selasar-loader

Bagaimana menjelaskan secara ilmiah tentang konsep perbandingan waktu antara dunia dan akhirat?

Last Updated Dec 21, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Naufan Nurrosyid P
Pernah menjadi tukang bebersih di Lab TheoComp ITB

G1HGlMfXuKbEMeAp8iekx5Nh7_EZk92y.jpg

Menjelaskan secara ilmiah perbedaan waktu di dunia dan di akhirat merupakan kombinasi eksotis antara akal dan iman. Iman menjadi pondasinya, menjadi dasar untuk mempercayai bahwa “Nanti tuh di surga, 1 hari di di sana sama dengan 1.000 tahun di dunia!” dan akal harusnya mampu menjelaskan bagaimana kasus tersebut dapat terjadi. Akal harus bertanggung jawab, ketika nanti anak-anak kita bertanya, kita tidak hanya mengiyakannya, tetapi membuatnya juga semakin yakin.

Takaran iman belum menjadi bidang saya, jadi kita akan coba berdiskusi melalui kacamata yang lain. Tentang bagaimana pandangan waktu menurut sains. Pada 1905, Albert Einstein berhasil mengubah pandangan tentang waktu, melalui mekanika kuantum. Teori Relativitasnya dijadikan dasar pemikiran dan menempatkan waktu sebagai bagian dari dimensi ke empat, yang berarti bahwa waktu adalah variabel yang bisa dibelokkan, bahwa waktu bisa berubah-ubah!

Kita pernah berdiskusi mengenai teori Relativitas Einstein. Untuk kasus ini kita bisa ambil simpulan bahwa waktu bersifat relatif dan sangat bergantung terhadap perspektif. Dilatasi waktu atau perlambatan waktu bisa terjadi ketika sebuah sistem bergerak mendekati kecepatan cahaya. Namun, perspektif yang ada di dalam sistem, tidak akan merasakan dampak langsung dari perlambatan waktu tersebut.

Jadi, ketika kita berada dalam sebuah roket super dan bergerak sangat cepat hingga mendekati kecepatan cahaya, maka waktu dalam roket tersebut bergerak sangat lambat. Kita sebagai penumpang merasakannya penerbangan dalam waktu 1 jam, tetapi kawan-kawan kita yang berada di bumi telah mengamati penerbangan kita selama 1 minggu. Ada yang menarik?

Ya, bahwa waktu sangat bergantung kepada perspektif sistem. Waktu bersifat relatif terhadap acuan. Dari sini, sangat mungkin bahwa waktu di akhirat nanti akan berjalan jauh lebih lambat dibandingkan waktu kita di bumi. Maka, firman Allah yang berbunyi:

Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (QS. Al Israa', 17: 52)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari; (di waktu itu) mereka akan saling berkenalan. (QS. Yunus, 10: 45)

juga dari ayat yang sangat fenomenal ini:

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-sekali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al Hajj, 22: 47)

Nampak bahwa sebenarnya waktu yang berbeda tersebut dilandasi oleh perspektif yang berbeda. Hipotesisnya menjadi kita yang nanti berada di akhirat tidak akan sadar waktu yang telah berlalu, padahal menurut Tuhan sebagai pengamat di luar sistem, waktu telah sangat lama berlalu. Maka dengan Relativitas khusus Einstein, kita berhasil menjelaskan kemungkinan tersebut bisa terjadi. It’s logically correct by Physics. J.

Btw, jika perlu, kita bisa menjelaskan terlebih dahulu tentang Relativitas Einstein melalui link: https://www.selasar.com/question/1818/Bagaimana-menjelaskan-dengan-mudah-teori-relativitas-Einstein

Nah, sekarang fokus permasalahannya kita kembangkan: Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana mungkin waktu di akhirat berjalan lebih lama?

Okay, kita mulai pestanya!

Mekanika Kuantum, merupakan pondasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Einstein melalui teori ini menghasilkan pola pikir yang kita kenal sebagai mekanika gelombang. Teori ini menunjukkan bahwa seluruh benda dan energi di alam semesta dapat diinterpretasikan sebagai gelombang. Salah satu prediksi yang sangat menarik dari Mas Einstein adalah adanya gelombang gravitasi. Sebuah gelombang di alam semesta yang dapat merambat melalui kerangka alam semesta itu sendiri.

Melalui pemikiran ini, kita bisa menggambarkan bahwa space (alam semesta) kita seperti lautan. Kemudian gelombang gravitasi adalah gelombang yang terbentuk di lautan akibat suatu benda bermassa, katakanlah perahu. Terbayangkan? Nah, space tersebut juga menggambarkan sistem waktu, maka dapat dikatakan bahwa waktu yang merupakan bagian dari sistem alam semesta tersebut dapat mengalami distorsi dan tidak berjalan lurus karena adanya gelombang gravitasi.

Sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa setiap benda yang bermassa memiliki gravitasi. Semakin besar massa benda, maka semakin besar pula gravitasinya. Semakin padat benda, gravitasinya juga semakin besar. Dengan kata lain, kita mampu mengamati adanya distorsi waktu dengan fokus terhadap benda langit yang sangat padat, dengan gravitasi yang amat sangat besar. Black Hole!

Melalui pengamatan terhadap dua buah black hole, LIGO pada bulan September 2015 berhasil menemukan adanya distorsi waktu di sekitar benda langit tersebut. Penelitian tersebut menjadi awal dari konfirmasi penting, bahwa gelombang gravitasi benar-benar ada.

Dari penjabaran tersebut mulai nampak cahaya terang (ciye), bagaimana menjelaskan kalimat “Nanti tuh di surga, 1 hari di di sana sama dengan 1.000 tahun di dunia!”. Hipotesisnya adalah akhirat merupakan suatu tempat yang memiliki sistem berbeda. Bisa jadi tempat tersebut memiliki densitas yang sangat tinggi sehingga sistem tersebut memberikan distorsi waktu yang sangat besar.

Sistem tempat kita tinggal tersebut, akan memiliki perspektif waktu sendiri yang bila dibandingkan dengan kerangka acuan kita saat ini, bisa jadi 1 hari di sana sama dengan 1.000 tahun di sini. Namun ingat, kita kelak telah menjadi bagian dari sistem tersebut sehingga perubahan waktu tidak akan terasa. Itulah tafisran fisika saya dari surat Al Hajj di atas.

Lantas bagaimana mungkin manusia bisa bertahan dari sistem yang sangat padat tersebut? Bagaimana manusia bisa bertahan, bahkan hidup pada sebuah “rumah” dengan gravitasi yang lebih besar dari black hole tersebut?

Sederhana, karena saat dibangkitkan dan diangkat kelak, ruh manusia akan ditempatkan dalam...(more)

Answered Dec 21, 2016
Anonymous

Hasil gambar untuk perbandingan waktu didunia dan akhirat

Mencoba menambahkan dari penjelasan yang bagus sekali dari Bapak Naufan di atas, beberapa agama lain juga mempunyai diskrepansi perspektif waktu dunia dan akhirat. Misalnya, Budhis yang mendefinisikan perbandingan waktu dunia - akhirat dengan satuan kalpa (sekira 16 juta tahun waktu dunia) dan bahkan personifikasi waktu sudah jauh dikenal pada mitologi-mitologi sebelum agama modern seperti Yunani di mana deskripsi tentang aktivitas para dewa di alam yang berbeda, yang menggunakan satuan aeon (timeless, indefinitif).

Masih tentang teori relativitas, menjawab akhirat dan kematian yang kekal pada beberapa agama, di mana kekal sama dengan timeless, di mana dilasi waktu tidak akan pernah mencapai titik berhenti kecuali mempunyai energi tak terhingga yang tidak akan mungkin dicapai makhluk kecuali ketiadaan massa (jasad fisik). 

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Dec 22, 2016

Question Overview


3 Followers
2884 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana proses pembinaan tim Olimpiade Fisika Indonesia sehingga sering berada di puncak klasemen dunia?

Bagaimana menjelaskan dengan mudah teori relativitas Einstein?

Mengapa ada gravitasi di alam semesta ini?

Bagaimana Anda memahami waktu dalam buku 'Mimpi-Mimpi Einstein'?

Jika akhirat bersifat kekal, apakah artinya di sana tidak ada waktu?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk memotivasi anak belajar fisika?

Seberapa jauh jarak antara dua objek sampai cahaya yang berasal dari objek A tak mungkin sampai ke objek B akibat percepatan pengembangan alam semesta lebih besar daripada kecepatan cahaya?

Mengapa kabel earphone ketika disimpan di saku selalu kusut?

Bagaimana memahami cahaya sebagai gelombang sekaligus sebagai partikel?

Jika diberi kemampuan untuk kembali ke masa lalu, apa yang akan Anda lakukan dan siapa saja yang ingin Anda temui?

Mengapa durasi kerja harus delapan jam per hari?

Bagaimana cara Anda mengatur waktu antara belajar, mengikuti kegiatan, dan bermain dengan teman?

Apa yang terjadi kita di dunia hanya ada satu wilayah waktu?

Mengapa waktu dalam sehari hanya sampai 24 jam?

Berapakah rata-rata durasi yang tepat untuk video di YouTube agar tidak membosankan?

Bagaimana cara terbaik mengatur waktu cuti?

Bagaimana cara yang paling baik untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance)?

Bagaimana cara singkat/sederhana untuk membiasakan bangun pagi?

Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Adakah kehidupan selain di bumi?

Mengapa permukaan bulan yang kita lihat di sini, selalu sama?

Mengapa pesawat tetap bisa terbang di atas bumi dan tidak terpengaruh dengan rotasi bumi?

Apakah mungkin jika pesawat terbang di suatu titik akan sampai lebih cepat di titik lain dengan menunggu bumi berotasi?

Mengapa nyamuk atau lalat tetap bisa terbang bebas meski ia di dalam mobil yang bergerak?

Berapa banyak sel yang dimiliki manusia sepanjang hidupnya?

Apa yang membuat sains di dunia Islam begitu maju di tahun 700-1100?

Mengapa jumlah jurnal ilmiah yang dilahirkan di Indonesia kalah jauh bila dibandingkan dengan negara lain?

Apa saja perusahaan besar di Indonesia yang memiliki banyak insinyur-insinyur dan ilmuwan-ilmuwan hebat Indonesia?

Apa saja prestasi ilmuan atau insinyur Indonesia yang diakui oleh dunia?

Apa kebenaran atau prinsip yang Anda yakin benar tapi semua orang di sekeliling Anda mengatakan itu salah?

Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan ada?

Apa dunia ini adil?

Jika memang hanya satu diantara tiga agama langit (Islam, Kristen dan Yahudi) yang benar, mengapa Tuhan tidak menimpakan adzab kepada ajaran yang salah seperti yang Tuhan lakukan kepada kaum Ad, Nuh, Tsamud?

Mengapa kisah-kisah Israiliat seringkali dijadikan referensi yang sahih dalam mengajarkan hikmah dalam budaya Islam?

Apa agama orang tua Muhammad SAW? Jika mereka non-Islam, apakah mereka masuk neraka?

Apakah sebagai seorang manusia biasa, para nabi juga memiliki dosa? Jika benar demikian, apa saja dosa mereka?

Bagaimana Anda dapat menjelaskan keberadaan Tuhan dan Malaikat secara ilmiah?