selasar-loader

Mengapa Nasdem jadi partai pertama yang dukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta?

Last Updated Jan 4, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Jakfar Fauvis
Pejalan kaki, pengagum gambar, penyuka Cerita, Pendengar Musik, Penonton Bolau

Hasil gambar untuk nasdem dukung ahok

Jawaban saya akan pertanyaan Kakak Arfi Bambani ini merupakan pendapat dan opini pribadi berdasarkan hasil penerawangan. Sementara alasan resmi sudah disampaikan oleh Ketua Umum dan Ketua DPW DKI. Ketua DPW NasDem DKI menyampaikan saat konferensi pers penyerahan SK dukungan terhadap Ahok. Yang ketika itu dinyatakan akan tetap mendukung Ahok walau akan maju melalui jalur independen. 

Sepengetahuan saya, dukungan terhadap calon independen sudah dilakukan oleh Nasdem pada pilkada serentak 2015. Saat itu, Nasdem mendukung 5 calon independen di pilkada kabupaten/kota. Tetapi, seperti kita lihat bersama, Ahok tidak jadi maju melalui jalur independen karena ada 4 partai yang mengusung tanpa mahar dan syarat.

Di Nasdem, cara mengajukan calon kepala daerah tidaklah terlalu rumit dan berbelit-belit karena ada tim yang bekerja penuh untuk proses itu dengan mekanisme tim itu disebut tim 7. Mekanisme kerjanya yaitu survei, tanpa mahar, tidak birokratis, dan jemput bola. Survei ini untuk mengukur elektabilitas kandidat yang akan maju. Sebab elektabilitas merupakan indikator bahwa kandidat diterima dan akan dipilih oleh masyarakat. Tanpa mahar, Nasdem menerapkan hal ini sebagai terobosan di tengah proses politik yang sebagian besar orang menyebutnya dagang sapi. Hal ini merupakan kelanjutkan dari praktik politik tanpa syarat yang dilakukan Ketua Umum Nasdem ketika pilpres yang lalu. Nasdem sebagai partai politik yang baru mengikuti pilkada tentu harus melakukan terobosan dan gagasan serta praktik politik inilah yang pada pilkada 2015 menjadi pembeda Nasdem. Tidak birokratis, di Nasdem, calon pasangan kandidat bisa sekali bertemu langsung mendapatkan SK jika elektabilitas dan program kerja jelas. Jemput bola, Tim 7 Nasdem bahkan menjemput bola (telepon, bertemu, mengundang) kandidat yang memiliki elektabilitas walau tidak mendaftar di Nasdem

Semua itu dilakukan karena Nasdem ingin memajukan orang-orang terbaik untuk kepala daerah, dan tidak ingin ada dikotomi antara kader dan nonkader.

Kembali ke soal Ahok, saat Nasdem memberikan dukungan elektabilitas Ahok merupakan yang tertinggi. Selain itu, Nasdem melihat Ahok bekerja mengubah wajah kota Jakarta ke arah yang lebih baik. Banyak hal yang sebelumnya dianggap seperti tidak mungkin dilakukan atau hanya menjadi wacana diwujudkan oleh Ahok. Seperti normalisasi sungai, komitmen akan perbaikan angkutan umum, penambahan RTH yang berupa RPTRA, dan mungkin banyak hal lainnya. Untuk itulah, mungkin Nasdem berharap Ahok bisa melanjutkan kerja selama 5 tahun ke depan.

Kira-kira itu jawaban untuk pertanyaan Kakak Arfi ini, sekali lagi ini hasil penerawangan saya. Semoga Ahok kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta.

 

Ilustrasi via cdn.tmpo.co

Answered Jan 5, 2017
Arifki Chaniago
Political Commentator

_joXPRhuKq3IUBFWGUzKxx5aZEHHZH45.jpg

Sebagai partai yang ingin stabil menjadi partai papan tengah, Nasdem sedang mencari kesempatan untuk menumpang dari popularitas calon yang diusungnya. Sebelumnya, Pilkada DKI 2012, partai Nasdem sudah membuktikan bahwa jurus menumpang dari popularitas calon membantu naiknya elektibilitas Nasdem. 

Dengan mendukung Jokowi pada 2012 sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Ahok, selanjutnya mendukung Jokowi tahun 2014, Nasdem juga mengambil kesempatan lebih awal mendukung Ahok. Alasannya, Ahok berpeluang menjadi pemenang Pilkada DKI, menumpang dengan popularitas Ahok, Nasdem ingin mengulang langkah yang sama seperti yang dilakukan pada Jokowi pada 2012 dan 2014. 

 

Ilustrasi via cdn.tmpo.co

Answered Jan 5, 2017