selasar-loader

Bagaimana nasib industri televisi di tahun-tahun mendatang?

Last Updated Jan 5, 2017

1 answer

Sort by Date | Votes
teguh usis
televisi | broadcaster | jurnalis | sedikit mau juga bahas politik

u9z87kjOwKD31bocTY3cjkzXbJo3AS50.jpg

Beberapa waktu lalu terjadi kehebohan soal "senjakala media cetak". Masyarakat beralih dari membaca koran ke membaca gadget (smartphone). Lalu, akankah televisi bakal mengalami nasib yang sama dengan koran? Sebuah lontaran pertanyaan yang amat menarik, mengingat TV pernah menjadi salah satu penemuan terpenting umat manusia sepanjang masa. 

Tak mudah menjawab pertanyaan  bagaimana nasib industri TV di masa depan. Banyak parameter yang harus dilihat. Guliran perubahan regulasi dari TV analog menjadi TV digital saja sudah membuat banyak pihak terhenyak. Bayangkan jika nanti era digital TV sudah resmi diberlakukan, akan ada nyaris 100 lembaga penyiaran swasta yang akan menempati sejumlah kanal multipleksing

Belum lagi jika kita bicara soal era digital secara menyeluruh. Generasi yang sekarang kian banyak berserakan adalah Generasi Internet alias Gen Net. Begitu Don Tapscott dalam bukunya Grown Up Digital menyebut mereka lahir dari tahun Januari 1977 hingga Desember 1997. Izinkan saya mengubah istilah Gen Net ini menjadi GenDig alias Generasi Digital.

Jika generasi sebelumnya, yakni Generasi Baby Boomers dan Generasi X, menjadikan TV sebagai hal ajaib dalam hidup mereka, maka GenDig ini menjadikan internet sebagai pegangan hidup. Jadi, amat wajar bila di AS, umpamanya, kini terjadi peralihan habit warganya dalam mengonsumsi siaran TV dari horizontal screen (layar TV) ke vertical screen (layar smartphone).

Itu pula yang terjadi di Eropa, seperti yang ditunjukkan dari hasil riset Reuters Institute for the Study of Journalism. Di Inggris, anak muda yang menonton TV jumlahnya terus menurun. Orang berusia 16--24 tahun, waktu yang mereka pakai untuk menonton TV turun 29%. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu menonton media berbasis internet.

Bagaimana kondisinya di Indonesia? Survei Nielsen 2015 lalu, consumer media view melalui TV angkanya 96 %, naik 2 % dari tahun 2014. Melalui internet sebesar 38%. Memang masih jauh dibandingkan TV. Tapi, 38 persen itu naik 100 % dari data 2014 yang sebesar 19℅.  Suatu bukti bahwa konsumsi media internet terus meningkat. Hal yang wajar jika mengacu dari populasi penduduk Indonesia hasil sensus 2010 lalu, di mana jumlah penduduk usia sampai dengan 24 tahun mencapai 46%. Mereka adalah para GenDig itu.

Kondisi ini tentu harus disikapi para pengelola TV agar berevolusi memenuhi keinginan GenDig. Program TV yang bisa memenuhi selera para GenDig inilah yang harus disuguhkan bagi mereka.

Namun, sejatinya yang jauh lebih penting adalah upaya memberikan "asupan" kepada GenDig ini ihwal konten acara TV yang bermutu. Nilai kebangsaan kerap jadi sorotan untuk GenDig ini. Cobalah lakukan survei kepada GenDig. Hafalkah mereka bunyi kelima sila Pancasila? Atau, hafalkah mereka lagu kebangsaan "Indonesia Raya"?

Karena itu, peran TV penting di sini. Coba tengok tayangan TV di AS. Dapat dipastikan ada bendera AS terselip di bagian acaranya. Ini hanya sebuah bentuk sederhana nilai kebangsaan. Jadi, kemaslah sebuah konten acara TV yang memenuhi selera GenDig, sembari menyelipkan nilai di dalamnya. 

Memang, bisa saja GenDig tak peduli dengan layar TV. Tapi, mereka dengan gampang menemukan konten TV di media digital, seperti YouTube. Belum lagi wahana semisal TV online Demand (TVoD) atau Video ini Demand (VoD) yang kini mulai menyerbu Indonesia. Tak perlu waktu khusus menyesuaikan diri dengan acara di TV. Besok atau lusa masih bisa menonton acara itu dengan TVoD.

Dari uraian di atas, lalu apa hubungannya dengan nasib industri TV di tanah air? Perubahan itu sebuah keniscayaan. Dan, dunia kini sedang berubah. GenDig sudah menyebar, bahkan menjadi penentu masa depan. Artinya, industri TV pun harus mau berubah, mengikuti arus yang sedang terjadi. Mulai dari jenis acara yang dibuat harus bisa memenuhi dahaga para GenDig, sampai kepada platform teknologi yang digunakan pun harus sanggup mengikuti langkah mereka.

Itulah sebabnya konvergensi TV dengan platform media lain dibutuhkan. TV harus bisa bekerja sama dengan media online misalnya. Beberapa situs portal berita di Indonesia sudah melakukan ini. Mereka tak cuma menyuguhkan berita berupa teks, namun ada juga tautan video yang berasal dari TV untuk bahasan berita terkait. 

Tak boleh dilupakan pula sifat narsis yang dimiliki para GenDig. Selfie adalah gaya hidup mereka. Karena itu, acara TV pun harus bisa mengikatkan keterkaitan (engagement) dengan GenDig. Tujuannya agar sifat narsis mereka tersalurkan melalui media TV. 

Rasanya, tak akan jugalah industri TV dihantarkan ke liang kuburnya oleh para GenDig ini. Cuma pola dan cara mengonsumsi siaran TV saja yang berubah. Sudah siap dengan perubahan, wahai para pengelola TV?***

 

Ilustrasi via cienciatoday.com

Answered Jan 5, 2017