selasar-loader

Mengapa seseorang bisa menyebarkan berita palsu (Hoax)?

Last Updated Dec 18, 2016

Apa yang menyebabkan seseorang bisa membagikan berita palsu secara cepat dan masif lewat jejaring media sosial pribadi mereka? Apakah karena:

  1. Pemahaman yang rendah mengenai keabsahan atau kebenaran sebuah berita
  2. Menuruti 'hasrat' berbagi tanpa ricek terlebih dahulu karena konten mewakili selera atau pandangan pribadi
  3. Ikut ikutan pendapat kelompok atau komunal
  4. Tahu bahwa berita itu palsu namun sekedar bersenang senang di media sosial saja, sekalipun itu bisa menyulitkan pihak / orang lain
  5. Lainnya

Bisa berbagi pendapat anda? 

Terima Kasih

5 answers

Sort by Date | Votes
Yasser Arafat
Minang tulen, penyelam sekaligus peneliti ekosistem terumbu karang, traveller❤

Karena masih orang baru dalam ber-social media, kurang atau malas membaca serta tidak tergerak nya hati yang bersangkutan untuk mengecek ulang kebenaran berita sebelum di share kembali. Kenapa saya menjawab seperti itu? Karena saya pernah menjadi pelakunya. 

Answered Jan 18, 2017
Rosiana
Pengabdi. Pembelajar. Interest in new media.

-2YuPxW6q5-Esq93bV1oZ-Wexgmoqko6.jpg

Penyebabnya bisa banyak. 

Ada yang memang tidak mengetahui bagaimana cara menyebarkan berita yang baik dan juga standar sebuah berita yang baik. 

Wajar jika akhirnya para penyebar hoax dengan mudah menyebarkan berita hoax. Mereka sendiri tidak memahami standar berita yang baik. 

Namun, ada juga yang ternyata sudah paham betul perihal standar sebuah berita yang baik. Namun, mungkin karena kepentingan, hawa nafsu, dan sebagainya, mereka tega menyebarkan hoax dan menyuntikkan hoax tersebut ke dalam setiap jiwa-jiwa polos yang mudah untuk dipengaruhi. Itu dilakukan dengan jahatnya, tanpa memikirkan dampak baik atau buruknya bagi semesta.

Ini mungkin yang terkadang sulit dikendalikan. Namun, dengan adanya UU ITE, semoga UU tersebut bisa menjaga kita untuk tetap mengacu pada rambu-rambu etika dalam menyebarkan informasi.

Answered Feb 15, 2017
Erri Subakti
Socio Culture Analyst, Author, Blogger, Social Media Activist

B_pawjvUh1U1X_mU5k8rnwHI8ArllXQr.jpg

Untuk menjawab mengapa seseorang bisa menyebarkan berita palsu, saya akan memulai dengan salah 1 unsur penting dalam sebuah berita palsu, yaitu gosip; cerita tentang seseorang yang belum tentu kebenarannya.

Perkembangan modernisasi dan teknologi secara gradual telah mengubah pola perilaku masyarakat di seluruh dunia. Salah satunya adalah pada perilaku menggosip, menggunjingkan (cerita tentang) seseorang yang belum tentu benar.

Di akhir era ’90-an, ketika situasi di Indonesia mulai mengalami perubahan, stasiun-stasiun TV swasta bermunculan dan semakin membuat riuh saluran informasi hingga sampai ke ruang tidur seseorang. Mulai hadir di layar kaca berbagai program acara yang mengemas gosip menjadi hiburan.

Gosip telah dijadikan merek atas tayangan televisi yang sering disebut gossip show atau infotainment. Berbagai skandal tentang public figure dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Bentuk informasi yang belum tentu kebenarannya, yang awalnya bersumber dari kabar angin atau desas-desus, dikemas sedemikian rupa menjadi paket acara yang memadukan informasi dan hiburan. Singkatnya, ini adalah program acara TV yang membahas gunjingan tentang orang-orang ternama.

Paket acara gunjingan mengenai seseorang yang belum tentu kebenarannya ini memiliki nilai komersil yang tinggi. Tiap episode bisa mengeruk iklan sampai + Rp 280 juta. Dengan perhitungan tiap slot iklan (30 detik) nilainya berkisar antara Rp 7-14 jutaan. Sementara pihak stasiun TV membeli putus acara itu dengan nilai + Rp 10 juta per episode.

Perkembangan di atas ini, suka tidak suka, memberikan dampak bagi masyarakat sehingga menggunjingkan seseorang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pergunjingan mengenai seseorang yang belum tentu kebenarannya ini dinikmati orang sebagai katup pelepas ketegangan, bahkan dapat memberi bayangan harapan. Apalagi bila gunjingan yang berkembang adalah mengenai para pemimpin atau pemuka masyarakat. Bila seseorang sudah bergunjing, maka biasanya dia akan merasa lega dan puas, seperti mendapat katarsis pelepas dahaga.

Walaupun tidak jelas atas sumber, motif penyebaran, dan pertanggungjawabannya, gunjingan tentang seseorang yang belum ditentukan kebenarannya dijadikan pemenuhan atas kehausan sensasi yang selalu dicari oleh publik untuk mencapai perasaan nyaman, meski gunjingan tersebut cenderung menyerang kehidupan pribadi seseorang atau mendiskreditkannya.

Jadi, jelas bahwa perilaku keseharian masyarakat Indonesia tanpa terasa sudah bergeser menjadi penikmat informasi yang belum tentu kebenarannya. Ini adalah satu kondisi sosial yang terjadi di masyarakat kita. Kondisi sosial di atas mendapatkan padanannya dengan perubahan situasi politik di Indonesia, persis di saat masifnya penyebaran berita-berita palsu atau hoax viral di masyarakat.

Namun, di era keterbukaan informasi dan serba mudahnya mencari kebenaran secara akurat dan sahih, masih banyak orang yang tetap berpegang erat pada sumber berita yang berdasarkan pada kebohongan atau hoax. Kenapa?

Sebagian orang mengatakan itu akibat kesenjangan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih rendah sementara perkembangan teknologi semakin dahsyat. Ada gap sebagian orang dalam menyerap dan mencerna informasi yang didapatkan dari media online dengan kemampuan pemahaman bacaannya.

Faktor di atas mungkin ada pengaruhnya. Tapi, jangan lupa bahwa ada sebuah fakta sosial mengenai perubahan perilaku masyarakat seperti yang saya jelaskan di atas. Banyak orang telah menjadikan pergunjingan yang mendiskreditkan seorang pemimpin masyarakat menjadi sarana untuk memuaskan perasaannya. Meski informasi itu tidak benar, bahkan palsu atau merupakan sebuah kebohongan/hoax.

Hoax bisa diawali oleh perasaan seseorang/pihak terhadap obyek sasarannya. Perasaan itu bisa berupa kekecewaan, kemarahan, atau apapun yang membuat hati jadi sesak. Dalam hoax, si penyebar dapat mengeluarkan semua agresinya. Semua yang jelek-jelek, termasuk mengenai nenek moyangnya bisa ikut disebarkan. Banyak orang akhirnya memilih percaya hoax karena bisa mendapat katarsis, perasaan lega untuk sementara.

Dalam kacamata filsuf besar jerman, Friedrich Nietzche, manusia sesungguhnya adalah makhluk lemah dan mempunyai kecenderungan tak terlihat untuk membiarkan dirinya dibohongi. Kalau boleh diambil kesimpulan atas pertanyaan ‘mengapa orang bisa menyebarkan berita palsu?’, itu terjadi karena mereka memilih untuk mempercayainya (berita palsu), dan mereka menikmati hoax untuk memberikan perasaan nyaman atas kegelisahannya. Bahkan dengan informasi palsu itu, mereka mendapatkan bayangan dari harapan-harapannya.

Akhirnya, hoax berikut penyebarannya menjadi sarana yang manjur sebagai pelepas perasaan yang mengganjal. Para penyebarnya tidak mampu untuk menyuguhkan karya-karya yang kreatif bermanfaat karena kemalasan semata sehingga persoalan-persoalan substansial yang menyangkut ide/gagasan, pemikiran, dan karya yang bisa membawa pencerahan justru terlupakan.

Maka dari itu, hoax dapat berkembang hanya pada kelompok masyarakat yang tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengartikulasikan gagasan atau idenya secara kostruktif.

Answered Mar 5, 2017
Ahmad Saefulloh
An idiot who loves to learn and learn more.

T_H4FjTGLkbgqynLBFto8QY_ywMy89Xx.jpg

Secara garis besar, ada dua jenis penyebar berita hoax, yaitu: 

1) mereka yang memang "kurang bisa" untuk "membaca" berita, namun tergerak untuk ikut-ikutan menyebarkannya. Faktor penggeraknya bisa berbagai macam : dorongan nurani yang biasanya berkaitan dengan apa yang diyakininya, seolah merasa "intelek" dengan menyebarkannya, terlepas dari apakah dirinya sudah atau belum mengkroscek isi dan kebenaran beritanya, dan faktor ikut-ikutan semata dengan dalih bahwa isu suatu berita tertentu yang sedang viral; dan

2) mereka yang memang mengerti isi suatu berita yang disebarkan adalah palsu, namun tetap menyebarkannya. Biasanya, mereka memang punya tujuan tertentu: propaganda dan sekedar buzzer dengan iming-iming uang yang dijanjikan.

 

sumber gambar: myrepublica.com

Answered Jun 12, 2017

Question Overview


7 Followers
1923 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Apakah Kompasiana bisa menggeser popularitas media mainstream di lingkup Kompas-Gramedia?

Bentuk media sosial seperti apa yang akan menjadi pengganti Facebook?

Terbuat dari apakah kuota internet/wifi/sinyal internet itu?

Bagaimana cara mengedit tulisan yang sudah diposting di Selasar?

Apakah Selasar ada di Google Play?

Apa perbedaan antara Selasar dan Kaskus?

Mengapa Kompasiana mengganti logo?

Apa yang dimaksud dengan butterfly effect?

Bagaimana sikap Anda apabila mempunyai seorang teman penjilat atau suka cari muka?

Apa alasan Anda tidak merokok?

Berbeda, bagaimana merangkulnya agar dapat berjalan bersama tanpa memaksa?

Apakah sikap masyarakat Indonesia dalam menghadapi isu SARA saat ini lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan zaman Orde Baru?

Mungkinkah perilaku netizen di dunia digital dapat diatur agar lebih tertib dalam bersosial media?

Bagaimana peran Psikolog untuk 5 tahun ke depan?

Masyarakat Indonesia untuk 10 Tahun ke depan akan menjadi konsumen model apa?

Aliran lagu apa yang menjadi tren di Indonesia untuk 3 tahun terakhir ini?

Apa pendapatmu tentang isu-isu yang berkembang di media mainstream belakangan ini?

Apa pendapatmu tentang media cetak sekarang?

Budaya apa yang sekarang sudah hilang?

Bagaimana sistem pembayaran driver Gojek? Apakah mereka menerima semua atau ada sistem komisi dengan perusahaan Gojek?

Apa praktik politik kotor yang Anda ketahui?

Seperti apakah batasan "pornografi" menurut Anda?

Siapakah yang menggagas FPI?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa yang dimaksud "fact is sacred" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Cub Reporter"?

Apa yang disebut "Hook" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Firsthand Account" dalam meliput peristiwa?

Bagaimana membedakan antara "Firsthand Account" dan "Secondhand Account" dalam menulis berita?

Siapakah Trias Kuncahyono?

Efektifkah aksi boikot Metro TV melalui Petisi?

Model bisnis apa saja yang biasa dilakukan oleh media online?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?