selasar-loader

Mengapa pasar modal Indonesia perlu direstrukturisasi?

Last Updated Dec 21, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes
Ronny P
Pengamat Ekonomi Politik. Penyeruput Kopi. Dan Urang Bagak Baladiang

8frj_bkX6XP56-6-tlFLLKLNdIQFsW2Y.jpg

Dari sisi kualitas, pasar saham Indonesia tentu masih sangat jauh dari ideal. Karena, 65% investor yang bermain adalah investor asing. Imbasnya, pergerakan pasar saham nasional lebih banyak dipengaruhi oleh volatilitas dan isu-isu di pasar global daripada sentimen dari dalam negeri. Bandingkan dengan negara-negara tetangga yang rerata 70% pasarnya dikuasai investor domestik. Walhasil, pasar modal mereka relatif lebih imun terhadap sentimen global.

Oleh karena itu, publik, terutama para pelaku pasar modal dalam negeri, patut mengapresiasi berbagai langkah terobosan yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mendongkrak jumlah emiten dan jumlah investor domestik. Saat ini, misalnya, otoritas bursa tengah giat melobi perusahaan-perusahaan multinasional (multinational company/ MNC) atau penanaman modal asing (PMA) agar "melantai" di bursa domestik.

Saya kira, upaya BEI mendorong para PMA untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham di Indonesia sudah tepat. Sampai saat ini terdapat setidaknya 70 MNC yang beroperasi dan meraup keuntungan dari Indonesia, namun "melantai" di bursa negara-negara lain, seperti di Singapura, Malaysia, Australia, dan Amerika Serikat (AS), dengan kapitalisasi pasar (market cap) lebih dari Rp150 triliun.

Secara etika, tampaknya tak elok juga jika para pelaku asing tersebut "mengeksploitasi" rakyat Indonesia sebagai pasar, tapi tidak memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk ikut menikmati keuntungan melalui kepemilikan saham di perusahaan publik. Apalagi, sebagian MNC tersebut mendulang keuntungan dari sektor-sektor strategis, seperti pertambangan, migas, dan perkebunan. Terlebih lagi bila 90% pendapatan dan aset mereka ada di Indonesia.

Kondisi yang demikian kerap kali memunculkan pertanyaan, mengapa jumlah emiten dan investor pasar modal domestik kalah oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand? Bukankah Indonesia punya populasi jauh lebih besar dan jumlah perusahaan jauh lebih banyak? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu menggelitik telinga manakala kita sampai pada konteks perbandingan pasar modal domestik dengan pasar modal negara-negara tetangga.

Faktanya, jumlah emiten dan investor di bursa saham Indonesia memang masih minim. Indonesia baru punya sekitar 500 ribu investor di pasar modal atau cuma 0,2% dari populasi yang mencapai 250 juta jiwa. Dari sisi emiten, baru ada sekitar 537 emiten yang "melantai" di bursa saham. Padahal, perusahaan berskala korporasi di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), mencapai 5.000-an. Dan jumlah tersebut terhitung berada di luar perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi di tanah air.

Jadi secara komparatif, jumlah emiten di Indonesia tentu tak seberapa jika dibandingkan dengan Malaysia (904 emiten), Singapura (766 emiten), dan Thailand (644 emiten). Jumlah investor di pasar modal Indonesia juga masih tertinggal jauh. Malaysia mencatatkan sekitar 3--4 juta investor atau hampir 15% dari populasi. Singapura tercatat memiliki 1,5 juta investor atau 30% lebih dari populasi.

Dengan fakta dan angka yang demikian, tentu ke depan terbentang jalan yang tak mudah untuk memajukan pasar modal dalam negeri. Namun, pesimisme tentu bukan sikap yang tepat. Layak disyukuri, saat ini BEI sudah tidak mutlak bergerak sendiri. Ada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kementerian di sektor terkait yang bisa diharapkan untuk mendukung gebrakan BEI dalam menjaring lebih banyak emiten dari kalangan MNC, tentu dengan caranya masing-masing. Bahkan bila perlu, sangat dimungkinkan juga bagi pemerintah untuk membuat regulasi yang dapat "memaksa" PMA segera mencatatkan saham di bursa dalam negeri.

Jika saham-saham MNC tercatat di BEI, akan terbuka kesempatan bagi masyarakat, dana pensiun (dapen), perusahaan asuransi, manajer investasi (MI), sekuritas, dan industri terkait lain di dalam negeri untuk turut menikmati keuntungan yang mereka bukukan. Saya kira, langkah semacam ini akan sangat membantu melipatgandakan jumlah investor domestik. Selain itu, dengan berstatus sebagai emiten di BEI, korporasi-korporasi global tersebut juga akan berkontribusi lebih besar mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran.

Pada saat yang sama, sembari menjaring emiten baru dari kalangan MNC, BEI bersama OJK dan organisasi regulator mandiri (self regulatory organization/SRO) yang lain–Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), misalnya, harus terus merangkul perusahaan-perusahaan lokal agar segera "melantai" di pasar saham. Dan selanjutnya, otoritas bursa juga perlu terus meyakinkan para investor, terutama investor lokal, bahwa bursa saham domestik adalah tempat yang nyaman, aman, dan menguntungkan untuk berinvestasi.

Upaya menjaring investor dan emiten baru akan menjadi program kerja yang berkesinambungan. Dengan langkah-langkah tersebut, pelan-pelan kepercayaan terhadap pasar modal domestik akan bertumbuh dan meluas. Oleh karena itu, sangat penting kiranya otoritas bursa untuk lebih giat berpromosi dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Agar efektif, promosi dan edukasi harus dilakukan secara masif, sistematis, dan berkelanjutan dengan melibatkan segenap komponen bangsa, mulai media massa, akademisi, praktisi bisnis, tokoh masyarakat, birokrat, institusi keuangan, hingga masyarakat biasa.

Boleh jadi opsi menghidupkan kembali rencana demutualisasi bursa bisa dijadikan opsi bagi otoritas bursa dan otoritas pasar modal. Berdasarkan praktik demutualisasi yang lazim diterapkan secara internasional (international best practice), demutualisasi biasanya akan mendorong bursa lebih efisien dan profesional. Melalui demutualisasi, struktur kepemilikan bursa menjadi lebih luas, tidak terbatas hanya pada kalangan anggota bursa (AB). Dengan adanya pemisahan keanggotaan bursa, maka pengawasan dan keputusan-keputusan otoritas bursa menjadi lebih efektif, kredibel, dan independen.

Demutualisasi juga mengubah orientasi bursa. Jika saat ini bursa beroperasi atas dasar...(more)

Answered Dec 21, 2016

Question Overview


2 Followers
1117 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa yang dimaksud dengan istilah 'menggoreng saham'?

Apa itu Right Issues?

Bagaimana cara meningkatkan jumlah investor dalam negeri di BEI?

Mengapa IPO di BEI masih minim dan apa yang harus dilakukan otoritas terkait?

Apa tantangan dan pekerjaan rumah di sektor keuangan yang harus diselesaikan oleh calon-calon Komisoner OJK?

Bagaimana pasar modal bekerja dan mendapatkan uang?

Adakah pasar modal yang mengalami kebangkrutan? Di mana dan mengapa?

Perlukah pemerintah menyelenggarakan edukasi pasar modal?

Anda suka entrepreneurship pasti tahu Dragon's Den, siapa investor favorit Anda di acara reality show tersebut?

Siapa Reza Pribadi, Investor?

Bisakah menjadi pemodal ventura (venture capitalist) namun belum bebas secara finansial?

Siapa saja orang-orang berpengaruh di bidang keuangan dan investasi sedunia?

Apa yang menjadi pertimbangan "East Ventures" dalam memberikan investasi kepada perusahaan Startup?

Siapa Edward Lando?

Apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan startup agar berhasil menggaet investor?

Apakah sponsor klub sepak bola di dunia didominasi oleh perusahaan judi?

Benarkah sponsor klub sepak bola Eropa lebih banyak berasal dari perusahaan-perusahaan Asia?

Apa yang akan terjadi jika semua nasabah suatu Bank menarik semua uang mereka?

Apa itu infrastruktur?

Kenapa Indonesia belum juga maju sementara Korea Selatan yang dulu lebih miskin dari kita justru maju sekali saat ini?

Bagaimana cara Jerman membangun kembali ekonominya setelah Perang Dunia II?

Apakah kunci sukses pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada puncak bonus demografi di Indonesia (2025-2035)?

Apakah penggunaan alat ukur Gross Domestic Product (GDP) masih relevan untuk menghitung tingkat kesejahteraan sebuah negara?

Mengapa perhitungan Gross National Product (GNP) jarang digunakan sebagai alat ukur kinerja ekonomi?

Apa yang Anda ketahui tentang Green GDP?

Apakah inflasi selalu berdampak buruk untuk perekonomian?

Apakah konsekuensi deflasi terhadap kinerja perekonomian sebuah negara?

Ketika terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, langkah taktis apa yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan kerja perekonomian?

Apakah depresiasi nilai tukar selalu memiliki dampak negatif untuk perekonomian?