selasar-loader

Bagaimana pilihan karier terbaik untuk perempuan?

Last Updated Nov 16, 2016

7 answers

Sort by Date | Votes
Hana Fitriani
bagi saya, wanita punya peran besar untuk membuat perubahan

n4Apg4K-vr_tS5g_P6v2yLQfVa0mRf9C.jpg

Saya rasa, pilihan karier terbaik untuk perempuan adalah berwirausaha. Hal ini saya lihat dari keseharian ibu saya. Walaupun bekerja, dia lebih sering berada di rumah karena kebanyakan pekerjaan ia lakukan dari rumah. Begitu juga ketika harus berkoordinasi dengan staf, bisa dilakukan jarak jauh. Selain itu, pekerjaan ini bisa dilakukan dengan fleksibel baik secara waktu dan tempat.

Selain bisnis, sebenarnya zaman sekarang sudah mulai banyak peluang karier yang bisa dilakukan dari rumah, terutama dengan fasilitas human cloud.

Yang pasti, saya percaya bahwa perempuan tetap butuh tempat untuk melakukan aktualisasi dan meningkatkan kualitas diri, namun dengan cara yang tidak melanggar dan mengabaikan tugas sebagai seorang ibu dan istri.

Gambar via indiatimes.in

Answered Dec 13, 2016
Ma Isa Lombu
Pendiri Selasar

_M8R5xWxEInHEyeGfSSVojK1bX3RW7HL.jpg

Bagi saya, pilihan karier dapat dipilih secara bebas oleh laki-laki dan perempuan. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi, sesuatu yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, sekarang juga dapat dilakukan oleh perempuan.

Masalah akan timbul manakala baik laki-laki atau perempuan sudah menegasikan peran yang lain dalam kehidupan mereka seperti sebagai orang tua, anak, tetangga, makhluk sosial, umat beragama, makhluk Tuhan, dll. 

Jadi saya memiliki pemikiran bahwa tidak ada bias gender dalam penentuan karier laki-laki ataupun perempuan. Toh dalam agama saya, Islam, pengurusan anak juga tidak menjadi domain seorang ibu. Tau dari mana? Dari "Lukman" yang mengajarkan Islam kepada anaknya. Lukman adalah laki-laki. Sudah jelas.

***

Saya sendiri mengendorse istri saya untuk bekerja, bekerja dimanapun selama tidak menegasikan perannya yang lain. Setidaknya karena 5 alasan mengapa kebijakan keluarga kami seperti itu:

a. Bekerja, substansinya adalah beraktifitas. Dengan beraktifitas ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia (fisiologis, social, esteem dan aktualisasi diri). Dengan terpenuhinya kebutuhan, maka Istri yang beraktifitas di luar rumah saya meyekini lebih bahagia dibandingkan ibu rumah tangga. Kebahagiaan seorang istri, adalah kebahagiaan suami. 

b. Peluang kontribusi untuk sesama. Istri saya merupakan seorang lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia. Semenjak kecil ia pun memiliki track record pendidikan yang baik dan hampir semuanya ia jalankan di lembaga pendidikan negeri terbaik di daerahnya. Dengan beraktifitas di luar rumah, istri saya memiliki peluang yang lebih banyak untuk membalas budi kepada pemerintah dan pay back to society. Toh, manuasia terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya, bukan?

c. Tuntutan orang-tuanya. Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu value yang sangat dijunjung tinggi dalam keluarga kami. Istri saya lahir dari rahim seorang perempuan yang juga aktif di luar sehingga wajar saja mertua perempuan saya (ibu istri) menghendaki anak perempuannya juga merasakan “nikmat bekerja” seperti yang dahulu pernah ia rasakan. Dengan mengikuti keinginan orang tua, akan membuat hati mereka semakin tentram. Hati orang tua yang tentram juga akan berdampak positif untuk hubungan mertua-menantu, anak-orang tua dalam keluarga kami

d. Back up suami. Tidak ada yang tau bahwa kehidupan akan berjalan sesuai dengan rencana. Apa yang terjadi jika saya mati muda dengan meninggalkan beberapa anak, cicilan rumah dan istri yang tidak bekerja. Dengan bekerjanya istri, buffer risiko finansial keluarga kami akan semakin tebal. Dengan hal ini harapannya stabilitas kehidupan keluarga akan tetap terjaga

e. Mencegah KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga salah satu penyebabnya adalah lemahnya daya tawar istri dalam struktur rumah tangga. Seorang istri yang tidak bekerja akan rawan diskiti oleh suaminya yang hidup (terutama) di lingkungan yang patriarkis. Dengan istri bekerja, daya tawar istri menjadi meningkat dan bisa jadi berada dalam level yang sejajar dengan si suami. Dengan “kekuatan” daya tawar yang sama, masing-masing pihak akan senantiasa berpikir untuk memulai untuk menyakiti. Game theory bermain di sini. Seperti yang telah diekspresikan dalam sebuah peribahasa latin, "Si vis pacem, para bellum" yang artinya “Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang“. Persiapan dalam menghadapi perang adalah dimilikinya sumber daya. Dan kepemilikan sumber daya itu hanya dapat diperoleh dengan menjadi seorang ibu non-rumah tangga an sich.

Answered Dec 16, 2016

D3qeN-Kxr06GvZ2_gVEjgq0_xRipcSLO.jpg

Mengikuti suami.

Istri diwajibkan ikut dan menuruti kata suami, apapun agamanya, titik. Bahkan manusia gua purba pun dulu saat melamar kekasih itu bukan dengan cara romantis, seperti pemberian bunga dll, tetapi dengan di gepruk kepala si perempuan lalu dipaksa ikut ke gua.

Akan tetapi, ingat.. kita di zaman beradab sekarang, jadi bicara lebih kuat daripada tindakan. Pemahaman di atas contoh, lumayan enak jadi perempuan karena pasangan akan selalu memenuhi kebutuhan, walau perempuan juga harus merasakan sakit di atas sakit manusia normal saat melahirkan.

Nah, kalau belom menikah? Pilihan karier apa aja, asal jadi perempuan yang feminim, jadi perempuan yang elegan, kerja di mana aja kalo dapet panggilan kerja, naik jabatan naik aja asal mungkin, pindah kerja pindah aja asal lebih baik.

Jadi, perempuan yang feminim dan elegan itu penting agar dapat suami tanggung jawab seperti kata pertama saya di atas, jadi nanti tinggal mengikuti suami, dia mau nya kerja apa.

Saya rasa simple.

 

sumber gambar: idntimes.com

Answered May 10, 2017

Karier terbaik untuk wanita adalah yang tidak menyita waktu untuk keluarganya, pekerjaan yang menjadikan ia lebih baik, terlihat ia bermartabat dan meningkat nilai-nilai moril serta keagamaannya. Profesi tersebut sering kita sebut GURU.

Answered Aug 18, 2017
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

vbjkoXI6QmC6vr6ExBSXuElH_JnXrd3D.jpg
Menurut saya, sebagai seorang perempuan yang jika diberi kesempatan akan menjadi seorang isteri dan ibu nantinya, sangat penting untuk menentukan jenis pekerjaan yang tepat untuk kelanjutan karir dimasa depan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena adanya tambahan peran bagi seoran wanita yang kelak akan berstatus sebagai seorang istri dan ibu.

Pekerjaan yang memungkinkan saya tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri dan istri, menjadi pertimbangan utama saya dalam memilih jenis pekerjaan. Hal ini pun menjadi sangat relatif, karena setiap orang berbeda level kesanggupannya dalam mengemban beberapa peran sekaligus.

Namun, bagi saya pribadi, saya akan lebih memilih pekerjaan yang akan membuat saya memiliki cukup waktu untuk suami dan anak-anak nantinya. Hal ini karena tugas mengatur rumah tangga yang tak dapat diganggu gugat dari kewajiban sebagai seorang istri dan ibu dalam sebuah keluarga.

Istri yang mampu menyisihkan cukup waktu bagi suaminya, saya rasa akan mampu menciptakan keseimbangan dalam rumah tangga. Sebab, istri yang siaga dirumah menunggu suami pulang akan mampu menyediakan afeksi dan dukungan yang dibutuhkan oleh seorang sumai setelah seharian lelah bekerja. Afeksi dan dukungan yang cukup yang diterima suami akan berdampak pada kineja suami di tempat kerja dan peran suami  sebagai seorang ayah. Berbeda jika keduanya sama-sama sibuk, hal yang mungkin terjadi ialah keduanya sama-sama lelah saat pulang dan sama-sama ingin lebih dimengerti akibat kelelahan masing-masing. Ketersediaan waktu untuk mendidik dan menemani anak-anak juga akan berkurang, sebab keduanya memiliki kesibukan dan telah lelah saat sampai dirumah.

Ibu yang memiliki waktu bercengkrama lebih banyak juga akan berpengaruh besar pada perkembangan seorang anak, menurut saya. Intensitas pertemuan antara ibu dan anak menjadi hal yang krusial agar anak dapat mengembangkan dirinya dengan maksimal. Sebab, keberadaan ibu yang mampu memberikan dukungan yang dibutuhkan sang anak.

Kebanyakan ibu mungkin berfikir bahwa anak hanya membutuhkan banyak perhatian saat mereka balita. Namun, saya pribadi merasa hal tersebut cukup keliru, untuk dijadikan alasan seorang ibu menjadi sangat fokus pada karirnya saat anak memasuki usia remaja. Usia remaja, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi seorang ibu terutama. Sebab, pada masa itu anak mengalami banyak perubahan dalam hal fisik dan psikologisnya. Sehingga, anak yang memasuki masa remja sejatinya butuh banyak perhatian dan bimbingan. Saat seorang ibu lebih fokus pada karirnya, maka sang anak akan lebih rentan akan hal-hal negatif yang menjadi efek perubahan yang ia alami.

Maka dari itu, pekerjaan yang memungkinkan seorang wanita tetap mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu menjadi hal yang tak boleh terlewatkan dalam pertimbangan memilih karir. Karena hal ini akan berdampak panjang, pada bagaimana sebuah keluarga kecil itu terbangun dan berkembang nantinya.

Pekerjaan seperti guru dan psikolog saya rasa menjadi dua jenis pilihan karir yang cukup mampu memfasilitasi perempuan agar tak kehilangan peranan tersebut. Seperti saat menjadi guru, seorang ibu dapat memiliki masa liburan yang tidak jauh berbeda dengan sang anak dan dapat mengajarkan anak sesuai dengan keahliannya sebagai seorang guru. Profesi psikolog juga baik karena selain dapat bekerja dari rumah, seorang perempuan juga dapat mengerti perkembangan sang anak dari pengetahuan yang ia miliki sebagai psikolog, terutama yang mengambil spesifikasi tentang anak.

Answered Jan 1, 2018

Dokter, Pramugari, Apoteker, Penerjemah, Public Relation, Auditor, Desainer Pakaian,...

 

Answered Mar 13, 2018
Martina Mochtar
Istri dari seorang pecinta sosial, dan Ibu dari seorang Bocah Pemberani

Saya setuju dengan jawaban dari Mbak Hana Fitriani . 

Memang bagaimanapun juga wanita tetap membutuhkan ruang untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Jangankan untuk seorang ibu rumah tangga, bagi seorang wanita bekerjapun jika tempat bekerjanya tidak memberikan ruang untuk mengaktualisasikan kemampuan, menyampaikan ide serta gagasan saya yakin berapapun gaji yang diiming-imingi perasaan ingin resign selalu menghantui dari hari ke hari yang akibatnya bekerja kurang produktif.

Sebetulnya keadaan saat ini sudah banyak kemajuan, banyak sekali pilihan pekerjaan yang tidak mengharuskan seseorang untuk bekerja eight to five, bahkan beberapa perusahaan yang berorientasi pada hasil sudah sangat fleksibel dalam memberikan peraturan jam kerja kepada karyawannya. Berdasarkan pengalaman saya pilihan pekerjaan seperti ini sangat banyak di Jakarta, contohnya tempat saya bekerja sekarang. 

Walaupun demikian berdasarkan pengalaman saya pribadi, tetap saja loyalitas kerja saat masih single dan saat sudah berkeluarga dan memiliki anak sangat berbeda. Fokus pikiran mudah terbagi. Saya yang saat ini memiliki anak berusia tiga tahun rasanya masih sulit untuk bisa total dalam bekerja dikarenakan pikiran terus memikirkan kondisi si Kecil yang ditinggal bersama si 'Mbak' di rumah, atau perasaan bersalah yang sangat tinggi di saat kebersamaan di rumah bersama anak terinterupsi oleh panggilan telpon atau pesan singkat dari kantor mengenai sesuai yang harus segera mendapat perhatian. Mungkin tidak terlalu sering namun akibatnya cukup membuat si anak cemberut merasa diduakan. 

Menurut saya pilihan karier untuk perempuan adalah yang tidak memberikan tekanan terlalu tinggi. Sehingga waktu, perhatian dan emosi tidak terkuras di pekerjaan, jadi tetap bisa fokus membesarkan anak. 

 

 

 

Answered Apr 17, 2018