selasar-loader

Mungkinkah HMI akan kembali menjadi organisasi mahasiswa yang berpengaruh dan melahirkan calon pemimpin di Indonesia masa depan?

Last Updated Dec 26, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

XS6XiZuS5nI04OpE5X9V2lHz_QPRgUI-.jpg

sumber foto: bukalapak.com

 

Jawabannya sangat mungkin, karena organisasi mahasiswa islam ini memiliki perangkat dan struktur yang menunjang untuk itu, hanya sistem dan budaya organisasinya perlu diperbaiki dengan serius. Sistem yang saya maksud berhubungan dengan berbagai mekanisme organisasi yang rutin diperbaiki sekaligus rajin dilanggar dengan berbagai macam dalih.

 

Prinsip keliru tentang hukum, bahwa adanya aturan untuk dilanggar, merupakan narasi yang lazim terlihat dalam sistem organisasi mahasiswa islam ini. Sebagai organisasi mahasiswa seharusnya HMI kembali menjadi mahasiswa seperti hakekat mahasiswa yang sebenarnya, bukan mengambil porsi orang tua, karena wilayah itu sudah banyak didiami oleh sosok yang lebih kawakan.

 

Selanjutnya mengenai budaya organisasi, sejatinya mengunggulkan gagasan dari kekuatan fisik, namun hal itu mulai pupus seiring gigihnya perilaku instan mempengaruhi anak-anak muda masa kini, termasuk HMI. Karena itu jika HMI ingin bangkit, maka perlu mengenali tipologi penyakit HMI yang setidak-tidaknya menurunkan pengaruh organisasi tersebut dalam melahirkan calon pemimpin dimasa mendatang.

 

Yang pertama, krisis spiritual. Teman saya yang mengaku liberal pernah mengatakan, bahwa sudah waktunya urusan pribadi tidak berada di wilayah publik. Masalah hubungan seseorang dengan Tuhan tidak boleh menjadi domain orang lainnya. Urusan Tuhan urusan masing-masing, maka pada saat seseorang tidak menjadi muslim yang taat secara pribadi, jangan dilihat pada aspek tersebut, tapi tengoklah karyanya bagi ummat manusia. Itu menurut teman saya. Tapi bagi seorang calon pemimpin, menurut saya keshalehan pribadi akan tercermin dari sikap dan tabiatnya kepada orang lain. Kalau dia pandai menjaga Sholatnya, maka dia akan cerdik menjaga perilakunya sehari-hari. 

 

Akibat meremehkan sisi spiritual ini, terlihat kantor-kantor HMI miskin budaya keagamaan, sekalipun ini tidak umum, namun kantor-kantor yang berada di jantung kota, paling rentan mengabaikan pentingnya spiritualitas. Tentu saja, spiritualitas yang saya maksud dalam arti yang sempit, sepanjang pengetahuan saya.

 

Yang kedua, krisis intelektual. Saya pernah membaca begitu rutin artikel-artikel yang ditulis oleh anak-anak HMI di media nasional, bahkan di sejumlah media lokal, kolom-kolom opini banyak ditulis oleh anak-anak HMI. Mungkin pandangan ini terbilang kerdil tentang intelektual, tapi sekali lagi dari yang kecil-kecil seperti ini, HMI pernah besar dan calon pemimpin yang dilahirkannya dianggap memiliki pengaruh.

 

Dan ketiga, dekadensi moral. Mendengar cerita perilaku sejumlah pengurus HMI di daerah tertentu yang memiliki moral rendah, sangat miris. Wajar jika banyak cibiran untuk HMI di berbagai forum dan kampus, belum lagi “dosa jariyah” yang dilakukan oleh senior HMI, semakin membungkus HMI dalam citra yang kurang sedap. Saya tidak bisa merinci apa saja yang terkait dengan perilaku kurang bermoral itu. Tapi begitulah yang saya dengan. Semoga semua cerita itu salah dan hoaks. Amin

 

Semoga dengan tipologi ini, segera ditemukan obatnya, agar HMI bisa berpengaruh kembali dalam melahirkan calon pemimpin Indonesia dimasa mendatang.  

Answered Aug 28, 2017