selasar-loader

Bagaimana cara jadi menteri?

Last Updated Dec 31, 2016

4 answers

Sort by Date | Votes

Cara menjadi menteri pada era sekarang;

- berprestasi dibidang nya

- sedikit banyak menjalin ikatan dengan parpol yang sekiranya berpeluang mengusung calon presiden

Answered Jan 17, 2017

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 22 UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, Menteri diangkat oleh Presiden. Untuk dapat diangkat menjadi Menteri, seseorang harus memenuhi persyaratan: 

a. warga negara Indonesia; 

b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; 

c. setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita proklamasi kemerdekaan; 

d. sehat jasmani dan rohani; 

e. memiliki integritas dan kepribadian yang baik; dan f. tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.

Answered Jan 18, 2017
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

_ilXoDUssUjaO73jBSXyrqwCgDk0PU23.jpg
sumber foto: berita2bahasa.com

 

Diluar ketentuan peraturan perundang-undangan, menjadi menteri itu mudah; asal punya koneksi ke presiden. Sekalipun Anda memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, namun tidak mempunyai relasi dengan presiden, Anda tidak akan pernah bisa menjadi menteri. Relasi itu penting, bahkan jauh lebih penting daripada pendidikan.

Meskipun gelar Anda berderet sampai kartu nama bolak-balik untuk memuat gelar Anda, percuma manakala Anda tidak mempunyai hubungan atau orang yang menghubungkan ke presiden. Sudah banyak contoh, orang yang tak tamat sekolah tingkat atas pun bisa menjadi menteri karena menjadi menteri tak mensyaratkan pendidikan.

Anda cerdas, itu menurut Anda dan publik. Tapi belum tentu pendapat presiden sama dengan pendapat Anda dan orang lainnya. Kecerdasan tidak terlalu diperhitungkan dalam urusan menjadi menteri.

Anda baik, jujur, dan tak tersangkut kasus korupsi tak akan cukup menjadikan Anda sebagai menteri, sebab tanpa kedekatan dengan presiden, semua itu "zonk" (tidak ada). Sebaliknya, Anda tidak berpendidikan tinggi, terjerat sejumlah kasus korupsi, tapi karena Anda dekat, boleh jadi Anda yang akan menjadi menteri. Jadi, kunci untuk dapat menjadi menteri adalah dekat atau mendekatlah ke presiden, mana tahu presiden khilaf dan tiba-tiba menunjuk Anda tanpa perlu tahu siapa nama Anda dan profesi Anda sebelumnya.

Selamat mencoba!

Answered Aug 4, 2017
Pepih Nugraha
Jurnalis Politik, menulis politik, tapi tidak berpolitik

pZv7XPa0PaUs9u6ZmNKmYlnYfP91ut2e.jpg

Menjadi menteri boleh dibilang garis tangan saja. Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi menteri. Menteri adalah pembantu presiden. Meski dekat dengan presiden, kalau garis tangan belum didapat, sekalipun meminta, tetap saja tidak akan menjadi Menteri. Di Indonesia, jabatan menteri sangat prestisius seolah-olah jabatan itu merupakan pencapaian tertinggi prestasi hidup manusia.

Kalau ada pertanyaan siapa presiden paling hebat dalam mengatur orang-orangnya sebagai menteri, saya harus menjawab; dialah Presiden Soeharto. Pada zaman Soeharto berkuasa selama 32 tahun, tidak pernah terdengar kabar ia melakukan "kocok ulang" menteri-menterinya, kecuali pada saat akhir-akhir kekuasaannya, saat ia mengganti Menteri Penerangan Harmoko oleh Jenderal Hartono. 

Kesalahan Harmoko sederhana, ia terlalu "berkuasa" di Partai Golkar sehingga kadang ucapan dan tindak-tanduknya tidak terkontrol. Karena sudah diangkat menteri sejak tahun 1983, untuk menjaga agar tidak kehilangan muka, Soeharto membuat pos setingkat menteri yang benar-benar dibuat-buat, yaitu Menteri Urusan Khusus yang sering diplesetkan menjadi Menrakus.

Demikian "firm"-nya nama-nama menteri yang diangkat Soeharto seolah-olah nama itu menjadi jaminan mutu dalam mem-back up pembangunan yang dicanangkan Soeharto. Masing-masing menteri mendapat tugas sesuai bidang kerjanya atau kementeriannya. Anak-anak sekolah dasar wajib menghapal nama-nama menteri, mulai Menteri Luar Negeri Adam Malik sampai Menteri Agama Idham Chalid. Ada lebih dari 30 menteri atau setingkat menteri yang selalu mendampingi Soeharto selama lima periode lebih ia berkuasa.

Komposisi menteri zaman Soeharto berbeda dengan rezim-rezim setelahnya, apalagi setelah Reformasi di mana jatah menteri seolah-olah diperuntukkan bagi politisi atau pengurus partai politik pemenang pemilu. Di zaman Soeharto, para menteri diisi para profesional, pakar, purnawirawan, teknokrat atau ABRI aktif, dan hanya segelintir saja pengurus partai yang berasal dari Golkar. Tidak mungkin ada menteri yang berasal dari PPP dan PDI.

Berbeda dengan di zaman rezim setelahnya, posisi menteri (demikian juga duta besar), seolah-olah menjadi bancakan para petinggi partai politik. Jika Presiden saat pemilu disokong sejumlah partai atau partai yang menyokong setelahnya, maka sudah dipastikan ada "jatah" dari partai tersebut. Sialnya, "jatah" itu diisi oleh para petinggi partai yang kental dengan politiking-nya, bukan oleh para profesional. Tidak jarang gonta-ganti menteri terjadi, seperti gonta-ganti pasangan saja.

Jika dahulu, zaman Soeharto menjadi menteri harus benar-benar profesional, pakar, teknokrat, dan orang-orang yang menguasa bidangnya, di zaman sekarang keputusan mengangkat menteri dilakukan melalui "jembatan" partai terlebih dahulu. Artinya, presiden memberi jatah kepada beberapa partai pendukungnya, maka partai politik tersebut mencarikan calon menteri dari kadernya, sangat jarang mencari kader yang benar-benar profesional di bidangnya.

Memang benar, ada dari kalangan profesional yang diangkat atau menjadi orang dekat presiden, tetapi karena menjadi presiden tidak bisa berjalan sendirian saat pilpres dan harus disokong partai lain, maka presiden harus memberi jatah kepada partai secara proporsional (kalau bisa) tergantung seberapa besar partai tersebut memberikan sumbangsihnya bagi presiden terpilih.

Sebelum memakhiri jawaban ini, saya mengingatkan, meski menteri adalah pembantu presiden, belum tentu seorang "pembantu" (menteri) loyal kepada "majikannya" (Presiden). Contohnya, saat pemerintahan Presiden Soeharto kolaps dan menunjukkan tanda-tanda bahwa kekuasaannya akan tumbang, sejumlah menterinya seperti Akbar Tanjung dan Ginandjar Kartasasmita melakukan hal itu. Selain Akbar dan Ginandjar, ada sekitar 10 menteri lainnya menolak diangkat kembali menjadi menterinya Soeharto.

Harmoko sendiri membelot dan berbalik melawan Soeharto saat jabatan ketua MPR berada di genggamannya. Harmoko yang dipecat Soeharto berbalik meminta Soeharto mundur, satu tindakan politik yang menyelamatkan Harmoko dari perundungan dan sempat dianggap sebagai "pahlawan reformasi" saat ribuan mahasiswa mengepung gedung parlemen.

BJ Habibie ternyata dianggap sebagai "Brutus" juga oleh Soeharto selain Ginandjar, Akbar, dan Harmoko. "Kesalahan" Habibie, kalau boleh dikatakan sebagai kesalahan, adalah tidak mau diajak sepaket saat Soeharto menyatakan mundur, yang naskah pidato pernyataan muncurnya disusun oleh Yusril Ihza Mahendra itu. 

Habibie berpandangan, menurut konstitusi, jika presiden mangkat atau mengundurkan diri (karena suatu sebab), maka wakil presidenlah yang menggantikan kedudukannya. Soeharto menghendaki dia dan Habibie sama-sama "berhenti" dan nahkoda pemerintahan dijalankan oleh triumvirat. Pada saat-saat akhir keruntuhannya, Presiden Soeharto memang menempatkan BJ Habibie sebagai wakil presiden. Karenanya, Presiden Soeharto sangat kecewa atas tindakan BJ Habibie tersebut.

*** 

Answered Aug 4, 2017

Question Overview


7 Followers
6105 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Bagaimana pandangan Anda mengenai struktur kabinet Jokowi 2014-2019?

Apa analisis politik Gerindra masuk kabinet Jokowi?

Siapakah Menteri yang kinerjanya paling bagus? Mohon dijelaskan.

Apa keuntungan dan kerugian Partai Gerindra jika bergabung dengan Kabinet Kerja?

Siapa Luhut Binsar Panjaitan?

Siapa Wiranto?

Siapa Sofyan Djalil?

Siapa Darmin Nasution?

Siapa Indroyono Soesilo?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?