selasar-loader

Bagaimana prospek bisnis segmen kelas menengah muslim di Indonesia?

Last Updated Dec 30, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Andreas Senjaya
Pendiri dan CEO iGrow

djm7F6p6LuZu9i7vxdMsaugOycUbFOwd.png

Beberapa bulan lalu, Badr Interactive diundang untuk hadir dalam pelatihan yang diadakan Markplus bertema Halal Supply Chain Management. Yang menjadi pembicara utama pada pelatihan itu adalah Dr. Marco Tieman, seorang asisten Profesor Universitas Tun Abdul Razak Malaysia pada kajian Halal Supply Chain Management.

Dalam kesempatan itu, kami diwakili oleh Direktur Operasional kami, Mohamad Sani. Sani mengatakan bahwa Dr. Marco menyampaikan materi dengan sangat lengkap dan menarik tentang bagaimana Halal Supply Chain Management itu bekerja sampai ke esensi-esensi nilai Islam yang terkandung dalam setiap proses di dalamnya.

Wajar bagi kita yang awam mengira bahwa latar belakangnya adalah seorang muslim, saking ahli dan fasihnya ia menyampaikan materi, di luar dugaan, setelah ditanyakan lebih jauh oleh Sani tentang personal Dr. Marco, ia mengaku bukan berlatar belakang muslim. Sebuah hal yang menarik bukan?

Saya mulai bertanya-tanya, seorang yang tidak datang dari latar belakang muslim bisa begitu tertarik untuk dapat menguasai pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu yang melekat sehari-hari dengan kehidupan kaum muslimin.

Sampai saya menemukan salah satu rasionalisasinya, bahwa memang pasar muslim di dunia, khususnya di Indonesia menjadi sangat menjanjikan saat ini, terlebih di masa yang akan datang.

Itulah salah satu yang menyebabkan tidak hanya kaum muslimin saja yang tertarik menggeluti bidang yang menyasar pasar ini, tetapi juga mereka yang tidak datang dari latar belakang muslim.

Umat Islam dunia berdasarkan data dari Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life akan mencapai 2,2 miliar orang (26,4% dari populasi dunia) pada tahun 2030 nanti. Namun, yang lebih mencengangkan adalah dari jumlah populasi yang besar itu ternyata menciptakan demand yang sangat luar biasa.

Menurut Thomson Reuter, total pasar makanan halal di dunia pada tahun 2019 diperkirakan akan mencapai USD 2,53 triliun (21,2% pengeluaran masyarakat global). Menyusul kemudian pasar kosmetik dan personal care halal dan industri farmasi halal yang masing-masing mencapai USD 73 milyar (6,87% pengeluaran masyarakat global) dan USD 103 miliar (6,6% pengeluaran masyarakat global) pada tahun 2019.

Indonesia sebagai negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia tentunya akan menyumbang pasar yang sangat signifikan. Untuk pasar makanan halal sendiri, Indonesia diperkirakan akan menyumbang USD 190 miliar dari USD 2,53 triliun tersebut. Disusul Turki, kemudian Pakistan.

Tentunya sangat wajar jika pasar ini sudah menjadi sangat menarik untuk dilirik, tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh masyarakat dunia.

Di Indonesia, besarnya jumlah populasi kaum muslimnya tidak semata-mata menjadi satu-satunya alasan mengapa pasar produk-produk halal atau berlabel syariah menjadi sangat besar.

Kondisi tersebut juga disebabkan oleh karakter kebanyakan umat Islam di Indonesia yang justru semakin religius dan semakin sadar dengan kehidupan beragama mereka saat mereka semakin sejahtera.

Menurut hasil survey Gallup di dunia pada tahun 2009, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara yang paling religius. Lebih lanjut yang membuat menarik adalah Indonesia dalam hal ini disebut sebagai paradoks oleh Gallup, karena biasanya semakin sejahtera sebuah negara, akan cenderung semakin sekuler, tetapi Indonesia berkebalikan, masyarakatnya cenderung semakin religius seiring semakin dengan bertambahnya pendapatan perkapita.

Fenomena ini bisa kita temukan sehari-hari dengan kasat mata melalui semakin banyaknya perempuan yang mengenakan hijab, kebutuhan akan musala di tempat-tempat umum, semakin ramainya sekolah dengan kurikulum Islam di dalamnya, menjamurnya biro travel umrah, hingga semua yang berlabel syariah dari bank, asuransi, sampai hotel.

Masyarakat muslim yang semakin sejahtera inilah yang kita sebut sebagai pasar kelas menengah muslim.

Fenomena ini menjadi sebuah kesempatan tersendiri bagi bisnis berlabel halal atau syariah untuk bisa melesat maju. Produk-produk yang menyasar kaum muslim di waktu yang lampau dianggap sebagai produk yang menyasar pasar yang niche, namun kini pasar yang niche itu sudah semakin banyak jumlahnya dan kian menjadi pasar mainstream.

Hal ini menyebabkan banyak pemain awalan yang memulai bisnis dengan menciptakan produk spesifik untuk umat Islam saat ini dapat memetik hasil yang luar biasa ketika pasar ini semakin besar dan semakin matang.

Beberapa brand awalan yang menawarkan produk seperti bank syariah (Muamalat), asuransi syariah (Takaful), kosmetik halal (Wardah), hingga lembaga penghimpun dana zakat, infak, sedekah (Dompet Dhuafa) saat ini sudah menjadi brand yang semakin mapan.

Mereka bertumbuh seiring dengan semakin matangnya pasar kelas menengah muslim di Indonesia.

Kini banyak sekali produk yang dari sisi supply chain management bahkan hingga value chain management ketika bisa diselaraskan dengan konsep halal dan thoyyib (baik) maka akan dapat membidik pasar kelas menengah ini.

Contoh yang mungkin belum banyak digarap di Indonesia, tetapi sudah dilakukan di luar negeri adalah bisnis logistik halal. Jika kita saat ini sudah mulai terbiasa menggunakan jasa pengiriman logistik konvensional seperti JNE atau TIKI mungkin kita bertanya-tanya apa bedanya ketika jasa logistik ini diselaraskan dengan konsep-konsep Islam.

Jasa logistik yang memakai label halal punya beberapa pakem yang membuat mereka berbeda dari jasa logistik konvensional lainnya, misalnya dalam pengepakan dan pengiriman barang mereka tidak menyatukan sarana pengiriman hingga penyimpanan barang dengan barang-barang yang haram.

Jasa logistik halal juga memperhatikan kebersihan sarana pengiriman maupun penyimpanan dari unsur-unsur berkategori najis, hingga menerapkan prinsip transparansi dengan sistem tracking real time pergerakan barang.

Dengan diferensiasi dan value proposition seperti ini tentunya mereka akan bisa menarik kelas menengah muslim untuk memakai jasa mereka, terlebih jika mereka bisa menawarkan harga yang kompetitif.

Masih banyak sebenarnya...(more)

Answered Dec 30, 2016
Sawqi Saad El Hasan
Islamic Economist

ADivXFU-wJ_AI-KPY3SkDugYn1ODbekd.jpg

Salam keberlimpahan untuk Mas Mhd Fadly dan seluruh selasares sekalian.

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena jawaban ini mungkin terlambat saya berikan. Hal tersebut karena kesibukan pekerjaan saya dan baru ada notifikasi lewat email 7 hari yang lalu.

Baiklah, kalau Bang Andreas Senjaya sudah menjawab melalui hasil kunjungan, hasil riset, dan data, saya akan menjawab dengan pengalaman, refleksi, dan rekomendasi terkait dengan potensi pasar kelas menengah muslim.

Segmentasi kelas menengah muslim, bagi saya, potensinya besar. Banyak hal yang bisa digali dalam segmen pasar tersebut. Namun, perlu digarisbawahi juga bahwa segmentasi pasar kelas menengah muslim merupakan pasar yang sensitif jika dan hanya jika belum dikelola dengan aturan yang sesuai.

Saya punya satu pengalaman ketika menginap di salah satu hotel syariah di Semarang pada tanggal 4 Maret 2017. Awalnya, saya takjub dengan desain bangunannya yang bergaya Maroko. Saya membayangkan bahwa transaksinya bisa menggunakan kartu ATM dari bank syariah yang saya miliki. Namun setelah masuk ke meja lobby, saya agak sedikit kecewa karena harus menggunakan alat laku pandai dari bank konvensional untuk melakukan pembayaran debit dari kartu debit bank konvensional. Di sinilah para pelaku bisnis yang menyasar kelas menengah muslim harus memikirkan kepatutan syariah dalam praktik bisnisnya.

Kemudian, hotel tersebut juga bekerja sama dengan situs pemesanan kamar yang menerapkan sistem bayar kalau menginap saja. Namun, sayangnya, hotel tersebut mempunyai kebijakan sendiri. Apabila tamunya tidak memberikan tanda jadi atau down payment (DP), maka tamu yang melakukan pemesanan melalui situs pemesanan kamar tersebut tidak dilayani dan tidak diberikan kamar jika dan hanya jika kamarnya penuh di hotel tersebut. Ini berlaku sekalipun tamu tersebut sudah jauh-jauh datang dan sampai di hotel tersebut. Hal ini tentunya masih mengandung gharar atau pertaruhan dalam ketidakjelasan. Kiranya, para pelaku bisnis berbasis syariah yang membidik pasar kelas menengah muslim harus merefleksikan hal tersebut apabila posisi mereka sebagai konsumen akan jadi seperti apa. Para pelaku bisnis syariah seharusnya memperhatikan betul standar operasional yang dijalankan perusahaan, apakah sudah sesuai dengan peraturan perusahaan mitra yang diajak untuk bekerjasama atau belum.

Tentunya, hal tersebut akan berpengaruh kepada praktik kepatuhan syariah dalam bisnis hotel syariah. Di sisi lain, kelas menengah muslim yang melakukan wisata syariah mempunyai preferensi untuk memilih hotel syariah dalam perjalanan wisata syariahnya. Hal tersebut dikarenakan pada faktor keamanan dan kenyamanan bagi diri dan keluarga mereka. Keamanan dan kenyamanan diri tidak hanya sebatas terhindar dari makanan dan minuman yang haram saja, tetapi juga pada saat proses transaksi yang bebas dari gharar, maysir, dan riba.

Apabila mereka menemukan hal yang tidak sesuai dengan praktek kepatutan syariah, rata-rata dari mereka akan bersikap kritis terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam memberikan tanggapan yang kurang positif apabila mengharapkan betul praktik syariah dari suatu bisnis yang mereka bayar produk atau jasanya. Begitupun sebaliknya, jika praktiknya sudah sejalan dengan kepatuhan syariah, mereka akan memberikan tanggapan positif terhadap suatu produk atau jasa yang mereka bayar. Hal yang demikian juga terjadi pada produk lainnya, seperti industri kosmetik, makanan, minuman, dan perbankan.

Semangat dan niat para pelaku bisnis dan konsumen kelas menengah muslim sudah ada dalam membangun wisata halal atau wisata syariah dengan tumbuhnya animo di masyarakat akan kesadaran terhadap pemenuhan kebutuhan Rohani dan Spiritual. Namun, dalam pengembangannya, kita perlu memperhatikan lebih lanjut lagi mengenai kepatuhan syariah dalam menjalankan model bisnisnya. Kiranya, para pelaku bisnis berbasis syariah yang membidik pasar kelas menengah muslim harus memperhatikan betul peraturan dan kebijakan yang diterapkan, dalam arti harus sejalan dengan kepatuhan syariah (sharia compliance).

Harapan saya pribadi, tentunya, bisnis syariah di masa depan sudah sesuai dengan asas kepatuhan syariah. Saya merekomendasikan pihak-pihak terkait untuk membuat aturan yang jelas, baik dari pemerintah melalui Komite Nasional Keuangan Syariah maupun dari Dewan Syariah Nasional untuk melibatkan Dewan Pengawas Syariah, dalam setiap praktik bisnis syariah yang notabene membidik pasar kelas menengah muslim. Dibutuhkan peran aktif dari Pemerintah dan Dewan Pengawas Syariah yang berfungsi untuk melaksanakan tugas-tugas Majelis Ulama Indonesia dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas perdagangan produk dan jasa yang berbasis syariah sehingga pada praktik bisnis syariah, konsumen yang berasal dari kelas menengah muslim dan yang menggunakan produk dan jasa yang berbasis syariah dapat memberikan masukan atau tanggapan yang positif.

Answered Mar 6, 2017

Question Overview


3 Followers
1238 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Mengapa design sprint digunakan untuk membuat produk digital?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Apa yang membuat Telkomsel begitu kuat dibanding operator yang lain?

Apa merek lokal Indonesia yang layak bertarung di skala global?

Mengapa kebanyakan produk bermerek ditargetkan pada pasar anak muda (youth culture)?

Bagaimana cara memulai bisnis jam tangan?

Nasihat terbaik apa yang pernah Anda terima dari orang lain tentang bagaimana cara berjualan paling efektif?

Bagaimana cara yang efektif memenangkan persaingan bisnis?

Apa praktik kotor dalam bisnis yang Anda tahu?

Bagaimana cara cepat membangun start up?

Bagi sebuah perusahaan, seberapa penting KPI (key performance indicator) untuk mencapai visi?