selasar-loader

Benarkah Bapak Jokowi pemimpin terbaik se-Asia dan Australia?

Last Updated Jan 7, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes

WXOw7EKsJG6POOG_cnTIXEuNk2AAO5pn.jpg

Belum lama ini Bloomberg menulis artikel yang bertajuk “Who's Had the Worst Year? How Asian Leaders Fared in 2016”.  

Dalam artikel itu, ada 3 hal yang dilihat: nilai tukar, pertumbuhan ekonomi dan tingkat keberterimaan. Salah satu yang patut kita syukuri adalah diantara negara-negara yang terburuk, Indonesia berhasil mencuat sebagai yang terbaik. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Jepang, Cina, Australia, India, Korea selatan dan Filipina dimasukkan kedalam daftar di artikel tersebut.

Saya kurang paham bagaimana negara-negara ini dipilih, tetapi jika merujuk pada judul artikel, mungkin negara negara ini lah yang dianggap berkinerja paling buruk sepanjang tahun 2016, dan Indonesia untungnya merupakan yang terbaik dari yang terburuk.

Sekali lagi, mari kita syukuri.

Tentu kinerja baik Indonesia diantara negara-negara tersebut merupakan buah dari kerja keras pemerintah sepanjang tahun 2016 ini. Pemerintah, telah bekerja keras, bahkan sangat keras. Kerja keras pemerintah ini tentu kita perlu berikan apresiasi yang tinggi. Diantara pelbagai tantangan internal dan eksternal yang mendera sepanjang tahun 2016, pencapaian ini merupakan sebuah oase yang menyegarkan.

Tetapi tentu kita tidak boleh menelan pujian tersebut mentah-mentah. Sejumlah tantangan masih mendera ke depan. Bahkan jika kita melihat data pertumbuhan ekonomi saja, saya kira Bloomberg seharusnya memberikan warna merah alih-alih hijau.

Jika data yang dibandingkan Bloomberg adalah pencapaian pertumbuhan ekonomi di kuartal ke 3, maka dibandingkan kuartal ke 2 tahun 2016 malah turun dari sebelumnya tumbuh hingga 5.18 persen ke 5.02 persen. Dibandingkan Filipina yang meningkat dan Cina yang stagnan, Indonesia jelas bukan yang terbaik. 

Bagaimana dengan nilai tukar?  Alih-alih melihat tren apresiasi, seharusnya Bloomberg lebih melihat volatilitasnya. Apresiasi atau depresiasi berlebihan (volatilitas tinggi) justru buruk untuk negara yang bersangkutan, Karena segala proyeksi bisnis dan ekonomi akan terganggu, neraca perdagangan pun juga akan ikut-ikutan bergerak tak menentu. Akibatnya, industri tidak bisa berkembang dengan baik.

Jika melihat data yang dipaparkan Bloomberg, maka seharusnya Australia lah yang memiliki kinerja paling baik diantara negara-negara yang ditampilkan, mengingat perubahan mata uangnya hanya 1.03 persen. Memasukkan Cina dalam daftar Analisa perubahan nilai tukar saya rasa juga kurang tepat. Kenapa? Karena Cina masih menganut rezim nilai tukar tetap yang jelas tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan negara-negara dalam daftar yang memiliki rezim nilai tukar yang berbeda.

Dari sini jelas Indonesia juga bukan yang terbaik.

Sementara itu dari sisi keberterimaan (approval rating), jelas Presiden Duterte adalah Presiden dengan tingkat keberterimaan yang paling baik diantara negara-negara dalam daftar tersebut.

Sehingga dari sini bisa kita lihat, Indonesia jelas bukan yang terbaik

Saya tidak mengerti kenapa hanya 3 hal tersebut yang dijadikan ukuran. Jika memasukkan variabel lain, maka jelas pekerjaan rumah Indonesia semakin banyak. Jika memasukkan peringkat Global Competitiveness Index, Indonesia malah mengalami penurunan dari posisi sebelumnya ditahun 2015 (peringkat 34 ke 37).

Dibandingkan negara-negara dalam daftar seperti Cina (28 ke 28), India (71 ke 55), Australia (22 ke 21), Malaysia (20 ke 18), Jepang (6 ke 6), Korea Selatan (26 ke 26) dan bahkan Filipina (52 ke 47), Indonesia jelas bukan yang terbaik. 

Lebih lanjut, secara institusi Indonesia dibayangi oleh korupsi dan etika buruk badan usaha pemerintah dalam hal menjalankan bisnis. Dengan melihat World Governance Indicator (WGI), kinerja Indonesia dibandingkan beberapa negara di Asia Pasifik masuk dalam kategori buruk.

Fakta ini merupakan sebuah hal yang cukup mengkhawatirkan mengingat Indonesia dianugerahi sumber daya yang melimpah namun belum ditopang oleh kualitas tata kelola yang memadai. Secara teknis, WGI berada dalam rentang nilai minus (-) 2,5 (paling buruk) hingga positif (+) 2,5 (paling baik).

Beberapa diantara indikator yang memburuk adalah supremasi hukum (-0.42), efektifitas pemerintah (-0.22), serta kualitas regulasi (-0.21) dibanding -0.35, -0.01 dan -0.1 secara berturut-turut di tahun 2014. 

Dari sisi infrastruktur pun tidak kalah mengkhawatirkan mengingat peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia yang mengalami penurunan peringkat yang cukup signifikan dibanding tahun 2014 (53 ke 63). Penurunan peringkat ini jelas kalah dibandingkan dengan Cina (dari 28 ke 27) dan India (54 ke 35) yang mengalami kenaikan posisi. 

Tantangan berikutnya adalah mengenai tenaga kerja. Meski terjadi perluasan ekonomi dan kerja, kondisi lapangan kerja informal, yang kerapkali dikenal sebagai pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang rendah serta kegiatan kerja yang tidak aman, belum mengalami perubahan. Kesempatan kerja bagi kaum muda (usia 15-24) pun masih belum berkembang.  

Dari data yang ada, memang pengangguran di Indonesia telah mencapai angka yang cukup baik (5.81 % dan 5,5% ditahun 2015 dan 2016). Tetapi, jika kita melihat kontribusi pekerja keluarga yang tidak dibayar, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pekerja keluarga yang cukup signifikan (17% dari total pekerja) dibanding dengan Jerman (0,6% dari total pekerja) atau bahkan negara tetangga seperti Singapura (0,6% dari total pekerja),  Malaysia (4,4% dari total pekerja) dan Filipina (12% dari total pekerja).

Hal ini menunjukkan bahwa masih cukup banyak pekerja di Indonesia yang belum dibayar secara layak.  

Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Kemenaker sebenarnya telah berusaha untuk meningkatkan porsi pembinaan kepada para pencari kerja, namun anggaran yang belum memadai merupakan salah satu hambatan terbesar.

Di Jerman, Federal Employment Agency memiliki anggaran yang besar sehingga bisa didukung oleh 133.000 orang untuk pusat pelatihan tenaga kerja. Ini merupakan sebuah angka yang sangat besar apabila dibandingkan dengan 1.206 orang yang di tempatkan pada...(more)

Answered Jan 7, 2017

Question Overview


2 Followers
1526 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apa itu Jokowinomics?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan SBY?

Siapa sajakah orang kepercayaan Jokowi di istana?

Bagaimana sebenarnya bisnis meubel Jokowi di Solo?

Bagaimana hubungan Jokowi dan Megawati?

Apa arah kebijakan luar negeri pemerintahan Jokowi?

Bagaimana pandangan Anda mengenai struktur kabinet Jokowi 2014-2019?

Apa yang membuat Jokowi begitu kuat dan disegani lawan politiknya?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Mengapa proyek listrik nasional menjadi proyek yang sangat penting bagi Indonesia?

Mengapa harga gas di Indonesia harus turun? Mengapa pula ia sulit untuk turun?

Mengapa bentuk koperasi kurang populer sebagai moda ekonomi alternatif di Indonesia?

Dana haji mau digunakan untuk biayai proyek infrastruktur, apakah ini pertanda negara ini sudah bangkrut?

Apakah Indonesia masih berutang kepada IMF?

Apa yang kamu ketahui tentang sharing economy?

Apa pendapat Anda mengenai teleworking?

Menurut Anda, apa yang paling berkuasa; ekonomi, politik, atau hukum?

Menurut Anda, apa arti kemerdekaan?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?