selasar-loader

Apakah membayar utang atau bersedekah yang lebih didahulukan?

Last Updated Dec 26, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Sawqi Saad El Hasan
Islamic Economist

VNoUJoHFEMXTkcgY7zfQxmZxJKFNKiF5.jpg

Di dalam fiqih Islam, utang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al Qardh (قرض). Makna Al Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan utang. Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.

Jadi, utang piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika seorang peminjam diberi pinjaman Rp5.000.000 (lima juta rupiah), maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah lima juta rupiah pula.

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab, shadaqoh (صدقة),  yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah swt. dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela).

Jika yang dipermasalahkan ialah mana yang harus lebih didahulukan antara utang dan sedekah, maka saya akan menjawab bahwa utang harus dibayar terlebih dahulu, baru kemudian sedekah bisa dilaksanakan setelah membayar utang. Dalam berutang, kadang orang yang memberikan piutang juga ada dalam kondisi yang sulit. Oleh karena itu, biasanya dalam berutang, disepakati bersama tentang waktu pembayaran/pelunasan utang.

Kemudian, hal yang perlu diperhatikan dalam berutang juga adalah soal ajal/maut. Kita tidak pernah tahu kapan ajal/maut menjemput. Tidak ada jaminan di hari esok diri kita masih hidup. Oleh karenanya, jika kita memiliki utang pada seseorang, utang itu harus segera dibayarkan sebelum kita menemui kesulitan berikutnya.

Ada satu hadis yang saya ingat mengenai utang yang belum dibayar, yaitu bahwa utang itu akan menggantung orang yang berutang saat dirinya meninggal dunia. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga ia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih sebagaimana Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi).

Setelah utang lunas, barulah kiranya kita dapat bersedekah kepada orang terdekat kita yang layak untuk diberikan sedekah. Sesungguhnya, posisi saat berutang itu adalah tangan kita masih di bawah, masih menadahkan tangan dan berusaha agar utang lunas. Sedangkan, bersedekah itu ibarat tangan kita di atas, menolong orang yang membutuhkan demi memperoleh kemuliaan dan memanusiakan manusia dengan bersedekah.

Semoga jawaban ini kiranya bermanfaat untuk kita semua terhadap keutamaan membayar utang dan kemuliaan memberikan sedekah setelah semua urusan utang piutang kita sudah selesai.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)



Sumber: https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-hutangnya.html
Ilustrasi via pixabay

Answered Sep 20, 2017
Rahma Mieta
Senior Financial Planner at OneShildt | Interested in Islamic Finance

Bayar utang lebih didahulukan daripada sedekah, karena hukum fiqih mengatakan mendahulukan yang wajib dari yang sunnah.

Answered Nov 2, 2017