selasar-loader

Siapa Es Ito?

Last Updated Jan 5, 2017

5 answers

Sort by Date | Votes

Hasil gambar untuk es ito

Seorang tamatan SMA Taruna Nusantara dan berkecimpung dengan segala aktivitas pergerakan mahasiswa di Universitas Indonesia. Seorang yang berpikir bebas, punya kreativitas tak terbatas, ide ide gila, dan liar lengkap dengan visualisasi 3 dimensi di pikirannya.

Kadang seperti manusia yang pernah hidup di masa lalu, karena setiap menceritakan kisah sejarah, seperti pernah hadir dalam ruang dan waktu tersebut, sangat detail dari berbagai perspektif pelaku sejarah. Semangatnya berkobar-kobar dibakar romansa sejarah. Tidak heran karyanya Negara Kelima dan Rahasia Mede menjadi favorit banyak orang yang tergila-gila dengan sejarah. Walau kadang seperti kombinasi fakta dan sedikit bumbu imajinasi.

 

Ilustrasi via thejakartapost.com

Answered Jan 6, 2017
teguh usis
Penyaksi pertemuan, penikmat bacaan

PK6OkRlVXzFmaudFfF6ATXmbwfNBLGbA.jpg

(ES Ito sedang memandu Tur Rahasia Meede di Kota Tua, Jakarta/ Foto: Ari/ Flickr)

Pertama kali mengenal Es Ito dari novelnya NEGARA KELIMA. Saya terkesima dengan novel ini lantaran kelindan kisahnya yang menurut saya tak biasa untuk ukuran novel di Indonesia. Kisah misteri ihwal Benua Atlantis diramu dengan canggih oleh Es Ito.

Lama tak terdengar kabarnya, tetiba Indra Piliang kontak saya. Dia berkata bahwa Ito sedang menyiapkan sebuah novel yang jauh lebih dahsyat ketimbang Negara Kelima.

Akhirnya, novel kedua yang ditunggu-tunggu itu pun muncul pada September 2007. Saya pun langsung mencarinya di Gramedia. 

Dan, betul kata IJP. Menggelar isinya. Misteri penemuan harta karun VOC dibahas Es Ito dengan amat canggih. Risetnya pun mendalam.

Luar biasa anak ini, pikir saya. Lalu, saya pun segera membuat resensinya, untuk dikirim ke Koran Tempo. Dan, dimuat.

Tak lama setelah resensi novel itu dimuat Koran Tempo, ada yang menghubungi saya untuk meminta berjumpa. Orang itu namanya Miftah Sabri. Dia mengaku sebagai temannya Ito. 

Singkat kata, berjumlah kami di sebuah kafe di kantor saya. Tapi yang lebih banyak bicara ya si Kudun (Miftah). Ito sesekali saja menimpali.

Tapi, dari perjumpaan itu, saya merasa makin mengenal Ito. Dia lulusan SMA Taruna Nusantara. Lalu kuliah di FE-UI, walau memutuskan untuk meninggalkannya sebelum mengantungi ijazah sarjana. Dia putra Minang asli, yang menjunjung amat tinggi silsilah & budaya Minang. 

Sejak itulah saya makin intens berhubungan dengan Ito. Menyerap banyak ilmu darinya. Utamanya soal tulis-menulis. Bagi saya, Ito memang seorang penulis yang hebat. 

Pada Rahasia Meede, Ito menabalkan dirinya tak kalah dari Dan Brown, penulis Dan Vinci Code. Untuk urusan pilihan diksi dan meramu cerita dalam novel itu, saya menyanjung Ito sebagai Pramoedya Anaknya Toer muda. Mungkin berlebihan pujian saya untuk Ito ini. Tapi saya percaya bahwa kemampuannya sekaliber itu.

Selain 2 novel itu, ada satu tulisan di blog pribadinya yang saya ingat sampai kini: "Tuan Goen Yang Menulis dari Pinggiran". Ini sebuah satire kelas atas yang menyindir seorang sastrawan terkemuka Tanah Air, yang mendukung seorang calon wapres pada Pilpres 2009 lalu.

Cuma sayangnya Es Ito ini memang seorang seniman. Hidupnya penuh dengan gejolak. Sikapnya yang moody kerap mempengaruhi keinginannya. Ketika dia sedang menyiapkan novel ketiganya tentang perang candu di Kamang, Sumatera Barat, mood-nya pun hilang. Sampai kini pun entah bagaimana nasib novelnya itu.

(Oh iya. Es Ito juga konon adalah salah satu penulis pidato favoritnya pak JK. Hehe)

 

Answered Jan 9, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

Lahir 1981. Ibunya Petani. Ayahnya Pedagang. 

Dia lahir 21 Juni pada tanggal yang sama dengan Presiden Joko Widodo. Tanggal yang sama dengan meninggalnya Ir Sukarno Presiden Republik Indonesia yang pertama. Jokowi lahir 1961 Sukarno meninggal 1970. 

Ayahnya Es Ito, Kakek Saya dan Ki Hajar Dewantara memiliki nama yang sama: Suardi. Kami berjalan bersama selama 15 tahun, hampir menghampiri. Dan tak hendak saling menyebut kata berpisah. Dia tak punya adik laki laki saya tak punya kakak laki laki. Dulu dia singkek sungu, parabo (pemarah), sumbu pendek. Namun sekarang dia sumbunya tak bertepi, penyabar, dan penyayang. 

Ito adalah anak muda yang sudah tua sejak lahir. Dia mewakili tokoh sejarah yang hidup di masa sekarang. Kemampuannya mengolah kata bukan lagi kelas penulis novel biasa, penyair, atau pujangga. Dia adalah perapal mantra. Jika kita membaca tulisannya maka kita seperti membaca mantra mantra. Jika kita membaca Harry Potter, Ito diklasifikasikan ke dalam kelompok Penyihir Baik dengan kemampuan rapal mantera mampu mengalahkan penyihir hitam seantero dunia Sihir. Penggambaran yang pas untuk Ito adalah Severus Snape. Ya, yang hanya akan mampu difahami sidang pembaca pada bagian novel ketujuh.

Dia moderator pemilihan Ketua IMAMI saat saya terpilih. Itu hari pertama kami bertemu, dan sampai saat ini kita selalu berjalan bersama. Menyusuri pekatnya malam, dinginnya pagi, teriknya panas Ibu Kota ini. 

Belakangan Ia suka mengeluh pada saya, Ia ingin pulang kampung saja. Jakarta tidak cocok untuknya katanya. Sekarang juga sudah sering pulang kampung. Dia bilang pada saya minggu lalu, sembari menasehati saya (ini nasehat rahasia), dia mau berkebudayaan saja. Ranah Id tempat dia memunculkan percikan percikan pemikiran kebudayaan. Yang tidak saya duga dari Ito adalah ketika dia menggunakan nama aslinya di Selasar. Eddri Sumitra. Apa ini simbol dia kembali ke jati diri aslinya? Saya belum sempat tanya tanya. Namun dia tulis keterangan: Jika Saya mengenakan nama Es Ito berarti saya sedang menjadi "Fake Historian". Apa pula ini. Es Ito inilah satu satunya orang yang mengerti jalan fikiran saya. 

***

Suatu magrib di sebuah rumah paling ujung jalan yang mentok ke Bukit Barisan di Nagari Kamang Agam Sumatera Barat. Seorang sersan bintara babinsa mengetuk rumah itu. Babinsa itu mengabarkan "Mana Si Ed, berangkat ke Padang malam ini juga, untuk segera berangkat ke Magelang". 

Tadinya Eddri Sumitra remaja dinyatakan tidak lulus. Tapi entah ada apa yang terjadi kala itu. Ia akhirnya diterima menjadi mahasiswa di sekolah idaman seluruh anak SMP seluruh Indonesia saat itu. Tahunnya 1996. Suharto di puncak kekuasaan. 

***

Dari dia di bangku kuliah kemudian hari saya mendapatkan cerita tentang betapa sedapnya menjadi siswa di SMA itu. Saya gagal masuk sekolah itu di tingkat provinsi sebagaimana diceritakan cukup detail oleh Dokter Sheena Angelia di tulisannya sebelumnya di Selasar. Sheena adalah teman dari SD dan SMP yang masuk SMA Taruna Nusantara.Itulah kegagalan pertama yang saya rasakan dalam hidup saya. Kegagalan yang mengajarkan saya bagaimana cara bangkit! haha

Teruslah berkarya Itonesia. Indonesia Rindu Novel Ketiga Anda!

Ito bisa dihubungi di itonesia@gmail.com itu email khusus fake historian!

Salam

Answered Jan 9, 2017
Dzinnun Almisri
Cireboy dan Fake Ornitolog

Pemuda kidal, namun tangan kanannya pun sama aktifnya karena dari kecil dilatih untuk menulis dan makan. Lelaki penyayang keluarga namun belum berkeluarga. Sama-sama cair dan tajam antara tulisan dan lisan. Sebagai seorang kiri dari lahir pikirannya yang liar pandai membuat satir. Tidak memiliki satupun hobi yang ditekuni. Dia magnet bagi manusia lain, baik kaum Adam maupun Hawa. Rumah dan kantornya tempat kawan-kawannya memunculkan muka aslinya.

Raut muka sekilas bukan seperti muka orang minang. Perokok aktif yang setia dengan Djarum Super. Pemuda minang yang tak pandai pembukuan uang namun sempat kuliah 9/10 semester di Akuntansi FEB-UI. Pantang bagi dia meminta-minta dan mengemis-ngemis pada sesiapa. Malah tangannya berderma kemana-mana. 

Answered Jan 10, 2017
Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

U4FAzxF_9BzaC9yh6h-opIlGFLshJ0Te.jpg

Bang Ed. Itu panggilan hormat saya padanya. Senior di kampus FEUI.

Perkenalan pertama kali saya dengan Es Ito sudah belasan tahun lalu. Kala itu sebagai mahasiswa baru FEUI saya cukup terkesima dengan pergerakan mahasiswa, sebenarnya sudah lama, tepatnya sejak terbunuhnya mahasiswa UI tahun 1998. 

Saya yang tadinya berharap bisa jadi tentara, memutuskan pindah jalur jadi 100% sipil. 

Niat sekolah menengah di Taruna Nusantara, yang katanya gagah, jadi sama sekali tidak menarik untuk si Isa kecil. Akhirnya di detik tertembaknya mahasiswa UI kala itu, saya memutuskan untuk menjadi bagian daripadanya. Keluarga besar jaket kuning. Kala itu saya masih duduk di bangku SMP. Kelas 1.

Siang itu, selepas shalat Zuhur di masjid ARH UI salemba, beberapa mahasiswa yang mengikuti salah satu demonstrasi menentang kebijakan pemerintah, mengelompok berdasarkan fakultasnya masing-masing, secara kultural. Dengan jelas saya melihat muka senior-senior yang mengarahkan ini dan itu. Dengan jaket kuning dan emblem pergerakan yang dipamerkannya. Entah untuk tujuan apa.

Tiba-tiba ada seorang datang. Badanya besar. Jelas mahasiswa tua. Rambutnya gondrong sebahu. Mukanya hitam legam terbakar matahari. Pada awalnya saya bingung, siapa dia. Jelas bukan mahasiswa UI karena tidak ada jaket kuning padanya. 

Saya pikir dia tukang gorengan yang sering mangkal di masjid ARH UI setiap harinya.

Tidak disangka, seketika dia dukuk, bersila. 

Tanpa basa-basi ia langsung bicara. Ia mengarahkan strategi gerakan pada senior-senior yang sudah duduk lebih dulu. Entah apa yang ia bicarakan. Para senior pun menanggapinya juga dengan bahasa yang tidak mudah saya mengerti. Maklum saya mahasiswa baru yang belum mengerti apa-apa. 

Saya dengarkan dengan seksama. Suaranya tinggi tapi serak. 

Setiap mahasiswa baru yang mendengarkan ucapannya, saya pikir juga yakin bahwa si tukang gorengan ini adalah “siapa-siapa”. Entah di mana. Entah sebagai apa.

Konten ucapannya pun jauh dari tukang gorengan. Cerdas dan berisi sudah pasti.

Tidak lama, kemudian ia diam. Pergi. Entah ke mana. 

Dengan rasa penasaran, saya kemudian tanya kepada senior yang beremblem banyak, "siapa itu bang?” “Oh Eddri, dia mantan ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FEUI”, jawabnya singkat.

Rasa penasaran tentu masih ada. Pekan depannya ketika masuk kampus, terus terang saya mencari info tentang tukang gorengan yang satu ini. Eddri Sumitra ternyata anak 99 akuntansi asal SMA Taruna Nusantara. Sebuah sekolah yang dahulu sangat saya hindari.

Meskipun demikian, sudah jadi rahasia umum di UI bahwa ketika ada mahasiswa yang akuntansi, terlebih berasal dari Taruna Nusantara, pasti bukan orang sembarangan. Bukan capaian setiap orang. Saya yakin ia istimewa. 

Eddri kala itu hadir dalam pergunjingan banyak mahasiswa FEUI, meski fisiknya entah ada di mana. 

Eddri menjadi sangat terkenal di kampus kala (katanya) ia ingin membubarkan program Jazz Goes to Campus (JGTC), sebuah acara jazz mahasiswa terbesar di dunia yang menjadi ikon FEUI selama beberapa dekade. Entah karena alasan apa, yang jelas ia berani. 

Kabar beredar, Eddri mengancam untuk membubarkan JGTC karena kepanitiaan ini sudah terlalu jumawa. Merasa di atas angin. Merasa di atas konstitusi mahasiswa FEUI. Jelas ia tidak suka. Terlepas dari kedudukannya kala itu ketua lembaga yang berusaha menjaga konstitusi mahasiswa, Eddri jelas menganggap kejumawaan tersebut sebagai sebuah kebodohan. Kebodohan yang harus dihapuskan. Dihilangkan sampai akar-akarnya. Agar ia tidak menular. Membodohi mahasiswa FEUI lain. Mahasiswa yang katanya paling sial jadi menteri. 

Eddri kala itu, disegani lawan, dikagumi kawan.

Sampai akhirnya berkenalanlah saya dengan Bang Ed dalam sebuah pertemuan. Saya lupa pertemuan apa dan membahas tentang apa, yang jelas buat mahasiswa baru macam saya, sosok Bang Ed tetap layak untuk dikagumi. Kemampuan bicara dan tulisannya sama-sama tajam. Sama-sama memukau. Sama-sama mencerahkan.

Setiap orang di kampus tahu dia cerdas, suka baca dan berani. Setiap orang di kampus juga sadar ia salah jurusan. 

Akuntansi FEUI jelas bukan untuknya. Entah jurusan apa yang cocok untuknya. Yang jelas, ketika ia ditanya satu hal, ia akan menceritakannya dengan panjang lebar, dibumbui unsur sejarah, tafsir politik, konspirasi dan hal-hal yang tidak kita duga-duga. Dari Tan Malaka sampai Hatta. Apapun. Benar, apapun. Dia akan jawab dengan sangat memuaskan.

Kini setiap orang mengenal Es Ito sebagai sastrawan, penulis novel sejarah dan politik. 

Saya baca semua karyanya. Saya yakin, setiap orang yang pernah membaca Rahasia Meede dan Negara Kelima tentu menantikan karya-karyanya yang lain. 

Karya-karya yang mengguncang Indonesia. Karya-karya yang mencerahkan. Karya-karya yang memantik para pembacanya untuk tetap menjadi seorang yang progresif. Revolusioner!

Answered Jan 10, 2017