selasar-loader

Bagaimana cara membuat cerita yang detail, tetapi tidak membosankan?

Last Updated Dec 24, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Zulfian Prasetyo
Menulis sejak 2006. Masih berupaya menciptakan karya kelas dunia.

The devil is in the detail.

gdu8Bt0udsVxILmT_Ho2WXCV2W8WBwwD.jpg

via linkedin.com

Entah darimana saya membaca kata-kata itu. Saya juga tidak tahu siapa yang pertama kali mengucapkannya. Yang jelas, ada dua makna saling berkaitan yang saya tangkap dari kalimat tersebut. Pertama, kegagalan seringkali berawal dari detail yang diabaikan. Kedua, bahkan karya besar pun bergantung pada kesuksesan komponen-komponen terkecilnya.

Membuat cerita yang detail adalah pertanda kamu beneran niat dalam menulis. Ini bukan masalah profesional-amatiran. Ini masalah niat. Kalau tidak percaya, lihat karangan "Liburan di Rumah Nenek" ala anak-anak SD. Meskipun strukturnya berantakan, kalimat-kalimatnya tidak terkoneksi, bahkan konvergensi ceritanya buyar, mereka kerap menyertakan detail-detail yang menurut mereka penting. Jadi, kalau kamu peduli dengan detail, selamat, kamu adalah penulis yang niat!

Masalahnya, penulis pemula seringkali bermasalah dengan detail; ada yang tidak menyertakannya, ada juga yang (sialnya) justru terbelit oleh kerumetan detail buatannya sendiri.

Untuk penulis dengan masalah pertama, latihan menulis karangan deskripsi adalah langkah yang bagus. Cari benda di sekitar kamu, lalu deskripsikan semenarik mungkin. Kalau perlu, jadikan benda tersebut tokoh utama dari ceritamu.

Bila masalahmu adalah 'dililit' detail, berarti kamu punya masalah dengan kadar detail. Solusinya adalah Senjata Chekov (Chekov's Gun), hukum yang menyatakan bahwa apabila satu pistol muncul dalam cerita, peluru-peluru pistol itu harus ditembakkan. Kurang lebih begitu, bunyinya. Tidak sama-sama amat sih, tapi mendekatilah. Tidak apa, bukan ayat kitab suci, jadi tidak harus sama persis, hehehe.

Buatlah detail untuk hal yang memang benar-benar penting. Kamu boleh bikin deskripsi tentang tokoh utama, baik deskripsi fisik, latar belakang pendidikan, penyakit mental, bahkan sampai ke latar belakang leluhurnya bila memang itu diperlukan sebagai 'peluru yang akan ditembakkan' pada bab-bab selanjutnya. Sebaliknya, kamu tidak perlu menghitung panjang kuku jempol kakinya kalau memang tidak ada kontribusinya sama sekali terhadap cerita. Detail yang semacam itu sangat menyebalkan bagi sebagian pembaca.

Intinya, detail sejalan dengan signifikansi cerita. Makin detail, makin penting. Kalau tidak ada kontribusinya untuk keseluruhan cerita, jangan ditulis.

Bila kamu sudah berada dalam tahap tidak bisa membedakan mana detail yang penting dan yang tidak, selesaikan saja dulu draft ceritamu. Kemudian, minta temanmu membacanya, lalu menandai bagian-bagian yang tidak penting. Dengan demikian, ceritamu akan lebih tangkas tanpa kehilangan detailnya yang beneran, bukan yang sekedar bikin tebel halaman tapi luar biasa membosankan.

Selain itu, penting juga untuk membuat kalimat-kalimat yang tight. Yang kencang. Jelas subyek-predikatnya dan tidak terlalu banyak keterangan semacam yang, di mana, yang mana, dan sebagainya. Lihat kalimat ini...

Ketika saya pulang ke rumah saya, ada tante saya dengan anak tante saya yang masih berusia satu tahun. Rumah saya adalah rumah dinas yang Ayah saya tempati sejak ia masih muda yang kala itu harganya masih sangat murah di mana Rupiah masih perkasa di mana Soeharto dan pemerintahan Orde Baru masih berkuasa.

...lalu bandingkan dengan kalimat di bawah.

Ketika saya pulang ke rumah, ada Tante dengan anaknya yang masih berusia satu tahun. Rumah saya adalah rumah dinas. Ayah menempatinya sejak muda. Kala itu, harganya masih sangat murah. Rupiah masih perkasa. Soeharto dan pemerintahan Orde Baru masih berkuasa.

Enak mana?

 

***

Jadi, ada dua hal yang bisa kamu gunakan untuk membuat cerita yang detail tetapi tidak membosankan.

  1. Senjata Chekov
  2. Kalimat kencang

Semoga bermanfaat!

Answered Mar 6, 2017
Baskoro Aris Sansoko
Mahasiswa UNAIR; baskoroaris.com

ALTHNTidJ0S8uWYSDivY8iPVvb1m385v.jpg

Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum menulis sebuah cerita adalah menentukan dari sudut pandang apa atau siapa cerita itu diutarakan. Setelah menentukan sudut pandang (yang bisa berganti-ganti di tengah cerita), izinkan aku perkenalkan pada suatu istilah; subjektivitas.

Subjektivitas ini tidak terbatas tentang kondisi empiris dari hasil penginderaan tokoh. Subjektivitas lebih berbicara tentang bagaimana tokoh itu memaknai hasil penginderaannya melalui olahan pemikiran atau emosinya. Untuk bisa memahami, coba bandingkan antara dokumenteri pendaratan di Normandy dan penggambaran pendaratan di Normandy di film Saving Private Ryan. Dokumenter pendaratan di Normandy adalah kondisi empiris sedangkan penggambarannya di film Saving Private Ryan adalah hasil olahan subjektivitas.

Dalam cerita, penggambaran subjektivitas adalah hal yang lebih utama ditekankan sebab dia lebih terkait dengan tokoh dalam cerita. Menggambarkan subjektivitas tokoh dapat membuat detail kondisi empiris perlu diceritakan, namun terkadang dapat membuat detail itu tidak penting diceritakan.

Semisal, ada seorang laki-laki yang menunggu seorang perempuan di sebuah kursi taman, maka penulis sebaiknya berusaha untuk memahami subjektivitas laki-laki yang sedang menunggu itu. Tentu tidak akan menarik apabila cuma diceritakan, "Laki-laki itu duduk, diam, kakinya naik turun. Menunggu. Tak lama kemudian, perempuan itu datang." Sebab menunggu banyak diasosiasikan dengan persepsi lamanya waktu sehingga diperlukan detail-detail yang dapat menggambarkan waktu sedang berjalan lama.

Di sisi lain, bayangkan jika ada seorang laki-laki sedang berbincang dengan perempuan yang dia cintai di sebuah kedai kopi, maka penulis sebaiknya berusaha untuk memahami subjektivitas laki-laki yang sedang jatuh cinta dan berbincang dengan orang yang dia cintai. Tentu akan sia-sia menceritakan pada waktu berbincang itu kondisi kedai kopinya ramai atau tidak, warna dindingnya, jam dindingnya berbahan apa, aksen motif kayu di meja kasir, dan hal-hal di luar dirinya, perempuan yang ia cintai, dan di antara keduanya.

Aku rasa, memahami subjektivitas ini dapat memberikan detail yang pas untuk cerita. Sebab detail tidak diberikan hanya karena ia butuh detail, melainkan disesuaikan dengan subjektivitas tokoh. Ketika penulis dapat menyesuaikan dengan tokoh, penulis dapat membuat pembaca lebih mudah untuk berempati atau membayangkan posisi dirinya berada di posisi karakter dalam cerita. Singkat cerita, pembaca akan lebih mudah menyelami subjektivitas karakter dan lebih merasa terhubung dengan karakter.

Keterhubungan itulah yang membuat cerita tidak membosankan.

Answered Mar 21, 2017