selasar-loader

Siapa Ma Isa Lombu, Pendiri dan CBDO Selasar?

Last Updated Dec 20, 2016

Sejatinya ia adalah seorang Slytherin. Detail lihat di sini.

18 answers

Sort by Date | Votes
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

5LcTVvr3wu7hkf7USnARnex2Z9oKQGja.jpg

Siapa Ma Isa Lombu, Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar?

Akew. Begitu dulu saya mengenalnya. Ketua Umum Senat Mahasiswa FEUI Tahun 2006. 

Adek kelas saya di UI. Kami berbeda fakultas, saya di FISIP dan beliau di FEUI. FEUI terkenal dengan kehandalan akademik para elit mahasiswanya. Ada dua elit mahasiswa yang di-supply dari organisasi di FEUI. Satu dari Senat Mahasiswa (kini BEM) dan satu dari BO Economica. 

FEUI ini punya semacam kebanggan sendiri dengan slogan kala wisuda “paling sial jadi menteri’. Persepsi ini melekat sekali di pikiran saya sebagai warga FISIP. Akew memang bukan “Anak BO” yang pemikiran dan ketajaman analisis nya lewat tulisan bisa kita nikmati seantero universitas. Bahkan dari mahasiswa baru kita bisa melihat calon calon elit FEUI dari sisi akademis dengan menikmati tulisannya di BO Economika. 

Berbeda dengan Edo Mahendra, misalnya, teman seangkatan saya setahun di atas Akew, adalah Komandan BO di angkatan saya. Sejak mahasiswa sudah terlihat ketajaman analisanya via BO, terbukti kemudian Edo teman seasrama saya ini berhasil lulus PhD dari Oxford University dan kini menjadi Staf Khusus salah seorang Menko. Akew tidak saya kenal dan tidak terkenal secara "akademik". Mungkin karena jurusannya Manajemen, memang belum ada menteri dari manajemen. 

Saya mengenal begitu saja. Akew datang dari langit masuk ke dalam memori.

Saya tahu nama ini dari Fauzan Zidni, sekarang Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi). Dia menggantikan saya menjadi ketua senat di FISIP (memang yang bersangkutan saya siapkan menggantikan saya). "FE siapa Jan, Ketua Senat?"

Akew, kata Pojan. Siapa dia?

Jagoan! Hanya itu. 

Kemudian saya sempat bertanya juga dengan Gafari (ekonom muda Bank Indonesia, jebolan UI, dan Columbia University, NY), Ketua Senat Mahasiswa FE seangkatan dengan saya. 

"Siapa ganti elo?"

"Akew" kata Gafari.

"Anak mana?" 

"Kekuatan besar" katanya.

Akhirnya kegiatan kemahasiswaan membuat saya mengenal Akew.

Ternyata namanya Muhammad Isa. Panggilannya Akew. Jalannya cepat. Sering salaman dengan saya di Masjid UI. Atau berselisih di jalan dia melaju dengan motornya yang legendaris dan jaket hijau lumut FSI-nya yang sangat memorable

Dalam hati saya saat mengenal dan menjabat tangannya pertama kali agak unik juga. Semacam DeJavu. 

"Anak siapa ini?" 

"Siapa bapaknya?" 

Berani benar kasih nama anak dua tokoh penting dalam sejarah umat manusia. Dua nabi dalam Islam. Atau dua nabi satu Tuhan (bagi umat Kristen). Muhammad dan Isa (Yesus bagi umat nasrani). Dua orang suci. Dalam satu nama. Itu saja yang menjadi pertanyaan saat berkenalan dengan tokoh yang satu ini.

Tidak pernah saya beraktivitas bersama dengan Akew, alias Muhamad Isa saat di kampus. 

***

Saya datang dengan ide membuat suatu startup yang bisa menjadi user generate content untuk menulis ide-ide serius sehingga orang bisa berbagi ide di internet. Sudah ada marketplace for goods, kenapa tidak ada marketplace for idea.

Saya datang pada salah seorang junior Zaky programer yang saya percaya untuk bisa mewujudkan ide saya ini. 

Zaky merekomendasikan nama "Akew" untuk bergabung dan mewujudkan ide saya itu.

Waw. Orang kuat dari FEUI. Kenal dari mana saya ga pernah tahu sampai sekarang.

Saya hanya percaya Akew jagoan dia pasti tetap jagoan.

Dari informasi Zaky, saya dapat informasi Akew ikut Prof. Renald Kasali di Rumah Perubahan. Cut the story short. Akew bersedia dan ternyata kita sevisi. Bedanya, saya saat itu masih banyak kesibukan di luar, Akew bersedia untuk fulltime mengurus Selasar. 

Mulailah Akew membangun Selasar, dia mengajak Shofwan Doktor Muda dari Jepang. Nah, Shofwan ini saya lebih kenal dari Akew, jenius eksentrik yang suka bersendal jepit di kampus. Sudah doktor dia rupanya. Saya pikir Akew dan Shofwan akan bisa membuat Selasar bisa menjaga kualitas konten. 

Berjalan terus, akhirnya pendiri meminta saya untuk memimpin Selasar, saya diminta fokus meninggalkan semua kesibukan di luar. Akhirnya keputusan itu saya terima. Akew akan fokus menjadi Chief Business Development. Karena memang dia anak FE, dan jagoan dalam perhitungan dan business. Pendiri merasa saya lebih tepat di CEO, tidak di Chairman. Visi dan ide mula-mula juga toh dari saya. 

Saya harus bertanggung jawab, kata Akew. 

Shofwan akhirnya tidak bisa aktif fulltime di Selasar karena diterima menjadi abdi negara menjadi PNS dan sekarang ketua program HI UI. Bertambah tak mungkin Akew dibiarkan sendiri. Saya harus bersama terjun di eksekutif mengurus Selasar sehari-hari.

Selasar semakin bertambah tumbuh, dan Akew membutuhkan saya, saya tentu membutuhkan Akew. 

Susah senang Selasar ini akhirnya saya jalani bersama Akew. Kami mengenal lebih banyak. 

Nama Ma Isa Lombu pun adalah usulan dari saya. Setelah tahu ternyata Akew keturunan Nias. Dan Ma adalah singkatan dari Muhammad untuk panggilan Muhammad untuk orang Tiongkok. Lombu adalah fam Nias-nya Akew. Saran saya ternyata diikuti oleh beliau. 

Akhirnya saya memahami Akew sosok yang unik, jenius, dan memiliki pengetahuan ekonomi dan bisnis yang sangat baik.

Saya mulai diberi Isa Lombu bacaan dari mulai Harvard Business Review dll. Ia sangat skeptis tapi optimis. (Nahlo, skeptis tapi optimis).

Saya orangnya "gas" terus. Isa ternyata "rem" dan "kopling". Saya sangat "makro" dan mengawang-awang, Isa detail dan "mikro".

Akhirnya saya sampai pada simpulan, saya dan Isa ini tandemokrasi. Macam Putin dan Medvedev. Biasa berganti tempat untuk tujuan tujuan yang sama.

Isa pindah dari CEO ke CBDO saya dari Chairman turun gunung. Seperti Putin dan Medvedev yang bertukar posisi dari Presiden ke Prime Minister.

Akew menyebut saya "otak kanan" sejati. Saya menemukan Isa otak kiri sejati. Yang jelas Isa belum ke psikiater dan minum obat bekerja dengan saya. Dia justru membuat saya lebih asik dan menggigit dan jarang mengaum. 

Namanya adalah Doa.

Dua nama sosok besar sejarah itu ternyata memang doa untuk bisa membuka kunci cahaya kesabaran.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 29, 2016

X20iBoV-xB3nDQofP2oWiK0TGJyJNG6P.jpg

Ma Isa Lombu?

Ane kenal kawan ane ini dengan panggilan Akew.

Teman semasa SMA ane selama 3 tahun, Ma Isa Lombu selalu satu kelas sama ane; 1 b, 2 f, 3 IPS 1.

Pertama kali ane ketemu, kesan pertama ane akew ini orangnya aktif bicara, punya kemampuan komunikasi publik yang baik, mudah bergaul dengan orang yang pertama kali dia kenal sekali pun.

Salah satu nilai positif yang menjadi trademark beliau, Akew ini orang yang punya semangat tinggi (never say die). Jadi, inget pengalaman zaman kelas 1 SMA dulu, beliau sampai pakai ikat kepala bertuliskan bushido dalam rangka mengejar ketertinggalan beliau dalam pelajaran Fisika.

Sisi humanis dari Ma Isa Lombu, beliau orang yang punya kesetiakawanan yang tinggi. Tahun 2012 yang lalu ada kawan kami yang mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi arah puncak. Dengan inisiatif beliau, teman-teman dikumpulkan untuk menjenguk kawan kami yang mengalami kecelakaan itu.

Beliau orang yang religius, namun beliau bukanlah orang yang fanatik terhadap suatu golongan atau kelompok tertentu. Mungkin sudah jarang orang yang punya pemikiran seperti beliau pada masa sekarang ini. Di saat orang lain menggebu-gebu membela kelompoknya, beliau bagaikan oase di tengah padang tandus menyiram api fanatisme golongan yang marak belakangan ini. Tulisan-tulisan beliau menawarkan sisi lain dari suatu permasalahan yang sedang menghangat.

Terakhir ane dapat kabar bahwa beliau akan melanjutkan studi beliau di UC berkeley USA. Ane doakan kesuksesan buat beliau, satu yang ane harapkan tetaplah menjadi oase di tengah padang tandus fanatisme golongan di Indonesia.

Sukses selalu kawan baikku Akew.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 29, 2016

a5B4jls3OU6xzhTP0nESOd2stTNpn3eU.jpg

Akew!?

Awalnya bingung namanya Ma Isa Lombu kok dipanggil Akew, but it doesn't matters. Lebih enak juga dipanggil Akew. Lebih terdengar friendly dan juga sesuai dengan karakter wajahnya yang oriental.

Well, saya kenal Akew sudah sekitar 6 tahun, ada dua kata yang saya ingin saya kasih buat dia "Kritis dan Cerdas".

Daya kritisnya yang tinggi sering membuat saya semakin "melek" dengan beberapa permasalahan yang dia ungkapkan yang mungkin sebelumnya saya anggap biasa saja. Hobinya membaca literatur membuat dia ketika bertanya atau mengkritisi sesuatu itu pasti berisi karena didukung oleh data dan fakta. Kalau mau diskusi dengan Akew, harus well prepared, kalau tidak bisa disikat habis sama dia.

Secara profesional, dia sangat capable dalam me-lead sebuah startup company seperti Selasar dan dia sangat passionate ketika di awal selasar berdiri. Dengan semangatnya, dia menjelaskan visi misi Selasar dan apa future target dari Selasar.

Secara personal orangnya sangat open minded, friendly, dan care. So far saya happy berteman dengan Akew. Yang sering saya kritisi adalah mengenai penampilannya yang terkesan cuek, padahal at any moment sebaiknya penampilan tetap diperhatikan juga.

Last but not least, saya yakin dengan role atau amanah apa pun yang diberikan kepadanya, dia akan mengembannya dengan secara profesional, keep the spirit and spread the goodness

Kew, ganbatte kudasai!!!

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 29, 2016
Ghulam Azzam Robbani
Fans Selasar.com

ICXKCZPXCk79xcv7bsiFFgth3CRll5YL.jpg

Saya belum terlalu lama mengenal beliau. Mungkin baru sekitar 3--4 bulan saja. Mengobrol 4 mata pun belum pernah.

Kami beberapa kali berdiskusi via WA dan saya pernah mengikuti talkshow yang diisi olehnya.

Awal mengenalnya, saya tahu beliau ini CEO Selasar.com. Saya termasuk orang yang suka mencermati pergerakan kawan-kawan di UI. Karya-karya apa yang saat ini sedang digulirkan. 

Begitu membuka Selasar.com, "Ok, wow, ini keren banget". Mengumpulkan berbagai opini dan ide dari berbagai kalangan. Sebuah idealisme yang saya pikir sangat keren. 

Dari apa yang saya lihat dari Selasar ini, hal-hal yang diperjuangkan, dan biasanya pendiri adalah representasi karya yang dibuatnya, saya kira sosok Bang Akew ini adalah orang yang idealis dan risk-taker

Dari beberapa kali diskusi via WA, Bang Akew ini saya pikir adalah orang yang kritis, open-minded, penuh rasa ingin tahu, dan berpihak kepada kebenaran dengan logika berpikir yang benar. 

Sosok muslim tulen yang memiliki daya kritis yang patut diapresiasi.

Apalagi, saat ini saya jarang menemui seorang sosok muslim yang kritis, dalam artian tidak fanatik terhadap suatu golongan membutakannya dalam berpikir kritis dan logis. 

Maka, tak salah kiranya jika saya menyematinya sebagai muslim progresif!

Semoga istikamah dalam kebenaran dan dalam jalan perjuangan untuk kebenaran itu, Bang Akew. 

Aamiin... 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 29, 2016
Hana Fitriani
Belajar menahan startup

EPm-SVj_N3IQRbRpD8wFir4lU38dG23M.jpg

Sebenarnya panggilannya adalah Akew, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengubah nama bekennya menjadi Ma Isa Lombu beberapa waktu lalu. "Biar kelihatan keren dan Indonesia-nya, Na! He!" Begitu katanya, walaupun menurut saya branding Ma Isa Lombu agak nanggung untuk seorang Akew.

Butuh waktu agak lama bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik. Saya perlu menggali kenangan bersamanya untuk bisa menyimpulkan gambaran pribadi yang satu ini. Rasa kesal, bete, dan mangkel hampir mendominasi emosi saya ketika harus terbayang-bayang kenangan bersamanya. Dia memang orang yang blak-blakan, dengan gaya yang agak sotoy, dominan, dan koleris garis keras. Wajar jika tidak sedikit orang-orang yang tidak kuat dengan power-nya.

Saya mengenal dia sejak dua tahun lalu. Saat itu, saya adalah mahasiswa ingusan yang mau bekerja paruh waktu di Selasar dan Akew adalah atasannya. Dengan selisih usia yang cukup jauh, mungkin Akew melihat saya sebagai bulan-bulanan untuk dimanfaatkan dengan optimal, salah satunya pelampiasan kepribadian extrovert-nya. Dia bercerita banyak sekali kepada saya, mulai dari kehidupan di kantor, masa lalunya dengan para mantan, bagaimana dia menikah, dan lain lain.

Akew memang bukan tipe yang loveable. Hidupnya yang diwarnai dengan perjalanan dan perjuangan mungkin jadi alasan dia menjadi pribadi yang genuine, cuek, dan die-hard-er sejati. Apa kata orang, bablas aja, the show must go on! Begitu kira-kira. Dan inilah yang membuat Akew adalah Akew, sulit disama-samakan dengan orang lain. 

Orisinalitas Akew pun terlihat pula dalam pemikiran-pemikirannya. Kami pernah berdiskusi dari selepas magrib hingga pukul 22.00 malam membahas tentang pro-kontra pacaran dan diskusi ketuhanan. Sebagai informasi, itu adalah salah satu diskusi yang mengubah hidup saya.

Dalam memberikan pandangan, dia terkadang menggunakan sudut pandang yang relatif berbeda dari kebanyakan orang (meski belum tentu benar). Hebatnya, sekali dia memegang teguh idenya, seakan tidak ada yang bisa menggoyahkan keyakinannya walaupun sedunia mengatakan hal yang berbeda. Saya sangat salut dengan bagaimana dia memegang teguh prinsip dan idenya.

Ditambah, dia adalah diehard-er sejati. Walaupun punya posisi eksekutif, dia tidak enggan untuk melakukan tugas-tugas "remeh" dan rutin, seperti membuat 200 pertanyaan sehari, menyebarkan artikel ke ratusan grup Facebook, dan lain-lain.  Bisa jadi, kalau hidup di zaman Rasulullah, dia menjadi salah satu sahabat dengan tingkat iman yang tinggi, meski harus disiksa oleh para kafir Quraisy. 

Sebenarnya saya agak gengsi mengatakan ini, tapi dia salah satu orang berpengaruh dalam hidup saya sampai saat ini. Walaupun tidak sedikit pengaruh aneh-aneh yang dia berikan, banyak juga pengaruhnya yang membuka pikiran saya dalam kebaikan-kebaikan. 

Saya secara pribadi merekomendasikan Akew sebagai orang untuk dikenal dan ceruk untuk belajar berbagai hal. Dengan mengenal Akew, saya bisa belajar tentang kerja keras, perjuangan, kepemimpinan, dan juga latihan kesabaran dan menurunkan ego, hahaha.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi 

Answered Dec 30, 2016
Robby Syahrial
Tempat Anda memperluas jaringan pengetahuan.

M-nxEnOos6qpPGWtnHdwPGMu11sbL7aY.jpg

Saya bertemu beliau sejak tahun 2015 dan bekerja bersama beliau sampai sekarang (2017).

Kami bertemu di sebuah gedung di kawasan Kemang, pada sesi wawancara saat saya melamar kerja di Selasar.com. Pada saat itu, dia masih berpenampilan acak-acakan sebagai seorang bos.  

Ya, dia orang yang unik. Enggak lucu, enggak suka kebisingan pada saat bekerja, suka siul-siul gak jelas, kadang asyik tapi banyak gak asyiknya.

Dia pintar dan cerdas.

Yang membuat saya respek terhadap dia adalah karena dia orang yang care pada setiap bawahannya. Menanyakan dan memberi solusi. Dia bisa menjadi bos dan teman curhat yang baik. 

Itu saja dari saya.

Semoga asam uratnya lekas sembuh dan dia mempunyai niat dan tekat yang kuat untuk berolahraga. 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Dec 30, 2016
Yusuf S. Simbolon
Peneliti LPEM UI

_gnxj_BpQkJGK1oggQs6Q6MZyDPIqy_S.jpg

Ma Isa Lombu

Oke, saya tahu nama aslinya Muhammad Isa.

Tapi, saya lebih suka memanggilnya “Akew”.

Pertama kali saya melihat Akew, ia jauh dari kesan yang positif. Penampilannya waktu itu sebagai mahasiswa senior, menurut saya, mahasiswa urakan dengan model rambut keriting gondrong. Kalau saja dia tidak memotong rambut, mungkin saya tidak mengenali wajahnya andai kami berpapasan entah di mana.

Tak banyak yang saya ketahui tentang Akew pada saat tahun-tahun pertama saya menjadi mahasiswa FE UI. Yang Saya tahu, ia mahasiswa “tua” yang belum lulus-lulus, sampai-sampai masih harus sekelas dengan saya untuk mata kuliah Pengantar Akuntansi yang memang diwajibkan bagi mahasiswa baru.

Bagi saya yang baru aktif di badan eksekutif mahasiswa, nama Akew mulai terdengar populer sejak ia membuat tulisan di salah satu mading kampus berisi kritik terhadap perangai anggota senat yang gemar bermain game menggunakan listrik "gratis" di kampus. Bibit-bibit korupsi, katanya saat itu. 

Tulisan itu sempat menjadi bahan pergunjingan teman-teman mahasiswa selama berminggu-minggu. Terlepas bahwa tulisan itu bisa saja dimanfaatkan untuk bahan politik intra-organisasi kampus, saya melihat Akew sosok yang idealis dan jernih dalam berpikir. Sifat yang patut dimiliki seorang yang mengaku dirinya mahasiswa.

Tetapi, buat saya pribadi, ada hal yang lucu dari kejadian tersebut. Akew, dalam tulisannya, tidak menggunakan nama asli, melainkan semacam nickname Makoto Shishio. “Buseet!” Saya pikir. Mengapa pula ia sampai menggunakan nama samaran yang terinsipirasi dari karakter fiksi dalam serial manga Jepang “Samurai X” yang pernah nge-top di era 2000an. 

Makoto Shishio adalah tokoh antagonis yang menjadi pemimpin milisi anti-pemerintah di era restorasi Pemerintahan Meiji. Belakangan saya baru tahu kalau Akew adalah mantan Ketua Senat FEUI yang legendaris karena di masanya, ia mampu meminimalisasikan “korupsi” di salah satu event bergengsi kampus yang banyak menjadi rebutan “proyek”. 

Kesimpulan, saya saat itu is it cool, right? 

Atau Akew mungkin saja mengalami post-power syndrome berkepanjangan mengingat ia masih belum lulus-lulus.

*

Saya memang terlanjur berprasangka negatif pada sosok Akew. Namun, siapa sangka persahabatan saya dengan Akew justru mulai menjadi akrab sejak saya mulai menempati rumah kos “Arista” jelang tahun terakhir saya sebagai mahasiswa UI, sekitar akhir 2011 – kosan ini punya side story yang menarik tentang Akew, meskipun saya tidak akan menulisnya di sini karena akan terlalu panjang. 

Meskipun kamar kos saya tidak berada di bangunan yang sama dengan kosan Akew, Saya sering mampir ke kosannya untuk sekadar bertegur sapa, bercerita, dan berkumpul dengan sahabat-sahabat senior yang memang kebetulan pernah bersama-sama dalam kepengurusan senat mahasiswa di FEUI.

Akew adalah teman yang sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol, mulai dari hal-hal sederhana terkait kehidupan perkuliahan, membahas hubungan asmara teman sekampus, sampai diskusi kelas berat seperti sejarah terkait agama-politik-dan filsafat. Saya sendiri paling bersemangat berdiskusi kalau Akew mulai membahas tentang peradaban Islam, Yahudi, dan Kristen.

Di kamar kosnya pula, saya banyak menemukan buku-buku tebal yang bisa dijadikan bantalan tidur, yang isinya mengenai sejarah-sejarah dunia yang ditulis dengan diksi yang sulit dicerna dengan mudah. Saya tidak tahu bagaimana pada akhirnya ia bisa melahap habis buku-buku itu dan kemudian menceritakan kembali tanpa kehilangan substansinya. 

Akew mampu membahasakan kisah-kisah sejarah dengan perspektif yang berbeda, setidaknya dibandingkan dengan apa yang selama ini pernah saya pelajari di kelas-kelas pendidikan formal. Tak jarang pula, ia menyelipkan humor politik dalam ceritanya. 

Pokoknya kalau sudah ngobrol topik ini dengan Akew, kami bisa asyik sampai larut malam.

Akew memang manusia yang senang berpikir. Dan ia kritis. Kami tak sekali dua kali berdebat panjang dalam diskusi. Akew termasuk orang yang sangat kukuh pada pemikirannya sendiri. Meskipun demikian, ia sangat menghargai pendapat dan keyakinan lawan bicaranya. 

“Itu menurut gue. Kalau lo berpendapat lain, silakan…bebas!” adalah kata-kata pamungkas dari Akew tiap kali perdebatan dalam diskusi warung kopi di Arista berakhir tanpa solusi.

Akew juga sosok pribadi yang mampu melihat potensi diri seseorang dan memotivasi orang itu untuk unjuk gigi atas kemampuannya tadi. Dalam kasus saya, Akew melihat rising star yang kalau produktif menghasilkan tulisan pemikiran, cepat mendapatkan popularitas di jagat maya yang memang menjadi trend dalam beberapa tahun belakangan ini.

“Banyak orang yang punya ide-ide hebat, tetapi sedikit dari mereka yang mendapatkan panggung. Selasar hadir untuk membantu orang-orang seperti itu. Dan lo bisa manfaatkan Selasar untuk membangun brand lo..."

Akew pulalah yang memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan Selasar.com, untuk membantu mengisi konten infografis yang merupakan salah satu produk kreatif mereka pada waktu itu. Di sana saya melihat Akew sebagai rekan tim yang egaliter dan mampu memimpin tim untuk terus progresif dalam memikirkan ide-ide baru untuk konten infografis Selasar.com.

*

Soal karier, ada cerita menarik tentang Akew. Sepengetahuan saya, Akew adalah satu-satunya “Anak Arista” yang doyan gonta-ganti pekerjaan. Ia tidak pernah menetap di satu lembaga pemberi kerja lebih dari satu tahun. Selama saya di Arista, Akew mungkin sudah berkantor di 3-4 tempat yang berbeda. Mulai dari yang berbau akademis, politik, sosial, dan entrepreneurship. Akew berkata kalau ia memilih tempat kerja yang bisa memberikan ruang untuk mengembangkan passion (meskipun kami meragukan hal itu). “Gue akan berhenti melakukan hal seperti ini di usia 30”, katanya. 

“Gila! Sudah lulus, masih saja idealis”, saya pikir. Tetapi di balik itu, saya tahu bahwa Akew sebenarnya orang yang terobsesi pada tantangan. Ketika ia sudah menaklukkan tantangan itu, hilanglah rasa ketertarikannya dan...(more)

Answered Dec 31, 2016
Taufan Ramadhan
Marketing & Sales Consultant

sI57WEFyiCwyOMAI6gHJuOQdluiPcqgR.jpg

AWAL PERKENALAN

Selepas akhir tahun 2007 silam, saat masih baru kuliah di Fakultas Ekonomi UI, saya memang merencanakan untuk mencari tempat kost mengingat jarak saya kuliah dan rumah serta aktifitas kampus yang cukup melelahkan jika harus pulang-pergi.

Karena masih berstatus mahasiswa baru, maka saya meniatkan diri untuk lebih aktif berkenalan dengan senior kampus. Dari SMA pun, saya banyak akrab dengan senior-senior.

Saat itu senior yang saya tanyakan informasi mengenai kost murmer (murah meriah :D) tapi gak buluk-buluk banget letaknya di mana adalah Bang Al Kautsar (FEUI 2004). Bang Al ini Ketua Senat Mahasiswa FEUI 2006/2007 pada saat itu. Bangga benar saya bisa akrab dengan tokoh kampus yang baik hati ini (uhuk).

Lalu, diajaklah saya mengitari Kukusan Teknik (Kutek) untuk mencari tempat kost.

Beberapa tempat saya sambangi bersama Bang Al dan sudah penuh. Ada yang available tapi tidak sesuai budget. akhirnya kami memutuskan untuk sholat Dzuhur di Masjid dekat sana. Setelah sholat (mungkin karena kasian juga sama saya), lalu, Bang Al menawarkan, "Pan, gini deh, loe mau ditempat kost gue gak? Kostannya gak bagus-bagus banget, tapi lumayan lah. Sebenarnya itu ruangan gue harusnya untuk dua orang, tapi temen sekamar gue juga jarang dateng. Nanti gue tanyain dulu teman sekamar gue mau apa enggak kalau ada orang lain. Jadi, kita bisa patungan bertiga lebih murah. Nanti, bisa disampaikan juga ke ibu kost kalau mau bertiga. Paling nambah biaya sedikit untuk air dan listrik."  Lalu saya tanya, "Letak kostan loe di mana Bang? Jauh gak? Terus per bulan jadinya gue bayar berapa?". Bang Al kemudian bilang, "Udeh ikut aja deh biar tau. Itu kost tempat berkumpul para legend FEUI. Eric juga sekostan". sama gue.

"Dan loe harus kenal yang namanya..." 

"AKEW!"

Kalau Bang Eric (Sekum-nya Bang Al di Senat saat itu) saya sudah pernah ngobrol juga. Tapi, ada satu nama khas yang saat itu mahasiswa baru sering sebut-sebut tapi saya sendiri belum pernah melihatnya.

Mahasiswa dan aktivis yang sangat terkenal senatero FEUI. Mahkluk ini bernama AKEW! Sangking terkenalnya ini orang, sampe-sampe 10 angkatan di bawah dan sepuluh angkatan di atas nya pada kenal beliau. Ex Ketua Senat 2005/2006 pula.

Perasaan bisa bertemu "legend" apalagi bisa se-kost dengan "legend" jadi kredit buat saya, terutama untuk bisa belajar bareng dan menimba "ilmu-ilmu daging" dari para senior.

Akew saat itu bak Rock Star yang semua mahasiswa baru dengan 'track' menjadi aktivis mungkin ingin berjabat tangan dan berfoto dengan Sang Bintang, tapi sayang saat itu HP saya masih Esia jadi belum bisa foto...jihahahah.

Akhirnya tiba juga di kostan Bang Al, dan Mega Bintang kita, Akew. Arista nama kostan itu.

Terlihat wangi tak menawan dan ringsek, tapi demi bisa berkumpul dengan para "legend" saya rela DEAL untuk membayar sewa per bulan setelah mendapat persetujuan kawan sekamar Bang Al.

Dan tiba-tiba, setelah sekitar 30 menit berada di kamar Bang Al, suara motor bebek berhenti di parkiran lalu ada suara teriak... 

"Assalaimualaikum, Beibeh!".

"Akew dateng tuh", Bang Al bilang ke saya. 

"Woi Kew, ada Maba mau kenalan sama lw nih namanya Topan. Bisa 'dikader' nih nanti.", sambut Bang Al. Dan saat itu pertama kali saya berkenalan dengan Akew alias Ma Isa Lombu alias Muhammad Isa.

Bangganya saya :D

CERITA BERSAMA SANG LEGEND

Karena saya paling junior di Arista, maka semua senior saya panggilan dengan awalan "Bang". Maka, saya memanggil Akew dengan sebutan "Bang Akew".

Sebenernya Akew gak mau ada awalan "Bang", cukup "Akew" saja katanya dia. Tapi, karena saya orangnya rada gak enakan dan menghormati yang lebih tua, maka saya tetap memanggilnya "Bang Akew".

Bang Akew, bukan hanya teman kost, tetapi juga mentor bagi saya. Bang Akew ini ternyata jago kalau berdebat atau mengutarakan argumentasi. Kata dia kalau mau berdebat harus banyak baca buku. Koleksi buku-bukunya lumayan banyak waktu di kostan. Maka sejak dia bilang begitu maka saya banyak membaca buku-buku berdiskusi dan berani mengutarakan pendapat di depan umum.

Yah, namanya juga mentor, 'kata-kata saktinya' kudu diikutin kalau enggak bisa kualat kitanya :D (Note: soalnya saya kalau debat sama Bang Akew selalu kalah, makanya sangat termotivasi baca buku buat ngalahin dia...(Motivasi terselubung. Kabur ahhh..)

Tapi, dari cara dia yang 'ngototan' kalau lagi berbicara atau berpendapat saat kita berdiskusi, saya paham bahwa dia sosok cerdas yang mempunyai mimpi hebat untuk membangun sebuah organisasi pasca kampus nanti. Terlebih, bang Akew punya kapasitas untuk bisa bersahabat baik dan menjaga relasi dengan banyak orang. Ini modal utamanya juga.

Target-target hidup Bang Akew selalu ditulis di white board kamarnya dan selalu diceritakan ini dan itu tentang harapan dia. Sangat visioner dan menginspirasi saya juga untuk mempunyai life plan tertulis.

Meski pernah mencicipi karir di dunia profesional, sesuai tebakan kami para sahabatnya di Arista, bahwa Bang Akew ini tipe orang uang gak bisa diatur-atur kalau sudah punya ide sendiri. Mental orang dapat terlihat ketika membangun sesuatu dari awal. Entah membuat produk atau organisasi sendiri. Itu memang karakter bawaan dia yang sangat antusias untuk membangun sesuatu dari nol hingga menjadi besar.

Maka hal yang harus diperhatikan adalah menemukan orang yang tepat untuk bisa bekerja sama dengan Bang Akew. Kudu "Klik" lah.

Mungkin lika-liku mimpi Bang Akew sudah berbeda dengan beberapa tahun lalu pernah ditulis di kamar kostnya.

Sebagai sahabat saya sangat bersyukur bisa melihat Bang Akew bersama Bang Miftah bahu-membahu membangun Selasar.com yang memang tidak mudah, tetapi saat ini sudah menunjukan hasil yang sangat positif.

Selasar merupakan titik yang tepat bagi Bang Akew untuk terus berkarya.

Keep Fight, Brada!

Semoga Selasar bisa berjaya di darat, laut dan udara :)

#Aamiin

Answered Jan 1, 2017
Muhammad Alkautsar
Digital Marketing Enthusiast, Trainer, Arista Institute

vpbDJdxiesk0ghfTWMPEejn4M3yhsCNZ.jpg

Panjang-panjang amat yak ngejelasin tentang Akew.

Pertama, gw ga kenal sama yang namanya Ma Isa Lombu. Menurut gw, tu nama gaya-gayaan aja biar si Akew ni ada nama panggung macem Cita Citata atau Julia Perez gitu.

Macem artis aja lu Kew.

Tapi, secara personal ya Akew alias Akio alias Akiong yang dulu gw kenal masih sama dengan yang sekarang gw kenal.

Dulu banget pernah ngulas doski di blog gw di sini.

"Pria yang ingin saya bahas kali adalah seorang cukup terkenal. Entah terkenal karena hal yang positif atau negatif, yang pasti dia terkenal. Saking terkenalnya, bahkan ada yang bilang dia dikenal oleh 10 angkatan yang lebih tua dan 10 angkatan yang lebih muda. Pria ini bernama Muhammad Isa alias Akew alias Akio alias Akiong.

Dari nama aliasnya saja kita tahu bahwa anak ini pasti "sipit", dan itu benar adanya. Tapi, jangan sekali-kali panggil dia orang Cina, karena dia bisa marah dibuatnya. Karena memang faktanya dia bukan orang Cina. Dia adalah orang Indonesia 1000%, lahir batin malah. Hanya saja memang faktanya dia adalah WNI dengan darah keturunan dari Tionghoa sana.

Meskipun dalam dirinya mengalir darah keturunan dari Tionghoa, jangan sekali-kali Anda mengadu rasa nasionalisme Anda dengannya, bisa kalah Kau semua nanti.

Akew ini kalau saya perhatikan, rasa nasionalismenya mirip-mirip Kwik Kian Gie lah. Sebagian orang yang lain mengidentikkan Akew dengan Soe Hok Gie.

Yang mana pun itu, yang pasti Akew yang saya kenal sangat mencintai tanah airnya ini.

Kecintaan pada tanah airnya ini sebenarnya terefleksi pada moto hidupnya. "Untuk Islam, Indonesia, dan kemanusiaan yang lebih baik", begitulah kira-kira moto hidup Akew.

Moto ini sih menurut saya tercermin dari gaya hidupnya selama menjadi mahasiswa. Gaya hidupnya yang sangat proletarian mencerminkan sangat inginnya dia merasakan yang dirasakan jutaan masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

***

Saya pribadi mengenal Akew secara resmi ketika open recruitment Senat Mahasiswa FEUI 05/06. Ketika itu, saya ingin mendaftarkan diri sebagai staf pada Departemen Pengabdian Masyarakat (Pengmas). Dan sebagaimana teman-teman bisa duga dan ketahui, yang menjabat sebagai Kepala Departemen Pengmas, tak lain tak bukan adalah Akew.

Tak berapa lama dari pendaftaran, saya diminta untuk datang pada wawancara perekrutan oleh si Akew ini. Yang unik adalah wawancaranya bukan dilakukan di selasar ruang senat atau di lorong gedung perkuliahan. Wawancara perekrutan versi Akew ini dihelat langsung di kosannya dari bakda isya sampai hampir tengah malam. Belakangan saya ketahui, bahwa semua calon staf yang laki, diwawancara di kosan dia.

Ketika pertama kali menjejak di kosan dia, Kosan Arista, kesan saya adalah semacam "gembel banget nih kosan".

Kosan Arista ini letaknya di belakang hampir ujung dari wilayah komplek kos-kosan Kukusan Teknik (Kutek). Sudahlah di ujung, kosan ini ternyata juga tampak dari luar kurang terawat. Namun demikian, siapa sangka justru di kosan inilah, saya dan teman-teman di kemudian hari membentuk sebuah persaudaraan bawah tanah. Dan siapa sangka justru di kosan inilah nanti saya akan bertemu dengan teman-teman yang luar biasa.

Kembali ke kisah wawancara perekrutan, saya pun akhirnya masuk kamar Akew. "Proletar (baca: gembel) banget nih kamar", begitulah kesan saya akan kamar Akew.

Kamarnya terhitung sempit, dan bertambah sempit dengan buku-buku Akew yang berserakan. Entah dibaca atau tidak, buku-buku Akew terhitung banyak dan "berat". Namun, setelah diberes-bereskan beberapa saat, kamar tersebut tampak rapi dan terkesan "intelek". 

Wawancara dengan Akew sang Kadept Pengmas pun dimulai.

Sebagai anak muda yang begitu ingin untuk masuk organisasi macam senat mahasiswa, saya keluarkanlah segala macam "emengan" saya. Entah karena kasihan atau karena hal yang lain, alhamdulillah saya diterima menjadi stafnya di Departemen Pengmas SMFEUI 05/06. Dan dari titik itulah, saya mulai berinterkasi dengan Akew.

Secara perlahan, saya mulai mengenal siapa diri Akew.

Sebagai orang yang high profile, sebenarnya gak sulit untuk mengenal siapa Akew. Bahkan, orang baru kenalan dengan Akew pun bisa saja mengklaim mengenal Akew. Hal itu muncul karena Akew memiliki sifat yang sangat terbuka. Dia terbuka menyatakan ide dan pikirannya kepada siapa pun. Dia pun terbuka atas kritik dan saran atas dirinya. Ya, hampir semua orang mengenal siapa Akew, bahkan mungkin Anda, para pembaca sekalian.

Seorang teman yang kuliah di psikologi, Ivan Ahda, pernah mendeskripsikan sifat Akew dalam satu kata, genuine

Pertama kali dengar hal itu, saya pun langsung teringat dengan sparepart motor Honda. Tapi, tentu maksud Ivan bukanlah sparepart motor Supra X, Honda Beat, Kharisma, atau Honda 800 seperti milik Akew.

Yang Ivan maksud dengan genuine itu adalah Akew memiliki sifat yang unik, asli, orisinil, dan (relatif) konsisten.

Menurut saya sih, deskripsi Ivan tersebut ada benarnya juga.

Ribet kalau Anda ingin mendeskripsikan siapa Akew sebenarnya. Sebenarnya, ada juga yang mendeskripsikan Akew dengan kata "aneh", "buluk", "gombal", "kempret", "ngemeng aje", atau pun "sok sibuk".

Sebagian yang lain mendeskripsikan Akew dengan kata "aktivis", "akhinya Akiong", atau pun "the legend".

Sebenarnya, si Akew ini adalah objek yang bisa kita kupas panjang lebar. Tapi, untuk keringkasan penulisan, saya cukupkan dulu tulisan saya tentang teman saya yang satu ini. Nanti di kesempatan yang lain, akan saya ceritakan cuplikan-cuplikan cerita tentang Akew yang saya kenal, seperti kisah utang-piutang saya dan Akew, teori-teori absurd Akew, mimpi-mimpi Akew, debat-debat dengan Akew, dll.

Tulisan ini akan coba saya tutup dengan quote berhikmah dari Akew dan pesan cinta dari saya.

"Pacaran itu, adiktif dan progresif"

-Akew-

"Menikahlah dengan orang yang bisa kita anggap sebagai teman, seumur hidup. Kalo enggak cuma bakalan bikin repot"

-Alkautsar-

 

Sukses ya Bro Selasar-nya. Aamin.

Sumber foto via dokumentasi pribadi

Answered Jan 3, 2017
Zulfian Prasetyo
yang mencintai budaya startup

k01nxsUP99UAAXlghLW_8VJ9Amjdxie4.jpg

Saya pertama kali bertemu dengannya di Starbucks Perpustakaan Universitas Indonesia. Saat itu, ia duduk dengan mengenakan hoodie Harvard dan melambaikan tangan ke arah saya yang hendak masuk. Begitu duduk, ada satu botol minyak kayu putih yang saya jumpai di atas meja.

Pengetahuan saya tentang startup masih nol besar saat itu. Mental banker masih terbawa; kemeja lengan panjang, dasi, sweater cokelat, celana bahan slim fit, sepatu pantofel andalan. Saya pastikan tidak ada sehelai pun rambut yang tidak sesuai dengan tatanan saya yang ekstra rapi. Orang yang saat itu saya kenal sebagai Isa hanya mengenakan hoodie, jeans, dan sandal. Tampangnya seperti habis begadang. Oh, jangan lupakan pula botol minyak kayu putihnya. Kontras? Jelas.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Akew saat itu. Sempat membuat saya menangis karena mengira tidak diterima di Selasar (jujur, saya belum pernah seambisius itu dalam menginginkan bekerja di suatu tempat), Akew ternyata lupa mengabari padahal saya qualified dengan kebutuhan mereka.

Singkat cerita, kami bekerja sama. Saya mengenal Akew sebagai orang yang menginginkan potensi terbaik dari orang-orang yang bekerja sama dengannya. Sebagai orang yang agak tergila-gila dengan standar, saya pun demikian.

Ada beberapa hal yang saya ambil darinya. Pertama, work-life balance. Akew mengingatkan saya (yang punya kecenderungan workaholic) untuk berhenti bekerja sehingga lebih segar keesokan harinya. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Saya yang waktu itu bandel akhirnya disodori artikel jurnal Harvard Business Review mengenai mindfulness dan korelasinya dengan produktivitas kerja. Saya ingat, saya tergila-gila dengan jurnal tersebut. Ini kemudian menjadi "kitab suci" saya dalam bekerja.

Hal kedua yang saya ambil darinya adalah tentang "bekerja untuk diri sendiri". Ini terasa sangat selfish di awal, tapi ternyata sangat membantu ketika kita mengalami demotivasi kerja. Masing-masing orang memiliki tujuan dalam bekerja, lalu ingatlah tujuan itu ketika kita mengalami fase demotivasi.

Hal terakhir yang saya pahami dari seorang yang kemudian populer sebagai Ma Isa Lombu adalah accountability atas pekerjaan yang kita lakukan. Ini juga sejalan dengan value dari Howard Behar, President of Starbucks Coffee Company International. Prinsip ini (bila dijalankan dengan benar) akan membantu meningkatkan atau setidaknya menjaga nama baik kita dalam hal profesionalitas kerja.

Ma Isa Lombu adalah seseorang yang meng-encourage Anda untuk speak up, bahkan ketika ada hal yang tidak Anda sukai darinya. Rule of thumb-nya adalah temui langsung, bicara empat mata, selesaikan di tempat. Dia tidak akan meladeni "koar-koar" Anda di media sosial atau chat group. Dia juga percaya, hampir semua masalah antarmanusia bisa diselesaikan dengan berdialog.

Meskipun demikian, ada hal-hal yang masih bisa ditingkatkan dari seorang Ma Isa Lombu. Ia juga mengatakan bahwa ia bukanlah pribadi yang paripurna. Semoga ia mampu menjadi orang yang lebih baik setiap harinya.

Sumber foto via dokumentasi pribadi

Answered Jan 3, 2017
Ihdal Husnayain
masih punya cita-cita jadi penulis :D

mQDwtMboAp7F8VyGrPF7ih3Fm8hlNvHg.jpg

Akew yang gw inget sih dulu orangnya sanguine melankolis, punya idealisme tinggi dan apa-apa harus sesuai dengan visi dan tujuan yang dipikirkan secara mendalam.

Ia juga sangat menyukai diskusi, dari hal yang penting sampe ga penting (tapi menurut dia tetep penting).

Menurut gw sih, dia ENTJ (Extraverted Intuitive Thinking Judging), terutama sisi judging-nya yang kuat banget.

Sisi jeleknya jadi suka SKSD, sok kepedean, dan sotoy. Tapi, kalo dalam konteks pekerjaan, natural leader-lah sosok ENTJ ini. Kemauannya keras dalam mencapai sesuatu dan mau bayar harga untuk mencapainya.

Akew juga sebenarnya open minded, tapi sulit menerima perubahan terutama yang terkait framework berfikirnya. Dia bisa menerima orang lain apa adanya, tapi dia sudah punya mindset sendiri yang kuat tentang konsep diri dan pandangannya terhadap sesuatu, dan itu sulit diubah.

Meski demikian, dia pembelajar yang cepat, suka banget pengembangan diri dan punya visi untuk mengembangkan orang lain, terutama dalam tim, tipe leader yang bisa ngemong dan mengajak orang lain untuk sama-sama bertumbuh.

Sukseslah Kew untuk kariernya, keluarga, dan kontribusinya di masyarakat. 

Let the best be the enemy of the goods! :D

Sumber foto via dokumentasi pribadi

Answered Jan 3, 2017

jE5mfv-KRprXtIQ0izq-aJwZB0kbSXQZ.jpg

Bagi yang kenal dekat dengan Ma Isa Lombu, pasti kenal betul dengan motor legendarisnya yang menghiasi parkiran FE UI beberapa tahun yang silam.

Sebenarnya, saya masih agak canggung dengan nama Ma Isa Lombu, jadi saya akan menggunakan nama Akew saja di sini.

Saya kenal dekat dengan beliau sekitar tahun 2010, karena waktu itu kita tergabung dalam satu komunitas yang isinya orang-orang keren semua. Saya tahu nama beliau sudah sejak 2006, ketika itu saya masih semester dua di Fakultas Hukum UI, sedangkan Akew merupakan senior saya angkatan 2003 di Fakultas Ekonomi UI, yang slogannya lulusan FE UI paling sial jadi menteri.

Mengenal sosok Akew pada saat itu, saya langsung teringat dengan Uda saya yang sekaligus mentor hidup saya Miftah Nur Sabri yang sekarang akrab dipanggil Kudun, yang berasal dari nama Sutan Mangkudun. Mereka berdua banyak kemiripan, Akew mantan ketua Senat FE UI sedangkan Miftah mantan Ketua Senat FISIP UI.

Ketika Akew berbicara, semua orang yang mendengar akan terpesona, karena memang segala sesuatu yang disampaikan beliau selalu sistematis dan terukur. Berbeda dengan cara Miftah berbicara yang ceplas-ceplos, Akew lebih tenang, akan tetapi dua-duanya selalu bisa mempengaruhi orang yang diajaknya berbicara.

Saya pernah bimbang, ketika harus meninggalkan kantor lama dan bekerja di tempat saya yang sekarang, beliaulah yang akhinya membuat saya memantapkan langkah untuk hijrah ke kantor saya yang sekarang.

Saya sebenarnya orang yang cukup gelisah melihat path carier beliau karena dalam beberapa bulan sudah sering berganti pekerjaan, tapi kegelisahan saya terjawab sudah ketika dia bersama-sama Miftah Nur Sabri membangun Selasar dan saya yakin Selasar akan menjadi sesuatu yang besar di tangan mereka.

Akew selalu bercerita, Selasar ini anak kandung yang akan dia besarkan dengan baik.

Terakhir, sebagai penutup, beruntunglah orang yang bisa kenal dengan Akew, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari orang yang beruntung itu.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jan 4, 2017
Erin Nuzulia Istiqomah
Curator; Compiler at Selasar

O0fI48sovuUpws78_xY0yGRVxaqB89BP.jpg

Foto di atas diambil sesaat setelah kami (Tim Selasar) menaiki wahana Arung Jeram di Dufan pada Senin, 15 Februari 2016.

Yap benar! Laki-laki tersebut mengenakan sarung untuk berkeliling Dufan.

Unik bukan? Ahahaha

Ma Isa Lombu jugalah yang sepanjang kami menikmati wahana di Dufan, beliau memilih menepikan diri untuk tidur di musala. Mengapa? Biasa, penyakit orang tua, masuk angin dan mual menggelayuti dirinya selama di Dufan. 

Ya, beliaulah Ma Isa Lombu, yang sepanjang jawaban dari pertanyaan ini, semua yang menjawab lebih senang memanggilnya Akew. Rasanya gagal deh Bang branding Ma Isa Lombu ini ehehehe :P

Saya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa menjawab pertanyaan ini. Bukan karena begitu banyak pengalaman dan kenangan bersama beliau, melainkan tidak ada memori spesial yang rasanya bisa saya tuliskan terkait beliau di sini.

Saya berusaha memutar kembali memori yang ada, sama seperti rekan saya lainnya di jawaban ini, mungkin ketika memaksa otak untuk memutar kembali memori bersama beliau, justru akan menggali banyak emosi. 

Di catatan saya, saya berhubungan baik dengan beliau, layaknya atasan dan bawahan. Beliau bosnya dan saya karyawan yang bekerja di platform yang beliau besarkan. 

Semua baik-baik saja, biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial, hingga di suatu subuh, kami pernah terlibat amarah di chat WA. Hari itu, saya diminta untuk istirahat. Tidak perlu ke kantor. kami saling merefleksikan diri. 

Sejak saat itu, semua hal yang biasa, bagi saya makin biasa, tidak berkesan banyak, kecuali saya makin tidak antusias untuk bercanda atau mengakrabkan diri dengan beliau, hehehe.

Itu hanya setitik nila, tetapi saya harus adil sejak dalam pikiran, maka sejujurnya hal tersebut sama sekali tidak merusak susu sebelanga. 

Bagi saya, Akew tetap bos teladan. Banyak pelajaran positif yang saya dapatkan darinya. Dari beliaulah saya belajar untuk bekerja keras, meningkatkan kapasitas diri, memelihara mimpi, dan tentu saja work life balance. 

Rasanya hampir semua yang menjawab pertanyaan ini sepakat bahwa beliau adalah orang yang keras kepala, atas segala pemikiran yang sudah lebih dulu diyakini dan nyangkut di kepalanya. 

Bagi saya (dan disepakati beberapa rekan), beliau adalah seorang paradoks. Satu sisi kami mencintai beberapa hal yang berkaitan dengan prinsip kerja atau pun prinsip hidupnya. Di sisi lain, kami membenci pribadinya yang selalu berkepala batu. 

Namun, hampir dua tahun mengenalnya, membuat saya berusaha memahami segala hal yang berhubungan dengan "ke-Akew-an". 

Oleh karena itu, saya akan menjabarkan dengan singkat siapa Ma Isa Lombu dengan segala "ke-Akew-an"-nya. 

Ma Isa Lombu adalah seorang suami yang kini bertransformasi menjadi seorang bapak dari seorang putri dan kini akan menjadi calon bapak bagi anak keduanya. 

Ma Isa Lombu adalah seorang pemuda yang kena penyakit orang tua dalam kadar yang akut, asam urat terlalu menyayanginya sehingga di usianya yang masih muda sudah mendampingi hidupnya. Asam urat inilah yang membuatnya menulis surat wasiat bagi istri dan anak-anaknya.  

Ma Isa Lombu adalah seorang pecinta film dan penggemar berat JKT48. Beliau bisa dengan syahdu dan khusyuk jika sudah di depan laptop sambil mengerjakaan pekerjaan dan bersenandung lagu-lagu JKT48 dengan headset yang terpasang di telinganya.

Eits, tapi jangan salah, beliau tetap rajin salat duha meski di ambang waktu ehehehe

Ma Isa Lombu adalah seorang bos yang sangat care akan karyawannya. Tak jarang ia memberi banyak nasihat dan masukan-masukan terbaik berdasarkan pengalaman hidupnya kepada kami.

Ma Isa Lombu adalah seorang yang terkenal di UI, menurut pengakuan banyak orang. Sayangnya, kenyataannya memang begitu, saya sudah sering mendengar namanya sejak 2010, sedangkan baru berjumpa dengannya pada 2015. Terkenal bukan?

Ma Isa Lombu adalah seorang pribadi yang sedang berusaha menjadi orang bijak yang memberi banyak kebermanfaatan bagi banyak orang. 

Ma Isa Lombu inilah yang kini sedang membangun kerja-kerja peradaban di Selasar. Membesarkannya dengan sabar, penuh perhitungan matang, dan dengan usaha terbaik yang beliau dedikasikan bagi kerja peradaban ini. 

Doa terbaik buat Bang Akew. Semoga Allah senantiasa memberkahi langkah-langkah Bang Akew dan segera mengembalikan tubuh kurus Bang Akew yang dulu hehehehe

Sukses selalu, semoga kebahagiaan dunia dan akhirat menjadi bagian dalam hidup Bang Akew. 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jan 4, 2017
Yudi Pht
Underwriting Staff di PT. Asuransi Jiwa InHealth Indonesia


PH8lvING6xIAOUUXv6drx2rL8dN3D8Y3.jpg

Sedikit testimonial dari gw tentang sahabat gw bernama Akew.

Gw minta maaf sebelumnya dengan segala kekurangan yang terdapat dalam testimonial ini.

Secara personal, seorang Akew itu adalah orang yang ketika pertama kali gw kenal itu “songong” abis. "Senga" bahasa anak sekarangnya. Mungkin itu kesan pertama gw saat kenal dia. Dengan gayanya yang cuek, apa adanya, seolah ga peduli apa kata orang, mungkin karena itulah gw bilang, ni anak songong banget.

Semakin gw kenal, ketika kita sama‐sama aktif bareng di Carvedium (Pecinta alam SMU 81), menurut gw Akew itu pribadi yang sangat menyenangkan, kocak, supel, sanguinis banget.

Selama gw kenal Akew, baik itu saat kami di sekolah maupun ketika kami bersama bertualang di alam bebas, banyak hal yang bisa gw pelajari dari Akew ketika kami berkegiatan bareng.

Diawali ketika kami naik Gunung Gede pertama, yaitu pada Desember 2001. Ketika itu, kami dan dua teman lainnya, yaitu Titis dan Fauzan mendaki Gunung Gede bersama. Saat itu, saat kami pertama kali naik gunung bareng, di situ gw melihat Akew sebagai pribadi yang sangat memegang komitmen, tapi ga kaku. Perjalanan kami begitu menyenangkan.

Akew juga seorang motivator yang handal. Ketika sahabat kami Titis mulai drop, saat itu gw melihat Akew dengan sabar memberi semangat kepada Titis. Saat itu, dia bisa menunjukkan ke gw arti sebuah persahabatan.

Satu lagi sifat yang begitu menonjol adalah dia berani tampil beda.

Karena dengan percaya diri, dia berani tampil beda saat liga bola (SMA) 81 dan tentunya mengundang tawa dan kagum seluruh penonton saat itu.

Akew juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Karena lewat idenya dan teman‐teman yang lain, tercipta sebuah kegiatan social unplugged di SMUN 81 yang bertujuan untuk mengumpulkan dana yang kemudian akan disumbangkan kepada golongan kurang mampu. Alhamdulillah kegiatan tersebut masih berjalan sampai saat ini.

Dia juga pribadi yang sangat cermat dalam mengambil tindakan. Hal ini gw alami saat mendaki Gunung Slamet. Dengan pertimbangan yang sangat cermat, Akew membuat rencana pendakian menuju puncak, sehingga kami Alhamdulillah selamat dari terjangan badai.

Akew juga seorang organisatoris handal. Mulai dari track record sebagai Ketua Senat FE UI sampai kepada rapat‐rapat kecil kami di Carvedium.

Akew juga seorang yang sangat jarang meninggalkan salat. Dia begitu disiplin mengenai salat. Hal ini sering gw alami saat ketika kami sedang melakukan kegiatan bareng. Akew dengan disiplinnya selalu mengingatkan kami untuk salat di mana pun dan apa pun yang sedang kami lakukan.

Kekurangan yang gw lihat saat kami SMA, mungkin semangat dia yang sering naik turun. Menjelang SPMB, kadang dia begitu menggebu‐gebu belajar, terkadang santai, begitu seterusnya. Tapi, toh dengan pola seperti itu dia mampu menunjukkan bahwa dia mampu masuk ke sebuah universitas terkemuka di Indonesia.

Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, jurusan manajemen pula.

Bicara masalah kekurangan, (dulu) terkadang dia seperti suka kehilangan fokus terhadap apa yang udah dia canangkan di awal. Mulai dari berencana masuk Mapala UI, kelulusan kuliah, jadwal nikah, cita‐cita untuk menjadi birokrat, sampai kepada program‐program dia untuk penampilan, seperti fitness, jogging, renang, dll.

Gw dapet info ini dari Edo waktu dia masih kos bareng. Kalo kata orang tua dulu, "Anget‐anget tai ayam". Kehilangan fokus ini sering menjadi pertanyaan gw dan teman‐teman lainya, ni anak sebenarnya mw apa sih?

Kemudian gw juga liat Akew, di balik prestasi yang dia capai, dia kadang masih suka minder. Kurang percaya diri terhadap apa yang sudah dia capai. Ini yang gw tangkap waktu diskusi di rumah Ipin.

Kadang Akew juga sering menggunakan ungkapan yang “ketinggian” pada rapat‐rapat level anak SMA, yang menurut gw ga perlu. Jadi, kayak SBY, sering pake istilah‐istilah asing.

Gw mungkin ga begitu tahu banyak apa yang menjadi pertimbangan dia, apalagi saat itu kita ga satu kampus. Tapi gw yakin dia punya pertimbangan dan alasan sendiri untuk hal‐hal tersebut.

Gw mungkin hanya tahu sedikit tentang kekurangan Akew. Bukan karena ingin menutupi kekurangan sahabat, tapi karena emang ga begitu banyak kekurangan dia yang gw ketahui.

Akew menurut gw adalah pribadi yang mampu mengubah setiap kekurangan menjadi kelebihan dia.

Over all, testimonial gw tentang Akew, Akew itu enak banget untuk dijadikan teman, sahabat, teman diskusi, debat, curhat, buat gokil bareng.

Susah ketemu orang yang kayak dia lagi.

Mungkin itulah sedikit testiminonial dari gw sebagai sahabat. Pesan gw untuk dia, tetap pertahankan apa yang selama ini menjadi karakter lw Sob, karena menurut gw, lw merupakan salah satu anak muda yang mampu mendobrak absurditas negeri ini.

Semoga sedikit testimonial dari gw ini bisa berguna.
Sukses selalu untuk lw Sobat.
 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jan 5, 2017
Citra Puspita
Alumni Teknik Lingkungan ITB

1h__bzTScp66qt8gfkdpLFr8kPq7ZIEW.jpg

Muhammad Isa alias Ma Isa Lombu alias Akew.

Walaupun tempat tinggal kita tidak terlalu jauh dan bahkan tempat main sepeda waktu kecil di komplek yang sama, takdir baru membawa kami untuk saling kenal di bangku SMA, tepatnya sejak tahun 2001, dan alhamdulillah tetap baik sampai sekarang.

Akew yang sekarang orang-orang lihat bukan sesuatu bawaan lahir, tapi bisa "begitu" setelah melalui proses pencarian jati diri yang kompleks. Hehehe...

1. Satu yang tidak berubah dari Akew, dari dulu sampai sekarang adalah keramahannya yang luar biasa. Ga pernah sekali pun gw inget dia pasang muka judes atau bete.

2. Kemampuan sosialisasinya yang di atas rata-rata. Coba tanya temen SMA atau kuliahnya, siapa sih yang ga kenal Akew? Pasti kenal semua deh.

Kalau ada acara juga, Akew termasuk bintang tamunya, mengutip iklan rokok, "Ga ada elo, ga rame!"

3. Kemauannya untuk membantu. Ga pernah sekali pun dia nolak ngebantuin gw. Kalau pada akhirnya dia ga bisa bantu, itu biasanya salah di gw, suka nge‐reschedule di detik-detik akhir.

4. Akew pernah dan akan selalu menjadi ketua Carvedium 1 (Pecinta Alam SMA 81 Jakarta Timur).

Di antara beberapa kandidat ketua yang ada dulu, gw buka kartu, pada saat pemilihan ketua, gw dulu milih dia!

Bukan karena dia jago ngeles, yang memang perlu buat ngadepin alumni pada saat itu, tapi karena gw lihat ada jiwa pemimpin di dalam dirinya. Kalau masalah skill sih relatif, ada yang lebih rajin dan skillful, tapi bukan itulah modalnya gw pikir.

Alhasil, terbukti selama 2 tahun kerja bareng, he can prove it.

5. Orang yang gigih memperjuangkan keinginannya. Masih keinget persiapan SPMB 2003, Akew dengan tekadnya milih FE UI. Jelas bukan sesuatu yang gampang masuk Manajemen UI, secara saingannya bejibunnnnnn.

Tapi sekali lagi, dia bisa buktiin kalo anak yang keliatan begajulan begini, bisa juga masuk FE UI.

Cihuy!

6. Selepas SMA, interaksi kita jauh berkurang. Sekali-sekali aja ketemu, malah lebih sering dapet kabarnya dari orang lain.

Kalo diinget-inget, kayaknya kabar Akew jadi Ketua Senat FE UI jadi kabar yang paling happening dan tentunya membanggakan.

Pada suatu kesempatan, akhirnya bisa ketemu juga dan amazing, Akew tetap Akew yang gw kenal. Tetap sederhana dan rendah hati, ga nganggep dirinya lebih dari teman-teman yang lainnya.

Salut!

7. Ga akan pernah gw lupa bantuannya pada pernikahan gw. Di tengah waktunya yang super ketat dan perjalanan Bekasi‐Depok yang jelas ga dekat, sempat hujan-hujanan juga, dia menyanggupi untuk ngebantuin. Bukan tugas yang ringan sebagai koordinator tamu VIP. Meyakinkan timnya yang diisi orang-orang yang lebih tua dan belum kenal.

Yang lebih berat lagi meyakinkan bokap gw bahwa tamunya akan "aman" dengannya.

Dari awal, gw percaya dan cuma mau Akew yang jadi PIC‐nya. Alhamdulillah kepercayaan gw tepat.

What can I do without him...

8. Dulu Akew, selama bertahun-tahun pakai Motor Astuti, motor super jadul. Coba itu ya, kalau ada rezeki diganti kendaraan operasionalnya. Bukan karena gw ga suka, keren sih gaya retronya, tapi efisiensi waktu.

Dulu gw pernah nebeng sampe rumah, masya Allah lamanyaaaaaaa.

Hahaha, sorry ya baru diceritain sekarang.

 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jan 5, 2017
Fajar Eka Saputra
Mahasiswa Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut FKG UI

v5bzFV6UdG3sjO8SGRs750lchPcgh_YO.jpg

Akew itu blesteran Nias‐Jawa yang entah kenapa memiliki wajah sedikit oriental. Pribadinya unik, sejak pertama kenal sewaktu SMA sampai dengan sekarang belum pernah saya temukan lagi pribadi seperti dia.

Sosok yang ramah, periang, humoris, konyol, setia kawan, mudah bergaul, serta dapat membawa diri dengan baik sehingga hampir dapat diterima di semua kelompok atau "peer group" mana pun. Pribadinya yang sederhana dan apa adanya membuat dia disukai siapa pun juga. Akew itu dulu temen "hijrah" saya, entah kenapa begitu kenal dan kebetulan sekelas saya merasa klop bergaul dengannya.

Awalnya, karena kesamaan penyuka musik underground (hardcore, ska, punk, skinhead) jadi nyambung ngomongin musik, lalu hobinya yag suka bercanda serta selera humornya yang tinggi jadi mengakrabkan kita. Yah, boleh dibilang masa‐masa pencarian jati diri ini kita barengan jadi cukup kenal luar dalam cara pikir Akew. Karakternya kalo saya nilai sih cenderung koleris‐sanguinis.

Ciri khas Akew itu yang kental selain pribadinya yang unik adalah idealisme/pendiriannya yang teguh, percaya diri, dan sikap berani beda (tentunya dalam hal yang baik), bahkan kadang terkesan anti‐mainstream.

Contoh yang paling saya ingat di kepala adalah ketika dia memutuskan untuk masuk kelas IPS, padahal nilainya amat mencukupi untuk masuk IPA, di saat kebanyakan orang berebut, bahkan sampai harus rela pindah sekolah demi masuk IPA. Alasannya sederhana, dari kelas 1 SMA, Akew memang ingin masuk FE UI. Jadi, buat apa berlama-lama masuk kelas IPA jika requirement masuk FE UI bisa dari kelas IPS.

Nah, lho!

Akew dengan tenang dan penuh keyakinan menentang arus umum tentang stigma IPA lebih baik dari IPS. Dia melepas kesempatan itu dan memutuskan pilihan yang sesuai dengan keinginannya tanpa mempedulikan opini umum, pilihan yang kelak justru menghantarkan ia kuliah di fakultas ekonomi terbaik di negeri ini, FE UI. Seperti apa yang ia citakan sebelumnya.

Kesan anti‐ mainstream ini ternyata juga ia wujudkan dalam gaya kesehariannya, di mana orang‐orang sibuk bergaya sesuai selera anak muda saat itu, Akew tampil percaya diri dengan gaya oldish, retro, dan yang semacamnya. Poin yang saya tangkap, anak ini cuek dan gak pernah peduli omongan orang selama menurut dia hal itu adalah hal yang baik untuk dilakukan.

Akew juga tipikal orang yang ketika sudah bermimpi atau bercita‐cita akan sesuatu maka akan dikejarnya hingga dapat, dia juga seorang yang menyukai tantangan, keukeuh, dan pantang menyerah dalam mempelajari sesuatu. Bahkan, dulu di SMA dia gak segan belajar di saat jam istirahat demi mengerti suatu pelajaran.

Oia, Akew ini wawasannya luas, dia rajin dan senang sekali membaca berbagai jenis buku. Perlu saya akui, Akew telah menularkan saya kegemaran baca buku. Semenjak di kampus, idealismenya makin menguat, dari cerita yang saya dengar pernah dia memutuskan tidak ikut ujian suatu mata kuliah, karena menurutnya dia belum paham esensi dari pelajaran tersebut, ia menunda untuk mempelajari lebih dalam lagi, baru memutuskan ikut ujian di semester selanjutnya.

Orang kebanyakan menilai tindakan dia edan, sinting, bodoh tapi menurut saya itu pendirian, berarti dia tahu apa yang harus dia pelajari, tidak ikut‐ikutan.

Akew juga adalah orang yang aktif, penuh inisiatif, dan berpengaruh serta terbiasa mengambil peran menjadi pemimpin. Selain di keluarganya sebagai anak pertama, di beberapa organisasi dan kepanitian di SMA dulu dan di kampus, cukup banyak pengalamannya dalam memimpin dan dipimpin. Yang saya rasakan saat bekerja sama dengannya cukup menyenangkan, dia orang yang tahu menempatkan hak dan kewajiban secara proporsional, tegas, dan bertanggung jawab serta sangat mengayomi anak buahnya.

Menyelami kepribadiannya seperti menemukan kenyataan bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya seimbang. Ada kelebihan dan juga kekurangan, dan seorang Akew bukanlah tanpa cela. Pribadinya selain unik tapi juga sangat kompleks, pola pikirnya rumit/ngejelimet, dan sering kali sulit dimengerti.

Saya kadang menilai dia seperti kewalahan menghadapi gejolak dahsyat pemikirannya sendiri, kadang terlalu dipenuhi konsepsi, angan, idealisme yang bertele-tele, sehingga mengakibatkan dia terkesan kurang nyata (konkret) dalam bertindak. Perlu kesabaran dan pendekatan lebih untuk memahami pola pikirnya.

Akew juga bukan orang yang gampang "diatur", agak sulit memintanya melakukan sesuatu tanpa pendekatan logis yang dapat diterima nalarnya, kesannya seperti tidak sami'na wa'atho'na, padahal ia hanya butuh penjelasan yang rasional untuk bergerak.

Mungkin, bagi sebagian orang Akew adalah orang yang paling dijauhi saat berdebat, karena kaya akan wawasan kadang argumentasinya saat berdebat terlalu panjang lebar dan menjemukan bagi yang tidak paham, bahkan terkesan egois, mau menang sendiri dan terlalu mendominasi, tapi bagi yang memiliki wawasan yang seimbang dengannya Akew akan menjadi teman diskusi yang menyenangkan dan menginspirasi.

Terkadang dalam keseharian, Akew kurang berhati‐hati dalam bertutur kata yang tanpa sadar pernah menyinggung perasaaan (istilahnya ngomongnya gak diayak..hehe). Saya tahu maksudnya bercanda atau joke, namun orang yang tersinggung kadang tidak memahaminya. Kalo lagi kumat penyakit malasnya, repot. Jadi, kesannya terlalu nyantai dan menggampangkan sesuatu (tapi, kadang-kadang aja kok, gak sering..hehe).

Akew yang saya kenal biasanya gak terlalu rapi, berantakan, dan gak teratur. Akew ini juga punya potensi "pembangkang" karena pemikirannya kadang cenderung "break the rules", pada situasi tertentu hal ini bisa berarti positif, tapi pada kondisi yang lain bisa menjadi kontraproduktif. Hal yang saya rasa kurang dari Akew lagi adalah masalah prioritas, karena terlalu banyak aktivitas semenjak SMA, kadang menurut saya, Akew kurang tepat menentukan skala prioritas.

Hal‐hal yang urgen dan penting kadang kalah prioritasnya dibanding hal‐hal yang biasa saja, contohnya, kadang kegiatan carve/palabs (Pecinta Alam SMA 81 Jakarta Timur) lebih...(more)

Answered Jan 6, 2017
Habibi Yusuf
PNS, alumni Teknik Elektro UI dan Manajemen Pertahanan ITB

vo5dfX_9sK4qlW-Dwz5LMcBfqjgHHFgL.jpg

Ma Isa Lombu lebih dikenal sebagai Akew. Saya tidak hafal mengenai kapan persisnya pertama mengenal dia. Tapi, saya sering menjumpainya dalam berbagai aksi-aksi demonstransi ketika masih tingkat 2--3 di kampus, dan Akew adalah 1 tahun di bawah saya serta beda fakultas.

Jarang-jarang, ya, ada anak FE UI yang mengikuti aksi demonstrasi.

Akew yang saya kenal waktu itu orangnya selalu bersemangat, berpenampilan urakan karena rambut gondrong, dan berpakaian tidak rapi. Namun, dia punya semangat dan idealisme yang tidak malu-malu untuk diungkapkan kepada orang banyak.

Saya makin mengenalnya ketika dia menjadi Ketua SM FE UI dan saya di BEM UI. Interaksi kami cukup intens. Meski secara mainstream, anak-anak FE UI tidak menyukai aksi demo, namun Akew cukup sering mendukung aksi-aksi BEM UI dan pernah ikut menggerakkan anak-anak kampus FE UI untuk ikut aksi juga.

Di berbagai forum koordinasi kemahasiswaan, Akew cukup vokal meski kadang bahasannya melebar, namun orang-orang selalu terhibur.

Di akhir kepengurusan saya di BEM UI, saya ingat pernah berdiskusi dengan Akew. Saat itu, dia agak bimbang karena ada ajakan untuk dia "naik kelas" ikut ke BEM UI periode berikutnya, meski belum tahu sebagai apa.

Saya ingat diskusi kami di selasar ruangan BEM UI bahwa kurang lebih dia masih keberatan untuk berkontribusi di lembaga tingkat UI. Alasan utamanya adalah (katanya) akademisnya cukup berantakan sehingga ingin fokus memperbaiki di semester-semester selanjutnya. Meski saya men-challenge dia, namun di akhir diskusi terdapat kesimpulan bahwa sepertinya dia masih belum mau terjun ke kemahasiswaan lagi setelah jadi Ketua SM FE UI.

Setelah itu, saya jarang bertemu dengan Akew. Namun, ketika saya bertemu dengannya secara kebetulan, Akew masih dengan gaya yang sama cerita dengan penuh semangat (dan meledak-ledak) bahwa ia saat ini mengerjakan ini dan itu, berkeinginan untuk begini dan begitu. 

Saya menangkap bahwa Akew ini bukan tipe yang cepat merasa puas di satu tempat, apalagi bukan menjadi orang yang menentukan jalannya organisasi tempat ia bernaung. Walhasil, dia cukup sering berpindah tempat kerja yang menurutnya harus menjadi tempat yang sejalan dengan idealisme dan perjuangannya.

Saya sudah menduga kala itu bahwa dia pasti akan pindah tempat kerja lagi. Dan itu terbukti. Ketika di satu tempat sudah kurang menantang, atau dia merasa visinya belum tersalurkan, maka dia pasti akan berpindah tempat, atau membuat tempat yang baru yang sepenuhnya di bawah kendali dia.

Saat ini, barangkali, Selasar adalah tempat yang tepat bagi Akew dalam mewujudkan visi hidupnya (dan sekaligus bisnisnya).

Saya melihat Akew sangat passionate di sini, melakukan ini dan itu, as always.

Namun, saya sedikit kaget ketika kedudukannya sebagai CEO di Selasar tergantikan oleh orang lain, yang kebetulan masih teman saya juga. Dan seperti yang sudah diduga, akan ada perubahan style Selasar mengikuti arahan CEO baru.

Pertanyaannya adalah, apakah Akew bakal bertahan lama di Selasar?

Tentu tergantung apakah Selasar masih berjalan sesuai visi dan idealisme Akew itu sendiri. Dan tentunya, masih menjadi bisnis yang menjanjikan. Atau apakah Akew akan kembali menjadi CEO lagi.

Kalau tidak, orang seperti Akew pasti akan mencari tempat yang lain, membuat sesuatu yang baru sehingga semuanya full dalam kendali atau malah brand Akew.

Terus semangat, Bro!

 

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

Answered Jan 6, 2017
Yani Zamriya
Mahasiswi Program Dokter Spesialis FKUI

SqsKPCaUEe2CD5_SNFIarizUWB2KqlvS.jpg

Ma Isa Lombu.

Nggak sih, sebenarnya dulu gw tahu nama lo itu Akew. Dan kesan pertama. OMG alay bangeeett!

Bukan, bukan orangnya yang alay banget. Tapi kesan dari nama itu entah kenapa alay.

Tapi setelah kenal, ternyata ga segitu alay-nya sih. Tapi tetep alay! Hahahaaa..

Terus terang gw ga suka sama nama panggilan itu. Jadi, gw manggil dia sesuai namanya, Isa. Berhubung gw sama sekali ga punya temen lain yang bernama sama, gw bersikukuh untuk  manggil dia Isa karena itu membuat gw nyaman.

Sayang aja namanya bagus, panggilannya Akew.

Isa

Pendapat klise tentang dia itu baik, tanggung jawab, suka berpetualang, berjiwa pemimpin, mandiri, punya pendapat sendiri, dan ga suka ikut-ikutan, ga suka dengan hal berbau  mainstream (kecuali dulu dia memutuskan untuk tetap make BB, haha), cita-citanya tinggi, ga suka makanan berbau tajam termasuk di antaranya pete, jengkol, dan durian.  

Walaupun yang terakhir itu dia makan juga demi pergaulan katanya. Hahahhaa. Oh ya, dan dia sangat setia kawan. Baik kan? Ah, tapi itu klise Sa! Basiiiii! Gak fantastis! Terlalu biasa.

Isa itu atau sebut saja dia UPIL, karena dia suka nyempil-nyempil, suka ngeles! Orang terjago ngeles selain gw itu, ya dia.

Lo kenapa sih suka banget ngeles? Udahlah, kalau emang lo sedih, lo kesel ya bilang aja. Lo tuh ngeles sampe ke tingkat ngeles terhadap kata hati lo sendiri. Mau ngerasa lebih ringan ga usah ngeles. Karena dengan ngeles lo berpikir dua kali untuk diri lo dan juga orang lain. Buat apa sih? Toh sahabat lo mau yang terjujur dari apa yang lo rasain.

Gw tau lo juga ngeles, itu hal lain. Tapi gw ga terlalu peduli untuk itu. Mungkin itu cara lo untuk mempertahankan apa yang lo pegang. Tapi, tetep ya kalau salah harus ngaku salah.

Ngomong-ngomong  tentang  pendapat, ga akan pernah dia mau dikalahkan atau dengan kata lain dia akan tetap mempertahankan pendapatnya. 

Kekeuh.  

Tapi sebenernya dia bisa loh berganti pendapat. Tapi tidak disaat perdebatan atau diskusi itu ada. Biasanya setelah beberapa hari dia akan mengalami sendiri atau mempertimbangkan kembali pendapatnya itu dan baru setelah itu dia mengubah pendapatnya.

Sebenernya kita cuma perlu ngasih ide tentang pendapat lain yang berbeda ke dia tanpa memaksakan kalo dia harus nerima itu. Dia akan sangat mungkin nerima kok, tapi emang tidak saat itu juga. Kayaknya sih itu karena kadar kegengsian dia yang sangaaat  tinggi. Jadi, jangan pernah menyentil atau mencoel harga dirinya!

Secara umum, dia cukup bisa menerima orang lain apa adanya. Dia pernah complain ke gw,  katanya "Lo" dan "Lw" itu beda!! Katanya “Lo” itu lebih kasar, dia berasa ditoyor kalo gw bilang gitu. Ok, akhirnya gw usaaahaa banget kalo ke dia pake “Lw” karena gw berpikir itu hal yang mengganggu dia.

Lama-lama ga tahan juga sih, karena gw harus mengedit atau meralat apa yang gw tulis ke dia, capek juga. Jadi, gw bilang, boleh ga gw tetep pake “Lo” karena gw ga terbiasa  pake “Lw” dan gw capek apus-ganti-apus-ganti terus.

He was and is fine with that.  

Baik kan?

Terbukti juga temennya ga cuma dari satu kalangan. Tapi macem-macem. Itu menunjukkan kalau dia bisa menerima perbedaan dan tidak suka men-judge orang. Tapi bukan berarti menerima perbedaan tapi kehilangan identitas diri. Dia sangat sadar dengan identitasnya.

Kalau dia bisa menerima orang apa adanya, maka sebaliknya, dia juga mau orang bisa menerima dia apa adanya dengan segala kekurangan dia. Gw rasa itu cukup adil dan dia berhak untuk itu.

Masalah terbesar dia (dulu) menurut gw adalah kurang fokus! Ya sama aja sih kayak gw. Suka tergiur sama hal-hal di luar rencana. Walaupun dia perencana yang ulung. Tapi itu lah, masih kurang fokus.

Penampakan  luar dia ceria, santai, asyik, cuek. Tapi ,siapa sangka, dia sensitif banget loh sama harga dirinya. Jangan pernah menyinggung atau ngomong apa pun yang bisa menyangkut harga dirinya dia. Ya dia palingan kalau ga kenal-kenal amat, dia akan ketawa aja.

Ketawa tapi MENGAKHIRI.

Dia pengen tetep keliatan santai, seolah-olah tidak tersakiti, tapi dia ga mau pembicaraan dilanjutkan dan dia ingin cepat-cepat diakhiri aja sebelum hal yang menyakitkan itu literally diucapkan atau dituliskan.

Jadi, kalo lo liat dia tiba-tiba ingin mengakhiri sesuatu, coba instropeksi diri deh mungkin ada yang salah dari omongan kita yang menyinggung dia.

Tapi, dia suka ga peka juga sih sama perasaan orang lain, terutama teman yang berjenis kelamin wanita. Lo kayaknya mesti agak lebih gaul lagi deh sama adik-adik lo kan, cewe semua tuh, jadi kira-kira ngerti dan bisa agak lebih peka.

Inget, kita hidup ga pake logika doang, pake perasaan juga. Dan wanita banyak memakai perasaannya dalam memutuskan sesuatu. Lo harus memahami  itu, inget baik-baik, masukin dalem hati. #tsaaahh

Waktu masih belum nikah, dia tuh orang yang persis banget sama gw. Sama-sama suka nonton teater, film, dan ga peduli kalau itu harus nonton sendiri.

Well, kalau gw emang prefer sendiri karena kalo nungguin temen bisa-bisa ga jadi ujung-ujungnya. Dia juga suka ke museum. Tapi kayaknya ga sebanyak gw deh (wooo sombooong,  hahaha).

Dia suka jalan- jalan banget (nah ini lebih nyata) yang jelas jalan-jalannya dia KM-nya lebih banyak dari gw. Soalnya dia kan versi cowonya gw. Jadi, ga ada yang larang karena dia cowo, ga ada yang larang karena itu bahaya. Intinya ga ada yang larang karena dia cowo. Oke, gw kalah di bagian ini.

Hahahhaa..I envy you Sa!

Bedanya dia jauh lebih pinter dari gw. Gw itu nol banget  masalah politik, ekonomi, pengetahuan umum, sosial, geografi. Nah, lo tanya lah dia tentang politik dia akan dengan senang hati memberitahukan apa yang ada di pikiran dia kepada Anda selama berjam-jam. Dan menurut dia, Agung Hercules adalah sosok yang tepat untuk posisi Gubernur DKI!  HUAHAHAHAHA…

Becanda. ;p

Walaupun dia  tampak cuek,  jangan  khawatir dia punya bakat  romantis. Karena bapaknya Isa itu orangnya romantis. Anaknya baru bakat aja, dulu waktu belum nikah, wujudnya masih gombal. Hahaha. Tapi perubahan itu butuh proses dan gw yakin...(more)

Answered Jan 6, 2017

Question Overview


and 6 more
24 Followers
3816 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

Siapa Arief Munandar?

Siapa Es Ito?

Siapa Afdhal Mahatta, alumnus FHUI?

Siapa Anies Rasyid Baswedan?

Siapa Fauzi Bowo?

Siapa Sandiaga Uno?

Siapa Sutiyoso?

Apa yang harus saya lakukan apabila terdapat "bugs" atau fitur yang tidak bekerja pada Selasar?

Apakah Selasar mengikuti Quora?

Bagaimana cara mendaftar masuk Selasar?

Mengapa Selasar menggunakan pertanyaan dan jawaban berbahasa Indonesia?

Jenis pertanyaan dan jawaban seperti apa sajakah yang dilarang di Selasar?

Bagaimana cara mengganti profil dan memunculkan short bio di Selasar?

Mengapa Selasar bisa sangat berpengaruh positif untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban?

Jawaban dan pertanyaan seperti apa yang pantas tampil di Selasar?

Apakah Selasar dapat mengakomodasi keinginan seorang ahli untuk meningkatkan personal branding?

Apa yang paling membedakan Selasar dengan media sosial/platform lainnya?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Siapa pengusaha paling top di Indonesia menurut Anda?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?