selasar-loader

Dari mana asal usul kata Indonesia?

Last Updated Dec 21, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Ronny P
Pengamat Ekonomi Politik. Penyeruput Kopi. Dan Urang Bagak Baladiang

NgwbN5k6pKWyM5vXQ7tA7zD4gh-Awray.jpg

Secara etimologis, menurut penelusuran literatur yang ada, kata Indonesia pertama kali muncul dalam bentuk ejaan Indu-nesians sebagai kata yang merepresentasikan sisi etnologis dan etnografis sebuah rumpun ras Polinesia yang mendiami Kepulauan India. Istilah ini pertama kali digunakan oleh seorang sarjana Inggris, George Windsor Earl, pada tahun 1850 dalam kajian etnologi dan antropologi untuk menamai suatu gugus geobudaya di sepanjang India Kepulauan. Secara etimologis, dalam bahasa Yunani, juga terdapat padanan kata seperti nesas yang berarti 'nusa' dalam bahasa Melayu.

Kemudian James Richardson Logan, yang merupakan rekan George Windsor, melanjutkan penggunaan kata Indunesians ini sebagai terminologi geografis (bukan etnografis). Penggunaan kata Indunesians dimaksudkan oleh Logan untuk menggambarkan kawasan yang meliputi empat wilayah distrik yang tersebar dari Sumatera sampai ke Formosa (Elson, 2008). Namun, istilah ini kemudian mulai tenar setelah digunakan oleh seorang etnolog Belanda yang cukup terkemuka, Adolf Bastian, dalam tulisan-tulisanya sepanjang tahun 1884--1894. Adolf Bastian sudah menggunakan istilah ini secara luas, baik untuk terminologi geografis maupun untuk peristilahan kultural. Artinya, istilah Indunesians sudah dipergunakan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan orang-orang yang berbagi kesamaan bahasa dan budaya di sepanjang gugus Kepulauan India, mulai dari Madagaskar, Nusantara, sampai ke Formosa atau Taiwan (Latief, 2011).

Sementara itu, penggunaan kata Indonesia atau Indonesisch dalam ejaan Belanda sebagai istilah yang benar-benar diarahkan pada kehidupan Hindia-Belanda berlangsung sekitar tahun 1910-an. Kelompok Ethici Belanda mencoba untuk menyatukan perhimpunan mahasiswa pribumi, perhimpunan mahasiswa Cina-India, dan perhimpunan mahasiswa Belanda yang tertarik pada kajian Hindia ke dalam sebuah federasi yang diberi nama Indonesisch "Verbon van Studeenrenden” pada tahun 1917. Dan tepat setahun kemudian, tiga serangkai pendiri Indiche Partij menggunakan istilah yang sama untuk nama kantor berita yang mereka dirikan di Belanda, yakni Indonesisch Persbureau.

Menurut Yudi Latief (2011), maraknya penggunaan istilah Indonesisch di Belanda akhirnya menjadi pemicu lahirnya pemaknaan baru (neologisme) di kalangan mahasiswa dan intelegensia yang sadar politik di Belanda dan di Hindia-Belanda untuk menemukan kode baru bersama bagi kebangsaan baru. Bahkan, di tangan mereka inilah istilah Indonesisch direformulasi secara spesifik yang langsung merujuk pada konteks politico-spatial dari Hindia sehingga memberi sebuah arah politik baru bagi gerakan-gerakan nasionalis yang ada waktu itu.

Hal ini jelas terlihat dari pernyataan Bung Hatta ketika itu (Hatta, 1928), “Bagi kami, Indonesia menyatakan satu tujuan politik, karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya, tiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya”. Dari pernyataan Bung Hatta ini, jelas terlihat bahwa telah terjadi pergeseran makna kata Indonesisch dari kata sifat dan kata benda pasif menjadi kata kerja yang sangat aktif-idealis sebagai awal mula lahirnya generasi baru barisan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Nah,  sesuai dengan jiwa zaman (raison d’etre) waktu itu, istilah ini dilahirkan kembali untuk memberi definisi diri dan memberi embarkasi antara pihak penjajah dan pihak yang dijajah. Secara spesifik, semangat dan ideologi antikolonialisme memberi substansi yang sangat mendasar bagi kelahiran rasa kebersamaan dan rasa sebangsa-setanah air ketika itu. Kemudian pada tahun 1922, nama Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesisch Vereeniging demi memenuhi kebutuhan pembatasan posisi politik antara penjajah dan daerah jajahan tersebut (Ingleson, 1979).

Dan sampai pada akhirnya, para mahasiswa pribumi di Belanda tidak lagi berminat menggunakan istilah dalam bahasa Belanda untuk menamai sebuah perhimpunan karena dinilai sudah tidak cocok lagi dengan identitas Indonesia baru yang telah mereka kobarkan. Pada era ini, rasa nasionalisme sudah mulai bergejolak. Alhasil, pada tahun 1924, Indonesisch Vereeniging berubah nama kembali dengan memakai ungkapan bahasa Indonesia (tepatnya bahasa Melayu) menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) yang salah satu tokoh utamanya adalah Mohamad Hatta. Lebih jauh lagi, nama majalahnya pun ikut berubah dari Hindia Putra menjadi Indonesia Merdeka.

Ilustrasi via encrypted-tbn0.gstatic.com

Answered Dec 21, 2016