selasar-loader

Apa analisis politik Gerindra masuk kabinet Jokowi?

Last Updated Jan 4, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

MFbytbtBGDzI_r6sCVbbIxLNqIwNRSVo.jpg

Gerindra masuk kabinet? 

Saya ingin melihat ini dari sisi yang agak berbeda. Dari sisi antropologi politik. Jokowi sebagai "Raja Jawa". 

Saya akan meminjam pisau indonesianis terkemuka alm. Ben Andersen untuk itu. Jokowi jika diperhatikan sampai sekarang, seluruh praktik politiknya, kita bisa menyimpulkan dia adalah "little Soeharto". Soeharto Kecil. Nyelenehnya memang sekelas Gus Dur, tetapi cara memainkan politik praktis menaklukkan lawan, membangun pengaruh, konsolidasi kekuasaan, dia sangat Soeharto sekali. Sederhananya, Jokowi adalah Soeharto yang ke-Gus Dur-Gus Dur-an.

Ben menjelaskan sangat baik tentang Raja Jawa ini. Ada satu bab yang ia paparkan tentang konsep "alus" dan "kasar" dalam budaya politik kepemimpinan orang Jawa, Mataraman. Bahwa, pemimpin haruslah orang yang "alus", baik dari sisi budi, perkataan, perbuatan, dan langkah. Orang yang berkata kasar, bertindak kasar, bukan pemimpin. Dalam menaklukkan lawan raja harus tenang dan tetap tersenyum. 

Nah, Jokowi sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di Solo, pusat kosmos kerajaan Jawa Mataraman, tentu menyerap konsep "Raja Jawa" secara subliminal sejak kecil. Raja menjaga harmoni. Raja pusat semesta. 

Dulu, waktu belajar Politik Jawa, Dosen saya, Ibu Isbudroini, menjelaskan dengan gaya khasnya, kepemimpinan Jawa itu adalah menyatunya mikrokosmos dan makrokosmos. Raja, atau pemimpin adalah pusat segala sesuatu. 

Jika kuat, Raja Jawa akan meng-absorb seluruh tenaga yang ada di sekitarnya untuk menjadi sumber tenaga dan kekuasaan. 

Tidak ada jalan pemikiran oposisi dari paham kekuasaan Raja Jawa ini. Semunya harus dikelola dalam harmoni.

Nah, setelah berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya dari sisi politik, Jokowi tampaknya punya imaji menjadi presiden rakyat yang didukung oleh semua. Tanpa oposisi. Negara dianggap suatu keluarga besar dan kepala negara merangkap kepala pemerintahan sebagai bapak.

 

Ilustrasi via  cdn-media.viva.id

Answered Jan 5, 2017
Arifki Chaniago
Pengamat Politik/Political Commentator

oxs2qoTqaWNuTYFn2WoJ0l9uQOHerPly.jpg

Analisisnya adalah lawan Jokowi itu secara nyata, SBY, bukan Prabowo. Pilihan Gerindra masuk ke kabinet kerja Jokowi bagian dari konsolidasi politik Jokowi, tak bisa dimungkiri selama ini Jokowi lemah dengan infrastruktur kekuasaannya. Ia tak bisa berharap banyak dengan PDI-P dan koalisi lainnya, tawar-menawar Jokowi untuk "posisinya" masih lemah. 

Bukti gerakan 411 dan 212 yang hampir mengguncang jabatan Jokowi menjadi salah satu alasan Jokowi ingin menggaet Gerindra ke kabinet kerja, meskipun gerakan itu tak ada hubungannya dengan Gerindra. Menarik partai besutan Prabowo Subianto ke kabinet, Jokowi ingin melibatkan semua pihak untuk melawan SBY, secara langsung atau pun tidak, PAN dan PKB masih setia dengan SBY, walaupun masuk kabinet Jokowi. 

Sampai sekarang, saya masih belum percaya Gerindra akan masuk kabinet Jokowi. Partai ini ciri khas oposisi, jika terlibat kabinet Jokowi sama saja Gerindra menodai sikap kritisnya selama ini. Pilihan Gerindra bergabung menjadi ke kabinet Jokowi, bisa saja menyebabkan suara Gerindra berkurang pada 2019. Sebab, oposisi cs akan berlari kepada Demokrat. 

 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Jan 5, 2017
Habibi Yusuf
pengamat amatir

Hasil gambar untuk gerindra dan jokowi

Menurut saya, seandainya ditawari masuk kabinet, Gerindra tidak akan mau masuk tanpa PKS. Ini karena figur Prabowo punya karakter setia kawan yang tinggi dan PKS adalah mitra yang selama ini sangat setia berjuang bersama Gerindra. Masuk kabinet berarti berkhianat kepada kawan dan pada statement Prabowo sendiri yang pernah bilang tidak akan masuk kabinet dan tetap menjadi oposisi yang konstruktif. Sedangkan, Prabowo bukan tipikal yang mudah berubah pendirian dan sikapnya.

Di sisi yang lain, tentu para pendukung utama dan lingkaran inti Jokowi tidak menyukai hal ini (Gerindra masuk kabinet). Bisa jadi isu Gerindra masuk kabinet adalah kemauan Jokowi, namun dia tentu lebih memperhitungkan suara-suara para pendukung utama dan lingkaran intinya yang telah mengantarkannya menjadi presiden.

Kenapa pendukung utama dan lingkaran inti Jokowi tidak suka Gerindra (dan PKS) masuk kabinet, karena selama ini mereka terlalu sering bermusuhan, sejak Pilpres 2014 hingga berlanjut ke Pilkada DKI 2017. Permusuhan ini bahkan tidak hanya soal kontestasi politik, tapi sudah masuk ke level ideologi. 

Jadi menurut saya, peluang Gerindra masuk kabinet Jokowi sangat kecil sekali. Less than 10%.

 

Ilustrasi via cdns.klimg.com

Answered Jan 5, 2017