selasar-loader

Apa prinsip atau motto hidup yang kamu pegang?

Last Updated Dec 23, 2016

6 answers

Sort by Date | Votes
Robby Syahrial
Penikmat kenikmatan duniawi

Hasil gambar untuk Jangan pernah takut akan apapun

"Jangan pernah takut akan apa pun"

Apa yang perlu kita takutkan di dunia ini? Hanyalah Sang Pencipta. 

Allah menyelipkan perasaan takut pada hati setiap manusia. Takut akan kematian, takut akan terluka, takut akan seseorang yang lebih kuat, takut akan ancaman, takut akan hantu, takut akan hewan, takut akan bencana alam, dan lain-lain. Akan tetapi, jangan lupa, Allah juga menyelipkan rasa berani dalam hati kita. 

Itulah mengapa kita harus berusaha untuk berani melawan semua rasa takut yang ada. 

Ilustrasi via renunganhariini.com

Answered Dec 23, 2016
Erin Nuzulia Istiqomah
Bersyukurlah maka kamu akan bahagia :)

Hasil gambar untuk istirahatnya di surga saja

Dulu setiap saya membaca buku, mendengar sebuah quote dari seseorang, atau melihat sepintas kalimat menggugah hati, saya selalu merasa itu adalah motto hidup yang kuat. Namun setelah itu, lupa ehehehe

Dari sekian banyak kalimat motivasi yang berpengaruh hidup saya, ada sebuah kalimat yang terus memotivasi hati, raga, pikiran, dan jiwa saya. 

"Istirahatnya di surga saja"

Adalah kalimat yang kini saya pegang teguh, saya usahakan, bahwa hidup di dunia adalah sekadar senda gurau. Hidup sebenarnya adalah di akhirat, maka jadikan segala usaha, kerja, tenaga, waktu, dan pikiran sebagai upaya untuk selalu dapat menjadi salah satu pemberat timbangan kebaikan yang kelak membawa kita beristirahat di surga-Nya.

Ilustrasi via pbs.twimg.com

Answered Dec 23, 2016
Ainuen Nadhifah
Wanita oh wanita

Hasil gambar untuk semangat

Go go go semangat. 

 

Ini saya dapat dari drama Korea yang terkenal pada zamannya. Yakni "Full House".

Kata-kata itu jika hanya dituliskan memang tampak biasa. Tapi jika dilafalkan dengan nada semangat, wajah tampil imut, kedua tangan mengepal ke atas, melihatnya membuat semangat saya timbul kembali.

Melalui hidup ini harus dengan semangat. Itulah pegangan saya selama ini.

Go go go semangat!!!

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Dec 24, 2016
Florensius Marsudi
Lelaki, satu istri, satu putri. Masih belajar menulis....

Berpikir lurus, bekerja dengan tulus, itu saja.

Image result for bekerja dengan tulus

Ilustrasi via gstatic.com

Answered Jan 3, 2017
Zulfian Prasetyo
Tertarik pada gaya hidup sehat dan pernak-pernik keseharian lainnya.

Waduh, pertanyaan yang luar biasa ini. Prinsip atau motto hidup yang kamu, eh saya, pegang adalah untuk tidak berharap pada manusia. Ini rupanya sejalan dengan quotes Ali bin Abi Thalib.

NyS3YrJllb_xL9Frw4nHw0cNWx9jIrIr.png

Disadari atau tidak, kita seringkali berharap pada orang lain. Sedari kecil, kita berharap agar diberikan ini-itu oleh orang tua. Sudah kenal uang jajan, kita berharap diberikan uang jajan yang lebih oleh orang tua. Masuk sekolah, kita berharap mendapatkan nilai yang bagus beserta puja-puji dari guru dan teman-teman. Sudah SMA dan kuliah, berharap dicintai oleh seseorang dan diterima apa-adanya (padahal, kita sendiri tidak "apa-adanya" alias menetapkan kriteria pada calon yang kita sukai. Manusia suka semaunya begitu, memang, hahaha). Sudah lulus, berharap diterima kerja. Sudah diterima kerja, berharap dinaikkan gaji. Sudah naik gaji, berharap dinaikkan pangkat dan jabatan. Sudah segalanya, berharap (lagi) pada lawan jenis dan kali ini sekalian orang tuanya agar cinta yang sepaket dengan lamaran itu diterima. Sudah dapat istri (yang sepaket dengan besan), berharap nambah dan kalau perlu hingga slot maksimal yang empat istri itu terisi semua (eits!).

Berharap pada manusia. Itulah kita.

Padahal, kita juga tahu dan sering mengalami bahwa harap pangkal kecewa. Lebih tepatnya, berharap pada manusia itu pangkal kekecewaan. Tidak diberikan uang jajan, nangis. Dapat nilai buruk dan tidak naik kelas, nangis. Cinta bertepuk sebelah tangan, nangis. Gaji dipotong, nangis. Dipecat dari pekerjaan, nangis. Diminta cerai oleh istri (yang sepaket dengan orang tuanya itu), nangis. Digugat cerai oleh seluruh istri yang sampai penuh slot-nya itu, nangis. Kehilangan semua yang dimiliki di dunia, baik itu harta, tahta, dan wanita, nangis. Gagal jadi anggota dewan yang terhormat, nangis. Lanjut gila. Masuk rumah sakit jiwa. Gantian anak-istri yang nangis.

Saya bukan duta sufi Indonesia, apalagi sufi selevel Chandra Malik (yang mengaku sufi plastik. Hehehe lucu juga ada istilah sufi plastik). Saya cuma orang yang ingin mengajak kita semua untuk menyadari hal ini betul-betul sekaligus menjalaninya sebagai prinsip atau motto hidup. Berharaplah pada Tuhan, siapapun tuhan Anda. Belum punya tuhan? Monggo dipunya dulu. Habis itu, berserah dirilah padanya. 

Berserah diri. Ini dia kata kuncinya. Tidak kebetulan, agama saya Islam. Itu agama yang saya pilih saat galau agama kelas 5 SD dulu. Islam itu berserah diri. Dari situ, saya belajar pelan-pelan untuk berserah diri pada Tuhan. Berharap (raja') boleh, tetapi dialamatkan kepada Tuhan, bukan manusia. Sebenarnya kata raja' di sini secara harfiah artinya kembali. Ya kembali kepada Allah. Kita berusaha sebaik mungkin, lalu mengembalikan segalanya kepada Dia. Inilah motto hidup yang saya pegang.

Harap diingat, dipegang belum tentu menempel sedemikian lekat pada ingatan. Yang kadang-kadang refleks juga untuk berharap, namun seketika saya insyaf begitu yang ditumpukan harapan ternyata tidak sesuai dengan harapan yang diharapkan (too much harap words, here?).

Mohon maaf kalau terlalu panjang. Mohon maaf kalau ada yang terkena sindir. Kebenaran hanya milik-Nya, meskipun sering banyak netizen yang ingin ikut-ikutan maha benar juga.

Sekian dan terima amplop.

 

Note:
Ini benar-benar kutipan dari Ali bin Abi Thalib bukan, sih? Jujur, saya masih belum tahu karena keterbatasan ilmu, terutama ilmu agama. Kalau ada yang sekiranya bisa mengklarifikasi, monggo lho komentar di jawaban saya ini. Kiranya Allah kasih kehidupan yang baik buat siapapun yang mau bantu.

Answered Mar 26, 2018
Fani Widianingsih
Love to learn, learn to love

Wah, menarik nih. Saya sih memegang prinsip begin with the end. Atau lebih tepatnya sedang berusaha memegang prinsip itu. Kenapa saya pilih yang seperti ini? Bukan hanya karena diksi yang kontradiktif (begin dan end), melainkan karena saya seringkali salah fokus. Hehehe.

Yang paling sering adalah ketika saya hendak menulis cerita. Saya punya ide yang cukup bagus, lalu menuliskannya dengan semangat. Di tengah jalan, saya terdistraksi oleh banyak hal, mulai dari orang yang tiba-tiba menanyakan sesuatu ke saya, notifikasi-notifikasi ponsel yang seakan tidak ada habisnya itu, hingga terdistraksi oleh lamunan-lamunan saya sendiri.

Gara-gara hal di atas, saya jadi kesulitan untuk menyelesaikan novel saya. Iya, saya ingin jadi penulis novel. Tetapi kok rasanya sulit sekali. Akhirnya saya putuskan untuk menulis cerpen saja. Eh, susah juga ternyata. Rasanya seperti selalu saja sulit untuk menyelesaikannya. Memulainya, okelah. Menyelesaikannya? Wah, saya benar-benar payah untuk urusan yang satu itu. Bahkan tugas-tugas kuliah berupa esai pun kalau tidak dibantu teman mungkin tidak akan selesai. Bisa sih selesai, namun entah seperti apa hasilnya. Mungkin akan sangat tidak jelas.

Karena itu pula saya latihan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di Selasar. Jadi kalau ada yang kesulitan menulis, entah sulit memulai atau sulit menyelesaikan, boleh tiru cara saya. Hehehe.

Nah, suatu ketika, saya baca di sebuah blog bahwa kalau mau sukses menulis novel, harus tahu dulu seperti apa ending-nya. Saya lalu coba untuk melakukan hal tersebut. Begitu tahu mau seperti apa ending-nya, proses menulis saya jadi lebih mudah. Ya, novel saya memang belum selesai, tetapi setidaknya kini ada kemajuan. Mengarahkan cerita pun jadi tidak terlalu sulit seperti sebelumnya. Pun demikian halnya ketika saya mencoba untuk membuat cerpen. Tugas-tugas kuliah? Sekarang bisa lebih cepat karena saya mencari terlebih dahulu kesimpulannya.

Saya kemudian dipinjami teman sebuah buku yang sebenarnya cukup terkenal. Ya, judulnya adalah 7 Habits of Highly Effective People karangan Stephen Covey. Di situ, diajarkan juga prinsip begin with the end ini, tepatnya di kebiasaan kedua. Sejak itu, saya merasa bahwa prinsip ini pun sebenarnya bisa diterapkan dalam berbagai hal, tidak hanya menulis. Dan ini rupanya membantu juga diri saya agar menjadi manusia yang lebih efektif, hehehe. Bukan promo lho, ya.

Mudah-mudahan membantu, ya.

yqdmsJnHybZV3Vd9OIQF_BTPhS7a73-V.jpg ilustrasi via pixabay

Answered Mar 26, 2018

Question Overview


7 Followers
2087 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa prinsip hidup yang benar-benar kamu terapkan dan bagaimana hasilnya?

Apakah menurut Anda, Tuhan masih membutuhkan pembelaan manusia?

Apa prinsip yang Anda pegang dalam hidup Anda?

Apakah prinsip yang benar-benar kamu pegang ketika masih kuliah?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Siapa orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Anda?

Apa fenomena alam yang menakjubkan menurut Anda?

Apa video penyelamatan menakjubkan yang pernah anda lihat?

Kenapa kamu percaya bumi itu datar?

Apa rahasiamu yang tidak diberitahukan kepada siapapun di dunia nyata tapi diberitahukan di selasar dengan fitur anonim?

Bagaimana agar tetap termotivasi?

Pekerjaan apa yang paling menyenangkan di dunia?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?