selasar-loader

Mengapa Anda menyukai musik dangdut?

Last Updated Dec 16, 2016

3 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Musik adalah sisi lain dari hidup saya, melebihi teman atau bahkan kekasih

lGIsW3Y-CLpTRUsRvSKHdonasEOfhF8G.jpg

Anda tahu di mana Raja Dangdut Rhoma Irama berasal? Di mana awal penyanyi dangdut Itje Trisnawati berkarier? Lalu, di mana Vety Vera dan adiknya, Alam, serta Evie Tamala sebagai penyanyi dangdut nasional bermula? Di mana pula Caca Handika bermukim sebelum terkenal? Kecuali Rhoma Irama dan Evie Tamala, semua nama yang sebut tadi berasal dari satu kecamatan yang sama di mana saya lahir dan dibesarkan, yakni Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, sebuah kabupaten di ujung timur Jawa Barat.

Secara geografis, saya dikepung orang-orang yang kelak akan menjadi penyanyi dangdut ternama di Indonesia dan bahkan dunia. Secara "biologis", darah saya darah dangdut karena "kontak budaya" dengan musik dangdut yang tumbuh seiring pertumbuhan saya di desa Ciawi, yang juga sangat "ndangdut". Dangdut adalah "musik rakyat" yang nada dan iramanya menyusup ke bilik-bilik bambu dan ruang keluarga sederhana di desa saya sedemikian dahsyat sampai menenggelamkan jenis musik lainnya, termasuk kacapi-suling cianjuran yang tiba-tiba menjadi "minoritas".

Dangdut adalah "virus" yang mengalir dalam darah dan urat nadi saya sejak kanak-kanak. Selain bernyanyi "Helly" dari Chicha Koeswoyo, jauh sebelumnya telinga saya sudah dengan "Harapan Hampa"-nya Mashabi bahkan "Mengharap"-nya Ellya Khadam.... siapakah dia yang selalu menggoda kalau dia memandang rasa sesak di dada, siapakah dia yang selalu kuimpi siang kumengharap malam aku menanti, siapakah dia.....

Saya coba ceritakan satu-persatu. Tentu saja Rhoma Irama harus saya sebut lebih dahulu. Sebelum memakai embel-embel "RH" alias Raden Haji, saya mengenal namanya sebagai Oma Irama saja. Kontak pertama saya dengan penyanyi yang kemudian Raja Dangdut dunia ini terjadi saat Oma Irama sering manggung di alun-alun ibukota kecamatan Ciawi yang diadakan oleh EO lokal sehingga saya dikenakan karcis masuk yang mahal sekali waktu itu, tidak mungkin saya membelinya.

Tetapi, di sekeliling alun-alun, ada banyak pohon rindang dan tinggi. Ke tempat tinggi itulah saya memanjat. Dia menjadi balkon yang menyenangkan sambil mendengarkan syair "begadang jangan begadang, kalau tiada artinya", lagu yang demikian meledak bagai bom atom saat itu. Saya ingin mendengar Oma Irama bukan hanya dari radio atau kaset dengan tape recorder bermerek Sanyo yang orangtua miliki saat itu. Saya ingin mendengar lagu "Begadang" dan "Berkelana" langsung dari si penyanyi dan penciptanya. Alhamdulillah, terkabulkan.

Kecintaan saya kepada Oma Irama tidak lain dengan menghapal lagu-lagunya dan belakangan nonton filmnya yang menggetarkan. Lagu "Ani" dalam film "Berkelana" atau "Penasaran" (pokoknya antara dua itulah) dengan pasangan mainnya, Yati Octavia, sungguh telah mempercepat masa aqil baligh saya. Saya merasa menjadi cepat dewasa dan sedemikian terobsesi dengan wajah melankolis Yati yang, bagi saya waktu itu, boleh dibilang perempuan tercantik sedunia setelah ibu saya. 

Dan... Allah Maha Baik, saat menginjak halaman sekolah menengah atas, Allah mengirimkan saya seorang kekasih yang wajahnya mirip Yati Octavia, meski usia kami terpaut satu tahun. Apa pedulinya "Yati Octavia" saya lebih tua, kami jalan dengan kemesraan tak tergambarkan. Meski you know so well lah, kami hancur lebur pada akhirnya.

Belakangan setelah saya menjadi jurnalis untuk liputan politik, beberapa kali saya berjumpa pujaan saya, Oma Irama, saat dia masih menjadi politisi PPP atau seusainya. Kegilaan saya kepada Oma Irama ternyata mendapat saingan. Seorang kameramen televisi sesaat sebelum wartawannya mewawancarai Rhoma Irama dan saya siap mencatat ucapannya dari belakang kamera, sambil menyorotkan mata kamera dia bersenandung dan sedikit menggoyang-goyangkan badannya sepertia tertiup angin, "cukup sekali aku merasakan kegagalan cinta...."  Dahsyat memang!

Sekarang saya mau bercerita tentang Itje Trisnawati. Jauh sebelum penyanyi dangdut berwajah "nggemesin" ini menjadi terkenal dan kemudian dipinang Eddy Sud, saya mengenal Itje saat masih kelas lima atau enam SD, sementara Itje dalam perkiraan saya sudah tamat SMP tetapi punya bakat yang hebat dalam bernyanyi. Bersama teman sebaya saya, Riki, saya bahkan sering main-main dengan Itje saat dia berlatih vocal di studio dangdut milik pasangan Haji Iing Ibrahim dan Enok Erni ini, "OM Purnama".

Siapa Iing Ibrahim dan Enok Eni? Mereka berdua adalah orangtua yang kelak melahirkan Vety "Yang Sedang-sedang Saja" Vera dan adiknya Alam yang beken dengan lagunya "Mbah Dukun". Mereka berdua belum lahir saat saya dan Riki, kakak mereka, main-main dengan Itje, dalam arti sering berinteraksi saat Itje istirahat nyanyi. Tetapi seingat saya, Vety masih bayilah. Riki adalah kakak Vety dan Alam berbeda Ibu. Vety Vera dan Alam adalah adik Riki dari Ibu yang berbeda, bernama Enok Erni. Oh ya, Vety Vera adalah plesetan dari "peti pare", lumbung beras. 

Siapa Enok Erni? Tidak lain penyanyi dangdut juga yang suaranya lebih dahsyat dari Itje, tetapi "karier"-nya terbunuh setelah dinikahi Iing Ibrahim, pengusaha barang bangunan di Ciawi, di mana rumah saya hanya berjarak beberapa rumah saja darinya. Kami bertetangga. Bahkan saya pernah menumpang mobil Iing Ibrahim untuk nonton Oriental Sirkus yang manggung di alun-alun kota Tasikmalaya. 

Saat bulan Ramadhan tiba, saya salat tarawih di rumah Haji Iing Ibrahim bersama Riki, anaknya yang pertama, yang selama setahun "dititipkan" di rumah orangtua saya. Tetapi saat SMA tiba, saya tarawihan bersama "Yati Octavia" saya, hahaha... Alhasil, lagu dangdut apapun yang dinyanyikan Itje dan Enok Erni, saya hapal di saat pikiran dan ingatan saya masih dalam periode "Golden Age".

Tidak banyak cerita saya dengan Caca Handika yang saya tahu mukim di Regol, samping alun-alun. Dia memang penyanyi yang mendayu-dayu dan saya mengenalnya saat manggung dari hajatan ke hajatan, dari kawinan ke kawinan. Kumisnya saat itu telah menjadi personal brand-nya dan cukup menggetarkan gadis remaja saat itu. Selebihnya, saya sering melihatnya nongkrong di alun-alun Ciawi saat sore hari tiba. 

Jujur, saya tidak...(more)

Answered Jan 11, 2017

Ini karena lingkungan. Kampung saya di Cirebon memiliki musik yang sebelas dua belas dengan dangdut, tarling. Tarling ada kendang yang menstimulus badan untuk goyang. Paman ibu saya pecinta radio, dan dia selalu mencari saluran radio yang menyiarkan tarling atau dangdut. lalu Ayah saya fan dari Rhoma Irama, Rita Sugiarto, dan Elvie Sukaesih. Dia memiliki beberapa kaset biduan-biduan ini. Selain itu ibu saya (konon) mantan penabuh salah satu instrumen qasidah gambus yang lagu-lagunya membawakan lagu dari Nasida Ria. dan Ibu saya pun sering memutar lagu-lagu Nasida Ria itu di rumah.

dengan paparan musik di rumah ini saya jadi merasa nyaman dengan dangdut. namun entah mengapa saya tidak begitu nyaman dengan dangdut koplo dan house dangdut. kedua varian dangdut ini saya tidak mendengar keahlian cengkok dalam menyanyi dan aransemen musiknya tidak merdu di telinga saya.

kecintaan saya selanjutnya pada dangdut bertambah saat saya mulai kuliah. Kuliah saya di jurusan sastra. karena sastra ada pelajaran menelaah puisi dan kritik sastra saya pun melihat-lihat lirik-lirik lagu dangdut. dan ternyata saya menemukan keindahan bahasa dalam lirik-lirik dangdut, terutama lirik lagu yang dibawkan oleh Rhoma Irama, Arafiq, Ona Sutra, dan Mansyur S.



 

Answered Jan 11, 2017
Novia Nurist Naini
Creative Writer. UGM. Turns scientific research into popular feature

"Pancene koe pabu nuruti ibumu

Jare nek ra ninja ra oleh dicinta

Opo koyo ngene susahe wong kere

Ameh nyandeng tresno kalah karo bondo"

 

Ada perasaan yang hype luar biasa ketika ngerap lagu ini. Oyeah. Nikmat luar biasa. Tak terdefinisikan. Sebagai orang berbahasa Jawa Suroboyan, nyanyi lagu yang berbahasa sama denganku ini sangat memuaskan. Lagu ini memfasilitasi orang Jawa yang sedang kesal marah amburadul tapi tetep nyeni. Lagu ini membuatku tidak lari darimana saya berasal. Sebiasa-biasanya saya berbahasa Indonesia di Jogja selama empat tahun terakhir, percuma haha. Saya butuh lagu ini untuk pulang. Seenak apapun suara Shawn Mendes, tapi NDX sama Mba Via Vallen atau Sagita Ngamen tetep gak terkalahkan sih. 

Answered Apr 2, 2018