selasar-loader

Mengapa rencana kesepakatan pembekuan produksi antara OPEC dan Rusia tidak akan berpengaruh besar terhadap harga minyak dunia?

Last Updated Dec 22, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Ronny P
Pengamat Ekonomi Politik. Penyeruput Kopi. Dan Urang Bagak Baladiang

oil

Begini jawaban yang saya dapatkan dari mimpi beberapa bulan lalu, Saudara-saudara. Seperti diketahui sebelumnya, pasar minyak memang sedang ramai dibicarakan menyoroti pertemuan OPEC yang terus merencanakan untuk menahan laju produksi minyak, namun belum juga menemui titik sepakat. Pertemuan tersebut sebenarnya adalah usaha kedua OPEC dalam menyatukan suara terkait rencana OPEC untuk menahan angka produksi minyak setelah pertemuan pertama gagal menemukan titik sepakat.

Pertanyaan selanjutnya, apakah rencana kesepakatan beberapa negara utama OPEC dan Rusia akan menjadi trigger yang berarti untuk mengangkat kembali harga minyak dunia? Rasanya sangat sulit untuk membayangkan minyak kembali ke level harga yang cukup tinggi jika kesepakatan yang diinisiasi tidak menohok kepada persoalan yang sebenarnya, yakni keberlimpahan pasokan dan semakin melemahnya permintaan dunia.

Menurut saya, ada beberapa penyebab mengapa rencana kesepakatan OPEC tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Pertama, kesepakatan tersebut hanya berupa pembekuan produksi, bukan pengurangan atau pemangkasan output. Setelah penurunan yang tajam pada awal tahun, sempat muncul laporan bahwa beberapa anggota OPEC dan Rusia bersiap untuk memangkas produksi dalam upaya untuk mengangkat kembali harga, namun terbukti hasil pertemuan nihil.

Kedua, pembekuan produksi berdasarkan pada baseline output yang terbilang cukup tinggi dari negara-negara yang bersepakat sehingga tidak akan mengurangi penyakit keberlimpahan pasokan yang sudah melanda pasar selama ini. Data menunjukkan, produsen minyak mentah terbesar OPEC, Arab Saudi, memompa 10,2 juta barel minyak per hari pada bulan Januari (patokan baseline output), sedikit di bawah level tertingginya sebanyak 10,57 juta barel per hari yang pernah dicapai pada bulan Juli 2015. Adapun Rusia merupakan produsen yang tak kalah besarnya dengan level produksi tercatat sebesar 10,9 juta barel per hari pada bulan Januari. Dengan tingkat produksi yang nyaris di puncak tertinggi masing-masing negara, maka membekukan produksi hanya akan membuat kondisi supply stabil dalam keberlimpahan seperti sebelumnya alias tidak berkurang.

Ketiga, faktor gesekan dengan Iran dan Irak. Ajakan membekukan produksi dapat menyebabkan gesekan dengan Iran karena negara tersebut baru beberapa bulan lalu diizinkan untuk menjual minyaknya ke pasar internasional setelah sanksi dicabut pada bulan Januari dan terlihat masih sangat bersemangat untuk terus meningkatkan produksi. Begitu pula dengan Irak, output negara tersebut telah melonjak ke tingkat rekor tertinggi karena negara ini berusaha meraup pendapatan lebih untuk biaya perang dengan ISIS. Dengan demikian, sulit rasanya meminta kedua negara tersebut untuk membekukan produksi.

Keempat, kesepakatan tidak melibatkan Amerika yang juga secara terus-menerus memompa minyak ke level tertingginya. Dengan harga yang jatuh ke titik terendah dalam 13 tahun, biaya produksi yang ditanggung produsen shale oil di AS akan kalah saing dibanding biaya produksi Timur Tengah. Nah, kompetisi ini lama-lama diperkirakan akan memicu penurunan produksi di AS untuk tahun 2016. Imbasnya, akan ada pangsa pasar AS yang tertinggal sehingga dipastikan OPEC dan Rusia tidak akan melewatkannya. Faktor inilah yang akan membuat OPEC dan Rusia berpeluang melanggar kesepakatan, yakni iming-iming pasar AS.

Dan faktor terakhir, harga yang lebih tinggi bisa melemahkan permintaan dunia. Jika Arab Saudi, Rusia, Venezuela, dan Qatar berhasil menengahi kesepakatan dengan produsen minyak lainnya, boleh jadi berdampak positif terhadap harga pasar. Namun, permintaan justru diperkirakan akan melemah jika harga semakin meninggi karena ekonomi global melambat, mulai dari  Eropa, Tiongkok, Jepang, dan pertumbuhan permintaan minyak AS yang diperkirakan terus turun. Dan tak lupa permintaan dari negara-negara emerging market yang ternyata menikmati biaya impor minyak murah akan terbawa jatuh, kemudian ikut meruntuhkan tingkat permintaan global yang kemudian akan menggagalkan harga minyak berbalik ke level tinggi.
 

Ilustrasi via upload.wikimedia.org

Answered Dec 22, 2016

Question Overview


1 Followers
668 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Aplikasi atau teknologi apa yang baik digunakan dalam mengatasi bencana alam (banjir, kebakaran, gempa bumi, dan tsunami) di Indonesia yang mengaktifkan masyarakat dan masih berbasis kearifan lokal?

Bagaimana prediksi energi alternatif Indonesia dalam 10-20 tahun yang akan datang? Apakah harga minyak akan benar-benar melonjak?

Bagaimana Petro China bisa mengembangkan eksplorasi minyaknya di Indonesia dan bagaimana performa bisnisnya?

Apakah Rusia adalah negara yang kuat seperti kebanyakan pikiran orang-orang?

Apa yang membuat pengusaha Rusia pesimistis dengan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump?

Apa saja hal yang membedakan T-14 Armata milik Rusia dengan tank lain pada umumnya?

Apakah rencana Rusia dalam membangun perusahaan kilang minyak di Lombok akan menyerap tenaga kerja lokal?

Apa universitas terbaik di Rusia?

Bagaimana Rusia menanggapi ancaman Korea Utara terhadap Amerika Serikat?

Menurut Anda, apa dampak adanya Freeport di Indonesia?

Apa tanggapan orang Indonesia terhadap relokasi kota?

Seberapa berperankah politik dalam penentuan kebijakan kesehatan di Indonesia?

Seandainya Anda menjadi menteri yang mengurusi masalah kebudayaan, apa yang akan Anda lakukan?

Apa yang perlu diperbaiki dari Garuda Indonesia?

Mengapa Lee Kuan Yew dicinta sedangkan Soeharto dicerca, padahal mereka sama-sama memimpin negaranya secara otoriter?

Menurutmu, apakah tepat langkah yang diambil Presiden Jokowi dalam menyampaikan wacana pemindahan ibu kota melalui twitter?

Provinsi mana saja yang menurut Presiden Jokowi akan dikaji terkait wacana pemindahan ibu kota?

Mengapa Yusril Ihza Mahendra mengajukan permohonan pembatalan Perppu Ormas ke Mahkamah Konstitusi (MK)?

Apa yang menjadi fokus pemerintah terkait permasalahan urbanisasi pascalebaran?