selasar-loader

Apa kenangan Anda tentang tahun 2016?

Last Updated Dec 27, 2016

7 answers

Sort by Date | Votes
Shendy Adam
Pernah mengisi halaman lifestyle di Harian Merdeka

hJChF9jGFuvsGlvP5fD_hSdPL6bZSebR.jpg

Tahun 2016 meninggalkan banyak pengalaman luar biasa yang patut disyukuri. Di awal tahun, saya terpilih menjadi salah satu risers dalam kegiatan Datsun Risers Expedition yang terselenggara berkat kerja sama antara Datsun Indonesia dengan Kompasiana. Dalam kegiatan ini, saya berkesempatan menjelajahi keindahan alam di Kalimantan Timur sambil merasakan sensasi touring menggeber Datsun Go+ Panca dari Samarinda sampai ke Berau. Perjalanan darat dua hari yang tidak akan terlupakan, melintasi hutan asli Kalimantan, dan mengunjungi permukiman adat Dayak. Kegiatan berlanjut dengan petualangan di Kepulauan Derawan. Walaupun tidak bisa berenang dan snorkeling, saya sangat menikmati perjalanan ini. Dari Derawan kami kembali ke Balikpapan, kali ini tidak lagi mengemudikan Datsun Go+ melainkan menggunakan jalur udara. Keinginan saya mencoba pesawat Bombardier yang mungil dan ramping seperti rudal itu pun akhirnya kesampaian.

Di akhir April, saya berangkat ke Tanah Suci memenuhi panggilan Allah. Segala puji hanya bagi-Nya yang memudahkan perjalanan spiritual itu. Perjalanan yang akan selalu dirindukan dan membuat saya ingin kembali lagi ke sana, menjalankan ibadah umrah dan ziarah ke makam Rasulullah di Madinah. Sebagai penggemar kedirgantaraan, saya selalu excited setiap akan terbang dengan jenis pesawat berbeda. Dalam perjalanan kali ini, saya mendapat pengalaman pertama menjajal tiga pesawat berbadan besar sekaligus, yaitu Airbus A 330 (Jakarta-Doha dan Doha-Jakarta), Boeing 777 (Doha-Jeddah), dan Boeing 787 Dreamliner (Jeddah-Doha). Khusus yang terakhir itu benar-benar di luar dugaan, karena sesuai itinerary seharusnya penerbangan dari Jeddah ke Doha menggunakan Boeing 777. Saya hanya sempat terbersit di hati kecil ingin sekali terbang pakai 787 Dreamliner, dan ternyata Allah kabulkan keinginan tersebut. Maha besar Allah.

Bulan Mei sampai Juli menjadi periode paling sibuk dan menegangkan bagi saya karena harus segera menyelesaikan studi saya di Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia. Bisa belajar di UI juga rasanya seperti mimpi yang jadi nyata. Saya masih ingat betapa sedihnya saat gagal lulus SPMB untuk masuk UI 14 tahun lalu. Perjuangan selama dua tahun -khususnya di tiga bulan terakhir--terbayar lunas saat tesis saya yang mengangkat soal pemanfaatan mobile apps untuk pemerintahan dinyatakan lulus oleh dewan penguji. Hasil memang tidak akan mengkhianati proses. Berkat nilai A untuk tesis tersebut, saya berhasil mendapatkan predikat Cum Laude saat kelulusan. Puas rasanya meraih prestasi itu dan terutama karena bisa membuat ibu saya tersenyum bangga dan bahagia. Saya pun menyelesaikan masa tugas belajar tepat waktu dan kembali mengabdikan diri kembali untuk Pemprov DKI Jakarta sejak awal Agustus.

Di periode September sampai November, saya dua kali mendapat "hadiah" kecil dari Allah berupa sakit DBD dan harus dirawat di RS Aminah (3 hari pada bulan September) dan di RS Pelni (8 hari pada bulan November). Siapa pun tak ingin sakit, tapi sesungguhnya saat sakit inilah kesempatan kita menggugurkan dosa. Dengan sakit juga kita menjadi sadar betapa besar nikmat Allah yang selama ini didapat tapi lupa disyukuri.

Akhir tahun saya tutup dengan catatan manis, lagi-lagi dengan perjalanan seru. Pada tanggal 5 sampai 9 Desember kemarin saya berangkat ke Penang, Malaysia. Perjalanan kali ini dalam rangka mengikuti konferensi Sustainable Development and Planning 2016 yang diselenggarakan Wessex Institute (UK). Hasil penelitian saya mendapatkan hibah dari UI untuk dimasukkan ke dalam jurnal atau prosiding konferensi internasional. Alhamdulillah, telah tuntas saya tunaikan kewajiban tersebut. Mempresentasikan hasil karya ilmiah kita di hadapan akademisi dari berbagai negara menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan.

Semoga tahun 2017 dan tahun-tahun selanjutnya akan selalu indah berkat kasih sayang dan kebaikan-Nya.

Ilustrasi via kompasiana.com

Answered Dec 29, 2016
Arfi Bambani
Chief Content Officer Selasar | Sekretaris Jenderal AJI

3EFLTEoSGrvST-BL9dtt13ufr6vHyzKB.jpg

Ikut bergabung membangun Selasar adalah kenangan utama saya mengenai 2016. Saya meninggalkan zona nyaman sebagai redaktur media online, mempertaruhkan masa depan yang sudah pasti demi masa depan baru di Selasar.

Banyak yang bertanya pada saya, mengapa saya melakukannya. Saya selalu menjawab, saya ingin mengembangkan diri, mencoba tantangan baru yang mungkin membuka kotak pandora yang berisi banyak kesempatan.

Tahun 2016 ini juga anak saya masuk sekolah. Pagi, saya antar dulu ke sekolah, baru setelah itu pergi bekerja. Kemudian, malam atau sore kadang disibukkan dengan kegiatan organisasi atau rapat-rapat dengan pihak lain. Kebiasaan ini membuat saya semakin harus ketat menjaga jadwal, membagi waktu antara keluarga, bekerja, dan berorganisasi.

2016 memang dahsyat.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 29, 2016
Hana Fitriani
Product manager & kontributor Selasar.com.

Kenangan sekaligus anugerah paling indah yang saya dapatkan di tahun ini adalah menikah.

Saya menikah pada bulan Maret 2016 dengan seorang pria yang waktu itu belum saya kenal dekat. Ada banyak kenangan yang terkandung dalam pernikahan saya yang seumur jagung ini. 

xfZ7eL_YhRUQV-kWVCC80Oxcci_ahTpd.jpg

Munculnya satu orang dalam kehidupan saya langsung mengubah hari-hari saya ke depannya. Segala keputusan dan tindakan harus saya pikir lebih bijaksana lagi, karena mempunyai efek ke keluarga saya. Saya belajar untuk berempati dan menurunkan ego untuk menghormati suami saya dengan segala persamaan dan perbedaan di antara kita. Kami belajar menjadi jembatan yang baik di antara kedua keluarga orang tua. Saya belajar bagaimana cara berkeluarga, membagi peran, pentingnya saling mendukung dan menyayangi yang sesungguhnya. Banyak hal lain yang membuat kami dipaksa untuk berpikir lebih dewasa dan bijaksana.

Pernikahan ini menjadi semakin penuh tantangan karena kami langsung menjalani long distance relationship karena sang suami mengejar studi di negeri lain. Awal tahun 2017, kami akan menjalani kehidupan rumah tangga di luar negeri dan jauh dari orang tua dan keluarga, suatu hal yang sangat menantang bagi pasangan muda seperti kami.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 30, 2016

Hasil gambar untuk BERPISAH DENGAN KOTA SEMARANG

Saya berpisah dengan Semarang. Kota yang sudah membesarkan saya selama tiga tahun.

Saya ingat betul waktu itu. Tanggal 24 Agustus 2013, ayah mengantar saya pindah ke Semarang. Hanya berbekal satu koper dan satu ransel. Tiga tahun kemudian, tanggal 22 Agustus 2016, saya pindah ke Depok. Ya. Belum genap tiga tahun. Nyaris.

Memasuki tahun 2016, saya menyadari kalau saya akan membuat keputusan penting di tahun ini. Kuliah Kerja Praktek, pembagian dosen pembimbing, menghabiskan semester akhir dengan menjadi auditor junior adalah sesuatu hal yang saya nikmati pelan-pelan. Saya bertekad kalau tahun ini saya harus meninggalkan Semarang.

Semarang adalah kota yang nyaman. Kemacetan di Semarang belum seberapa jika dibandingan dengan Jakarta, harga kost juga relatif murah dan mudah didapatkan di segala penjuru kota, komunitasnya beragam, ruang-ruang publik untuk berdiskusi juga tersedia dengan luas, event-event kota juga dikemas dengan menarik. Kalau ingin mendapatkan sesuatu secara gratis tapi berkualitas, saya rasa di Semarang saya tak pernah kehabisan ide untuk mendapatkannya.

Meskipun terkadang saya juga kewalahan kalau Semarang dilanda banjir. Semarang memberikan saya kenanangan yang cukup banyak dan hingga saat ini saya masih terbayang-bayang dengan kehidupan Semarang. Saya tidak ingin menjadikan Semarang sebagai kota terakhir yang saya tinggali dan karena alasan itu, Semarang menjadi kota yang cukup bermakna di hati saya.

Menghabiskan masa kuliah tiga tahun di Semarang. Memasuki bangku kuliah dengan sebuah kepolosan hingga saya bertemu dengan teman-teman yang beraneka ragam suku, budaya, dan profesinya yang berbeda-beda.

Karena Semarang, saya diajarkan untuk mengenali dunia komunitas yang luas. Tidak kaku pada struktur dan masa jabatan. Dunia komunitas memberikan kesempatan untuk mengambil peran secara bebas dan berpartisipasi secara aktif.

Karena Semarang, saya diajarkan untuk menjadi mahasiswa yang tidak pandai secara akademik saja tetapi juga pandai dalam berkomunikasi, pandai dalam membangun personal branding, dan pandai dalam mengatur waktu.

Karena Semarang, saya menjadi mengerti bagaimana rasanya ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk kebahagiaan orang lain, dan rasanya sangat menyenangkan. Sebaliknya, merasa tidak bisa membantu orang lain adalah sebuah kehampaan. 

Semoga di tahun 2017, saya bisa menemukan makna di kota baru yang sedang saya tinggali saat ini, Depok.

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Dec 31, 2016
Josua Collins
Mahasiswa, FHUI 2014

AHdxSN-E-dKl53K25vgroqVwf-vABF3Q.jpg

Salah satu hal yang saya syukuri adalah akhirnya bisa membawa nama kampus memenangi suatu kompetisi. Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah 6th AIC UNAIR 2016, ini adalah pertama kalinya saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Berbekal riset ke ayah maupun ke kementerian terkait, akhirnya kami bisa menjadi finalis dan berujung menjadi juara 2. :) Mendapatkan juara dua ini tentunya tidak mudah. Mulai dari harus menyita liburan untuk membuat karya tulis ilmiah ini, kompetitor lomba yang berasal dari ilmu eksakta which is membuat produk inovatif, hingga tertinggalnya jaket almamater di rumah ketika hendak pergi ke bandara. Sekiranya pengalaman ini membuat saya bersyukur dan ingin bisa lebih berprestasi lagi di tahun depan. ^^

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 31, 2016
El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

Umm... banyak dah.

Hasil gambar untuk kenangan tahun 2016

Ilustrasi via quiz.quizalert.com

Answered Dec 31, 2016
Ai Adisa
Ga ada istilah MANTAN KOPI, tapi masih bisa ngajak mantan NGOPI

sG1RjUQ_Qk2PIQ-T1kVm8753CdS5FcPA.jpg

Di penghujung tahun 2016 ini saya bersama partner membangun sebuah kedai kopi dengan nama Brand SUKOKOPI, untuk kebahagiaan hidup dan mewujudkan mimpi. Saya meninggalkan zona yang nyaman sebagai manajer di salah satu unit MNC Group yang bergerak di dalam bidang industri film dan entertainment show.

Banyak sekali pertanyaan kepada saya, kenapa menghancurkan karir? emang bisa hidup jualan kopi? dan pertanyaan lainnya yang saya jawab dengan Insya Allah, Bismillah, dan senyuman. Karena saya tahu bahwa warung kopi ini adalah sebuah brand awal yang ingin saya wujudkan kedepannya agar menjadi lebih baik, beserta mimpi yang lainnya mudah-mudahan Allah melancarkan jalannya. Amin.

2016 ini sangat indah, ditahun ini juga saya pernah mengecap pendidikan di University Southern California, Fakultas Cinematic School Of Arts. Berangkat dari inilah mengapa saya menguatkan diri untuk wira usaha (dan mewujudkan impian, cita-cita Ayah), karena darah seni,kreatif dan bisnis sudah mengalir deras disekujur nadi sedari kecil. Tak terasa tahun 2016 bersisa 16 jam, harapan saya untuk 2017 dan selanjutnya Indonesia semakin maju dan bersatu, agar startup kecil di Indonesia kelak akan menjadi sebuah perusahaan besar dan ikut mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Selamat tahun baru, sahabat :)

Answered Dec 31, 2016