsip atau seideologi.

Alhamdulillaahilladzii allafa bayna quluubinaa wa ashbahnaa bini'matihii ikhwaanaa.

foto via blogspot.com

 

Answered Jul 7, 2017
Ulfah Choirunnisa
Mahasiswi Pembangunan Wilayah UGM 2015 | www.ucgeolife.blogspot.com

81tZO0DZQpX8g30YyvWSLu9CzTX0iuK1.jpg

Seorang Ayah. 

Begitulah julukan yang paling tepat bagiku untuk Ustaz Musholli. Beliau ialah salah satu pendiri Rumah Kepemimpinan yang mengorbankan begitu banyak tenaga dan materi. Haru jika mengingat akan jasa-jasanya. meskipun aku tau bahwa Rumah Kepemimpinan tidak pernah mengharapkan balasan jasa seperti yang tertulis dalam lirik marsnya. Dan pun, aku yakin, Ustaz Musholli tidak memerlukan pujian dariku, sebagai manusia biasa. Ustaz Musholli hanya berharap akan pujian Allah SWT, karena memang begitulah seharusnya.

Dalam pembinaan Rumah Kepemimpinan, Ustaz Musholli ialah pembicara khusus pada Program Khusus 'Kajian Islam Kontemporer'. Di sinilah aku mengenal beliau dan mulai mengagumi sosoknya. ROOM-PK, seperti pada answer yang pernah aku berikan sebelumnya, merupakan kepribadian yang harus dimiliki oleh seluruh Peserta Rumah Kepemimpinan. Pada mulanya, aku masih mencari-cari sosok yang memiliki keenam kepribadian ini dengan seimbang. KIK inilah yang kemudian mempertemukanku dengan sosok yang luar biasa, Ustaz Musholli. Ia memiliki 6 kepribadian ini dengan seimbang. Dan yang paling aku soroti adalah kepribadian 'Moderate'

Bagiku, kepribadian moderate sangat sulit untuk diterapkan dalam diri. Perlu belajar banyak, baik dari literatur maupun diskusi. Bagaimana tidak, untuk bersikap menengah, untuk mengambil jalan tengah, kita harus paham sisi kanan dan sisi kiri terlebih dahulu. Sehingga bisa bersifat obyektif dan moderate. Inilah yang membuatku mem-branding Ustaz Musholli sebagai seseorang yang moderate. Ia paham dengan berbagai dinamika dan aliran yang ada di sekitar kita saat ini. Namun, tidak pernah satupun aku menjumpai beliau mencela salah satunya. Ia terus mengambil sisi baiknya sambil membenarkan. Bagiku, ini poin yang sulit. Doktrinasi di luar akan berbagai pandangan seringkali membuat kita tersugesti untuk memiliki pemikiran yang sama. Tapi tidak untuk Ustaz Musholli. Beliau selalu memikirkan pemikiran orang lain secara matang dan benar-benar menelisik secara objektif sehingga membuat kami, para peserta berkata 'Hm.. iya juga ya'. Artinya, beliau berhasil memengaruhi kami. Dan seperti yang dikatakan John C, Maxwell, bahwa pemimpin adalah pengaruh, maka premis 1 yang berbunyi 'Ustaz Musholli memberikan pengaruh' dengan premis 2 yang berbunyi 'Pemimpin adalah yang memberikan pengaruh', maka di dapat kesimpulan 'Ustaz Musolli adalah pemimpin'.

Di atas adalah tentang kepemimpinan Ustad Musholli. Lalu, Mari kembali ke kalimat yang saya tuliskan pertama kali 'Seorang Ayah'. Mengapa seorang ayah? 

Ustad Musholli selalu tersenyum kepada kami. Tak pernah aku melewatkan satu detik pun senyumannya. Senyumannya adalah senyum sayang terhadap anak-anaknya. Sorot matanya sejuk, bagaikan ayah menatap anaknya. Membuat sang anak ingin terus berada di sampingnya untuk dibina dan belajar bersama dengannya. Aku merasakan hal yang demikian. Hati rasanya sangat tenang melihat Ustad Musholi. Wajahnya pun bersinar karena kuatnya pancaran iman yang ada dalam dirinya, insyaallah. Haru (lagi), adalah ketika, saat itu, R3 Yogyakarta membawakan sebuah lagu berjudul 'Ayah' untuk ustaz Musholi yang datang pada Hari Ayah. Beliau mengungkapkan perasaannya bahwa Beliau senang. Terlebih kami, yang mendapatkan kesempatan untuk menyanyikannya kepada beliau.

Dua hal itu masih sedikit untuk menjelaskan siapa Ustaz Musholli. Tapi, kedua poin itulah yang paling kuat yang ada dalam diriku untuk 'mem-branding' ustaz Musholli: Moderate dan Ayah. Jadi, tidak sabarkah kalian untuk bertemu dengan sosok Ustaz Musholli?

foto via nurulfikri.ac.id

Answered Jul 7, 2017
Aqil Wilda
External Relations Rumah Kepemimpinan // Dot Connector // Philantropist

6MPV_HwtrlPacHIdb6ON3LJF5AhncY95.jpg

Pertemuan pertama saya dengan beliau adalah saat saya menjadi penerima beasiswa Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri pada periode 2008-2010. Tepatnya pada acara Pekan Kepemimpinan Nasional (PKN) tahun 2008 sebagai acara inisiasi program pembinaan PPSDMS pada periode 2008-2010. Saat itu, sosok seorang Ust. Musholi hadir menyapa kami sebagai peserta dan memberikan sambutannya kepada kami. Pada periode 2008-2010, beliau bertindak sebagai Direktur PPSDMS. 

Saya mengetahui nama beliau di jajaran eksekutif PPSDMS saat saya masih di bangku SMA, saat mengikuti bimbingan belajar Nurul Fikri. Seringkali saya melihat nama dan foto beliau di selebaran info tentang beasiswa program PPSDMS yang tersaji banyak di bimbingan belajar Nurul Fikri. Seketika saya melihat beliau saat acara PKN kala itu, saya merasa familiar dengan beliau. Interaksi dan mengenal lebih lanjut dimulai sejak saat itu.

Tahun demi tahun saya menjadi bagian dengan PPSDMS (sekarang berubah nama menjadi Rumah Kepemimpinan), dan hingga ketika tulisan ini dibuat, saya tergabung dalam jajaran eksekutif, saya semakin mengenal dan semakin menaruh respect saya terhadap beliau. Ustadz Musholi, sosok pejuang lintas generasi yang hingga kini masih bergelora semangatnya untuk menularkan nilai-nilai kebaikan pada anak muda, khususnya peserta dan alumni Rumah Kepemimpinan. 

Pastinya begitu melekat dalam benak setiap peserta dan alumni Rumah Kepemimpinan teladan beliau dalam penanaman nilai-nilai yang begitu bermanfaat dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan cobaan ini. Rendah hati, Objektif, Open mind, dan Moderat (biasa disingkat dengan R-O-O-M) adalah nilai-nilai yang tak henti-hentinya ditanamkan oleh sosok seorang Ustadz Musholi kepada para peserta dan alumni. Di tengah-tengah era yang penuh dengan sengketa dan caci maki ini, sekiranya nilai-nilai R-O-O-M ini adalah kunci bagaimana seorang pemuda dapat selamat melintasi segala turbulensi zaman ini.

Pengalamannya melintasi berbagai sektor "perjuangan" dalam bangsa ini tak menjadi hal yang dapat diragukan. Merintis karir di BATAN, menginisiasi berdirinya Nurul Fikri grup dengan beberapa rekan seangkatannya, pernah dipercaya sebagai staff khusus Menteri (Menteri Sosial RI 2009-2014), hingga perjuangannya di salah satu partai politik, membuatnya kaya akan pengalaman. Dan dari sanalah beliau lantang dan tegas menyuarakan nilai R-O-O-M sebagai perwujudan apa yang telah beliau dapatkan dari perjalanan karir dan perjuangannya.

Sebagai akhiran, Ustaz Musholi adalah sosok yang memberikan arti dalam hidup saya, mengubah hidup saya, dan menginspirasi tindak-tanduk saya dalam berinteraksi dengan sesama. Walau saya meyakini bahwa sosok beliau tiadalah sempurna dan pasti ada kekurangan, namun di tengah-tengah zaman yang penuh dengan turbulensi ini, sosoknya ibarat oase di padang gurun nan gersang. Buktikan apa yang saya tulis dengan berinteraksi secara langsung dengannya.

Source: Galeri Pribadi

Answered Jul 10, 2017
Andi Junasa
People and Development di Rumah Kepemimpinan // HRD Practitioner

zPf0qNqkIP5ElT99l1FaCq1S2Cxg96hc.jpg

Beliau adalah founder dari PPSDMS atau yang sekarang dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Saya lebih senang menyebut beliau sebagai ayah ideologis dari para peserta dan alumni Rumah Kepemimpinan. Beliau telah menanamkan kita semua untuk dapat membangun konstruksi berpikir yang rendah hati, objektif, openmind dan moderat. Meski kita tahu beliau sering mengulang-ngulang materinya, tetapi memang begitulah cara beliau mematrinya dalam diri kita.

Dengan gaya penyampaiannya yang khas serta diselingi candaan ala betawi yang terkadang membuat kami tertawa ngakak, beliau mengajarkan agar menjadi pribadi yang rendah hati agar berakhlak baik, mudah bergaul dan dapat diterima oleh siapapun sehingga bisa membangun titik temu dan kebersamaan. Beliau mengajarkan tentang objektif dalam membangun konstruksi berpikir sesuai data dan fakta serta openmind sehingga kita mencari segala macam sumber terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan dan menjadikannya sebagai pendapat pribadi. Beliau juga mengajarkan terkait moderat agar kita menjadi pribadi yang adil terhadap siapapun dan membangun titik temu dan bersinergis, bukan malah perpecahan.

Masih sangat sedikit sekali yang saya ketahui tentang beliau, tetapi dari yang sedikit itu saya sudah bersyukur dapat bertemu dan mendapatkan ilmu dari seorang tokoh. Bahkan melalui Rumah Kepemimpinan yang beliau bangun, kami dapat berinteraksi dan menyerap ilmu dari para tokoh bangsa lain. Semoga kita semua dapat menerapkan ilmu yang diberikan sebaik-baiknya dan memberikan kebermanfaatan kepada orang lain. Aamiin.

foto via dokumen pribadi

Answered Jul 10, 2017
Muhammad Fathan
Manager Regional 1 Jakarta

3B4V1fg0dtc6cSFdGjdv1kJyQX8lSSvK.jpg

Saya lebih senang menyebutnya sebagai orang tua. Walaupun pada saat yang bersamaan, dia adalah seorang ustaz, seorang pendidik, seorang pengusaha, seorang birokrat dengan idealisme tinggi, bahkan seorang aktivis. Tapi bagi saya, dan banyak orang lainnya, memang rasanya paling tepat menyebutnya sebagai orang tua, sebagai bapak kami. Memang singkat, pertama kali saya mendengar namanya sekitar 6 tahun yang lalu. Saya mulai mengenal siapa beliau dan apa yang beliau lakukan semenjak tahun 2012, ketika saya terlibat sebagai peserta PPSDMS (Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis) atau yang sekarang bernama Rumah Kepemimpinan, di mana saat itu beliau adalah direktur sekaligus ideolog kami. 

Setiap bulan kami mendapatkan asupan dan berdiskusi dengan beliau dalam program Kajian Islam Kontemporer. Saat pertama kali mengikuti kajian dari beliau, ada rasa yang berbeda. Ini bukan kajian biasa, karena ada banyak benturan pemikiran Islam yang selalu saya dapatkan. Beliau punya pemikiran khas. Secara ideologis, pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh ulama besar dunia (yang baru-baru ini difitnah dengan cap teroris), Yusuf Qardhawi. Namun, pemikiran khas beliau lebih saya dapatkan dalam gagasan beliau tentang bagaimana konteks pemimpin muslim di tengah dinamika dunia saat ini. Sangat kekinian dan sangat "kedisinian". Maka, bingunglah kalian, kadang waktu kalian akan dapati sosoknya kok rasanya sangat radikal pemikirannya. Tapi, di lain waktu, kok seperti liberal ya jadinya. Beliau sangat seimbang dan proporsional dalam menempatkan pemikirannya, menempatkan keberpihakannya. It's hard to express it in some words, but there he is.

Dari interaksi dan diskusi bersama beliau selama kurang lebih 5 tahun terakhir ini, saya belajar untuk banyak mencari titik temu di tengah perbedaan yang ada di tubuh umat. Untuk tidak meninggikan kepala menganggap kebenaran milik kita saja, tapi mencoba rendah hati untuk melihat kebenaran atau kebaikan yang terkandung dalam kata atau kerja mereka. Untuk berhenti dari taklid buta, yang taat hanya lewat "katanya, katanya" saja, tapi secara objektif melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Untuk tidak menghabiskan energi menghajar setiap orang yang berbeda dengan kita namun berdiskusi dan berdialog dengan banyak orang, mencari titik temu, berpikiran terbuka. Untuk tidak terlalu ekstem kiri, atau ekstrem kanan, tapi moderat yang ada di pertengahan.

Apakah aku sudah cerita bahwa beliau adalah sosok yang humoris? Ya, tidak sulit untuk mencerna apa yang disampaikan beliau karena selalu ada selipan humor untuk memecah beku.

Beliau juga seorang yang tak segan untuk berkorban. Demi Indonesia, demi umat.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jul 11, 2017

Gambar terkait

Beliau adalah sosok yang sangat inspiratif dan menjadi teladan dalam menjaga Indonesia dari korupsi. Beliau dahulu pernah menjelaskan mengenai korupsi legal dan ilegal. Korupsi legal adalah istilah yang menarik. Beliau menjelaskan bahwa korupsi tidak hanya sekadar menyelewengkan uang yang jelas dilarang oleh hukum, melainkan kesengajaan untuk memainkan rancangan anggaran dengan kegiatan atau program yang "tak manfaat" atau "berfoya-foya" menggunakan anggaran negara yang tentunya uang rakyat. Korupsi legal digambarkan sebagai momok yang jauh lebih menyeramkan dari korupsi ilegal (korupsi pada umumnya). Hal ini dikarenakan korupsi tersebut jauh lebih sering terjadi di struktur birokrasi pemerintahan, dan ironinya, tidak disadari sebagai penyelewengan.  

 

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Jul 13, 2017
Mar'ie Al Fauzan
peserta Rumah Kepemimpinan 8 l Ketua Departemen Kajian Strategis BEM Fahutan IPB

Hasil gambar untuk Kepemimpinan

Ia adalah seseorang yang mengajarkan perubahan, membuka cakrawala pemikiran. Sejatinya, setiap pembaharuan memang memiliki perjuangan dan napas panjang, serta tidak mungkin menggunakan cara-cara lama yang sama. Beliau adalah orang yang membuka sekat-sekat kepentingan pribadi untuk kepentingan umat yang jauh lebih urgent. Sebagai ayah ideologis dari ribuan alumni dan ratusan peserta rumah kepemimpinan, sekolah IT Nurul Fikri, dan Bimbel Nurul Fikri, beliau selalu mengajarkan kolaborasi kebaikan sehingga tercapailah impian bersama untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah, pencipta alam semesta.

Ilustrasi via rumahkepemimpinan.org

Answered Jul 15, 2017
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

Ia adalah sang Penerjemah.

xmsOaf5qoPpIoBsEuKjgnPVggtKoTagz.png
Tidak kurang dari 12 bulan yang lalu, ke-Mahakuasa-an Allah telah mengizinkan saya untuk bertemu dengan sosok Ustaz Musholli, seorang yang saya senang menyebutnya dengan julukan "Sang Penerjemah".

Berkesempatan menjadi salah seorang penerima manfaat Beasiswa Rumah Kepemimpinan membuat saya mau tidak mau berkenalan dengan beliau, sosok yang akhirnya saya ketahui sebagai pendiri sekaligus pencetus ide brilian dari tantangan kepemudaan di masa mendatang. Sebut saja ide itu adalah "mendirikan rumah", setelah sebelumnya berhasil mendirikan lembaga bimbingan belajar yang dikenal dengan nama Nurul Fikri.

"Ini rumah bukan sembarang rumah,"  begitu kira-kira sangkalan pertama bagi siapa saja yang meremehkan ide brilian yang diusung ustaz satu ini. Pasalnya, kemampuan menelaah peluang di masa depan yang dilakukan ustaz yang kini berusia lebih dari setengah abad ini memang luar biasa adanya. Saat banyak orang mengernyutkan dahi mendengar ide asrama Rumah Kepemimpinan yang ustaz tawarkan, dengan gigih dan hati yang mantap, segala tenaga tetap dicurahkan. Terealisasikanlah ia, Rumah Kepemimpinan.

Rumah Kepemimpinan adalah solusi menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 mendatang, sebuah institusi yang kini menyongsong 15 tahun umurnya, niatannya sederhana, termaktub dalam beberapa paragraf bernama "Idealisme Kami", yang tiada henti-hentinya digelorakan sejak awal berdirinya institusi ini. "Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah-pencipta alam semesta" adalah kalimat terakhir dalam "Idealisme Kami" yang juga menjadi tujuan utama dari berdirinya institusi yang telah meluluskan lebih dari 1000 alumni yang kini tersebar untuk mewujudkan kalimat terakhir dari idealisme tersebut. Sederhana, hingga membuat siapa saja takjub mendengarkannya. Ide brilian yang didirikan dengan tidak pernah sesederhana melisankannya.
 
Agenda Kajian Islam Kontemporer menjadi salah satu agenda wajib bagi setiap peserta di asrama Rumah Kepemimpinan. Dari sinilah secara lebih jauh, menurut saya, setiap peserta mengenal sosok Ustaz Musholli. Pembawaan khas ustaz yang acap kali diiringi oleh gurauan menjadi hal yang selalu sulit dilupakan di setiap kajian ustaz. Namun, ada yang lebih sulit dilupakan dari kajian ustaz. Hal itu ialah tentang ajaran kelembutan yang tiada henti-hentinya disampaikan, baik melalui kisah-kisah di zaman rasul maupun apa-apa yang sering kita temui di masa kini.

Ustaz tak pernah lupa mengingatkan setiap peserta betapa pentingnya kelembutan dalam setiap perbuatan dan tauladan dalam setiap ajakan.  "Berbicaralah dari hati ke hati, lawanlah keburukan dengan kebaikan serta kelembutan, sesungguhnya yang menutupi cahaya Islam itu ialah penganutnya yang belum lulus dari mata kuliah kelembutan dan akhlakul karimah" adalah salah satu dari sekian banyak nasihat ustaz yang selalu saya ingat hingga saat ini.

Teladan adalah kata yang juga sangat pantas disematkan pada Ustaz. Saat itu adalah masa-masa sulit bagi institusi Rumah Kepemimpinan. Beberapa donatur dengan beragam sebab memutuskan untuk menarik donasi yang telah bertahun-tahun mereka kucurkan untuk membiayai biaya pembinaan dari peserta Rumah Kepemimpinan di 9 regional di seluruh Indonesia. Ustaz Musholli dengan tanpa berlama-lama langsung memberikan contoh. Ia menjual salah satu rumah yang ia miliki agar setiap peserta tetap mendapatkan haknya dalam hal uang saku yang telah dijanjikan sejak awal mereka berkomitmen menjadi binaan asrama Rumah Kepemimpinan. Ustaz berpesan, apa pun badai yang kita hadapi, tidak boleh sedikit pun menyurutkan semangat kita untuk membangun Indonesia yang bermartabat dan memperoleh kebaikan dari Sang Pencipta. Ustaz juga berujar, bahwa apa yang ia lakukan sesungguhnya masih sangat jauh dengan apa yang dulu dilakukan oleh sahabat rasul pada masanya. Itulah salah satu bukti nyata dari Ustaz Musholli, sang teladan, yang tidak sekali pun kehilangan semangat demi cita-cita mulia yang ia mimpikan.

Bagi saya, Ustaz Musholli adalah sang penerjemah. Ia adalah sosok yang mampu menerjemahkan bahwa benar Islam itu diciptakan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seorang penerjemah, bahwa kelembutan adalah bahasa universal yang Islam tidak sekalipun pernah luput daripadanya. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, "Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan pada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan pada kekerasan dan sifat-sifat lainnya. Sesungguhnya akan tampak indah segala sesuatu yang di dalamnya dihiasi oleh kelembutan, dan akan tampak buruk segala sesuatu yang tidak ada kelembutan padanya". Menurut saya, Ustaz Musholli adalah salah seorang sosok yang mampu menerjemahkan bahasa kelembutan tersebut di mana pun ia berada. Juga, Ustaz menurut saya adalah penerjemah dari betapa pentingnya akhlak dan teladan dalam usaha kita menyontoh seseorang paling baik yang paling dicintai Allah, yakni Rasulullah salallahu wasalam, dalam setiap ajakan dan niatan baik tentang Islam dan kesempurnaannya.

Lagi, jika seseorang bertanya kepada saya, siapakah Ustaz Musholli? Saya akan dengan senang hati menjawab, "Ustaz Musholli adalah seorang penerjemah."

"Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya"

Sumber: https://almanhaj.or.id/3195-berkasih-sayang-dan-lemah-lembut.html
 
Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jul 15, 2017

UaexNyLQBQ0s9zt5681MeKG55IFQylq2.jpg

Secara profesional, beliau adalah alumni dari FMIPA UI, salah satu peneliti terbaik di zamannya. Secara da'awi, beliau salah satu ideologis Islam terbaik yang pernah saya kenal. Orangnya sederhana, penuh dengan mimpi tentang bagaimana menyongsong kepemimpinan Islam di Indonesia dan juga sangat dekat dengan binaannya. Beruntung pernah mengenal beliau.

gambar via instagram.com

Answered Jul 18, 2017
Andika Gies
Psychology University of Indonesia | Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

Ustad Musholli adalah seorang guru yang adil. Beliau selalu mengajak kita untuk berpikir objektif dan adil kepada siapapun. Tidak mudah menghakimi orang lain dengan alasan apapun. Keadilan berfikirnya ini membuat ia terlihat sangat bijaksana dalam menyikapi masalah. Ia selalu punya sudut pandang lain dalam menyikapi masalah meskipun masalah tersebut sangat keruh sekalipun.

Tidak pernah merasa pintar dari yang lain adalah watak yang juga beliau teladankan. Selalu terbuka ruang diskusi saat berinteraksi sama beliau. Beliau sangat lihai menghargai pendapat orang lain, meskipun terkadang berbeda dengan pendapat beliau. Namun, beliau tak pernah merasa tersinggung akan hal itu, justru disanalah beliau menunjukkan betapa terbukanya cara pikir beliau dalam mendengarkan pendapat orang lain.

Kemudian, beliau juga seorang yang seimbang antara perbuatan dan perkataannya. Sosok beliau selalu membuktikan dalam perbuatan apa yang beliau sampaikan. ini terbukti betapa beliau berjuang dalam mendirikan Yayasan Nurul Fikri.

Semoga akan banyak orang-orang seperti beliau lahir di bumi pertiwi ini dimasa akan datang.

#JawabankuJuli2017

Answered Jul 20, 2017
Rumah Kepemimpinan
Beasiswa Pemimpin Indonesia | Institusi Strategis Milik Bangsa

H5WS8_bdr_mG8uCYULmJvsmdnRQOu6Xw.jpg

Jejak Drs. H. Musholli: Kiai Tanpa Pesantren

Kuntowijoyo pernah menengarai fenomena “Muslim tanpa masjid”. Maksudnya, gejala warga Muslim yang tidak teridentifikasi sebagai pengikut mazhab tertentu atau tergabung dalam organisasi keislaman formal. Soalnya, masjid dalam dinamika sosial sering diidentikkan sebagai tempat berkumpul dan beribadah dari kelompok tertentu di kalangan kaum Muslimin. Masjid telah bergeser dari prinsip semula sebagai tempat berkumpul seluruh kaum yang bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. 

Akibatnya, ada komunitas Muslim yang tak tertampung di masjid secara formal dan memilih untuk berkiprah di “luar masjid”, karena toh –menurut pandangannya-- seluruh dunia ini diciptakan Allah sebagai tempat beribadah. Bukankah itu berarti seluruh permukaan bumi ini adalah “tempat bersujud” kepada Allah Swt? Tidak hanya bangunan masjid. Karena itu, jangan batasi keislaman dan ketaqwaan seseorang hanya dalam lingkungan masjid secara fisik.

Fenomena serupa mungkin terjadi dalam dunia pendidikan dan pembinaan generasi baru. Yakni, adanya guru (Kiai) tanpa sekolah formal (Pesantren). Karena seluruh lingkungan di sekitar kita pada hakikatnya adalah tempat belajar, sehingga kita tidak perlu membatasi ruang belajar dengan kelas atau pondok tertentu. Julukan “Kiai Tanpa Pesantren” itu sangat tepat untuk menggambarkan sosok Drs. H. Musholli, Pendiri Rumah Kepemimpinan.

Secara akademik, H. Musholli adalah sarjana fisika lulusan Fakultas MIPA Universitas Indonesia. Namun secara otodidak, ahli fisika nuklir itu belajar pengetahuan Islam klasik dan kontemporer. Latar belakang keluarganya yang merupakan pertemuan antara tradisi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menyediakan lingkungan kondusif untuk thalabul ilmi secara terbuka. Pembentukan karakter juga diwarisi dari kakeknya, K.H. Tanbih yang merupakan salah seorang tokoh ulama di Bekasi, sezaman dengan K.H. Noer Ali (pahlawan nasional pendiri Laskar Hizbullah di masa kemerdekaan RI).

Ketika belajar di kampus UI, Musholli aktif di Masjid Arief Rahman Hakim (ARH). Di masjid legendaris itu (yang menjadi ujung tombak perjuangan Gerakan Mahasiswa 1966), Musholli berkenalan dengan tokoh pembaharu Muslim seperti Mohammad Natsir, H.M. Rasyidi, Osman Raliby dan Deliar Noer, termasuk Jenderal Abdul Haris Nasution. Interaksi dengan tokoh-tokoh nasional telah melecut jiwa militansi dan membentuk integritas serta kepribadian sederhana. Kesederhanaan yang dipertahankannya hingga kini tanpa polesan citra. Secara humoris, Musholli acap berujar: “Saya tak sempat meng-upgrade pendidikan formal karena sibuk di universitas kehidupan dan fakultas peradaban.” Titel yang dikejarnya adalah husnul khatimah, bukan sekadar gelar kesarjanaan yang fana.

Ayah enam anak dan kakek dari enam cucu itu sebenarnya mampu untuk melanjutkan pendidikan formal setinggi apapun. Saat bekerja di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Musholli sempat mengikuti studi banding ke Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA) di India dan Kanada. Pengalaman di dua negara yang berbeda budaya dan tingkat perkembangan teknologi itu mengajarkan urgensi pembinaan sumber daya insani. Daripada menghabiskan waktu untuk memoles diri, sosok Musholli memilih untuk menjadi orangtua dan guru spiritual bagi 270 Peserta dan 1045 Alumni RK. Waktunya habis untuk membina generasi baru.

Warisan utama Musholli adalah konsep “ROOM PK” (Rendah hati, Open mind, Obyektif, Moderat dan Prestatif-Kontributif). Rendah hati, yakni merasa diri selalu berkekurangan (stay foolish stay hungry) terutama dalam hal ilmu dan amal kebajikan, sehingga tidak arogan dan merendahkan potensi orang lain. Open mind, artinya berpikir terbuka; sebagaimana parasut, maka akal-pikiran hanya akan berfungsi/efektif jika terbuka. Sebaliknya, pemikiran yang tertutup akan menjerumuskan seseorang pada kejumudan dan kemunduran. 

Obyektif, memandang segala sesuatu sesuai dengan realitas dan fakta yang ada, bukan bersifat subyektif atau berlandaskan egoisme personal/sektoral. Moderat, bersikap adil dan seimbang dalam segala hal; tidak terjebak pada ekstremitas dan memaksakan kehendak. Sementara Prestatif-Kontributif berorientasi pada kerja yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan siap berkorban untuk mencapai tujuan luhur.

Nilai dasar RK itu bukan hanya diceramahkan, didiskusikan dan ditanamkan dalam jiwa seluruh Peserta dan Alumni RK, melainkan harus dibiasakan dan diberi contoh teladan oleh para Pengurus dan Pimpinan lembaga. Gurunda Musholli adalah teladan hidup bagi sikap kerendah-hatian, keterbukaan, obyektivitas dan sikap pertengahan. Mungkin bukan kategori prestatif dan kontributif seperti dimaknai generasi muda sekarang. Musholli mencontohkan prestasi kebajikan dengan kontribusi berkesinambungan, sehingga Dompet Dhuafa pernah memberikan Award tahun 2012 sebagai Tokoh Inspiratif bidang pendidikan. 

Jasa Musholli disebut sebagai pendiri PPSDMS NF dan salah seorang penggagas Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang telah merakit jaringan luas (2000-an sekolah di seluruh Indonesia) tidak diragukan. Ia nyaris menolak penghargaan Dompet Dhuafa itu, karena merasa tidak pernah bekerja sendirian. Saat mendirikan PPSDMS NF, Musholli dibantu oleh lima aktivis muda. Selain itu, saat pengembangan organisasi didukung oleh tokoh-tokoh senior: Laksamana (Purn) Hussein Ibrahim (pimpinan Sekolah Taruna Nusantara), Kemal Azis Stamboel (pakar manajemen SDM), Arief T. Surowidjojo (corporate lawyer terkemuka), Bakhtiar Rakhman atau Farid Rahman.

Apalagi, ia merasa belum pantas disandingkan bersama Prof. Dr. dr. Hasbullah Thabrani (ilmuwan pendorong Sistem Jaminan Sosial Nasional), Iwan Abdurrahman (musisi berjiwa lingkungan hidup), Komunitas Tangan di Atas (TDA) yang menggelorakan spirit wirausaha di kalangan warga, Prof. Sajogyo (pionir dalam konsep garis kemiskinan), Prof. Sofyan Syafri Harahap (pendidikan berbasis ekonomi syariah), dan Dahlan Iskan (pendorong reformasi BUMN). 
Musholli menjadi inspirasi di bidang pendidikan,...(more)

Answered Aug 15, 2017
Ermas IL
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor

1. Guru besar spiritual keIslaman yang kekinian dan kedisinian.
2. Kiai tanpa pesantren yang menjunjung tinggi nilai - nilai rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif, dan kontributif. 
3. Seorang teladan mutlak yang tidak perlu diragukan kembali sikap kepemimpinannya.
4. Pemimpin besar revolusi industri minat bakat dan pengembangan karakter mahasiswa.
5. Investor terbesar kebaikan melalui program pengembangan sumberdaya manusia strategis.

Answered Nov 7, 2017

Question Overview


and 5 more
23 Followers
4993 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Siapa Mar'ie Muhammad?

Siapa Seno Gumira Ajidarma?

Siapa Gaffari Ramadhan?

Siapa Fithra Faisal Hastiadi?

Siapa Edho Mahendra?

Siapa Bane Raja Manalu?

Siapa Ronny P Sasmita?

Siapa Pramudya Oktavinanda?

Siapa Hasan Nasbi Batupahat?

Apa definisi dokter yang sukses menurut Anda?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

Siapa Ma Isa Lombu, Pendiri dan CBDO Selasar?

Siapa Arief Munandar?

Siapa Es Ito?

Siapa Afdhal Mahatta, alumnus FHUI?

Siapa Anies Rasyid Baswedan?

Siapa Fauzi Bowo?

Siapa Sandiaga Uno?

Siapa Sutiyoso?

Apa itu Rumah Kepemimpinan? Apa saja program dan kegiatannya?

Kenapa Selasar akhir-akhir ini mengunggah tulisan para peserta Rumah Kepemimpinan?

Mengapa anda memilih Rumah Kepemimpinan sebagai tempat menimba ilmu, berproses, dan menginfakkan diri dalam lingkaran yang disebut keluarga?

Bagaimana Anda memaknai tujuan kehidupan?

Siapa orang yang selalu menyemangati hidup Anda?

Apa saja hukum-hukum fisika yang penting tapi tidak banyak diketahui orang lain?

Bagaimana cara yang masih dapat dilakukan manusia untuk memanfaatkan energi yang dikeluarkan oleh matahari?

Bagaimana cara kamu mengatasi kesedihan?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Psikologi?

Apakah pendidikan anti korupsi sejak dini itu penting? Mengapa?

Apakah Anda tahu bahaya dari korupsi?

Bagaimana cara agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu?

Apa yang membuat seseorang kurang disukai?

Apakah seseorang yang mempunyai kepribadian introvert bisa berubah menjadi seseorang yang berkepribadian ekstrovert?

Peristiwa besar apa yang dimulai dari kehidupan di kampus?

Apakah tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa LPDP?

Apa beasiswa yang terbaik di Indonesia saat ini?

Universitas apa yang paling indah di dunia?

Apa itu kampus Ivy League dan seberapa prestisius berkuliah di sana?

Apa tips mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri?

Apa tips mendapatkan beasiswa Chevening (Pemerintah Inggris)?

Apa tips mendapatkan beasiswa kuliah di DAAD (Pemerintah Jerman)?

Apa tips mendapatkan beasiswa DAAD (Pemerintah Jerman)?

Apa tips mendapatkan beasiswa AAS (Australia Awards Scholarships)?

Mengapa kuliah di Jepang begitu menarik dan prestisius?

Apa itu Rumah Kepemimpinan?

Apakah pemimpin itu dibentuk atau dilahirkan?

Seberapa besar pengaruh olahraga terhadap kemampuan memimpin seseorang?

Apa saja cara seorang pemimpin memotivasi tim yang sedang demotivasi karena performa organisasi yang buruk?

Apa saja karakteristik dari pemimpin/CEO yang buruk?

Apa kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin negara?

Siapa CEO terbaik Indonesia saat ini?

Kenapa CEO sekelas Emirsyah Satar yang bergaji besar masih tergoda melakukan korupsi?

Bagaimana kinerja KPK di bawah Abraham Samad dan apa prestasi yang menonjol di bawah kepemimpinannya?

Bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik?

Menurut Anda, bagaimana cara yang paling ampuh dan komprehensif untuk memberantas korupsi di Indonesia?

Menurut Anda, seperti apa profil kepemimpinan Indonesia di masa mendatang?