selasar-loader

Apa moda transportasi terbaik di Jakarta?

Last Updated Dec 21, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

C4rLb63xA7thlQdao93mALVF15YJb3Ll.jpg

Jakarta, ibu kota Indonesia. Kota tua yang per tahun 2016 ini sudah berusia 489 tahun.

Jakarta, hingga dahulu sampai sekarang tetap menjadi rebutan, bak kembang desa di antara populasi pemuda jomblo lapuk di sekitarnya. Selalu menarik, tak tertandingi.

Bagi penduduk, terutama penduduk kota penyokong (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) yang bekerja di Jakarta, masuk ke wilayah Jakarta di pagi hari merupakan hal yang sangat menantang. Saya kurang tahu bagaimana perjuangan orang-orang di daerah lain, yang jelas saya sebagai seseorang pernah tinggal di Bekasi dan saat ini memiliki rumah sendiri di Depok, mengetahui dengan pasti betapa menantangnya commute di Jakarta.

Mari kita mulai.

Kita coba awali dengan mobil pribadi.

Jika Anda dari Bekasi, tantangan pertama yang harus Anda hadapi adalah kawasan Kalimalang atau jalan baru Casablanca. Tidak bisa tidak, pasti macet. Pun Anda mau melipir via Pondok Kopi dan terus melaju hingga Jatinegara, jelas bukan solusi. Jalanan yang sempit (akibat setengahnya dipakai untuk jalur Transjakarta) menjadi mimpi buruk yang juga akan Anda rasakan.

Biasanya, warga Bekasi dan sekitarnya akan bekerja di sekitar Sudirman dan Kuningan tentu akan melewati daerah Kampung Melayu dan Tebet. Dua wilayah ini adalah check point kemacetan selanjutnya. Hari kerja, setiap hari, mulai dari jam 6-11 pasti macet. Tidak mungkin tidak. Bahkan di hari libur sekali pun, titik macet juga terjadi di daerah Pasar Gembrong karena banyaknya mobil yang diparkir secara sembarangan.

Pun pilihannya adalah jalur Tol JORR, jika Anda coba-coba berangkat di weekdays setelah jam 7 pagi, mulai dari kawasan Kranggan hingga Kemang/Trakindo, dapat dipastikan Anda juga akan melalui jalur mobil yang padat merayap. Bukan solusi.

Lain warga Bekasi, lain juga warga Depok. Warga Depok memiliki pilihan yang lebih sedikit lagi untuk menuju Jakarta. Yang mereka miliki hanya jalan raya Lenteng Agung. Jika mereka ingin effort dan melintas lebih memutar, mereka dapat menempuh jalur jalan raya Bogor, Jalan Kahfi 1 yang berujung di Trakindo KKO, atau lewat Tol Jagorawi dan masuk ke tol dalam kota atau JORR sesuai kebutuhan.

Semua jalur yang saya sebutkan di atas adalah jalur "neraka" di pagi hari. Pasti macet!

Lalu kembali ke pertanyaan awal, jika mobil bukan pilihan, lalu apa yang menjadi modal transportasi yang paling optimum yang dapat saya pergunakan?

Pilihan pertama jatuh ke kereta api, bus Transjakarta ataupun kendaraan umum lain. Dengan jumlah armada yang masih sedikit (meski sedikit demi sedikit fasilitasnya dibenahi) ditambah dengan variabel "kelaki-lakian" yang saya miliki, boleh percaya atau tidak, saya hampir tidak pernah mendapatkan kursi tempat duduk di moda transportasi umum yang saya sebutkan tadi. Bahkan di weekend sekali pun.

Kendaraan umum sebagai kendaraan "untuk semua" memiliki standar optimasinya sendiri. Berbekal semangat optimasi itulah maka kendaraan umum di Indonesia di desain memiliki jumlah tempat duduk yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penumpangnya. Pun saya mendapatkan tempat duduk, dalam perjalanannya, saya pasti melihat ibu-ibu lah, orang tua lah, anak kecil lah, dan penumpang prioritas lain. Hati mana yang tidak tergerak untuk memberikan tempat duduk.

Masalahnya adalah jarak yang harus saya tempuh untuk sampai ke kantor tidaklah sebentar. Jika effort saya untuk berdiri dikalikan dengan jumlah jam berdiri dikalikan lagi dengan hari di mana saya berdiri, pastilah buat "pengel" orang yang menghitungnya.

Pilihan selanjutnya adalah ojek online. Semurah-murahnya ojek online atau pun taxi online, saya masih melihatnya sebagai moda transportasi yang kurang optimum. Di samping kita harus membayar dengan biaya yang tidak dapat dibilang sedikit, ketergantungan dan hilangnya independensi untuk selalu berpindah (mau ke tempat A pesan ke driver A, mau pindah lagi ke tempat B pesan lagi ke driver B, dan seterusnya) menjadi catatan tersendiri untuk saya. Terlebih lagi jarak Jakarta Bekasi PP dan Jakarta Depok PP tidaklah dekat. Berapa jumlah biaya yang harus saya keluarkan setiap harinya.

Akhirnya, saya dapat simpulkan bahwa moda transportasi yang paling optimum bagi saya adalah motor matic. Bukan motor yang lain.

Motor matic dengan kemampuan akselerasinya akan membuat penumpang mudah menyalip mobil yang stuck karena macet dan akhirnya akan berdampak si pengendara akan sampai lebih cepat ke tempat tujuannya. Teknologi motor matic juga membuat penumpangnya tidak mudah lelah selama mengendarai motor karena tenaga yang harus penumpang keluarkan jauh-jauh lebih sedikit dibandingkan pengguna motor manual. Dengan menggunakan motor matic, yang "bekerja" hanya tangan kanan, tidak harus menggunakan kaki kanan untuk rem dan kaki kiri untuk mengganti gigi selayaknya motor manual. Sangat efisien.

Dari cost yang harus dikeluarkan juga relatif sedikit dibandingkan dengan moda transportasi yang saya bilang tadi. Para bikers hanya harus mengeluarkan biaya bensin sekitar 10 ribu rupiah setiap harinya (bisa lebih sedikit dari itu, tergantung jenis motornya) dan sekitar 30-50 ribu setiap bulannya untuk mengganti oli. Hanya itu. 

Jadi, seberapa tinggi status sosial yang Anda miliki, seberapa banyak uang yang anda miliki, seberapa jantan gaya Anda, mengendarai motor matic adalah yang pilihan yang paling optimum untuk commute dari dan ke Jakarta dari daerah sekitarnya.

Selamat mencoba!

Ilustrasi via i2.wp.com

Answered Dec 21, 2016
Sutiono Gunadi
I am a Food-Travel-Hotel writer, also interests on technology, movies, HIV/AIDS

Menurut saya moda transportasi terbaik di Jakarta saat ini adalah kereta api Commuter Line, selain waktunya tepat dan harganya murah, juga menjangkau hampir ke semua wilayah kota Jakarta. Dibandingkan dengan bis maupun Trans Jakarta yang masih terkendala kemacetan kota Jakarta. MRT dan LRT juga belum tentu bisa menjadi moda transportasi terbaik di Jakarta, karena daya jangkaunya yang masih terbatas. Kecuali bila MRT di Jakarta sudah menggurita seperti MRT di Singapore mungkin MRT bia menjadi moda transportasi terbaik.

Answered Nov 8, 2017